• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interpretasi Hasil Penelitian

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 90-102)

BAB 6 PEMBAHASAN

6.1 Interpretasi Hasil Penelitian

6.1.1.Gambaran Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh proporsi pengendalian hipertensi yang dilakukan keluarga terhadap lanjut usia di Kelurahan Cisalak Pasar Cimanggis Kota Depok yang tidak baik sebesar 44,4 % (n = 90). Pengendalian hipertensi pada lanjut usia yang dilakukan oleh keluarga dengan cara pengontrolan tekanan darah, diet makanan untuk hipertensi, melakukan olah raga dan menangani stress (Edelman & Mandle, 2010; JNC 7, 2004).

Menurut item pernyataan masih ada keluarga yang membiarkan lanjut usia tidak melakukan pengontrolan tekanan darah ke pelayanan kesehatan secara teratur, jarang memberikan diet hipertensi, membiarkan lanjut usia menghabiskan waktu senggang dengan menonton televisi. Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Nuraini (2012) di Kelurahan Cisalak Pasar bahwa perilaku perawatan kesehatan khususnya penyakit hipertensi pada lanjut usia masih kurang baik yaitu 36 % (n = 136).

Penelitian lain tentang perilaku pengendalian hipertensi pada lansia yang dikemukakan oleh Herlinah (2011) adalah masyarakat di Kecamatan Koja Jakarta Utara masih tidak baik dalam berprilaku dalam mengendalikan hipertensi sebesar 47, 5%. Namun berbeda dengan hasil penelitian Dalyoko, Kusumawati, dan Ambarwati (2011) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kontrol hipertensi pada lanjut usia di pos pelayanan terpadu wilayah kerja puskesmas Mojosongo Boyolali yang menyatakan bahwa lebih dari separuh masyarakat kurang baik dalam mengendalikan penyakit hipertensinya sebesar 61,4% (n = 70).

Menurut peneliti, hal ini terjadi dikarenakan adanya perbedaan karakteristik responden dimana masyarakat yang ada di kelurahan Cisalak Pasar sebagian besar telah terpapar oleh informasi mengenai hipertensi dan cara perawatannya melalui penyuluhan yang diberikan oleh mahasiswa praktik keperawatan, dimana wilayah ini merupakan salah satu binaan praktik aplikasi keperawatan komunitas, sehingga pengendalian hipertensi yang baik masih ada dari separuh keluarga (55,6 %). Sedangkan kontrol hipertensi yang dilakukan lansia di pos pelayanan terpadu wilayah kerja puskesmas Mojosongo Boyolali merupakan kegiatan yang hanya rutin dilaksanakan sebulan sekali sehingga adanya rentang waktu yang lama dalam upaya pengendalian hipertensi.

6.1.2.Hubungan Tingkat Pendidikan Keluarga Dengan Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia.

Hasil penelitian pada uji univariat menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga yang merawat lanjut usia hipertensi di Kelurahan Cisalak Pasar memiliki tingkat pendidikan yang rendah sebesar 61,1 %. Berdasarkan Laporan Tahunan Kelurahan Cisalak Pasar (2013) tingkat pendidikan masyarakat rendah dikarenakan mayoritas tingkat pendidikannya adalah tamatan SD dan SMP (45,4 %). Hal ini hampir

sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuraini (2012) bahwa masyarakat yang bertempat tinggal di Kelurahan Cisalak Pasar memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengendalian hipertensi pada lanjut usia. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Amigo (2012) di Kecamatan Jetis Yogyakarta bahwa ada hubungan tingkat pendidikan keluarga dengan status kesehatan aggregat lansia dengan hipertensi. Hasil penelitian Manimunda dkk (2011) di India juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan status hipertensi dalam keluarga.

Hal ini menjelaskan bahwa tingkat pendidikan merupakan hal penting dan sangat berkaitan dalam membentuk perilaku kesehatan dalam keluarga serta dapat meningkatkan pengetahuan seseorang, sehingga akan mengubah status kesehatannya (Hanson, Gedaly-Duff, & Kaakinen, 2005; Friedman, Bowden & Jones, 2003). Menurut Inkehes (1999, dalam Friedman, Bowden & Jones, 2003) tingkat pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap gaya hidup adalah pendidikan menengah keatas, sehingga apabila terdapat pendidikan yang rendah memungkinkan akan terjadi peningkatan mortalitas dan dapat menjadi faktor risiko terjadinya suatu penyakit karena kurangnya masukan informasi baik tentang pencegahan dan perawatan penyakit tersebut.

Menurut peneliti, hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya karena pendidikan keluarga tidak secara langsung berpengaruh terhadap perilaku pengendalian hipertensi oleh keluarga sehingga untuk menilai suatu perilaku kesehatan tidak hanya dilihat dari tingkat pendidikannya saja melainkan adanya faktor-faktor lain yang dapat berkontribusi terhadap perubahan suatu perilaku yaitu dapat dilihat dari domain pengetahuan dan sikap individu. Hal ini sesuai

dengan Bloom (1956), dalam Allender, Rector, dan Warner (2010) yang menjelaskan bahwa sehat dapat dilihat dari tiga domain perilaku antara lain : pengetahuan (cognitif), sikap (affective), dan praktik (psychomotor). Selain itu, peneliti juga berpendapat bahwa tingkat pendidikan rendah bukanlah suatu kendala untuk melakukan suatu keterampilan dalam pengendalian hipertensi pada lanjut usia.

Berdasarkan item pernyataan sebanyak 55,6 % keluarga melakukan pengendalian hipertensi pada lanjut usia dengan baik. Hal ini dikarenakan untuk memperoleh informasi tentang pengendalian hipertensi dapat diperoleh masyarakat Cisalak Pasar dengan mudah melalui media massa (seperti koran, spanduk, leaflet, dan sebagainya) maupun melalui media elektronik (radio dan televisi). Selain itu, masyarakat Cisalak Pasar sering terpapar dan kerap sekali mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan khususnya tentang perawatan hipertensi yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa dari penguruan tinggi yang melaksanakan praktik di kelurahan tersebut, sehingga menambah informasi dan pengetahuan tentang cara perawatan terhadap lanjut usia yang mengalami hipertensi.

6.1.3.Hubungan Penghasilan Keluarga Dengan Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia.

Menurut hasil uji univariat didapatkan bahwa sebagian besar penghasilan keluarga per bulan rendah yaitu dibawah UMR Kota Depok tahun 2013. Berdasarkan hasil uji bivariat dapat diketahui bahwa responden yang memiliki penghasilan yang tinggi mampu mengendalikan hipertensi pada lansia dengan baik. Namun, peneliti menemukan bahwa tidak ada hubungan antara penghasilan dengan pengendalian hipertensi pada lanjut usia di Kelurahan Cisalak Pasar Cimanggis Kota Depok Hal ini sejalan dengan penelitian yang dikemukakan oleh Nuraini (2012) yang menyatakan bahwa tidak ada

hubungan antara pendapatan dengan perilaku perawatan hipertensi pada lansia.

Pendapat yang berbeda yang dikemukakan oleh Amigo (2012) bahwa ada hubungan antara penghasilan keluarga dengan status kesehatan pada aggregate lansia dengan hipertensi. Menurut peneliti, perbedaan hasil penelitian dengan penelitian sebelumnya disebabkan karena perbedaan karakteristik responden dan juga pendapatan dari masyarakatnya. Pada masyarakat Cisalak Pasar kebanyakan mata pencaharian masyarakat adalah buruh dan pedagang (33,8 %), sehingga penghasilan rata-rata dibawah UMR Kota Depok. Selain itu, adanya perbedaan UMR daerah akan mempengaruhi status sosioekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan anggotanya.

Menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2003), untuk mengidentifikasi status ekonomi keluarga dengan melihat seberapa besar penghasilan keluarga, jenis pengeluaran utama keluarga, dan jaminan kesehatan yang dimiliki keluarga. Keluarga yang produktif adalah keluarga yang dapat membantu dan menghasilkan uang untuk menyokong kegiatan finansial didalam keluarga (Notoatmodjo, 2007).

Menurut peneliti, penghasilan yang tinggi diharapkan mampu mengubah status kesehatan keluarga dengan dipergunakannya untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan anggota keluarganya. Penghasilan tersebut dapat digunakan untuk biaya pengobatan, transportasi ke tempat pelayanan kesehatan serta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari baik kebutuhan primer, sekunder dan juga tersier. Penghasilan yang tinggi diharapkan mampu mengendalikan hipertensi lebih baik yaitu dengan cara melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan di pelayanan kesehatan, melakukan pengobatan yang lebih baik serta dapat mencukupi kebutuhan gizi yang lebih baik.

Menurut peneliti, walaupun penghasilan masyarakat Cisalak Pasar rendah, namun mampu mengendalikan hipertensi pada lanjut usia dengan baik. Hal ini berdasarkan item pernyataan bahwa terdapat 33,2 % masyarakat menggunakan jaminan kesehatan untuk melakukan pengobatan sehingga sedikit meminimalkan pengeluaran dana pengobatan. Selain itu, masih banyak keluarga yang mau mengantarkan lanjut usia untuk kontrol tekanan darah di POSBINDU dan membatasi pemakaian garam yang berlebihan, serta keluarga sering mencari informasi tentang penanganan hipertensi, sehingga pengelolaan keuangan untuk kebutuhan pengobatan dapat dikurangi. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang bagaimana perawatan hipertensi selama dirumah, dapat menurunkan pengeluaran biaya untuk perawatan dan pengobatan penyakit yang diderita oleh keluarga.

6.1.4.Hubungan Fungsi Afektif Keluarga Dengan Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia.

Hasil uji univariat menunjukkan bahwa proporsi keluarga yang menjalankan fungsi afektifnya dengan baik lebih besar dari keluarga yang fungsi afektifnya tidak baik. Pada hasil uji bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara fungsi afektif keluarga dengan pengendalian hipertensi pada lanjut usia.

Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian yang dikemukakan oleh Putri dan Permana (2011) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara fungsi afektif dengan kualitas hidup lanjut usia. Murwani (2007) menjelaskan bahwa dalam memenuhi salah satu fungsi afektif keluarga adalah dengan saling mengasuh, cinta kasih, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang, saling menghargai, dan adanya ikatan serta terindentifikasinya ikatan keluarga.

Menurut Hurlock (2000) perhatian, kasing sayang, perasaan aman akan membantu individu menghadapi masalah-masalah tertentu dengan memastikan keseimbangan emosionalnya. Keluarga yang sehat dapat ditandai dengan saling menerima keunikan anggota keluarga, saling menghormati dan menerima serta berkemampuan mendorong pencapaian kebutuhan anggota keluarganya (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Berdasarkan uraian diatas dapat peneliti simpulkan bahwa fungsi afektif keluarga sangat dibutuhkan dalam memberi perawatan kepada lanjut usia yang mengalami hipertensi. Hal ini dapat memberikan keseimbangan emosional bagi lanjut usia dalam menghadapi penyakit hipertensinya yang terkadang kurang perhatian dari sendiri karena faktor penuaan.

Lanjut usia yang menderita hipertensi di Kelurahan Cisalak Pasar sebagian besar masih tinggal dan dirawat oleh keluarganya, sehingga sikap saling asuh, saling dukung dan terlindungi masih dapat terpenuhi. Adanya dukungan keluarga dapat meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia. Analisa lebih lanjut menunjukkan bahwa keluarga yang menjalankan fungsi afektif dengan baik memiliki peluang 3,3 kali dalam mengendalikan hipertensi pada lanjut usia dibandingkan dengan keluarga yang fungsi afektifnya tidak baik.

6.1.5.Hubungan Fungsi Sosialisasi Keluarga Dengan Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia.

Berdasarkan hasil uji univariat menunjukkan bahwa proporsi fungsi sosialisasi keluarga di Kelurahan Cisalak Pasar Cimanggis Kota Depok adalah baik dibandingkan dengan keluarga yang fungsi sosialisasinya tidak baik. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara fungsi sosialisasi keluarga dengan pengendalian hipertensi pada lanjut usia. Penelitian yang berbeda yang dilakukan oleh Saripuddin

(2009) bahwa ada hubungan antara fungsi sosial keluarga dengan kenakalan remaja di Kauman Kelurahan ngupasan Yogyakarta.

Walaupun penelitian dilakukan pada aggregate yang berbeda, namun fungsi sosial keluarga sangat penting dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Pada lanjut usia, perubahan menua menjadikannya kurang beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya dan merasa rendah diri karena memiliki kelemahan dan keterbatasan, sehingga keluarga sebagai sistem pendukung harus selalu memberikan kesempatan dan peluang kepada lanjut usia untuk bersosialisasi dengan baik bersama masyarakat lainnya. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri dari lanjut lansia yang merasa dihargai dan dihormati oleh masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Fungsi sosial keluarga lebih menekankan pada bagaimana lanjut usia beradaptasi dengan lingkungannya. Menurut Stevens (2001), dalam McMurray, 2003) proses beradaptasi dengan penuaan berkaitan dengan hubungan sosialnya, sehingga keluarga diharapkan mampu membantu lanjut usia dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Usia remaja pada masa pertumbuhan dan perkembangan selalu mengikuti perkembangan lingkungannya untuk menentukan identitas dan jati dirinya, sehingga teman dan kelompok sebaya lebih berperan didalamnya. Fungsi sosial keluarga sangat dibutuhkan pada tahap ini untuk menjadi pengawas terhadap segala tindakan-tindakan yang negatif dan membahayakan. Menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2003) dengan bersosialisasi, orang belajar hidup bersama dengan orang lain dan berperan sesuai dengan konteks sosialnya.

Berdasarkan uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa fungsi sosial keluarga dapat membantu anggota keluarga dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Hubungan sosial lanjut usia dengan lingkungan disekitarnya diharapkan dapat membantu dalam upaya pengendalian

hipertensi yaitu dengan sering melakukan tukar pikiran dengan sesama penderita hipertensi, sering berkumpul melakukan relaksasi untuk menurunkan tekanan darah dan sebagainya. Keluarga yang merawat lanjut usia hipertensi di Cisalak Pasar selalu memberikan dukungan dan kesempatan kepada lanjut usia untuk mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat. Namun, kegiatan sosial yang sering diadakan lebih kepada kegiatan sosial seperti kegiatan pengajian dan acara arisan keluarga, sehingga ketika kegiatan pertemuan tersebut diadakan jarang membicarakan masalah penanggulangan atau perawatan hipertensi. Selain itu, berdasarkan item pernyataan terdapat 42,2 % keluarga jarang mengadakan pertemuan antar sesama lanjut usia disekitar rumah, sehingga jarang adanya penyampaian informasi atau saling tukar pikiran tentang pengendalian hipertensi.

6.1.6.Hubungan Fungsi Ekonomi Keluarga Dengan Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia.

Hasil uji univariat dalam penelitian ini didapatkan bahwa masih separuh dari responden memiliki fungsi ekonomi keluarga yang tidak baik dibandingkan dengan fungsi ekonomi keluarga yang baik. Hasil analisis bivariat dalam penelitian ini menunjukkan proporsi fungsi ekonomi keluarga dalam mengendalikan hipertensi pada lanjut usia yang baik lebih besar dibandingkan dengan fungsi ekonomi keluarga yang tidak baik. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi ekonomi keluarga dengan pengendalian hipertensi pada lanjut usia. Analisis lebih lanjut peneliti bahwa keluarga yang menjalankan fungsi ekonominya dengan baik memiliki peluang 3,8 kali untuk mengendalikan hipertensi pada lanjut usia dibandingkan dengan keluarga dengan fungsi ekonomi tidak baik.

Menurut Putri dan Permana (2011) dengan berpenghasilan yang tinggi dalam keluarga akan memberi pengaruh yang positif, begitu juga sebaliknya. Lanjut usia yang mengalami masa pensiunan dan

kehilangan pendapatan akan merasa membebani keluarga. Oleh karena itu, keluarga yang baik adalah keluarga yang selalu memperhatikan kebutuhan lanjut usia tidak hanya perawatan kesehatan melainkan kebutuhan finansial. Menurut Notoatmodjo (2007) keluarga yang produktif adalah keluarga yang dapat membantu dan menghasilkan uang untuk menyokong kegiatan finansial didalam keluarga.

Berdasarkan uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa suatu keluarga dalam menjalankan fungsi ekonominya selalu memenuhi kebutuhan anggota keluarganya tidak hanya kebutuhan primer saja akan tetapi juga kebutuhan lainnya. Fungsi ekonomi keluarga sangat berhubungan dengan penghasilan yang didapatkan oleh keluarga. Penghasilan yang memadai, suatu keluarga dapat memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarganya baik dan dapat meningkatkan derajat kesehatannnya. Sosial ekonomi keluarga yang baik akan meningkatkan juga derajat kesehatan anggota keluarganya.

Penghasilan yang masih rendah dapat membuat keluarga kesulitan dalam hal pemenuhan kebutuhan serta perawatan kesehatan keluarganya. Walaupun mayoritas penghasilan masyarakat Cisalak pasar rendah, tetapi mampu mengelola hipertensi pada lanjut usia dengan baik. Hal ini terjadi karena menurut item penyataan terdapat 33,2 % keluarga menggunakan jaminan kesehatan untuk melakukan pengobatan terhadap lanjut usia hipertensi, sehingga pengeluaran dana untuk perawatan dapat diminimalisir.

6.1.7.Hubungan Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga Dengan Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia.

Hasil uji univariat memperlihatkan bahwa proporsi fungsi perawatan kesehatan keluarga di Kelurahan Cisalak Pasar Cimanggis Kota Depok adalah baik. Berdasarkan hasil analisis bivariat dapat diketahui terdapat hubungan antara fungsi perawatan kesehatan keluarga dalam

pengendalian hipertensi pada lanjut usia. Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian Meirina (2011) bahwa ada hubungan antara fungsi kesehatan keluarga dengan pemenuhan nutrisi lansia.

Hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya hampir sama dengan menjalankan fungsi kesehatan keluarga terhadap lanjut usia. Hal ini dikarenakan, lanjut usia dengan segala keterbatasannya membutuhkan bantuan dalam memenuhi keperluan sehari-harinya, seperti asupan nutrisi, pengontrolan tekanan darah, kebutuhan finansial, dan kebutuhan akan kesehatan. Keluarga menjalankan fungsi kesehatan dengan baik, akan meningkatkan derajat kesehatan anggota keluarganya.

Menurut Hitchcock, Schubert, dan Thomas (1999) fungsi perawatan kesehatan keluarga melibatkan dua aspek utama yaitu pemenuhan kebutuhan fisik untuk menjaga kesehatan keluarga dan praktik kesehatan yang mempengaruhi status kesehatan keluarga. Status kesehatan dapat ditentukan dengan bagaimana cara keluarga melakukan diet, olah raga, tidur dan istirahar, pola rekreasi, perawatan diri dan kesehatan lingkungan keluarga.

Menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2003) fungsi perawatan kesehatan keluarga meliputi tiga aspek yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, dan praktik kesehatan keluarga. Berdasarkan hasil penelitian Classen, dkk (2010) diketahui bahwa pengetahuan keluarga tentang riwayat kesehatan keluarga akan memotivasi keluarga untuk meningkatkan perilaku hidup sehat. Sedangkan praktik kesehatan keluarga meliputi praktik diet keluarga, praktik tidur dan istirahat, praktik latihan dan rekreasi, praktik penggunaan obat terapeutik dan penenang, praktik perawatan diri keluarga, praktik lingkungan dan hygien, dan praktik pencegahan berbasis pengobatan. Peningkatan pengetahuan keluarga tentang perilaku perawatan kesehatan, diharapkan dapat menjalankan fungsi keluarganya dengan lebih baik.

Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa fungsi perawatan kesehatan lebih berfokus pada bagaimana keluarga berperilaku dalam perawatan kesehatan keluarga. Perilaku kesehatan keluarga yang baik akan membantu dalam upaya promosi kesehatan dan preventif terhadap anggota keluarganya sehingga dapat terhindar dari risiko terganggunya kesehatan. Keluarga diharapkan harus lebih meningkatkan fungsinya dengan baik, karena keluarga yang sehat mencerminkan fungsi keluarga yang efektif. Hal ini terlihat, berdasarkan item pernyataan terdapat 71,7 % menjalankan fungsi perawatan kesehatan keluarga dengan baik. Analisis lanjut peneliti, bahwa fungsi perawatan kesehatan keluarga yang baik memiliki peluang 4 kali lebih besar untuk mengendalikan hipertensi pada lanjut usia dibandingkan dengan fungsi perawatan kesehatan keluarga yang tidak baik.

6.1.8.Faktor Paling Dominan Yang Mempengaruhi Pengendalian Hipertensi Pada Lanjut Usia.

Hasil uji regresi logistik berganda diperoleh tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel fungsi afektif, fungsi ekonomi dan fungsi perawatan kesehatan dengan pengendalian hipertensi. Hal ini disebabkan masyarakat dalam mengendalikan hipertensi pada lanjut usia tidak hanya dipengaruhi oleh fungsi keluarga, melainkan kemungkinan ada faktor lain yang lebih dominan berhubungan dimana dalam penelitian ini tidak disebutkan.

Keluarga merupakan sistem dasar dimana keluarga berperilaku dan mengelola kesehatannya sebagai upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit serta memberi perawatan kepada anggota keluarga yang sakit (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Perawat komunitas yang berperan sebagai caregiver, edukator, fasilitator dan sebagainya, membantu memberdayakan masyarakat khususnya keluarga dalam

peningkatan kesehatan anggotanya dalam mengelola berbagai macam penyakit selama dirumah.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa fungsi keluarga tidak mutlak berpengaruh terhadap pengendalian hipertensi, namun dapat dilihat juga bagaimana pengetahuan, pemanfaatan media untuk mendapatkan informasi dan juga pencegahan yang dilakukan keluarga. Perawat komunitas wajib membantu dan menjadi fasilitator serta melakukan kemitraan dengan pihak yang berkepentingan dalam perawatan penyakit hipertensi di masyarakat.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 90-102)

Dokumen terkait