VI. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIS 6.1. Analisis Produksi Stochastic Frontier
6.1.2 Interpretasi Model Fungsi Produksi Stochastic Frontier
6.1.2 Interpretasi Model Fungsi Produksi Stochastic Frontier
Model fungsi produksi stochastic frontier digunakan untuk menganalisis
fungsi produksi usahatani labu zucchini di CV. Agro Segar. Parameter yang akan
digunakan adalah parameter dari fungsi produksi stochastic frontier metode
MLE. Besar R2 pada model adalah sebesar 74,4 persen yang berarti bahwa semua
faktor produksi (Xi) memberikan kontribusi sebesar 74,4 persen terhadap
peningkatan produksi labu zucchini (Y). Sebanyak 25,6 persen peningkatan produksi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk ke dalam model Dapat dilihat variabel yang berpengaruh positif terhadap produksi labu zucchini adalah lahan, benih, pupuk kandang, dan tenaga kerja. Variabel lain seperti lebar bedeng, jumlah pupuk kimia dan jumlah obat cair, berpengaruh negatif terhadap
54 peningkatan produksi labu zucchini. Variabel yang berdampak nyata terhadap peningkatan produksi adalah lahan. Berikut merupakan interpretasi dari
masing-masing faktor produksi dalam model terbaik fungsi produksi stochastic frontier.
6.1 2.1. Lahan
Penggunaan lahan berpengaruh positif dan berdampak nyata pada taraf kepercayaan 95 persen terhadap produksi labu zucchini. Nilai elastisitas lahan terhadap produksi sebesar 0,588 menunjukan bahwa dengan peningkatan luas lahan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi labu zucchini
sebesar 0,588 persen, cateris paribus.
Pengaruh lahan yang cukup besar menjelaskan bahwa adanya dugaan bahwa luas lahan yang digunakan oleh petani responden belum optimal sehingga harus ditingkatkan. Perluasan lahan dapat dilakukan dengan cara ekstensifikasi lahan. Namun permasalahannya pihak CV. Agro Segar belum berniat untuk melakukan ekspansi pasar labu zucchini sehingga akan berbanding lurus dengan
tingkat demand yang tidak akan mengalami peningkatan. Cara peningkatan
penggunaan lahan tidak akan berhasil tanpa ditunjang dengan ekspansi pasar. Ekspansi pasar ini masih mungkin untuk dilakukan karena masih jarang petani yang mengusahakan komoditi ini sehingga pasar masih terbuka lebar.
6.1 2.2. Lebar Bedeng
Lebar bedeng berpengaruh negatif terhadap produksi labu zucchini. Nilai elastisitas lebar bedeng terhadap produksi sebesar -0,295 menunjukan bahwa dengan peningkatan lebar bedeng sebesar satu persen maka akan menurunkan
produksi labu zucchini sebesar 0,295 persen, cateris paribus. Dapat diartikan
bahwa lebar bedeng yang digunakan petani responden sebagai ukuran tanam terlalu besar sehingga harus dikurangi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Apabila dibandingkan dengan buku panduan tanam labu zucchini, ukuran lebar bedeng yang digunakan petani responden memang lebih besar. Ukuran lebar bedeng di kalangan petani responden rata-rata 100 cm untuk satu jalur labu zucchini dengan jarak tanam 60 cm (jarak tanam sama
55 dengan buku panduan). Berdasarkan literatur, dengan lebar bedeng 100 cm dapat digunakan untuk dua jalur tanaman labu zucchini.
6.1.2.3. Benih
Penggunaan benih per lahan berpengaruh positif dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi labu zucchini. Nilai elastisitas benih per lahan terhadap produksi sebesar 0,029 menunjukan bahwa penambahan jumlah benih per lahan sebesar satu persen akan meningkatkan produksi labu zucchini sebesar 0,029
persen, cateris paribus. Hal ini menunjukan bahwa jumlah benih yang digunakan
oleh petani selama ini harus ditingkatkan dalam satu satuan luas lahan. Berkaitan dengan variabel luas lahan yang harus ditingkatkan dan lebar bedeng yang harus dikurangi sehingga ada penambahan jumlah bedeng dalam satu satuan luas lahan. Hal ini terlihat dari rata-rata jumlah tanaman yang ditanam oleh petani dalam satu hektar rata- rata 13.778 tanaman, sedangkan idealnya jumlah tanaman yang bisa ditanam dalam satu hektar adalah 20.708 tanaman.
Hasil pengolahan data mengatakan bahwa penggunaan rata-rata benih labu zucchini di lokasi penelitian adalah 2,67 kg/ha dengan jarak tanam 60 - 70 cm ,lebar bedeng 100cm, dan jarak antar bedeng 20 cm. Penggunaan benih 2,67 kg/ha dapat dikembangkan menjadi 13.778 tanaman. Standar ukur tanam yang ideal adalah dengan jarak tanam 60 cm, lebar bedeng 100 cm dengan untuk 2 jalur dan jarak antar bedeng 60 cm, dapat ditanami oleh 20.708 pohon dengan benih sebanyak 4,14 kg/ha.
6.1.2.4. Pupuk Kandang
Penggunaan pupuk kandang berpengaruh positif namun tidak berpengaruh nyata terhadap produksi labu zucchini. Nilai koefisien pupuk kandang sebesar 0,073 menunjukan bahwa dengan adanya penambahan penggunaan pupuk kandang sebesar satu persen akan meningkatkan produksi labu zucchini sebesar
0,073 persen, cateris paribus.
Penambahan pupuk kandang dapat menyebabkan kenaikan produksi karena pupuk kandang yang dapat membantu memulihkan kondisi tanah yang sebelumnya kurang subur. Hal ini akan berpengaruh pada tingkat unsur hara
56 dalam tanah yang berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroorganisme tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah. Dengan adanya penambahan penggunaan pupuk kandang akan berdampak baik pada pertumbuhan tanaman. Rata-rata penggunaan pupuk kandang oleh para petani labu zucchini CV. Agro Segar adalah 10.839,7 kg/ha. Sedangkan penggunaan pupuk kandang yang ideal adalah 2 kg/tanaman (dalam satu hektar terdapat 13.778 tanaman) sehingga total penggunaan pupuk kandang ideal adalah 27.556/ha. Penggunaan pupuk kandang di tingkat petani CV. Agro Segar masih kurang, sehingga penggunaan pupuk kandang dapat ditingkatkan lagi untuk meningkatkan tingkat produksi labu zucchini.
6.1.2.5Pupuk Kimia
Penggunaan pupuk kimia berpengaruh negatif dan tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan produksi. Nilai koefisien pupuk kimia sebesar -0,017 menunjukan bahwa dengan adanya peningkatan penggunaan pupuk kimia sebesar satu persen maka akan menurunkan produksi labu zucchini sebesar 0,017 persen,
cateris paribus. Hubungan negatif antara variabel pupuk kimia dengan tingkat produksi labu zucchini dikarenakan penggunaan pupuk kimia berlebihan dibandingkan jumlah penggunaan pupuk kimia yang dianjurkan. Rata-rata penggunaan pupuk kimia per hektar di lokasi penelitian adalah 540 kg/ha. Apabila dibandingkan dengan penggunaan ideal pupuk kimia untuk labu zucchini sebesar 154,8 kg/ha. Penggunaan pupuk kima harus dikurangi agar dapat meningkatkan produksi usahatani labu zucchini di lokasi penelitian. Seperti kita ketahui apabila penggunaan pupuk kimia melebihi dosis yang dianjurkan akan membahayakan pertumbuhan tanaman. Hal inilah yang diperkirakan menjadi penyebab menurunnya jumlah produksi. Pupuk kimia yang digunakan oleh petani labu zucchini di CV. Agro Segar adalah KCl, TSP, dan Urea. Adanya penggunaan pupuk kimia yang berlebihan diduga akibat antisipasi para petani menghadapi kegagalan produksi karena anggapan petani semakin banyak memberikan pupuk pada tanaman akan meningkatkan jumlah produksi labu zucchini.Namun apabila penggunaan pupuk kimia yang berlebihan akan menyebabkan pencemaran pada tanah dan membahayakan mikroorganisme dalam tanah. Hal ini sangat selaras
57 dengan tingkat penggunaan pupuk kandang yang harus ditingkatkan untuk mengimbangi tingkat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.
6.1.2.6Obat Cair
Penggunaan obat cair berpengaruh negatif dan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat produksi. Nilai koefisien sebesar -0,244 menunjukan bahwa dengan adanya penambahan obat cair sebesar satu persen akan menurunkan
produksi labu zucchini sebesar 0,244 persen, cateris paribus. Penggunaan
rata-rata obat cair yang di tingkat petani CV. Agro Segar rata-rata-rata-rata 33,014 liter/ha. Obat
cair yang digunakan oleh petani CV. Agro Segar adalah Score, Furacron,
Polichron, Sticker, Curacron, Rohastic, Curachron, dan lain-lain.
Selain obat cair petani pun menggunakan obat padat, namun tidak semua petani menggunakan obat padat sehingga penggunaan obat padat tidak dapat digunakan sebagai variabel yang dapat mempengaruhi tingkat produksi. Penggunaan rata-rata obat padat di tingkat petani sebesar 26,80 kg/ha. Obat padat
yang digunakan oleh petani CV. Agro Segar adalah Ditan, Supergrow, Fandozeb,
Manzet, dan lain-lain.
Jumlah penggunaan obat cair dan padat yang berbeda-beda setiap petani labu zucchini CV. Agro Segar dikarenakan perilaku petani yang beragam. Hal ini ditunjang oleh kebiasaan petani dalam menggunakan obat berlebihan yang sudah turun temurun dari keluarga terdahulu. Selain itu macam-macam merk obat yang digunakan petani dikarenakan perilaku petani yang selalu ingin mencoba obat-obatan baru di pasaran. Namun ada beberapa jenis obat yang umum digunakan oleh setiap petani responden, yaitu fungisida, insektisida, obat daun, dan perekat.
6.1.2.7Tenaga kerja
Penggunaan tenaga kerja berpengaruh positif dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi labu zucchini. Nilai koefisien tenaga kerja sebesar 0,137 menunjukan bahwa dengan adanya penambahan tenaga kerja sebesar satu persen
akan meningkatkan produksi labu zucchini sebesar 0,137 persen, cateris paribus.
Penambahan tenaga kerja terutama diperlukan untuk aktifitas pemeliharaan seperti penyiangan dan pendangiran. Semakin rendah aktifitas pemeliharaan maka
58 semakin tinggi peluang terkena serangan hama dan penyakit. Pemeliharaan yang intensif menjadikan perlunya petani menambah penggunaan tenaga kerja untuk meningkatkan produksi labu zucchini. Selain itu pada kegiatan pemupukan dibutuhkan tenaga kerja tambahan, karena pekerjaannya tergolong berat, tidak jauh berbeda saat kegiatan pengolahan lahan. Penambahan tenaga kerja dapat dilakukan dengan menambahkan jumlah petani labu zuchhini, jam kerja per hari, atau jumlah hari kerja.