• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN RESPONDEN

5.2. Karakteristik Petani Responden

Karakteristik petani responden yang akan dijelaskan diklasifikasikan menurut usia, tingkat pendidikan formal, pengalaman usahatani, keikutsertaan terhadap kelompok tani, dan status kepemilikan lahan. Keragaman karakteristik tersebut akan mempengaruhi keputusan petani responden dalam melakukan usahatani.

Petani yang menjadi responden berusia antara 26-65 tahun. Berdasarkan distribusi usia petani responden pada Tabel 6 terlihat bahwa petani responden

39 lebih banyak didominasi oleh petani dengan usia 26-35 tahun dan 46-55 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas petani berada dalam usia yang masih produktif. Petani responden yang tergolong usia produktif ini bisa dijadikan aset oleh perusahaan karena usia tenaga kerja akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Petani responden yang tergolong produktif akan memiliki kinerja yang baik, dari segi kemampuan menyerap informasi, keinginan untuk berinovasi, maupun bekerja di lapangan yang lebih optimal.

Tabel 6. Distribusi Usia Petani Responden Tahun 2011

Usia Jumlah % 26-35 9 34,62 36-45 5 19,23 46-55 10 38,46 56-65 2 7,69 Total 26 100

Pada umumnya semakin lama dan sering petani sudah bergelut di dunia pertanian akan membuat petani semakin berpengalaman dalam mengembangkan usahatani yang dijalankan, baik dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi maupun memanfaatkan celah agar tingkat produksi lebih optimal. Petani labu zucchini yang bekerja sama dengan pihak CV. Agro Segar memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan tidak terlalu lama dalam mengembangkan komoditi labu zucchini karena labu zucchini tergolong jenis sayuran yang baru yang dikembangkan di Desa Ciherang dan masih sedikit sekali petani yang mengembangkan labu zucchini. Rata- rata petani responden sudah mengembangkan labu zucchini selama satu sampai tiga tahun yang lalu. Pengalaman petani labu zucchini yang terlama adalah sekitar empat sampai enam tahun yang lalu sudah menanam labu zuchini. Petani responden yang memiliki pengalaman kurang dari satu tahun hanya ada dua orang. Berikut distribusi lama pengalaman petani responden dapat dilihat pada Tabel 7.

40

Tabel 7. Distribusi Pengalaman Petani Responden Tahun 2011

Pengalaman Usahatani Jumlah %

< 1 tahun 2 7,69

1-3 tahun 13 50

4-6 tahun 11 42,31

Total 26 100

Tingkat pendidikan berpengaruh dalam suatu kegiatan usahatani. Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan petani responden akan memudahkan petani dalam mengadopsi segala ilmu dan teknologi yang akan diterapkan dalam menjalankan suatu usahatani. Tingkat pendidikan formal akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan usahatani saat akan mengkombinasikan faktor-faktor produksi agar produksi menjadi lebih optimal. Dapat dilihat pada Tabel 8 sebagian besar tingkat pendidikan petani responden masih rendah, yaitu lulusan Sekolah Dasar sebanyak 73,07 persen dari keseluruhan sampel.

Tabel 8. Distribusi Tingkat Pendidikan Formal Petani Responden Tahun 2011

Pendidikan Formal Jumlah %

Tidak lulus SD 2 7,69

Lulusan SD 19 73,08

Lulusan SMP 1 3,85

Lulusan SMU 4 15,38

Total 26 100

Lama pendidikan petani responden berkisar antara 3-12 tahun, dengan ringkat tertinggi SMA dan tingkat terendah adalah Sekolah Dasar. Pada usahatani labu zucchini CV. Agro Segar kemampuan dan kinerja petani responden tidak dapat diwakilkan oleh tingkat pendidikannya, karena teknologi dalam

41 mengembangkan usahatani labu zucchini tergolong mudah untuk diterapkan oleh setiap petani.

Dalam rangka mengembangkan kualitas kinerja para petani sebaiknya tidak hanya mengikuti pendidikan formal saja, namun dibutuhkan pendidikan non formal seperti penyuluhan dan praktek penerapan ilmu serta teknologi baru dalam bertani. Pada umumnya kegiatan penyuluhan sering didiadakan oleh penyuluh pertanian setempat karena merupakan salah satu bentuk binaan penyuluh agar para petani terus dapat terus mengikuti perkembanganilmu pertanian dari waktu ke waktu sehingga akan tercipta pertanian yang selalu berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman. Namun terdapat kendala pada penyebaran informasi tersebut, karena karakteristik petani pada umumnya yang menutup diri dan cenderung menolak untuk melakukan penyesuaian terhadap teknologi dan informasi yang baru. Cara yang bisa dilakukan untuk mempermudah penyampaian ilmu dan teknologi kepada petani ini bisa melalui kelompok tani. Dengan adanya kelompok tani, yang merupakan kelembagaan terdekat dengan petani, informasi tersebut dapat dengan mudah diterima karena dengan memberikan penyuluhan secara kelompok dengan anggota yang memiliki kepentingan yang sama, ada dorongan dan motivasi anggota kelompok tani untuk sama-sama belajar mengembangkan pertanian yang lebih baik. CV. Agro Segar dalam melakukan penyuluhan tentang semua hal yang berkaitan dengan kegiatan usahatani yang dikembangkannya melalui Kelompok Tani Agro Segar sehingga apabila ada informasi pertanian baru akan dengan mudah disebarkan pada anggota kelompok tani. Kelompok Tani Agro Segar merupakan binaan CV. Agro Segar . tidak semua petani responden merupakan anggota kelompok tani, sehingga mereka hanya melakukan kerjasama dalam bidang pemasaran maupun produksi (peminjaman input-input produksi) dengan pihak CV. Agro Segar tanpa mengikuti kegiatan kelompok tani seperti penyuluhan tersebut. Penyuluhan dilakukan paling sedikit satu kali pertemuan dalam sebulan. Berdasarkan Tabel 9 petani responden sebagian besar pernah mengikuti penyuluhan yang dilaksanakan oleh pihak CV. Agro Segar seputar budidaya labu zucchini. ketidaksertaan petani dalam kegiatan penyuluhan tidak terlalu mempengaruhi kinerja petani karena tata cara budidaya labu zucchini tergolong mudah dan memiliki risiko yang rendah

42 sehingga petani yang tidak berpengalaman pun dapat dengan mudah mengadopsi teknik dalam membudidayakan labu zucchini.

Tabel 9. Distribusi Penyuluhan Petani Responden Tahun 2011

Pernah Mengikuti Penyuluhan Jumlah %

Ya 14 53,85

Tidak 12 46,15

Total 26 100

Di lokasi penelitian terdapat dua bentuk kepemilikan lahan yaitu lahan sewaan dan lahan miliki sendiri. Terdapat sembilans belas petani yang menyewa lahan untuk mengembangkan usahatani labu zucchini dan sisanya memiliki lahannya sendiri. Berikut distribusi status kepemilikan lahan petani responden dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Distribusi Status Kepemilikan Lahan Petani Responden Tahun 2011

Status Usahatani Jumlah %

Pemilik 7 26,92

Non Pemilik 19 73,08

Total 26 100

Luas lahan yang dimiliki oleh petani responden relatif kecil antara 0,02 hektar sampai dengan 0,12 hektar. Keseluruhan petani responden mengusahakan labu zucchini secara monokultur. Lahan yang dimiliki petani responden tergolong pada ladang atau tegalan.

43

5.3. Kelembagaan Agribisnis yang Berperan Pada Usahatani Labu