VI. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIS 6.1. Analisis Produksi Stochastic Frontier
6.2 Tingkat Efisiensi Teknis dan Inefisiensi Teknis
Model efek inefisiensi teknis dianalisis secara simultan dalam model
stochastic production frontier. Variabel-variabel bebas yang digunakan adalah umur, pengalaman, pendidikan formal, penyuluhan dan status kepemilikan lahan. Tabel 17 menerangkan ringkasan statistik dari variabel yang digunakan dalam model efek inefisiensi teknis.
Tabel 17. Ringkasan Statistik Bebas Variabel Model Inefisiensi Teknis
Bebas variabel Mean Min Maks Std dev
Umur (tahun) 41,85 26 65 11,05
Pengalaman (tahun) 3,15 0,5 6 1,82
Pendidikan formal(tahun) 7,04 3 12 2,39
Penyuluhan (dummy) 0,54 0 1 0,51
status kepemilikan lahan (dummy) 0,27 0 1 0,45
Hasil pendugaan tingkat efisiensi teknis menunjukan tingkat efisiensi
teknis petani labu zucchini berada pada range 0,48 sampai 0,99, rata-rata tingkat
efisiensi teknis petani labu zucchini di CV. Agro Segar adalah 0,79 atau 79 persen dari produksi maksimum.
Hal ini menunjukan bahwa usahatani labu zucchini di CV. Agro Segar telah cukup efisien dan masih terdapat peluang meningkatkan produksi sebesar 21 persen untuk mencapai produksi maksimum.
59
Tabel 18. Distribusi Petani Responden Berdasarkan Tingkat Efisiensi Teknis
Usahatani Labu zucchini di CV. Agro Segar
Kelompok Efisiensi Teknis Jumlah (orang) Presentase (persen)
TE < 0,5 1 3,85 0,5 TE < 0,60 5 19,23 0,6 TE < 0,7 2 7,69 0,7 TE < 0,8 4 15,38 0,8 TE < 0,9 6 23,08 TE 0,9 8 30,77 Total 26 100 Rata-rata TE 0,79 Minimum TE 0,48 Maksimum TE 0,99
Petani dikategorikan efisien jika memiliki nilai indeks efisiensi lebih dari 0,7. Sebesar 69,23 persen petani memiliki tingkat efisiensi teknis 0,7 sedangkan sisanya sebesar 30,77 persen masih di bawah 0,7. Petani yang memiliki indeks efisiensi teknis di bawah 0,7 dapat dijadikan sasaran penyuluhan peningkatan manajemen usahatani dan teknis pertanian.
Tabel 19. Pendugaan Parameter Maximum-Likelihood Model Inefisiensi Teknis
Produksi Labu zucchini di CV. Agro Segar Tahun 2011
Variabel Parameter Koefisien t-hitung
Inefficiency Model Intersep Umur Pengalaman Pendidikan formal Penyuluhan
Status kepemilikan lahan
0 1 2 3 4 5 -0,656 0,014 -0,023 0,038 -0,021 0,022 -1,457** 4,455* -0,381 1,293** 0,120 0,159
60 Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis dianalisis dengan model efek inefisiensi teknis dengan variabel-variabel yang telah diterangkan sebelumnya. Hasil dari analisis model inefisiensi teknis menunjukkan bahwa terdapat tiga variabel yang berpengaruh positif terhadap inefisiensi teknis produksi, yaitu umur, pendidikan formal, dan status kepemilikan lahan. Sedangkan variabel lainnya seperti pengalaman dan penyuluhan berpengaruh negatif. Variabel-variabel berpengaruh nyata pada tingkat inefisiensi adalah umur pada taraf kepercayaan 95 persen dan pendidikan formal pada taraf kepercayaan 25 persen. Diduga masih ada variabel lain yang lebih berpengaruh pada tingkat inefisiensi petani mitra labu zucchini CV. Agro Segar yang belum diketahui oleh peneliti, petani responden, maupun pihak perusahaan karena banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis dari suatu usahatani.
Pengaruh dari masing-masing efek inefisiensi teknis akan diuraikan sebagai berikut :
6.2.1. Umur Petani
Umur petani berpengaruh positif dan berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 95 persen terhadap efek inefisiensi teknis usahatani labu zucchini. Koefisien 0,014 menunjukan jika petani bertambah umurnya satu tahun, maka
inefisiensi akan naik sebesar 0,014, cateris paribus. Hal ini menunjukan bahwa
semakin bertambahnya umur petani maka inefisiensi teknis usahatani labu zucchini akan semakin tinggi. Sesuai hipotesis awal, petani labu zucchini CV. Agro Segar mayoritas masih dalam tingkat usia produktif yaitu 20-50 tahun dengan jumlah sebanyak 20 petani, sehingga kemampuan petani dalam meningkatkan kinerja dan kemampuan akan penyerapan teknik dan teknologi baru yang diberikan oleh penyuluh masih dalam keadaan baik. Apabila usia petani responden semakin bertambah, akan berdampak pada kemampuan petani dalam megadopsi teknologi baru. Karakter petani di tempat penelitian yang lebih berumur cenderung menolak untuk beradaptasi dengan teknologi baru karena mereka beranggapan bahwa teknologi yang diturunkan secara turun temurun dari keluarga sebelumnya lebih dipercaya dibandingkan dengan teknologi baru. Mereka lebih percaya akan bukti nyata sehingga apabila ada teknologi baru yang belum pernah dicoba dalam praktek secara langsung dan belum terlihat hasilnya
61 petani responden tidak akan mau menggunakan teknologi tersebut. Hal ini disebabkan karena anggapan mereka bahwa teknologi yang belum pasti hasilnya akan menambah biaya produksi. Seperti kita ketahui teknologi dan kondisi pertanian berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Apabila kita ingin mengembangkan usahatani yang kita jalankan, kita harus dapat beradaptasi dengan kondisi pertanian dan perkembangan teknologi tersebut.
6.2.2. Pengalaman
Pengalaman berpengaruh negatif dan tidak berpengaruh nyata terhadap efek inefisiensi teknis usahatani labu zucchini di lokasi penelitian. Koefisien -0,023 menjelaskan jika pengalaman petani bertambah satu tahun maka inefisiensi teknis akan menurun 0,023. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal yang diduga pengalaman akan menurunkan inefisiensi teknis. Hal ini dikarenakan semakin banyak pengalaman yang dimiliki oleh petani labu zucchini, maka tingkat pengetahuan petani dalam membudidayakan labu zucchini semakin bertambah. Sehingga dengan semakin bertambahnya pengalaman petani maka petani akan lebih ahli dalam mengatasi segala permasalahan yang biasa dihadapi dalam kegiatan produksi labu zucchini. Petani labu zucchini CV. Agro Segar sangat terbuka terhadap teknologi dan inovasi baru dalam berusahatani. Namun tidak terlalu berpengaruh nyata karena budidaya labu zucchini tergolong mudah sehingga petani dengan tingfkat pengalaman yang lebih sedikit pun dapat membudidayakan labu zucchini dengan mudah.
6.2.3. Pendidikan formal
Pendidikan diukur berdasarkan jumlah waktu (tahun) yang ditempuh petani dalam menjalankan masa pendidikan formalnya. Pendidikan berkorelasi positif dan berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 75 persen terhadap inefisiensi teknis. Koefisien 0,038 menunjukan jika pendidikan petani bertambah
satu tingkat, maka inefisiensi akan naik sebesar 0,038, cateris paribus.Hal ini
menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka inefisiensi teknis usahatani akan semakin tinggi. Hasil dari model tidak sesuai dengan asumsi awal karena tingkat efisiensi teknis budidaya labu zucchini CV. Agro Segar tidak
62 dipengaruhi oleh tingkat pendidikan petani responden. Mayoritas petani responden adalah lulusan SD sebanyak 73,08 persen, tidak lulus SD sebanyak 7,69 persen, dan sebanyak 19,23 persen melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dalam mengembangkan usahatani labu zucchini tidak terlalu membutuhkan petani dengan tingkat pendidikan yang tinggi, karena budidaya labu zucchini tergolong mudah sehingga tanpa perlu tingkat pendidikan yang tinggi para petani dapat melakukan kegiatan produksi dengan baik. Selain itu dalam penerapan ilmu budidaya labu zucchini pada petani CV. Agro Segar di lapangan tidak melalui pendidikan secara formal, namun melihat langsung secara praktek.
6.2.4. Penyuluhan
Penyuluhan berpengaruh negatif dan tidak berpengaruh nyata terhadap
inefisiensi teknis labu zucchini. Hal ini menunjukan bahwa dengan adanya
penyuluhan mengenai teknik dan teknologi usahatani labu zucchini dapat meningkatkan efisiensi teknis petani labu zucchini. Petani responden yang telah mengikuti penyuluhan berkisar 14 orang yang merupakan anggota kelompok tani Agro Segar yang berkoordinasi dengan CV. Agro Segar dalam menjalankan usahatani labu zucchini, karena salah satu bentuk peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki CV. Agro Segar dengan mengadakan penyuluhan bagi anggotanya. Namun tidak terlalu berpengaruh karena proses budidaya labu zucchini tergolong mudah sehingga petani non anggota kelompok tani Agro Segar dapat mengadopsi teknologi dan teknik budidaya labu zucchini dengan mudah.
6.2.5. Status Kepemilikan Lahan
Status usahatani merupakan penjelasan mengenai jenis pekerjaan budidaya labu zucchini bagi petani, sebagai pekerjaan utama atau pekerjaan sampingan. Status usahatani berkorelasi positif dan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat inefisiensi labu zucchini. Nilai positif menunjukkan bahwa petani yang menyewa lahan untuk mengembangkan labu zucchini lebih efisien dibandingkan dengan petani yang memiliki lahan sendiri. Hal ini disebabkan rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh petani yang bukan pemilik lahan lebih besar dibandingkan dengan