2001 2005 2010 Provinsi Jumlah
5.2. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tingkat Penyerapan Tenagakerja Sektor Industri di Pulau Jawa Tahun 2001 –
5.2.1. Interpretasi Model Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri di Pulau Jawa tahun 2001 –
Berdasarkan hasil analisis yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik (uji-t) di atas, dari empat variabel yang digunakan hanya ada satu variabel yang tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen (0,05). Variabel tersebut adalah PMDN sektor industri (PMDN_IND) yang memiliki probabilitas t-statistik sebesar 0,2047. Koefisien variabel menunjukkan hubungan yang negatif dan tidak sesuai dengan hipotesis, yaitu sebesar -0,002127.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hipotesis diduga investasi PMDN sektor industri di Pulau Jawa lebih besar dialokasikan pada subsektor industri yang lebih padat modal atau subsektor yang lebih dominan dalam menggunakan teknologi (mesin-mesin) dalam melakukan aktivitas produksinya. Berdasarkan data pada tabel 4.6 persentase untuk nilai PMDN paling besar terserap pada subsektor industri makanan. Persentase nilainya meningkat cukup signifikan dari sebesar 19,83 persen tahun 2005 menjadi 63,87 persen di tahun 2010. Pada subsektor industri makanan, dalam melakukan aktivitas produksi (pengolahan hingga tahap pengemasan) lebih didominasi oleh penggunaan teknologi (mesin- mesin) modern yang lebih cepat dan efisien ketimbang menggunakan banyak jasa tenaga kerja.
Maka dari itu, adanya investasi PMDN di subsektor tersebut diduga lebih besar digunakan untuk belanja mesin-mesin baru atau adanya peremajaan mesin-
mesin untuk meningkatkan efisiensi produksi. Akan tetapi, pengaruh yang tidak signifikan dalam hasil estimasi diduga karena seiring dengan adanya perubahan teknologi yang cukup besar, subsektor industri makanan juga menyerap tenaga kerja yang juga relatif besar. Hal ini dikarenakan memang tenaga kerja tersebut juga dibutuhkan untuk menggerakkan tenaga mesin selama proses produksi hingga distribusi barang. Tenaga kerja yang terserap pada subsektor industri makanan pada tahun 2005 sebesar 35,09 persen, kemudian meningkat pada tahun 2010 yaitu sebesar 45,63 persen.
Variabel upah minimum provinsi riil sektor industri (UMP_IND) berpengaruh nyata pada taraf 5 persen terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri. Hal ini karena nilai probabilitas t-statistik tersebut yaitu 0,0296 yang lebih kecil dari 0,05 (taraf nyata 5 persen). Koefisien variabel menunjukkan hubungan yang negatif dan sesuai dengan hipotesis, yaitu sebesar -0,035252. Nilai tersebut memberikan arti bahwa jika UMP riil sektor industri mengalami penurunan sebesar 1 persen maka tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut akan meningkat sebesar 0,035252 (cateris paribus). Hasil penelitian ini sejalan dengan dengan penelitian Akmal (2010) dan Nila (2011).
Sesuai dengan apa yang dikemukakan dalam teori permintaan tenaga kerja bahwa pada saat tingkat upah tenaga kerja menurun maka akan terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja yang diminta bila diasumsikan meningkatnya jumlah permintaan barang oleh konsumen (derived demand), demikian pula sebaliknya. Upah dari sisi produsen merupakan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar jasa tenaga kerja. Apabila biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan produktivitas yang dihasilkan oleh pekerja, terjadinya
peningkatan tingkat upah di sektor industri akan menyebabkan pihak perusahaan mengurangi penggunaan tenaga kerja dan lebih memilih untuk menggantikan dengan alat produksi (mesin-mesin) yang lebih dianggap efisien (efek subtitusi). Hal ini sangat sesuai dengan karakteristik sektor industri yang identik dengan adanya perubahan teknologi yang digunakan dalam proses produksi output (barang).
Variabel PDRB riil sektor industri (PDRB_IND) berpengaruh nyata pada taraf 5 persen terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri. Hal ini karena nilai probabilitas t-statistik tersebut yaitu 0,0000 yang lebih kecil dari 0,01 (taraf nyata 1 persen). Koefisien variabel menunjukkan hubungan yang positif dan sesuai hipotesis, yaitu sebesar 0,333758. Nilai tersebut memberikan arti bahwa jika terjadi kenaikan PDRB sektor industri sebesar 1 persen maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor industri sebesar 0,333758 persen (ceteris paribus). Hasil pengujian ini sesuai dengan teori Okun yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara PDB riil dengan tingkat pengangguran. Pertumbuhan PDB riil dalam hal ini akan menyerap tenaga kerja dan mengurangi jumlah pengangguran (Mankiw, 2007). Hasil pengujian ini juga sejalan dengan penelitian (Nachrowi dan Sitanggang, 2004), (Sianturi, 2008), (Akmal, 2010), dan (Nila, 2011).
Variabel PDRB riil sektor industri dalam hasil estimasi model memberikan pengaruh yang paling besar dalam menyerap tenaga kerja. Hal ini dikarenakan adanya efek pendapatan yang terus meningkat dari nilai tambah yang dihasilkan oleh para tenaga kerja di sektor industri. Berdasarkan teori jika produk fisik marginal (marginal productivity of labour) dari hasil tambahan satu-satuan
tenaga kerja meningkat dalam jumlah tertentu, maka akan meningkatkan permintaan tenaga kerja untuk meningkatkan jumlah produksi sehingga penyerapan tenaga kerja baru juga meningkat dan tingkat pengangguran akan menurun. Hal ini didasari dengan asumsi bahwa adanya peningkatan jumlah produksi dikarenakan juga oleh adanya peningkatan dalam permintaan barang hasil produksi oleh konsumen (derived demand).
Variabel PMA sektor industri (PMA_IND) berpengaruh nyata pada taraf 5 persen dengan probabilitas 0,0416 dan berhubungan positif terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri dengan nilai koefisien sebesar 0,010873. Artinya jika terjadi peningkatan PMA sektor industri sebesar 1 persen maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,010873 persen, ceteris paribus. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis dan sejalan dengan penelitian (Rakhman, 2011). Secara teoritis semakin besar nilai PMA dengan asumsi investasi yang banyak menyerap tenaga kerja (padat karya), maka akan tercipta kesempatan kerja yang semakin tinggi sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran di Pulau Jawa. Berdasarkan data pada tabel 4.4, besarnya nilai investasi PMA di sektor industri di Pulau Jawa setiap tahunnya juga berdampak pada besarnya tenaga kerja yang diserap oleh sektor tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa investasi PMA yang diserap oleh sektor industri bersifat padat karya.
Dari hasil estimasi (Tabel 5.3) terdapat Fixed Effect (Cross) yang memperlihatkan pembeda dari setiap cross section (provinsi). Terlihat bahwa Jawa Tengah memiliki nilai pembeda yang paling tinggi yaitu sebesar 0,775135. Hal ini berarti Provinsi Jawa Tengah memiliki kemampuan dalam menyerap
tenaga kerja sektor industri paling besar. Sedangkan DI Yogyakarta memiliki efek yang paling kecil, yaitu -0,727728 sehingga dapat dikatakan provinsi tersebut memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja lebih rendah.
Kemampuan dalam menyerap tenaga kerja yang lebih besar dalam hal ini tidak hanya dilihat dari seberapa besar orang yang bekerja pada sektor tersebut, akan tetapi disisi lain juga mampu dalam mengurangi tingkat pengangguran yang ada. Provinsi Jawa Tengah dalam hal ini memiliki jumlah terbesar kedua dalam menyerap tenaga kerja di sektor industri setelah Jawa Barat, akan tetapi provinsi Jawa Tengah memiliki rata-rata tingkat pengangguran per tahunnya yang relatif lebih rendah dibandingkan Jawa Barat yaitu sebesar 7,69 persen, sedangkan Jawa Barat sebesar 12,96 persen. Rendahnya tingkat pengangguran di Jawa Tengah dapat dikarenakan juga oleh laju pertumbuhan penduduk yang relatif lebih rendah diantara provinsi lainnya yaitu sebesar 0,37 persen selama tahun 2000-2010.
Dengan memiliki laju pertumbuhan penduduk yang lebih rendah dari provinsi lainnya, Jawa Tengah secara tidak langsung memiliki permasalahan yang relatif kecil terhadap pengangguran. Sehingga dapat dikatakan bahwa provinsi Jawa Tengah mampu menyerap tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan dengan provinsi lainnya di Pulau Jawa.
5.3. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tingkat Penyerapan