6 PEMBAHASAN
6.6 Interpretasi Strategi Kebijakan Perikanan Tangkap Berkelanjutan
6.6.2 Interpretasi terkait kestabilan prioritas kebijakan
Untuk mengetahui kestabilan alternatif dan sifat sensitivitasnya terhadap berbagai kemungkinan perubahan nyata, kebijakan perikanan tangkap yang menjadi prioritas guna mendukung pengelolaan dari semua kriteria/dimensi yang ada perlu dilakukan uji sensitivitas sebagaimana dilakukan Malanesia et al. (2008) dalam penelitian di Kabupaten Lampung Selatan, agar dalam implementasinya dapat mendukung pengelolaan dari semua kriteria/dimensi yang ada. Menurut Malanesia et al. (2008), sensitivitas opsi kebijakan pengembangan perikanan tangkap terkait kriteria pengelolaan yang ada sangat dibutuhkan untuk memberi arahan bagi implementasinya di lokasi dimaksud. Hal ini selain untuk memberi kepastian bagi pelaku perikanan terutama nelayan kecil, juga untuk efisiensi pembiayaan program.
Terdapat lima kriteria/dimensi yang perlu diakomodir untuk mendukung pengelolaan perikanan terpadu, yaitu dimensi ekologi, biologi, ekonomi, sosial, maupun teknologi. Stabil tidaknya kebijakan tersebut dapat dilihat perilaku alternatif kebijakan prioritas tersebut (tetap bertahan di posisi puncak atau tidak) bila perhatian atau rasio kepentingan dari kriteria/dimensi yang perlu diakomodir tersebut diubah-ubah.
Tabel 26 Hasil uji sensitivitas terhadap alternatif kebijakan pengelolaan perikanan tangkap terpilih (prioritas I)
No. Kriteria/Dimensi
Rasio Kepentingan
(RK) Awal
Hasil Uji Sensitivitas
Range Stabil Range Sensitif
1 Ekologi 0,362 0 – <0,396 >0,396 - 1
2 Biologi 0,199 0 – 1 Tidak ada
3 Ekonomi 0,206 0 - <0,596 >0,596 – 1
4 Sosial 0,098 0 - <0,782 >0,782 – 1
5 Teknologi 0,135 0 - <0,591 >0,591 – 1
Berdasarkan Tabel 26, RK range sensitif kebijakan standardisasi
perikanan ukuran kecil (SPUK) terhadap dimensi ekologi berada pada kisaran >0,396 – 1. Hal ini mengandung pengertian bahwa jika kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) diimplementasikan, maka tidak akan terpengaruh oleh kepentingan dimensi ekologi perairan Jakarta selama rasio kepentingan tersebut tidak melebihi 39,6 %.
Gambar 33 Tingkat sensitivitas kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi ekologi.
Gambar 33 memperlihatkan tingkat sensitivitas kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) yang tidak lagi menjadi prioritas pertama dengan berubahnya perhatian / rasio kepentingan dari dimensi ekologi (RK ekologi = 0,396). Setiap perubahan rasio kepentingan dimensi ekologi diubah-ubah, maka rasio kepentingan empat dimensi lainnya juga berubah secara proporsional, demikian sebaliknya. Bila melihat rasio kepentingan dimensi ekologi awal sekitar 0,362, berarti sudah mendekati range sensitif. Oleh karena itu, maka implementasi kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) harus benar- benar memperhatikan perubahan yang terjadi pada dimensi ekologi perairan Jakarta.
Gambar 34 Tingkat sensitivitas kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi biologi.
Tingkat sensitivitas kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi biologi disajikan pada Gambar 34. Berdasarkan Gambar 34, RK range sensitif alternatif kebijakan terpilih terhadap dimensi biologi tidak ada. Hal ini mengandung pengertian bahwa posisi kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) sebagai prioritas pertama pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan tidak terpengaruh oleh perubahan
perhatian terhadap dimensi biologi perairan Jakarta meskipun dikurangi menjadi 0 % (RK = 0) maupun ditambah menjadi 100 % (RK = 1). Hal ini terjadi karena kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dapat secara langsung menjaga kondisi biologi perairan, sehingga tidak begitu terpengaruh apakah dimensi biologi perairan yang ada saat ini lebih diperhatikan atau kurang diperhatikan.
Gambar 35 Tingkat sensitivitas kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi ekonomi.
RK range sensitif kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi ekonomi berada pada kisaran >0,596 – 1 (Tabel 26). Hal ini mengandung pengertian bahwa bila terjadi perubahan perhatian terhadap kriteria dimensi ekonomi sehingga rasio kepentingannya menjadi 0,596 atau lebih akan menyebabkan kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) tidak lagi menjadi kebijakan prioritas pertama untuk pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan (Gambar 35). Terkait dengan ini, maka dalam implementasi kebijakan terpilih tersebut, perhatian kriteria/dimensi ekonomi tidak boleh berlebihan sehingga mengabaikan kriteria lainnya. Kegiatan perikanan yang cenderung mengejar keuntungan jangka pendek, tanpa peduli lingkungan sekitar, daya dukung biologi perairan, penggunaan teknologi ramah lingkungan, dan lainnya yang dapat merusak ekosistem harus dihindari di perairan Jakarta.
Sebagaimana dikemukakan oleh Brooks (2009) bahwa dalam jangka panjang keuntungan dari perikanan hanya akan diperoleh secara berkelanjutan jika ekosistemnya sehat.
Gambar 36 Tingkat sensitivitas kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi sosial.
RK range sensitif kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi sosial berada pada kisaran >0,782 – 1 (Tabel 26). Dengan demikian, maka peningkatan perhatian terhadap kriteria/dimensi sosial dapat ditingkatkan dari kondisi yang ada saat ini (RK awal = 0,098) namun tidak boleh melebihi 0,782 dan perhatian terhadap kriteria lainnya tidak terlalu menurun. Hal ini agar kondisi yang ditunjukkan pada Gambar 36 tidak akan terjadi. Pada Gambar 36, kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) tidak lagi menjadi kebijakan prioritas pertama dalam mendukung pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan karena perhatian terhadap dimensi sosial berlebihan (78,2 %, RK = 0,782), prioritas pertama digantikan oleh kebijakan pemberdayaan SDM. Dalam implementasinya hal ini harus benar-benar diperhatikan supaya kebijakan yang diprogramkan dengan biaya besar tidak mudah berubah hanya karena peningkatan perhatian terhadap kondisi sosial yang ada pada masyarakat.
Gambar 37 Tingkat sensitivitas kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) dengan perhatian pada dimensi teknologi.
Pada Gambar 37 terlihat kebijakan standardisasi perikanan ukuran kecil
(SPUK) tidak lagi menjadi kebijakan prioritas pertama setelah perhatian atau rasio kepentingan dimensi teknologi ditingkatkan dari 0,135 menjadi 0,591. Hal ini berarti bahwa orientasi modernisasi teknologi penangkapan di perairan Jakarta cenderung mengarah pada peningkatan upaya dalam kegiatan perikanan tangkap, dan kemungkinan memarginalkan kegiatan penangkapan ikan skala kecil. Padahal perikanan ukuran kecil dianggap tepat di perairan Jakarta karena lebih dapat menjaga kondisi perairan yang overfishing dan adanya kawasan konservasi di perairan Jakarta. Dalam upaya modernisasi alat penangkapan ikan di perairan Jakarta perlu selektif dalam pemilihan teknologi agar tidak bertentangan dengan upaya pengembangan perikanan skala kecil.
6.7 Pembahasan Umum
Gambaran perikanan tangkap di perairan Jakarta dilihat dari jumlah alat tangkap pada kurun waktu 2004-2008 kecenderungan meningkat, hanya pada tahun 2006 berkurang sebanyak total 349 unit, dimana pengurangan terbesar pada
alat tangkap bubu dan penambahan terbesar pada alat tangkap rawai. Pergeseran penggunaan alat tangkap terjadi dari bubu dan payang ke rawai dan muro ami. Muro ami sejak tahun 2005 dijadikan program pemerintah daerah untuk dikembangkan di perairan Jakarta dengan metode yang dianggap lebih ramah lingkungan, yaitu mengganti alat penggiring ikan dari bahan yang biasanya terbuat dari besi menjadi karet dan memberikan penyuluhan tentang cara menggiring ikan ke jaring tanpa harus menginjak / merusak terumbu karang. Walaupun rawai dan muro ami jumlahnya bertambah, produksi rawai mengalami penurunan produksi di tahun 2008, sedangkan produksi muro ami mengalami peningkatan yang tidak signifikan.
Dari sisi produksi, untuk kurun waktu yang sama kecenderungan meningkat, peningkatan produksi akibat berkembangnya alat tangkap aktif, seperti jaring insang hanyut, rawai dan muro ami. Alat tangkap pasif yang berkembang adalah bagan perahu dengan angka produksi yang meningkat tajam di tahun 2008, hal ini menunjukkan produktivitas bagan perahu yang tinggi. Alat tangkap pasif yang berkurang adalah bubu, namun produksinya menurun tidak signifikan, hal ini berarti produktivitas bubu cukup tinggi walaupun pengurangan bubu cukup signifikan. Alat tangkap aktif yang berkurang adalah payang, namun produksinya meningkat signifikan pada tahun 2008.
Dari perhitungan hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) total ke enam alat tangkap potensial untuk kurun waktu 2004-2008 berkecenderungan menurun yaitu dari 11,81 ton/trip pada tahun 2004 menjadi 2,74 ton/trip pada tahun 2008. Kondisi ini didukung oleh penelitian terdahulu terhadap SDI demersal di perairan Jakarta, sejak tahun 2003 sudah dikategorikan tangkap lebih (Anna 2003). Analisis data statistik membuktikan bahwa produksi alat tangkap rawai ikan dasar yang dikategorikan selektivitasnya tinggi mengalami penurunan produksi pada saat rawai bertambah jumlahnya di tahun 2008, sedang produksi alat tangkap payang tetap meningkat karena selektivitasnya lebih rendah dari rawai ikan dasar.
Dari sisi lingkungan perairan, perairan Jakarta sudah dikategorikan tercemar oleh limbah sampah, kimia dan minyak. Hal ini disebabkan selain oleh faktor kondisi alamiah perairan Jakarta yang merupakan muara ke-13 sungai,
tekanan penduduk kota Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok serta kondisi hutan lindung di Bogor, Puncak dan Cianjur yang tidak terjaga menjadikan ke-13 sungai yang bermuara di perairan Jakarta sebagai saluran pembawa limbah sampah. Limbah kimia yang masuk ke perairan Jakarta berasal dari industri-industri yang dibangun di sepanjang pesisir Jakarta Utara yang pembuangan limbah kimianya ke laut. Hal ini jugs diduga sebagai penyebab tumbuhnya sejenis tumbuhan alga merah beracun yang menyebabkan terjadinya kematian massal ikan di perairan Jakarta (Kusumastanto 2007). Limbah yang berunsur minyak berasal dari minyak tumpahan kapal-kapal tanker yang melintasi perairan Jakarta dan dari pengeboran minyak lepas pantai milik China National Offshore Oil Company (CNOC) SES Ltd. yang berlokasi di sekitar pulau Pabelokan, 20 mil dari Pulau Kotok Besar, Kecamatan Kep. Seribu Utara, perusahaan pengeboran minyak lepas pantai ini mempunyai fasilitas dermaga pengeboran minyak sendiri di Kalijabat, Ancol Timur, Jakarta Utara.
Lingkungan perairan lain yang penting adalah hutan bakau dan terumbu karang. Berkurangnya luas hutan bakau disebabkan oleh proses alamiah akibat pencemaran perairan dan akibat alih fungsi lahan hutan bakau menjadi perumahan oleh tangan manusia. Kerusakan terumbu karang disebabkan secara alamiah oleh pencemaran perairan Jakarta dan aktivitas manusia yang menangkap ikan secara destruktif di area terumbu karang dengan menggunakan bom atau sianida.
Upaya pemerintah dalam menanggulangi permasalahan di atas menurut penulis saat ini belum dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dengan baik bersama pihak-pihak yang berkepentingan. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang memadukan dengan lingkungan belum tersedia. Peraturan tentang perikanan di tingkat pusat dan provinsi untuk perairan Jakarta sudah ada antara lain peraturan mengenai jalur-jalur penangkapan ikan dan jenis alat tangkap yang diperbolehkan sesuai dengan SK Mentan no 392 tahun 1999 serta peraturan daerah tentang besaran retribusi perikanan untuk perijinan usaha perikanan, pemasaran, pengangkutan, rekomendasi pemasukan ikan dan Surat Penangkapan Ikan (SPI) untuk kapal dibawah 30 GT (Perda Pemprov DKI Jakarta No. 1 tahun 2006 temtang Retribusi Daerah). Khusus untuk retribusi pendaratan dan pelelangan ikan sebagai pendapatan pemerintah daerah, mulai 1 Januari 2010
telah dihapus dengan dikeluarkannya surat edaran kepada Bupati dan Gubernur dari Menteri Kelautan dan Perikanan No.636/Men.KP/XI/09 tanggal 16 November 2009.
Upaya pemerintah pusat dalam upaya konservasi dilakukan dengan dikeluarkannya Kepmen Kehutanan No. 6310/Kpts-II/2002 tentang Penetapan Kawasan Pelestarian Alam Perairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu seluas 107.489 hektar, dengan pembagian zona : zona inti, zona perlindungan taman nasional, zona pemanfaatan wisata taman nasional dan zona pemukiman taman nasional. Di pihak lain pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta dalam RTRW-nya menetapkan kawasan pertambangan dekat dengan lokasi konservasi. Kenyataanya saat ini pencemaran minyak ke perairan Jakarta diduga dari aktivitas pengeboran minyak lepas pantai, yang mengganggu kawasan konservasi, matinya biota laut, dan akan menyebabkan berkurangnya kunjungan wisata ke Kepulauan Seribu di masa kini dan mendatang. Hal ini merupakan potret peraturan yang tidak berorientasi kepada keberlanjutan dan tumpang tindih.
Kondisi lingkungan perairan diuraikan diatas sangat mempengaruhi kondisi perikanan tangkap di perairan Jakarta, sebagaimana hasil perbandingan kepentingan kriteria dengan analisis AHP, dimensi ekologi mempunyai rasio kepentingan tertinggi untuk pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan.
Andil aktivitas perikanan tangkap terhadap degradasi lingkungan dan menurunnya SDI di perairan Jakarta adalah akibat tangkap lebih dan penggunaan alat tangkap yang destruktif. Upaya pemerintah untuk membatasi tangkap lebih belum ada aturan khusus, bahkan data potensi SDI untuk perairan Jakarta tidak tersedia. Upaya pemerintah pusat untuk mengurangi pemakaian alat tangkap tertentu yang destruktif sudah ada antara lain Keppres No.39 tahun 1980 tentang Pelarangan Penggunaan Trawl di Perairan Indonesia dan Permen KP No 06/2008 tentang Penggunaan Alat Penangkap Ikan Pukat Hela di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara. Pelarangan penggunaan alat tangkap pukat harimau (trawl), bom, potassium, sianida, listrik dan kompresor untuk pembongkaran terumbu karang di seluruh perairan di Indonesia sudah dikeluarkan oleh KKP. Kelemahan dari pada peraturan-peraturan tersebut adalah dalam hal pelaksanaan di lapangan dan pengawasannya. Sebagai contoh di perairan Jakarta hingga saat ini masih
beroperasi mini trawl salah satu basisnya di Cilincing. Walaupun di dalam peraturan daerah provisnsi DKI Jakarta tidak ada pengeluaran ijin dengan alat tangkap trawl, tetapi kapal dengan alat tangkap trawl masih dapat beroperasi dengan nomenklatur lain yaitu jaring arad. Otoritas perikanan pemerintah daerah belum mempunyai kesamaan pemahaman terhadap spesifikasi teknis alat tangkap yang dilarang.
Perbaikan guna mengatasi kelemahan dan kondisi yang diuraikan diatas dianalisis dalam penelitian menggunakan metode analisis SWOT dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perikanan tangkap dan identifikasi status keberlanjutan pengelolaan perikanan tangkap di perairan Jakarta pada posisi yang sedang tumbuh, sehinga dapat diketahui strategi yang tepat yaitu koordinasi dengan pihak terkait. Permasalahan tangkap lebih dapat diminimalisasi dengan penerapan alokasi optimum alat tangkap potensial hasil analisis LGP dan dapat meminimalisasi rusaknya ekosistem perairan oleh alat tangkap yang destruktif, karena alat tangkap yang dipilih adalah alat tangkap yang relatif ramah lingkungan dan atau merupakan program pengembangan oleh pemerintah daerah. Realisasi penerapan alokasi optimum dilakukan dengan cara bertahap dan konsisten dalam kurun waktu tertentu. Dampak dari realisasi penerapan alokasi optimum, akan terjadi pergeseran penggunaan alat tangkap aktif ke alat tangkap pasif, bagi nelayan yang terkena rasionalisasi dapat diberikan penyuluhan menggunakan alat tangkap yang disarankan dan aktivitas non perikanan tangkap, diberikan opsi untuk relokasi ke daerah-daerah yang memiliki perairan yang masih rendah tingkat pemanfaatan SDI-nya, dibekali pelatihan untuk menjadi ABK kapal bertonase besar yang beroperasi di perairan diluar 12 mil dan zona ekonomi ekslusive Indonesia (ZEEI).
Pengembangan alat tangkap potensial dilakukan sesuai dengan penetapan wilayah basis hasil analisis Location Quotient dapat memicu pertumbuhan ekonomi wilayah dan pemberdayaan tenaga kerja bidang perikanan di wilayah tersebut, sesuai dengan hasil analisis SWOT bahwa tenaga kerja bidang perikanan merupakan faktor kekuatan internal dominan pada dimensi sosial di lokasi.
Hasil akhir dari analisis SIG untuk kesesuaian aktivitas perikanan (perikanan tangkap dan budidaya) dapat dijadikan acuan pengoperasian alat
tangkap aktif maupun pasif, serta budidaya ikan / rumput laut. Untuk mencapai pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan, maka diperlukan strategi kebijakan. Strategi standardisasi perikanan ukuran kecil (SPUK) menjadi strategi utama, dengan standardisasi perikanan ukuran kecil (kapal, alat tangkap ikan, palka) dapat memberikan dampak terhadap produktivitas penangkapan, peningkatan mutu ikan tangkapan dan efisiensi pengoperasian kapal.