• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islamisasi Ilmu: Syed Naquib Al-Atts dan Ismail Raji’

RESPON CENDIKIAWAN ISLAM TERHADAP PROBLEM DIKOTOMI

B. Respon Cendikiawan Muslim

1. Islamisasi Ilmu: Syed Naquib Al-Atts dan Ismail Raji’

Al-Faruqi.

Secara sederhana islamisasi ilmu pengetahuan meru pa ­ kan program besar untuk melakukan rekonstruksi bangu nan ilmu pengetahuan dengan cara melepaskan nila­nilai Barat yang selama ini melekat atau paling tidak mendasari ilmu pengetahuan yang berkembang selama ini lalu mewarnainya dengan nilai­nilai Islam yang bersumber pada wahyu yang kebenarannya absolut sehing ga arah pengem bangan ilmu pengetahuan tidak menjauh dari petun juk wahyu (agama) akan tetapi justru menguatkannya.

Jika merujuk sejarah, jelas bahwa proyek Islamisasi Penge­

tahuan lahir dari Konfrensi internasional pertama di Makkah pada tahun 1977. Di dalam muktamar itu, Naquib Al­Attas memperkenalkan proyek islamisasi pengetahuannya, sebagai­

mana tertuang di dalam bukunya, “Islam dan sekulerisme”1. Gagasan tersebut terus disosialisasikan ke dalam berbagai forum ilmiah dunia. Pada perkembangan selanjutnya, proyek Islamisasi itu diimplementasikan ke berbagai perguruan tinggi di Malaysia, khususnya ISTAC­IIUM.

Al­Attas adalah ilmuwan berkewarganegaraan Malaysia yang lahir di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931.

Ayahnya Bernama Syed Ali Al­Attas. Pendidikan dasarnya pernah di tempuh di Malaysia dan di Indonesia. Beliau pernah

1 Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris dengan judul Islam and Secu­

larism. Diterbitkan oleh ABIM Kuala Lumpur pada tahun 1978. Oleh Penerbit Pustaka salman Bandung, buku ini diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, Islam dan Sekularisme pada tahun 1981.

nyantri di Pondok Pesantren Al­Urwah Al­Wusqa di Sukabumi.

Belajar juga di Kajian Ilmu Sosial di Universitas Malaya Kuala Lumpur, kemudian gelar MA didapatkan dari McGill Uiniversity Kanada (1962) di bidang Teologi dan Metafisika.

Sedangkan Doktor (Ph.D) didapatkan dari The School of Oriental and African Studies, The University of London (1966). Al­

Attas menjadi Dekan di Fakultas Sastra UKM, pendiri Institut Bahasa, Kesusastraan dan Kebudayaan Melayu Malaysia dan mendirikan ISTAC tahun 1989­2002. Menghasilkan 26 judul buku dan 27 Artikel Ilmiah. Yang menarik dari Al­Attas adalah, Ia mendapatkan penghargaan karena karya­karyanya yang bermutu dari The Imperial Iranian Academy of Philosophy (1975). Al­Attas juga mendapatkan penghargaan (Kursi Kehor­

matan) atas kajiannya terhadap Iqbal dan Al­Ghazali.2

Menelaah karya­karya Al­Attas, beliau sangat memper­

hatikan persoalan­persoalan yang dihadapi umat Islam bukan saja dalam konteks Malaysia atau Asia, melainkan umat Islam diseluruh dunia. Studinya yang mendalam terhadap sejarah, FIlsafat dan pemikiran menghantarkannya kepada kesimpulan penting apa yang sesungguhnya dihjadapi umat Islam. Menurutnya ada tiga hal penting yang dikemukakan Al­Attas dalam konteks eksistensi umat Islam dalam pentas peradaban global. Pertama, problema terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak bebas nilai sebab dipengaruhi oleh pandangan keagamaan, kebudayaan dan filsafat yang mencerminkan kesadaran dan pengalaman Barat; ketiga, umat Islam perlu mengislamkan ilmu pengetahuan masa kini dengan

2 Budi Handrianto, Islamisasi Sains : Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern, Jakarta: 2010, pada Catatan Kaki 28, h, 150

Dari Tnansdisipliner Ke Wahdatul Ulum

mengislamkan symbol­simbol linguistik mengenai realitas dan kebenaran.3

Dalam perspektif Al­Attas yang dimaksud dengan islami­

sasi pengetahuan adalah pembebasan manusia dari dua hal secara urut: Pertama, magis, mitologis, animistis dan nasional­

kultural. Kedua, pengendalian ilmu­ilmu sekuler­modern, dimu­

lai dari bahasa, pikiran dan nalar, di mana ketiganya di nilai saling berhubungan. Islamisasi bahasa menyebabkan islamisasi pikiran dan nalar, tentu saja tidak dalam pengertian sekuler, tetapi dalam pengertian Islam. Pilihan pada ilmu­ilmu sekuler­

modern itu didasarkan pada keya kinan bahwa pengetahuan manusia modern telah dicelupi pengetahuan yang lahir dari watak dan kepribadian kebudayaan dan peradaban Barat, dan dimuati dengan semangat dan diarahkan pada tujuan idiologisnya, di sisi lain, ilmu­ilmu klasik telah diislamisasi oleh para pemikir muslim klasik, seperti Syafi’I, al­Ghazali, Asy’ari, al­Kindi, al­Farabi, Ibn SIna dan Ibn Rusyd.4

Wan Mohd Nor Wan Daud di dalam Filsafat Praktik Pen­

didikan Islam, Syed Naquib Al­Attas menuliskan sebagai berikut:

“pertama-tama adalah pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis nasional-kultural dan sesudah itu dari pengen dalian sekuler terhadap nalar dan bahasanya. Manusia Islam adalah ia yang nalar dan bahasanya tidak lagi diken dali-kan oleh magi, mitologi, animisme, tradisi-tradisi nasional dan kulturalnya serta sekulerisme. Ia terbebaskan dari pandangan dunia yang magis dan sekuler kedua-duanya. Kita telah meng-gambarkan sifat islamisasi sebagai suatu proses pembe basan.

3 Aksin WIjaya, Satu Islam Ragam Epistemologi: Dari Epistemologi Teosentrisme ke Antroposentrisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014, h. 201

4 Wan Mohd Nor Wan Daud di dalam Filsafat Praktik Pendidikan Islam, Syed Naquib Al­Attas,Bandung: Mizan, h. 205

Meskipun manusia mempunyai komponen jas mani dan rohani sekaligus, pembebasan itu menunjuk kepada rohaninya.5

Masih menurut Al­Attas, proses Islamisasi tidak akan ber hasil dengan cara menerima pengetahuan Barat seperti apa adanya, tidak didasarkan pada wahyu sebaliknya hanya pada tradisi kebudayaan yang diperkuat dengan dasar­dasar filo­

sofis dan renungan­renungan rasional yang bersifat dualistic dalam memandang dunia dan kebenaran. Lalu kita berharap meng islam kannya dengan ilmu­ilmu dan prinsip­prinsip Islam. Metode ini tidak hanya akan menghasilkan akibat yang bertentangan dengan keinginan kita sendiri tetapi juga tidak membawa manfaat apa­apa bagi kehidupan kita. Baik “pen­

cang kokan” maupun “transplantasi” di nilai al­Attas tidak dapat memberikan hasil­hasil yang kita inginkan untuk diisla misasi kalau tubuhnya itu telah dimiliki unsure­unsur asing dan dimakan penyakit.6

Islamisasi dalam pandangan Al­Attas harus dimulai dengan pembebasan pengetahuan dari unsur­unsur dan konsep­konsep pengetahuan Barat, yang disisihkan kemudian dilebur dengan unsure­unsur dan konsep­konsep kunci Islam.tegasnya bagi Al­

Attas pengetahuan diharapkan tidak hanya lepas dari kendali magis dan sekuler sekaligus, tetapi juga sesuai dengan ajaran Islam.

Syed Muhammad Naquib Al­Attas tentu tidak dapat dipi­

sah kan dari perbincangan tentang Islamisasi Ilmu. Sebabnya beliau adalah salah satu tokoh penting dibalik gerakan Islamisas Ilmu, jika tak ingin disebut sebagai orang pertama yang menggagas Islamisasi ilmu. Menariknya gagasannya tentang ISlamisasi Ilmu telah dikembangkan oleh murid­muridnya

5 Wan Mohd Nor Wan Daud di dalam Filsafat Praktik Pendidikan Islam, h. 343

6 Aksin WIjaya, Satu Islam, h. 206

Dari Tnansdisipliner Ke Wahdatul Ulum

dan juga pengikut­pengikutnya. Dalam konteks Indonesia, Al­

Attas memiliki banyak murid yang menulis pemikiran­pemi­

kirannya, mengelaborasinya dan menjadikannya sebagai da­

sar­dasar teoritis dalam mengkaji dan menela’ah persoalan Pen di dikan di Indonesia. Beberapa waktu lalu, Jurnal Islamia telah mengangkat pemikiran Al­Attas dengan judul, Tafsir­

tafsir Pemikiran Al­Attas: Metafisika, Epistemologi, BAhasa, Pendidikan, Sejarah Alam Melayu (Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam, Volme XI, No 2 Agustus 2017).

Selain Islamisasi Ilmu, gagasannya tentang Adab dipan­

dang sebagai gagasan yang orisinil dan memiliki relevansi yang sangat kuat dengan realitas kontemporer saat ini. Banyak ahli menyebut, Al­Attas telah menginspirasi banyak cendikiawan terutama cendikiawan muslim di berbagai penjuru dunia.

Karyanya yang cukup terkenal adalah Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay­Indonesian Archipelago.

Setelah konfrensi di atas, di susul seminar internasional Islamisasi pengetahuan yang di selenggarakan di Islamabad, Pakistan pada tahun 1982 yang dihadiri pemikir muslim dunia, termasuk Ismail Raji’ Al­Faruqi. Sebagaimana yang terlihat berikut ini, Ismail Raji’ Al­Faruqi terinspirasi dari seminar tersebut dan pada tahun 1981, ia mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT). Kemudian pada tahun 1982, lembaga ini menerbitkan karya al­Faruqi tentang Islamisasi pengetahuan yang berisi rencana kerja dan konsep­konsepnya tentang islamisasi Pengetahuan.7

7 Buku yang ditulis oleh Isma’il Raji Al Faruqi berjudul, Islamization of Knowledge: General Principle and Workplan. Diterbitkan oleh International Institute of Islamic Thought pada tahun 1982 Washington D.C. pada tahun 1982 buku diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul, Islamisasi Pengetahuan. Diterbitkan oleh Pustaka Salman tahun 1984.

Pakar yang tidak mungkin diabaikan setelah Al­Attas ada lah Al­Faruqi yang nama lengkapnya adalah, Ismail Raji’

Al­Faruqi. Ismail Raji’ Al­Faruqi lahir di daerah Jaffa Pales­

tina pada tanggal 1 Januari 1921. Pendidikan dasarnya diper­

olehnya di College des Freres, Lebanon sejak 1926­1936. Pen­

didikan tingginya diperoleh di The American University di Beirut. Pada tahun 1941 ia menjadi sarjana muda. Master ia dapatkan dari Universitas Indiana tahun pada tahun 1949 dalam bidang FIlsafat. Kemudian gelar master kedua ia peroleh dari Universitas Harvard dan gelaar doktor Kembali ia dapatkan dari Indiana. Untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam, lebih kurang 4 tahun, Al­Faruqi belajar di Al­Azhar Kairo Mesir. Setelah itu, ia pun mengajar di berbagai tempat. Al­Faruqi pernah mengajar di McGill Montreal Kanada, kemudian di Karachi, lalu Kembali mengajar ke Chicago dan menjadi guru besar di Universitas Temple, Philadelphia. Al­Faruqi juga pernah mengajar di Universitas Qum, Iran.8

Banyak pengamat mengatakan bahwa Al­Faruqi sesung ­ guh nya melanjutkan ide­ide Naquib Al­Attas. Namun sebagai ­ mana diakuinya sendiri, Al­Faruqi mengatakan bahwa Isla­

misasi Ilmu adalah ide yang dikembangkannya sendiri tanpa merujuk atau diinspirasi oleh pakar lainnya. Kendatipun ada banyak idiom Al­Attas yang digunakan oleh Al­Faruqi.

Catatan yang diberikan oleh Budi Handrianto, Al­Attas pernah mengkritik Al­Faruqi dengan memberi penegasan sejatinya ilmuan muslim adalah mereka yang jujur dengan ilmunya. Hal ini penting agar masyarakat memperoleh arah yang lebih jelas.

Al­Faruqi menyadari bahwa persoalan yang dihadapi umat Islam tidaklah ringan. Alih­alih umat Islam mampu memim pin peradaban ini, yang terjadi justru sebaliknya. Umat Islam memiliki problem serius. Isma’il Raji Al­Faruqi menge­

8 Budi Handrianto, Islamisasi Sains, h. 155. Pada catatan kaki no.44

Dari Tnansdisipliner Ke Wahdatul Ulum

tengahkan bahwa ummah kini berada dalam ancaman malaise yang gawat. Umat Islam juga mengalami kemunduran besar dalam wujud kecerobohan mereka untuk begitu saja meniru kebudayaan­kebudayaan asing. Peniruan ini tidak akan mem­

bawa kita mencapai kemajuan di segala bidang. Malah ia menim bulkan deislamisasi terhadap lapisan atas masyarakat muslim dan demoralisasi terhadap lapisan lainnya. Pandangan Islam menjadi kabur Karena pandangan­pandangan lain lain yang kita terima dari penakluk­penakluk kolonial. Pandangan asing ini tetap bertahan walau para penakluk tersebut sudah tidak ada bahkan lebih berkembang dan menjadi lebih berbahaya setelah penakluknya pergi. Untuk beberapa generasi kaum muslimin tampaknya tidak dapat melepaskan diri dari pengaruhnya. Hal ini terlihat di segala bidang – di dalam institusi­institusi yang diimpor, di dalam perkembangan bahasa Inggris dan Perancis di kalangan kaum muslimin, di dalam disain kantor­kantor, rumah­rumah dan kota­kota mereka, di dalam program rekreasi, di dalam praktik­praktik ekonomi dan politik yang mereka laksanakan, dan di dalam ide­ide yang mereka anut mengenai realitas alam, manusia dan masayrakat.

Yang terutama sekali menolong penyebaran pandangan asing di dalam system pendidikan, yang terbelah atas dua cabang, yang pertama system modern dan kedua system Islam. Percabangan sistem ini adalah lambang kejatuhan kaum muslimin. Jika hal ini tidak ditanggulangi dan dihilangkan, maka hal ini akan terus menerus mendangkalkan dan menggagalkan perjuangan mereka untuk membangun kembali ummah dan untuk melaksanakan amanah yang dipercayakan Allah kepada mereka.9

Ismail Raji Al­Faruqi berseru, kini sudah tiba saatnya bagi cendikiawan­cendikiawan muslim meninggalkan metode­meto­

de asal tiru yang berbahaya itu dalam reformasi pendidikan hen ­

9 Ismail Raji Al­Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, Bandung: Salman, h.

X

dak lah islamisasi pengetahuan modern itu sendiri sebagai disi­

plin­disiplin, sains­sains sastra, sains­sains sosial, dan sains­sains pasti alam harus disusun dan dibangun ulang, diberikan dasar dan tujuan­tujuan baru yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus dituang kembali sehingga mewujudkan prinsif­

prinsif Islam dan di dalam metodologinya, di dalam strategi nya, di dalam apa yang dikatakan sebagai data­datanya, problem­

problemnya, tujuan­tujuan dan aspirasi­aspiranya.

Al­Faruqi menawarkan jalan keluar dengan cara menya­

tukan sistem pendidikan Islam dan sistem pendidikan sekuler atau Barat. Dengan perpaduan kedua sistem pendidikan tersebut, diharapkan akan lebih banyak yang bisa dilakukan daripada sekedar memakai cara­cara sistem Islam (yang selama ini) dan cara­cara otonomi sistem sekuler. Dengan perpaduan ini pengetahuan Islam akan dijelaskan dengan gaya sekuler, maksudnya pengetahuan Islam akan menjadi pengetahuan tentang sesuatu yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari­hari di dunia ini, sementara pengetahuan modern akan bisa dibawa dan dimasukkan ke dalam kerangka sistem Islam.

Untuk mewujudkan gagasan besar ini, Al­Faruqi telah menyusun apa yang disebutnya dengan rencana kerja Islamisasi Pengetahuan yang dimulai dengan :

a. Penguasaan disiplin ilmu modern.

b. Penguasaan khasanah Islam.

c. Penentuan relevansi Islam bagi masing­masing bidang ilmu modern.

d. Pencarian sintesa kreatif antara khasanah Islam dengan ilmu modern.

e. Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan­jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah SWT.

Dari Tnansdisipliner Ke Wahdatul Ulum

Selanjutnya, untuk merealisir tujuan­tujuan tersebut, se­

jum lah langkah juga telah ditetapkan dan harus diambil menu­

rut suatu urutan ligis yang menentukan prioritas­prioritas ma­

sing­masing langkah tersebut. Adapun langkah­langkah ters ebut adalah:

a. Penguasaan disiplin ilmu modern: Penguraian kategoris.

b. Survei disiplin ilmu.

c. Penguasaan khasanah Islam: Sebuah antologi.

d. Penguasaan khasanah Ilmiah Islam Tahap Analisa.

e. Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin­

disiplin ilmu.

f. Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu Modern: Tingkat perkembangan masa kini.

g. Penilaian kritis terhadap khasanah Islam: Tingkat per­

kembangannya dewasa ini.

h. Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam.

i. Survei permasalahan yang dihadapi umat manusia.

j. Analisa kreatif dan sintesa.

k. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangkan Islam: Buku­buku daras tingkat universitas.

l. Penyebarluasan Ilmu­ilmu yang telah diislamkan.10 Dalam rangka melakukan percepatan dan penyebarluasan gagasan ini, Al­Faruqi menegaskan perlunya melaksanakan kegiatan­kegiatan ilmiah yang berkesinambungan seperti kon­

frensi dan seminar­smeinar­seminar. Juga pelatihan­pelatihan untuk para dosen dan staf. Selanjutnya penerbitan­penerbitan

10 Isma’il Raji al­Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, h. 98­118.

buku­buku, terutama buku teks untuk perguruan tinggi juga menjadi suatu keniscayaan.