• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh Isna Nurin Naharin (Blitar)

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 184-189)

M

asih ingatkah sobat tentang slogan “Buku Jendela Dunia” atau slogan “Buku adalah Gudang Ilmu”? Dari kecil kita sudah sering mendapatkan motivasi dengan kata-kata semacam itu agar kita yang pada waktu itu masih pelajar tergugah semangat untuk membaca. Dan juga kata–kata motivasi serta dorongan lainnya dari bapak dan ibu guru yang berusaha mengkondisikan budaya baca. Walaupun pada akhirnya belum juga tercipta dengan baik budaya baca dalam kehidupan bangsa ini.

Fenomena yang ada memang sungguh memprihatinkan. Kalangan pelajar dan mahasiswa yang setiap harinya berkutat dengan buku, tetapi dalam realitanya masih harus dihadapkan pada rendahnya minat baca di kalangan mereka. Mereka masih kurang tertarik untuk membaca buku yang didengungkan sebagai sumber ilmu. Mirisnya, belum terjadi budaya baca yang maksimal, sudah datang budaya internet dan sosial media yang mewabah. Seperti jamur di musim penghujan, merebak dengan cepat, dan tumbuh secara luas. Sehingga banyak generasi yang semula jauh dari buku semakin jauh saja, karena mereka sibuk dengan smartphone dan

gadget yang membuat ketagihan untuk selalu dibuka dan dibuka lagi.

Maraknya jaringan internet yang muncul dengan menawarkan situs–situs sosial media yang dikemas dengan menarik memang membuat generasi kita enggan untuk beralih ke aktivitas lainnya. Dan hal ini tidak hanya menyerang generasi muda saja, tetapi juga generasi paruh baya, bahkan orang–orang yang sudah dikatakan tidak muda lagi.

Terlepas dari semua itu, agama Islam sudah menyerukan kepada umatnya untuk membudayakan membaca. Mungkin sobat masih ingat pada surat Al-Alaq ayat 1, yang mempunyai arti bacalah.

Tentunya sobat juga ingat surat ini adalah surat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad. Wow amazing kan. Sebelum manusia menyadari pentingnya akan membaca, Allah telah berabad abad lalu lewat wahyu-Nya sudah menyerukan kepada manusia untuk membaca. Begitu pentingnya, sampai ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi adalah perintah untuk membaca. “Bacalah, atas nama Tuhanmu yang menciptakanmu”.

Membaca tentunya tidak lepas kaitannya dengan buku, walaupun sekarang pengetahuan memang tidak terbatas diperoleh dari buku saja. Dengan membuka smartphone dan gadget yang terhubung dengan internet kita bisa mencari apa saja informasi yang kita inginkan. Tetapi mengapa saya mengemukakan buku sebagai sumbernya, tentu tidak akan menafikan bahwa buku adalah sumber ilmu. Menurut penelitian yang telah dilakukan, membaca buku banyak memiliki kelebihan-kelebihan dibanding membaca informasi lewat smartphone atau gadget. Beberapa keuntungan itu di antaranya adalah:

1. Daya Ingat dan Konsentrasi Meningkat Jika Rajin Membaca Buku

Beberapa penelitian sederhana sudah membuktikan kalau membaca buku membuat konsentrasi dan daya ingatmu semakin meningkat. Bahkan sebuah percobaan yang dilakukan di Norwegia juga menunjukan hasil mengejutkan. Bahwa orang yang diajak membaca novel dari buku saku mampu mengingat alur cerita secara lebih baik dan lengkap daripada orang yang membaca novel dari

gadget.

2. Matamu akan lebih sehat karena Fokus pada Satu Sumber Penerangan

Dalam hal sumber penerangan, membaca buku jelas jauh berbeda dengan membaca dari gadget. Sewaktu membaca buku, sumber peneranganmu hanya berasal dari lampu ruangan atau mungkin sedikit tambahan lampu belajar. Sedangkan jika membaca dari gadget, matamu juga harus menyesuaikan daya akomodasi lensa dengan sumber cahaya dari layar gadget. Hal ini yang menyebabkan membaca dari gadget membuatmu mudah lelah dan rentan mengalami kerusakan mata dibandingkan dengan membaca buku

3. Membaca buku adalah obat alami bagi yang mengalami gangguan tidur

Aku, Buku dan Membaca: Kisah Persahabatan dengan Buku

mudah mengantuk. So, kamu yang mengalami insomnia mesti menjadikan kebiasaan membaca buku sebagai rutinitas sebelum tidur. Setelah membersihkan wajah dan tubuh, jauhkan gadget dari ranjang empukmu. Kemudian mulailah membaca buku yang kamu sukai. Dalam kurun waktu tidak sampai 30 menit, biasanya kamu akan merasa lebih rileks dan akhirnya mengantuk.

4. Gangguan Ketika Baca Buku Lebih Sedikit daripada Gangguan di Gadget

Alasan yang satu ini pasti terpampang nyata dan kamu rasakan benar perbedaannya. Membaca buku membuat konsentrasimu tertuju pada hal yang sedang kamu baca. Sementara membaca dari

gadget benar-benar dapat terusik oleh banyak gangguan. Masih ingat

bagaimana pop up iklan, chat dari teman, atau notifikasi media sosial mengganggu aktivitas membacamu di gadget?

5. Mari Mengembangkan Imajinasi dan Kreativitas Sembari Membaca Buku Favoritmu!

Membaca dari gadget memang menyenangkan. Banyak ilustrasi menarik berformat audio, visual, maupun audio visual. Ilustrasi tersebut tidak banyak kita dapatkan melalui buku. Kalau pun ada, mungkin hanya berupa ilustrasi visual seadanya. Jangan berkecil hati karena minimnya ilustrasi pendukung di buku. Justru hal tersebut membuat imajinasi dan kreativitasmu lebih berkembang. Secara tak langsung, kamu akan lebih kreatif dalam menginterpretasikan isi buku di benakmu.

6. Kamu Bisa Membaca Buku Kapan Pun Kamu Mau, Tanpa Tergantung Oleh Teknologi

Kalau mau membaca dari gadget, kamu butuh ruangan yang terang, koneksi internet untuk mengunduh bahan bacaan, serta baterai gadget yang mencukupi. Tetapi kalau membaca buku, yang kamu butuhkan hanyalah penerangan yang memadai serta buku kesukaanmu. Sewaktu internet sedang bermasalah, kamu bisa terus melanjutkan kegemaranmu membaca buku. Tentu saja tanpa marah-marah dan mengumpat karena koneksi internet yang tidak bisa diandalkan.

Itulah beberapa keunggulan membaca buku dibanding membaca gadget, yang jika kita cermati, akan dapat menambah wawasan kita dan lebih membuat kita bijaksana dalam memilih jalan yang tepat bagaimana kita dapat memperoleh informasi.

yang cepat tentulah dengan menggunakan koneksi internet dan

smartphone atau gadget, sesuai dengan kebutuhan sobat. Tapi jika

untuk membaca dalam durasi yang cukup lama misalkan membaca sebuah karya sastra, novel atau lainnya, alangkah lebih bijaknya jika kita memilih buku sebagai sahabat kita.

Jika kita menjadikan buku sebagai sahabat, takkan pernah ada ruginya. Kita akan terus mendapatkan ilmu dan bertambah pengetahuan. Buku sebagai sahabat dia akan banyak memberi tanpa meminta balasan atau pamrih. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai, sebanding jika kita menjadikan buku sahabat kita dan kita rajin membacanya maka kita akan menuai pengetahuan dan ilmu yang takkan ada habisnya. Lalu apa lagi yang kita tunggu. Jadikan buku sebagai sahabatmu. Tentunya, dengan membacanya. Minimal dengan membeli sebuah buku kita tentu memiliki keinginan untuk membacanya. Atau mungkin ada dari sobat yang suka membeli buku tetapi selalu lupa membacanya? Atau mungkin belum punya keinginan yang kuat untuk membacanya dalam tanda kutip suka mengkoleksi buku. Tidak mengapa, karena itu tanda awal kedekatan kita dengan buku. Ataupun misalkan kita meminjam di perpustakaan untuk mengerjakan tugas, bagi sobat yang masih menuntut ilmu, tentunya kita harus membacanya untuk referensi tugas kita, meski terpaksa karena tugas paling tidak itulah awal kedekatan kita juga dengan buku.

Suatu saat kita harus meluangkan waktu kita untuk membaca buku–buku yang kita beli tapi belum kunjung kita buka dan baca. Atau mungkin ketika ke perpustakaan di saat longgar, kita memilih buku yang kita sukai dan untuk kita baca. Mungkin pada awalnya akan terasa sulit tapi yang harus kita mulai memaksa diri untuk membaca semampunya, misalkan satu lembar sehari. Berawal dari dipaksa lama –lama akan menjadi biasa, dan setelah biasa akan menjadi suatu kebiasaan.

Dari suatu kebiasaan maka akan menjadi suatu hobi. Dan jika sudah menjadi hobi maka minat baca di kalangan pelajar akan meningkat. Ini tidak bisa secara instan terjadi tetapi memerlukan sebuah proses. Proses yang terjadi ini tidak lepas dari pendidikan. Membiasakan membaca sejak usia dini atau sekolah dasar harus ditingkatkan dan tentu saja berjenjang sampai ke tingkat sekolah selanjutnya. Dengan cara pemberian penghargaan atau reward kepada anak yang suka membaca dan menggiatkan usaha meningkatkan budaya baca.

Aku, Buku dan Membaca: Kisah Persahabatan dengan Buku

pembiasaan. Misalnya di tingkat sekolah dasar anak diwajibkan meminjam buku setiap minggunya untuk kemudian diberi tugas untuk menceritakan isi buku tersebut di kelas atau menuliskan ceritanya. Untuk tingkat sekolah selanjutnya tentu saja disesuaikan dengan materi pelajaran. Yang penting bisa dikondisikan untuk menggiatkan budaya baca pada siswa. Sehingga diharapkan budaya membaca akan meningkat ketika digiatkan mulai dari pendidikan yang paling bawah dan tentu saja harus berkelanjutan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 184-189)