• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBACA DAN MENULIS: Antara Harapan,

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 134-140)

Kenyataan dan Impianku

Oleh Eka Sustri Harida, M.Pd. (Padangsidimpuan)

A

ku adalah seorang dosen, yang mungkin boleh dikatakan berhasil mungkin juga setengah berhasil, atau bahkan belum berhasil sama sekali. Tulisan ini berupa buah pikiran dan sebagiannya adalah realitas kehidupanku sebagai seorang dosen dan juga sebagai mahasiswa di sebuah Universitas di Sumatera Barat. Harapan, kenyataan, dan impianku untuk membuahkan karya betul-betul impiankah atau sebuah kenyataan? Bermimpilah di saat bangun, bukan di saat tidur, sehingga mimpi itu dapat diraih menjadi kenyataan.

Tugasku sebagai dosen dimulai pada tahun 2001, di sebuah Universitas Swasta di Kota Padangsidimpuan di mana aku sebagai salah satu alumninya, Universitas Muhammadiyah, almamaterku. Bangga? Bagaimana tidak, lulus sarjana pada tahun 2000, kemudian pada tahun 2002 diberi amanah untuk mengajar Bahasa Inggris di sebuah Universitas, menjadi dosen.

Saat itu tentu kebanggaan yang tidak terkira akan kesempatan yang diberikan. Dosenku berawal di Fakultas Agama Islam (FAI), yakni memberikan kuliah Bahasa Inggris bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam. Selanjutnya pada jurusan Fisika, Biologi, bahkan akuntansi dan lain sebagainya di Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (FKIP). Mata kuliah umum di FKIP ini diberikan dalam satu kelas dengan jumlah mahasiswa yang kadangkala lebih dari 50 orang, dan membutuhkan suara dan energi yang ekstra untuk mengajar serta mengkoreksi ujiannya. Sulit memang, tapi tidak untuk mahasiswa FAI yang hanya berjumlah beberapa orang saja. Memang bukan mata kuliah yang khusus pada program studi bahasa

Inggris yang diberikan, tapi mata kuliah umum pada fakultas atau jurusan yang bukan bahasa Inggris. Walaupun begitu, tentu saja hal ini menyenangkan, karena diberi kesempatan memberikan ilmu bagi sesuai keahlian pada level mahasiswa.

Membaca? Bagaimana mungkin tidak membaca, walaupun pengetahuan bahasa Inggris yang akan diberikan kepada mahasiswa hanyalah pengetahuan umum saja, tetapi sebagai seorang dosen harus tetap mempersiapkan diri untuk menambah apa yang sudah dimiliki dengan membaca. Tidak banyak memang yang kubaca. Hanya buku berkaitan dengan grammar dan pengembangan vocabulary karena fokus pembelajaran adalah bagaimana mahasiswa bisa memahami

parts of speech untuk kemudian dipadukan dalam english texts yang

ringan dan sederhana, juga tentang grammatika bahasa Inggris yang simple dan umum saja.

Anggap mudah? Mungkin di satu sisi iya. Aku terlalu menganggap mudah apa yang akan diajarkan. Tapi di sisi lain aku merasa juga mendapatkan kesulitan dengan materi-materi yang terkait dengan jurusan mahasiswa, seperti mencari contoh-contoh kalimat yang ada sangkut pautnya dengan jurusan yang mereka pilih. Kadangkala mengajar dalam satu kelas dengan berbagai jurusan tentu butuh berbagai contoh dan teks bahasa Inggris yang terkait dengan semua jurusan yang mereka miliki. Namun apabila hal tersebut diiringi dengan membaca, tentu akan mempermudah mencari dan menemukan berbagai teks yang berkaitan dengan hal tersebut. Selain itu juga akan mempermudah pengembagan sendiri akan contoh-contoh kalimat dan teks yang bernuansa jurusan mereka sendiri.

Tantangan demi tantangan datang saat aku mulai diamanahkan untuk mengajar di Jurusan Bahasa Inggris. Tentunya tidak cukup keilmuan yang kumiliki saat itu saja, kalau ingin memberikan yang terbaik buat mahasiswaku. Harus mencari beragam sumber, baik berupa buku teks (yang masih minim saat itu), majalah-majalah berbahasa Inggris (sulit mendapatkannya), maupun sumber-sumber internet lainnya untuk mendukung. Di sinilah aku dituntut untuk membaca lebih intens, karena mengajarkan Mata Kuliah yang yang sudah spesifikasi untuk Program Studi Bahasa Inggris. Misalnya mata kuliah Scientific Correspondence, Extensive Reading, Pronounciation

Practice, English for Tourism and Hotels, dan beberapa mata kuliah

lain. Terkadang dalam satu semester mengampu dua sampai tiga mata kuliah. Kalau tidak membaca, bisa jadi mahasiswa memiliki

Aku, Buku dan Membaca: Kisah Persahabatan dengan Buku

pengetahuan lebih dariku. Jangan sampai!

Namun di sinilah masalahnya. Apa yang dibaca ternyata hanya merupakan bahan pelajaran saja, bukan karena pengembangan ilmu, tetapi hanya karena membutuhkan bahan bacaan untuk mata kuliah yang diajarkan. Harusnya kebiasaan membaca itu selalu ada walau tanpa tuntutan karena mau mengajar mata kuliah. Seharusnya aku membaca karena memang aku butuh, bukan karena mencari bahan kuliah saja.

Tuntutan mencari materi perkuliahan untuk mengajar mahasiswa dan juga untuk mencari bahan tugas untuk kuliahku sendiri memang menjadikanku rajin untuk membaca. Harusnya itu menjadi suatu modal bagiku untuk membaca lebih banyak, karena bak kata pepatah “membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan, membaca membuka pintu dunia”.

Membaca melatih seseorang untuk dapat menulis dengan baik dan benar. Kalau ingin bisa menulis sebuah karya, atau sebuah tulisan, mustahil rasanya akan berhasil tanpa membaca. Bagaimana tidak? Dengan membaca seseorang akan memperoleh pengetahuan yang banyak untuk kemudian bisa dibagikannya kepada orang lain melalui tulisannya.

Selanjutnya, dengan mambaca berbagai buku dan memiliki banyak perbendaharaan kata, tentunya akan mempermudah seseorang dalam mengembangkan ide yang akan ditulis. Aku menyadari benar akan manfaat ini, dikarenakan kurangnya membaca, menyebabkan kemampuan dan kreativitas menulis menjadi terhambat. Membaca dan menulis adalah sebuah kesatuan, tentu saja dari hasil bacaan seseorang dapat menulis banyak hal; namun apa yang ditulis oleh seseorang itu juga akan menjadi bahan bacaan yang cukup berharga bagi pembacanya.

Aku menyadari betul akan kebiasaan yang kumiliki. Tidak memiliki kebiasaan membaca serta budaya membaca yang cukup baik menyebabkan kurang memiliki kemampuan menulis yang baik. Tuntutan-tuntutan para sahabat, salah satunya Dr. Naim untuk menghasilkan tulisan tidak dapat terpenuhi, kalau pun terpenuhi hasil tulisannya tentu tidak memuaskan. Tulisan yang menjadi tuntutan tersebut yang direspon dengan tiba-tiba, dan dalam waktu sesaat, tentu saja hasilnya tidak bagus, demikian juga tulisan yang pembaca nikmati saat ini. Bagaimana mungkin akan menghasilkan sesuatu yang baik dan cemerlang, tanpa dilakukan dengan baik dan

terencana? Motivasi yang diberikan ternyata menjadikan aku terpacu, tapi pada sisi lainnya menjadikan aku malu pada diri sendiri karena belum berhasil menghasilkan suatu karya tulisan yang menunjukkan eksistensi diri dalam dunia akademis. Dengan demikian, keinginan untuk merubah perilaku akademis tersebut menjadi berdaya guna, menggelora di dalam dada; berkarya nyata dalam sebuah tulisan sederhana. Semoga saja bukan hanya impian belaka.

Membaca adalah kunci dari keinginan tersebut untuk dapat terwujud dengan baik. Harapan demi harapan digantungkan dan semangat dikobarkan dan dipacu untuk bisa melakukan hal yang lebih baik tentunya. Tidak mudah untuk merubah kebiasaan yang sudah menajadi batu karang, tapi bukan tidak mungkin segalanya bisa berubah kearah yang lebih baik, atau bahkan ke arah yang lebih buruk, bukankah batu karang saja di lautan bisa hancur karena gigihnya air laut yang selalu menghempasnya setiap saat.

Harapan untuk dapat melakukan aktivitas rutin, membaca dan menulis kembali muncul tatkala ada komunikasi di Whatsapp grup yang dibentuk pada saat Diklat Penelitian pada bulan Agustus 2016. Apalagi melihat buah karya Mas Naim baik di facebook, maupun yang dikirim langsung kepada kami di grup, yang selalu penuh dengan bulir-bulir keilmuan, motivasi, spirit, kritikan, bahkan sindiran yang menohok hati dan pikiran untuk dapat berbuat. Terngiang selalu buah kata beliau, bahwa menulis itu perlu rutinitas, perlu dilakukan setiap hari, walau hanya satu atau dua kalimat. Namun tetap saja, sulit untuk melakukannya, karena kebiasaan itu merupakan bekal untuk menjadikannya menjadi sebuah budaya. Biasakan diri untuk membaca dan menulis, sehingga budaya membaca dan menulis menjadi mendarah-daging dalam keseharian akademis yang dihadapi sehingga dapat menciptakan buah karya yang bisa dibanggakan.

Yang lebih parahnya lagi mahasiswa dituntut untuk membaca buku ini dan itu, menelaah jurnal, membuat sinopsis dari apa yang dibaca; sementara dosennya malas untuk melakukan kegiatan tersebut. Harusnya dosen memiliki kebiasaan dua kali lipat, bahkan berlipat-lipat keseringannya dari apa yang dilakukan oleh mahasiswanya. Inilah yang seharusnya menjadi pemacu bagi dosen dan bagi ku untuk selalu membaca dan membaca. Jangan hanya menuntut mahasiswa saja untuk melakukan kegiatan akademis; membaca, menulis, diskusi ilmiah, dan lain sebagainya, sementara dosennya sendiri tidak mau melakukan kegiatan tersebut. Bagaimana mungkin menciptakan generasi bangsa yang memiliki kualitas yang mumpuni, kalau tidak

Aku, Buku dan Membaca: Kisah Persahabatan dengan Buku

didukung oleh kemampuan dan kualitas dosen yang baik. Hal inilah yang perlu untuk sama-sama disadari bersama, antara dosen dan mahasiswa harus saling bersinergis untuk menciptakan lingkungan akademis yang kondusif dan kreatif.

Aku punya impian menulis banyak karya. Hal ini tentu tidak akan terwujud apabila tidak dibarengi dengan kegiatan membaca yang maksimal. Bagaimana mungkin bisa menulis dengan baik apabila kegiatan membaca minim? Seperti diketahui bahwa membaca membuka wawasan dan cakrawala untuk menyampaikan ide secara tertulis. Maka membaca itu harus dilakukan sebagai aktivitas keseharian, bukan hanya aktivitas musiman, sehingga akan lahir tulisan-tulisan sebagai buah dari kegiatan membaca yang dilakukan.

Aku sadar bahwasanya kegiatan membaca yang kulakukan selama ini masih minim. Oleh karena itu aku memiliki impian untuk dapat mewujudkan menjadi sebuah kenyataan, yakni keseharianku akan selalu dihiasai dengan membaca. Semoga saja impian yang juga merupakan harapan ini dapat kuwujudkan dalam kerja nyata sehingga bisa menunjukkan aktualisasi diri sebagai seorang akademisi.

Membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan karena satu dan yang lainnya saling berhubungan. Oleh karena itu, hal ini harus dilakukan secara bersamaan, bacalah beragam buku, karena membaca akan menjadikan kita pintar, berwawasan tinggi, memiliki kesefahaman bahasa yang luas, dan lain sebagainya. Lalu menulislah! Tulis apa saja yang telah dibaca, apa yang teringat terkait dengan apa yang dibaca, ataupun terkait dengan segala sesuatu yang kita anggap menarik untuk ditulis. Dengan demikian apa yang dibaca akan menjadi keilmuan yang tidak akan lepas dari ingatan. Sehingga, membaca dan menulis akan menjadi sebuah rutinitas yang akan selalu mengisi keseharian untuk menjadi seorang akademisi. Seperti kata Mas Naim “Tulis apa saja, apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan menuliskah dimana saja!”

Semoga menulis dan membaca akan menjadi sebuah kegiatan akademis bagi ku dan bagi orang lain yang juga memiliki kebiasaan seperti ku, yakni minim aktivitas menulis dan membaca. Inilah yang menjadi gambaran diriku, semoga menjadi pelajaran berharga bagi diriku sendiri, juga bagi orang lain yang ingin mengambil kisah dalam tulisan ini sebagai pelajaran bagi dirinya. Semoga bermanfaat, apabila tidak bermanfaat, jadikan sebagai sebuah kisah sebelum tidur atau bahkan mimpi dalam tidur, sehingga ketika terbangun tidak lagi teringat akan apa yang dibaca dalam tulisan ini.

Alhamdulillahirabbil’alamin. Akhirnya tulisan ini rampung juga. “Catatan tangan dari sebuah realita di belahan bumi Sumatera

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 134-140)