• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh Anita (UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 74-78)

S

ecara umum sastra adalah segala bentuk ekspresi yang menggunakan bahasa sebagai medianya, baik dalam bentuk tulisan, lisan, gambar, maupun gerak. Sastra menyediakan norma untuk pemakaian bahasa yang baik, misalnya dalam penggunaan struktur kata, kalimat, penggunaan kosa kata, pemilihan kata, termasuk keterampilan membaca. Dengan demikian melalui bacaan sastra khazanah tata bahasa dan pemahaman bacaan siswa/mahasiswa akan terasah. Untuk menggambarkan hal itu, Suwarsih dalam Baksin mengungkapkan bahwa pengajaran sastra dan bahasa dapat saling mendukung jika keduanya dilaksanakan dengan pendekatan yang tepat (Baksin, 2008: 31).

Pendekatan pengajaran sastra yang tepat yaitu pengajaran yang melibatkan peserta didik sehingga dapat menstimulus terjadinya olah hati (jujur, religius, tanggung jawab, peduli sosial, peduli lingkungan), olah rasa (peduli, kerja sama), olah pikir (cerdas, kreatif, gemar membaca, rasa ingin tahu), dan olah raga (tangguh/sehat, bersih) (Dalmeri, 2014: 276). Sehubungan dengan hal itu, Baksin mengatakan bahwa sastra merupakan wahana untuk mendidik masyarakat tentang nilai-nilai sosial, perilaku yang luhur, dan estetika sehingga dengan membaca sastra diharapkan harkat dan martabat manusia menjadi lebih tinggi (Baksin, 2008: 30).

Karya sastra merefleksikan fenomena kehidupan yang beragam secara mendalam; mengikuti cipta, rasa, dan karsa penulisnya. Ia juga dapat mengimbangi pematangan, pemantapan, dan kedewasaan kepribadian seseorang. Karya sastra mengandung unsur pendidikan karena di dalamnya terdapat nilai-nilai tradisi budaya. Dengan demikian karya sastra dapat digunakan untuk menjadi sarana penyampaian ajaran-ajaran bermanfaat bagi pembacanya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Probst dalam Emzir dan Rohman mengatakan bahwa pengajaran sastra harus mampu membuat siswa menemukan hubungan antara pengalamannya dengan karya sastra yang bersangkutan (Emzir dan Rohman, 2015: 223). Ini mengandung arti bahwa pengajaran sastra membutuhkan keterampilan yang memadai untuk menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya agar dapat ditransfer kepada peserta didik sebagai penikmat.

Dikatakan pula bahwa dalam pengajaran sastra, guru diharapkan memberi arahan kepada siswa agar karya sastra yang dipelajari memberi manfaat dan bukan sebaliknya. Dengan demikian, para penentu kebijakan dan guru sebagai pendidik diharapkan memiliki kepekaan dalam memilih karya sastra sehingga dapat menghindarkan efek yang tidak diinginkan.

Para pendidik memiliki peranan penting dalam mendayagunakan wacana yang dibaca siswa/mahasiswa, sehingga siswa/mahasiswa dapat tergerak dan termotivasi untuk mengembangkan dan memperkaya gagasan serta persepsinya yang ia ciptakan sendiri melalui proses analisa. Hal ini sesuai dengan tujuan pengajaran sastra, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman sastra sehingga sasaran akhirnya dalam wujud pembinaan apresiasi sastra dapat tercapai (Emzir dan Rohman, 2015: 224).

Sehubungan dengan hal tersebut untuk menjembatani karya sastra dan pembacanya diperlukan adanya telaah sastra. Melalui telaah sastra, pembaca akan lebih memahami apakah suatu karya sastra bernilai atau tidak. Karenanya, karya sastra tidak hanya dapat dinikmati tetapi juga dapat dihayati dan ditafsirkan. Melalui telaah sastra akan diperoleh informasi yang detail tentang karya tersebut. Hasil telaah sastra dapat memberikan pengetahuan yang bersifat keilmuan, seperti aspek pemahaman dan penghayatan dan mampu menumbuhkan motivasi pembaca untuk mendalami karya yang ditelaah sehingga menumbuhkan penghargaan terhadap karya sastra. Pada akhirnya, telaah sastra tidak saja memberi bekal keilmuan, melainkan diharapkan juga memberikan nilai pembentukan moral, kemanusiaan, estetika, filsafat, yang dapat membentuk karakter pembaca khususnya siswa dan mahasiswa. Sebagaimana diungkapkan oleh Rokhmansyah bahwa sastra mampu memberikan pengetahuan kepada pembaca sehingga tahu moral yang baik dan buruk karena sastra yang baik selalu mengandung moral yang tinggi (Rokhmansyah, 2014: 8).

Aku, Buku dan Membaca: Kisah Persahabatan dengan Buku

Hal ini menunjukkan karya sastra merupakan media belajar yang penting yang dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai pendidikan dalam pembentukan karakter. Berkaitan dengan hal tersebut, Latif mengatakan pendidikan karakter seringkali diintroduksikan ke dalam kelas lewat medium kesusastraan dengan keteladanan para pahlawannya (Latif, 2002: 84). Tokoh dengan karakter yang baik dalam sebuah karya sastra memberikan contoh yang baik pula yang dapat ditiru oleh pembacanya. Artinya, kesusastraan bisa menjadi sarana persemaian nilai dan praktik moralitas yang efektif. Sebagai ilustrasi, novel The Kite Runner yang berlatar peperangan dan konflik antar suku di Afghanistan telah menggugah pembaca dan mengantarkan pengarangnya menjadi duta kemanusiaan untuk Afghanistan. Dari ungkapan tersebut dapat disimpulkan kesusastraan memberikan pengaruh penting terhadap kehidupan pembacanya. Salah satu karya sastra yang berkembang cukup pesat sekarang ini adalah novel.

Novel merupakan salah satu karya sastra yang mendeskripsikan kehidupan dengan aspek-aspek yang lengkap. Novel berisi pengalaman-pengalaman dengan kompleksitas problematika yang mewarnai jalan ceritanya. Novel bisa menjadi sarana komunikasi berupa pembelajaran yang dapat dipetik oleh pembacanya. Karakter-karakter positif dari para tokoh dapat dijadikan contoh bagi pemerolehan karakter pembaca. Hal ini berarti sangat mungkin mempelajari dan memaknai novel untuk memetik hal-hal baik seperti pendidikan karakter yang ada di dalamnya.

Teks sastra dalam hal ini novel sebenarnya merupakan interaksi antar struktur dan masalah-masalah kebahasaan yang saling berkaitan, beraneka ragam dan rumit. Struktur dan masalah-masalah tersebut saling berhubungan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan demikian, pendekatan apa pun yang digunakan untuk mengkaji teks novel, analisis struktural tetap menjadi tolak ukurnya.

Bahasa sebagai medium karya sastra memiliki unsur ketandaan. Saussure dalam bukunya Course in General Linguistik mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda yang mengekspresikan ide-ide, pikiran, perasaan, benda atau tindakan dari pemberi tanda ke penerima tanda. Sistem ketandaan ini disebut semiotika.

Hoed menyatakan semiotik telah menjadi ilmu dan alat analisis kebudayaan untuk menjelaskan upaya manusia memahami berbagai hal sebagai tanda dan menjelaskan beberapa gejala budaya (Hoed, 2008: ix). Oleh karena itu, novel sebagai karya sastra merupakan hasil kebudayaan yang berisi tanda-tanda perlu dimaknai.

Analisis struktural dan semiotik dapat dilakukan untuk memahami struktur novel yang bertumpu pada karya sastra itu sendiri. Struktur novel di antaranya adalah alur, penokohan, latar, dan tema yang diekploitasi semaksimal mungkin. Oleh karena itu, bahasa sastra (novel) sebagai sistem model kedua bukanlah bahasa biasa, melainkan sistem komunikasi yang sarat dengan simbol kebudayaan. Untuk itu, kajian semiotika dapat digunakan untuk menafsirkan setiap tanda yang berisi pesan nilai kebudayaan yang ada pada novel. Zoest mengatakan bahwa teori semiotik merupakan teori yang dapat digunakan dalam mengungkapkan makna tanda-tanda yang terkandung di dalam karya sastra termasuk novel (Zoest, 1993: 95).

Referensi

Alfian Rokhmansyah, Studi dan Pengkajian Sastra (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014).

Baksin, Askurifai., Aplikasi Praktis Pengajaran Sastra (Bandung: PT. Pribumi Mekar, 2008)

Dalmeri, “Pendidikan Untuk Pengembangan Karakter: Telaah Terhadap Gagasan Thomas Lickona dalam Educating for Character”, Jurnal

Al-Ulum, Volume 14 Nomor 1, Juni 2014.

Emzir dan Saifur Rohman, Teori dan Pengajaran Sastra (Jakarta: Rajawali Pers, 2015).

Hoed, Benny H., Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya (Depok: FIBUI, 2008).

Latif, Yudi., Menyemai Karakter Bangsa (Jakarta: Kompas, 2002). Zoest, Aart Van,. Semiotika (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1993).

Dalam dokumen Ketika “Aku” Tak Menyapa”nya" (Halaman 74-78)