• Tidak ada hasil yang ditemukan

Iwan W. Widayat - Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Dalam dokumen INDONESIA PUBLIK PRIVAT P S I K O L O G I (Halaman 60-65)

[email protected]

B

uku sejarah psikologi yang ditulis oleh penulis Indonesia, khususnya para ilmuwan psikologi, masih tidak banyak ditemui. Apalagi yang didalamnya mencakup bahasan tentang Psikologi di Indonesia.

Sebenarnya, penulisan buku-buku sejarah psikologi oleh para ilmuwan psikologi, dan juga para psikopedagog, telah banyak dilakukan sejak tahun 50-60an. Beberapa buku merupakan saduran dari karya penulis luar, seperti karya Gardner Murphy, Historical Introduction to Modern Psychology, atau karya LCT. Bigot, Ph.

Kohnstamm dan B.G. Palland, Leerboek der Psychologie (disadur khusus pada bagian sejarah psikologi). Beberapa buku merupakan karya dari para penulis Indonesia sendiri, seperti misalnya

“Sedjarah Ilmu Djiwa dan Ilmu Watak” (Walujo, 1958), “Psikologi dari Zaman ke Zaman” (Said, 1965), “Ichtisar Sedjarah ilmu Djiwa”

(Soerjabrata, 1969) atau “Aliran-Aliran Modern dalam Ilmu Jiwa” (Sahertian, 1983). Buku-buku tersebut pada umumnya lebih menekankan pada perspektif psikologi Barat, dan belum cukup mengelaborasi perkembangan psikologi di Timur, termasuk di Indonesia.

Di tengah kelangkaan referensi sejarah psikologi karya penulis Indonesia, beberapa buku sejarah psikologi barat justru kemudian diterjemahkan

RESENSI BUKU SEJARAH PSIKOLOGI: PERKEMBANGAN PERSPEKTIF TEORETIS

kedalam bahasa Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Seperti misalnya, History of Psychology (Boeree, 2000), History and System of Psychology (Brennan, 2006), History of Psychology:

a Sketch and an Interpretation (Baldwin, 2007), a History of Psychology (Klemm, 2017), atau a History of Modern Psychology (Schultz & Schultz, 2013). Hal inilah yang kemudian mendorong beberapa ilmuwan Psikologi Indonesia untuk menulis tentang Sejarah Psikologi. Ada beberapa alasan mengapa beberapa ilmuwan psikologi tersebut terdorong untuk menulis buku sejarah psikologi dalam bahasa Indonesia, meskipun telah banyak buku-buku terjemahan berbahasa

Indonesia. Alasan-alasan tersebut antara lain adalah, buku-buku sejarah psikologi yang ada masih kurang mengelaborasi perkembangan psikologi pada abad pertengahan, khususnya perkembangan psikologi di dunia Islam. Alasan lainnya adalah masih kurangnya buku sejarah psikologi yang menjelaskan perkembangan pemikiran psikologi yang paling mutakhir. Selain itu, hampir tidak ada buku sejarah psikologi yang memaparkan tentang perspektif ke-Indonesiaan.

Pada waktu yang hanya berselang setahun, dua buku yang dimaksudkan untuk memenuhi tujuan diatas diterbitkan oleh dua ilmuwan psikologi Indonesia, yakni “Sejarah Psikologi: Dari klasik hingga modern” (Rahman, 2017) dan “Sejarah Psikologi: Perkembangan Perspektif Teoretis”

(Irwanto & Gunawan, 2018).

Buku “Sejarah Psikologi: Perkembangan Perspektif Teoretis” karya Prof. Irwanto dan Felicia Gunawan (2018) ini adalah salah satu buku yang

dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan sebagaimana dijelaskan diatas. Buku ini hendak menyajikan suatu pemaparan yang tidak hanya bercerita tentang tokoh-tokoh utama dalam psikologi, namun lebih jauh memaparkan pemikiran-pemikiran mereka dan pertautan berbagai pemikiran tersebut menjadi suatu

perspektif teoretik. Selanjutnya menelisik

bagaimana pemikiran-pemikiran tersebut berakar, tumbuh dan berkembang dalam pengaruh konteks sejarah jamannya. Melalui pendekatan ini penulis berharap dapat lebih leluasa dalam merambah berbagai pemikiran yang membangun

pemahaman kita tentang manusia dan

perilakunya, dari sudut pandang yang tidak selalu bernuansa barat, meski hal itu pada akhirnya tidak terelakkan.

Buku ini terdiri dari 11 Bab, dimana pada dua bab pertama penulis menjelaskan tentang awal

kelahiran gagasan-gagasan yang mendasari perspektif teori psikologi. Bab pertama

memaparkan tentang perjalanan gagasan-gagasan tentang alam dan manusia pada masa kuno, dari zaman Yunani hingga agama-agama samawi.

Cukup menarik bahwa, meskipun pemikiran kontemplatif Oriental dan Timur (terutama India dan Tiongkok) sempat disinggung pada bagian pendahuluan (hal xiii), namun tidak ditemukan paparannya secara rinci dalam bahasan mengenai

lsafat tentang alam dan manusia di bab ini.

Selanjutnya, pada bab dua, penulis menjelaskan tentang berbagai gagasan dan penelitian awal dalam berbagai sub-disiplin ilmu yang menjadi cikal bakal lahirnya bidang ilmu psikologi. Pada bab tiga hingga sepuluh, dengan diawali paparan tentang kelahiran psikologi sebagai ilmu, penulis memaparkan berbagai perspektif teoretik utama dalam psikologi. Paparan diawali dengan perspektif strukturalisme hingga Behaviorisme pada bab tiga, kemudian dilanjutkan sampai perspektif Psikobiologi dan Psikologi Evolusioner pada bab sepuluh. Hal yang menarik adalah adanya paparan tentang Psikologi Positif pada bab tujuh, sebagai perkembangan gagasan dari lsafat eksistensialisme dan Psikologi Humanistik, meskipun masih terbatas pada gagasan yang dikemukakan oleh Martin Seligman.

RESENSI BUKU SEJARAH PSIKOLOGI: PERKEMBANGAN PERSPEKTIF TEORETIS

Pada bab terakhir, dipaparkan perspektif teori yang muncul dalam perkembangan gagasan tentang manusia dan perilakunya dalam konteks Indonesia. Pada awal bagian ini dikemukakan beberapa sudut pandang lsafat timur yang sayangnya juga tidak dieksplorasi secara

mendalam, terutama dalam kaitannya dengan cara pandang masyarakat yang disebut sebagai 'timur' (Timur Tengah, India, Tiongkok) terhadap manusia dan dunianya. Cara pandang tersebut tentu memiliki perbedaan dengan cara pandang psikologi barat, sebagaimana dicontohkan oleh penulis pada pengalaman Danziger di Jogja.

Terkait hal ini, ada sedikit catatan kaki yang agak mengganggu terkait dengan masa tugas Kurt Danziger pada halaman 331 yang tertulis bahwa ia ditugaskan di Indonesia pada tahun 1954.

Berdasarkan biogra Danziger yang dimuat pada halaman belakang buku pidato pengukuhannya sebagai guru besar Ilmu Djiwa Sosial pada Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada (Danziger, 1960), tertulis bahwa ia ditugaskan ke Indonesia pada permulaan tahun 1958. Pada bulan Oktober 1959 ia meninggalkan Indonesia dan kembali ke Afrika Selatan.

Pada bagian selanjutnya dari bab sebelas,

dikemukakan hasil penelitian Pols (2015) tentang pemikiran psikologis yang muncul di kalangan para psikiater Belanda terhadap masyarakat jajahan dalam konteks kolonialisme. Selanjutnya pada akhir bab dipaparkan pemikiran Ki Ageng Suryomentaram tentang ilmu bahagia (kawruh begja) yang dikembangkan pada masa kolonial dan bertahan serta dikembangkan lebih lanjut hingga saat ini. Kedua paparan tersebut dengan

sendirinya mengisi ruang dalam historiogra psikologi Indonesia, tentang pemikiran-pemikiran psikologis pada masa kolonial. Sejarah Psikologi di Indonesia sebagai disiplin ilmu dimulai pada tahun 1953 dengan berdirinya Lembaga Pendidikan Asisten Psikologi di Universitas

Indonesia. Melalui pendekatan sejarah pemikiran ini, maka sejarah psikologi di Indonesia bisa ditarik lebih jauh ke belakang hingga ke masa kolonial.

Metode yang digunakan dalam penulisan sejarah pada buku ini, sebagaimana diklaim oleh

penulisnya, adalah metode sejarah pemikiran (history of ideas). Melalui penggunaan metode ini penulis berupaya memaparkan bagaimana gagasan tentang manusia dan perilakunya diungkapkan, dipertahankan dan diubah dari waktu ke waktu.

Penulis berusaha untuk memaparkan–meminjam istilah Danziger (2013)–'sejarah dalam psikologi' (historiography in psychology). Penulisan sejarah dengan pendekatan ini akan menghasilkan rangkaian historiogra dari beragam topik yang luas dalam psikologi, yang membangun atau dianggap membangun psikologi modern. Untuk itu, gagasan-gagasan psikologi yang ditelaah bersumber dari dan berjalan seiring dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan modern yang berakar pada jaman Yunani kuno, meskipun dalam evolusinya lebih lanjut, diakui adanya pengaruh dari pemikiran Timur. Pada titik inilah kemudian, terjadi persinggungan akar loso s antara barat dan timur yang memungkinkan terciptanya gagasan psikologi yang lebih komprehensif. Meskipun, sayang sekali penulis buku ini tidak secara spesi k menarik

persinggungan ini kedalam suatu perspektif teori yang lebih bernuansa budaya atau yang mengarah pada psikologi transpersonal.

Selain itu, dalam penulisan buku ini, para penulisnya berharap dapat memunculkan nuansa kontekstual yang bersifat sosial dan budaya dalam memahami gagasan-gagasan tentang manusia dan perilakunya. Hal ini diharapkan dapat membuka peluang bagi pengkajian tentang manusia dan perilaku yang terjadi di Indonesia, dimana selama ini, orientasi kesejarahan psikologi lebih mengacu

RESENSI BUKU SEJARAH PSIKOLOGI: PERKEMBANGAN PERSPEKTIF TEORETIS

pada teks barat (hal ix-x). Untuk itu pendekatan penulisan yang digunakan tidak dimaksudkan untuk begitu saja menonjolkan sejarah pemikiran orang per orang, melainkan dengan melihat juga zeitgeist atau “the spirit of the time” nya. Pilihan ini sebenarnya mere eksikan perdebatan klasik yang selalu ramai dalam penulisan sejarah ilmu, yakni antara internalisme dan eksternalisme.

Hessenbruch (2013) menjelaskan, Internalisme dalam historiogra ilmu pengetahuan mengklaim bahwa ilmu benar-benar terpisah dari pengaruh sosial, dan ilmu alam yang murni bisa saja ada di masyarakat manapun dan kapanpun yang memiliki kapasitas intelektual. Sebaliknya, Eksternalisme dalam historiogra ilmu

memandang bahwa sejarah ilmu berkaitan dengan konteks sosialnya, dimana iklim sosial-politik dan ekonomi di sekitarnya menentukan kemajuan ilmiah. Pendekatan penyelidikan dengan menelaah zeitgeist sebenarnya bisa juga dipadukan dengan metode penyelidikan lainnya, sehingga tidak harus memposisikan diri secara dikotomis. Hergenhahn dan Henley (2014) misalnya, yang merupakan acuan utama dalam penulisan buku ini, memposisikan diri secara eklektif dengan menggabungkan antar pendekatan dalam penulisan sejarah, yakni zeitgeist, tokoh utama (great person) dan perkembangan sejarah (historical development).

Kelebihan buku ini adalah bahasanya yang ringan dan mudah dipahami. Penjelasan-penjelasannya disertai dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari yang kadang juga dikaitkan dengan bidang profesi psikologi. Sebagaimana

dikemukakan oleh para penulisnya, buku ini memang 'ditulis untuk tujuan yang sangat praktis, yaitu membantu mahasiswa mempelajari psikologi dalam konteks sejarah keilmuan dan perspektif para pemikirnya' (hal x). Sebagai buku pegangan untuk mahasiswa, buku ini dilengkapi dengan tabel Alur Sejarah Pemikiran dalam lampiran,

yang akan memudahkan pembaca dalam menelusuri setiap perspektif teoretik yang dipaparkan.

Kelebihan lainnya adalah, sebagaimana telah dipaparkan di muka, buku ini berupaya mengisi ruang kosong dalam historiogra psikologi Indonesia. Hal ini terutama menyangkut pemikiran-pemikiran psikologis pada masa

kolonial dan pemikiran-pemikiran psikologis yang bersifat indigenous. Melalui pendekatan sejarah pemikiran yang digunakan, penulis berupaya untuk menarik sejarah psikologi Indonesia lebih jauh ke belakang hingga ke masa sebelum kelahiran psikologi sebagai disiplin ilmu di Indonesia. Ini tentu diharapkan dapat

memberikan inspirasi sekaligus tantangan bagi para ilmuwan psikologi yang berminat dalam kajian sejarah, untuk turut ambil bagian dalam mengisi ruang-ruang kosong yang dimaksudkan.

Inspirasi dan tantangan untuk mengembangkan kajian sejarah pemikiran psikologi di Indonesia inilah justru yang menjadi kontribusi utama buku ini.

Selain kelebihan-kelebihan diatas, terdapat pula beberapa kekurangan yang dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam penyempurnaan buku ini.

Pertama adalah kekurangan terkait substansi, yakni buku ini dalam pembabakan aliran atau perspektif teorinya masih mengikuti pembabakan pada buku yang menjadi acuan pokok, terutama Hergenhehn dan Henley (2014). Meskipun dengan jumlah pemaparan yang lebih sedikit karena pemangkasan pada berbagai pemikiran tokoh dan disisakan pada beberapa tokoh yang dianggap penting oleh penulis. Hal ini

menyebabkan perkembangan perspektif teori yang diangkat dalam buku ini masih kurang

mengelaborasi perkembangan pemikiran psikologi yang paling mutakhir. Meskipun telah sedikit memaparkan pemikiran Seligman yang mewakili

RESENSI BUKU SEJARAH PSIKOLOGI: PERKEMBANGAN PERSPEKTIF TEORETIS

pendekatan Psikologi Positif, namun belum menyentuh perspektif teoretik yang ada dalam pendekatan Psikologi Transpersonal.

Kekurangan lainnya adalah adanya kegamangan metodologis dalam menggunakan metode sejarah.

Kegamangan ini nampak dari penggunaan metode sejarah pemikiran (history of ideas) yang lazim berada pada tradisi historiogra internalisme, namun berupaya menghadirkan konteks sosial budaya dari pemikiran tersebut, sehingga menjadi lebih mirip dengan sejarah intelektual (intellectual history) yang lazim berada pada tradisi historiogra eksternalisme. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi, karena latar belakang penulis adalah para ilmuwan psikologi dan bukan sejarawan. Ini justru

menunjukkan adanya perkembangan yang cukup baik bahwa sebagian Ilmuwan Psikologi

mengalami transformasi menjadi apa yang disebut oleh Desbury (2003) sebagai the Dabbler.

Desbury, sebagaimana dikutip oleh Vaughn-Blount dkk (2009) mengemukakan adanya 3 pro l, yang mencirikan keterlibatan Ilmuwan Psikologi dalam kajian sejarah, yang pertama adalah yang disebut dengan the Dabbler, yaitu mereka yang merupakan ahli psikologi di bidang lain (non-sejarah), namun memiliki minat dalam sejarah psikologi, sebagai tambahan dari bidang psikologi yang mereka tekuni. Kedua adalah the Retread, yakni mereka yang semula merupakan the Dabbler, namun passion-nya terhadap sejarah semakin meningkat. Mereka mulai mempelajari metode sejarah dan menjadi lebih terlibat dalam dunia profesi sejarawan psikologi, lalu

menyisihkan bidang minat sebelumnya utk berfokus secara khusus pada kajian sejarah psikologi. Ketiga adalah the Straight-liner, yakni mereka yang memang merupakan lulusan

program studi sejarah psikologi. Mereka memiliki minat sejak awal dalam sejarah psikologi lalu mengambil kuliah pada jurusan tersebut.

Berdasarkan penjelasan diatas, dan sebagaimana telah dijelaskan mengenai kontribusi utama buku ini, kehadiran buku ini dapat meretas jalan terhadap kajian sejarah Psikologi di Indonesia.

Inspirasi yang dibangun dengan upaya penulisan buku ini semoga dapat melahirkan the Dabblers dan the Retread, yakni mereka yang berminat dan antusias dalam mengeksplorasi aneka perspektif teoretik yang pernah ada dalam sejarah Psikologi Indonesia. Harapan lebih jauh adalah, semoga kehadiran buku ini menginspirasi terciptanya komunitas Sejarah Psikologi di Indonesia yang mungkin akan bermuara pada terbentuknya program peminatan Sejarah Psikologi di level Magister atau Doktoral, sehingga dapat menghasilkan the Straight-liner di masa depan.

Semoga.

Referensi

Baldwin, J.M. 2007. History of psychology: A sketch and an interpretation (terjemahan Abdul Qodir Shaleh). Yogyakarta: Primasophie Boeree, CG. (2005). Sejarah psikologi: Dari masa

kelahiran sampai masa modern (terjemahan Abdul Qodir Shaleh). Yogyakarta:

Prismasophie

Brennan, J.F. (2006). Sejarah dan sistem psikologi (terjemahan Nurmala Sari Fajar). Jakarta:

PT. Rajagra ndo Persada

Danziger, K. (1960). Psychologi dan masjarakat.

Jogjakarta: Penerbitan Universitas.

Danziger, K. (2013). Psychology and its history.

eory & Psychology, 23(6) 829–839.

Hergenhahn, B.R., & Henley, T. (2014). An introduction to the history of psychology, (7th ed.). Belmont, CA: Wadsworth Press

RESENSI BUKU SEJARAH PSIKOLOGI: PERKEMBANGAN PERSPEKTIF TEORETIS

Hessenbruch, A. (ed.). (2013). Reader's guide to the history of science: "Internalism versus

Externalism. Routledge

Irwanto & Gunawan, F.Y. (2018). Sejarah psikologi: perkembangan perspektif teoretis.

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Klemm, O. (2017). A history of psychology: Sejarah psikologi. Yogyakarta: IndoLiterasi

LCT. Bigot, Ph. Kohnstamm & B.G. Palland.

(1984). Sejarah ilmu jiwa (saduran F.S.

Juntak). Yogyakarta: Penerbit Jemmars.

Pols, H. (2007). Psychological knowledge in a colonial context: theories on the nature of the

“native mind” in the former dutch east indies.

History of psychology, 10(2), 111–131.

Rahman, AA. (2017). Sejarah psikologi: Dari klasik hingga modern. Depok: PT. Rajagra ndo Persada.

Sahertian, PA. (1983). Aliran-aliran modern dalam ilmu jiwa. Surabaya: Usaha Nasional.

Said, M. (1965). Psikologi dari zaman ke zaman.

Jakarta: Penerbit Dian Rakjat

Sarwono, SW. (1980). Berkenalan dengan tokoh-tokoh dan aliran-aliran psikologi. Jakarta:

Bulan Bintang.

Schultz, DP. & Schultz, SE. (2014). Sejarah psikologi modern: A history of modern psychology (terjemahan Lita Hardian).

Bandung: Nusa Media.

Soerjabrata, S. (1969). Ichtisar sedjarah ilmu djiwa.

Yogyakarta: UP. Sumbangsih.

Vaughn-Blount, K., Rutherford, A., Baker, D., &

Johnson, D. (2009). History's mysteries, demysti ed: Becoming a psychologist-historian. American Journal of Psychology, 122(1). 117-129.

Walujo, S. (1958). Sedjarah ilmu djiwa dan ilmu watak. Yogjakarta: UP. Spring

Dalam dokumen INDONESIA PUBLIK PRIVAT P S I K O L O G I (Halaman 60-65)

Dokumen terkait