TOPIK PSIKOLOGI TERKINI KITA BERBEDA, KITA BERTEMAN
Dalam memahami kecenderungan seseorang untuk menilai kelompoknya lebih baik daripada kelompok lain, teori identitas sosial merupakan salah satu teori klasik psikologi sosial yang paling relevan digunakan untuk menjelaskan. Ide dasar teori ini adalah ketika seseorang menjadikan sebuah kelompok adalah bagian penting dari konsep dirinya, baik-buruk kelompok akan mempengaruhi konsep dirinya juga. Misalnya, Anda adalah anggota kelompok X. Anda sangat bangga dengan X, lalu selalu memperkenalkan diri sebagai anggota kelompok X karena saking
(terlalu) bangganya. Namun, suatu waktu, kelompok X dikaitkan dengan hal-hal negatif, misalnya pendukung kekerasan. Secara pribadi Anda tidak setuju dengan aksi kekerasan. Karena Anda sudah merasa bahwa kelompok X adalah bagian dari diri Anda, penilaian negatif terhadap kelompok X bisa mengganggu konsep diri Anda juga.
Identi kasi kuat dengan kelompok kemudian melahirkan kecenderungan untuk bias dalam menilai kelompok sendiri maupun kelompok lain.
Yaitu, kecenderungan untuk mengidolakan kelompok sendiri dibandingkan kelompok lain (ingroup favoritism) dan menjelekkan kelompok lain (outgroup derogation). Dalam teori-teori psikologi sosial, ingroup favoritism tidak selalu diikuti oleh outgroup derogation. Sederhananya, Anda bisa menilai kelompok Anda baik tetapi belum tentu Anda menilai kelompok lain buruk, bukan? Ada beberapa kondisi yang menyebabkan orang menilai buruk orang-orang dari kelompok berbeda. Salah satunya adalah karena minimnya kontak antar kelompok.
Kontak antar kelompok dapat diartikan sebagai interaksi yang dilakukan seseorang secara langsung maupun tidak langsung dengan orang-orang yang berasal dari kelompok yang berbeda. Ketika orang memiliki kontak antar kelompok yang memadai
secara kuantitas maupun kualitas, harmonisasi hubungan antar kelompok bisa terwujud.
Hipotesis kontak antar kelompok ini
diperkenalkan oleh Allport (1954). Menurut Allport, prasangka dapat dikurangi dengan menciptakan kontak langsung melalui hubungan pertemanan yang menghadirkan kekariban dalam interaksi. Banyak penelitian telah menunjukkan efektivitas kontak antar kelompok ini dalam menciptakan outgroup attitude yang positif, seperti pada konteks hubungan pemeluk agama Katolik-Protestan di Irlandia Utara (Paolini, Hewstone, Cairns, & Voci, 2004; Hewstone, Cairns, Voci, Hamberger, & Niens 2006) dan konteks hubungan antar kelompok etnis di sekolah (Barlow, Louis, & Hewstone, 2009; Beelmann &
Heinemann).
Beberapa penelitian menunjukkan ada beberapa karakteristik pertemanan antar kelompok yang dapat memberikan hasil optimum, seperti adanya kecocokan antara diri dengan orang teman interaksi (Aron, Aron, & Smollan, 1992),
keterbukaan akan informasi diri atau self-disclosure (Turner, Hewstone, & Voci, 2007), empati antar kelompok (Batson, Early, & Salvarani, 1997), dan adanya kemampuan perspective taking (Galinsky &
Moskowitz, 2000). Jika memiliki karakteristik tersebut, pertemanan diketahui dapat
meningkatkan sikap terhadap kelompok lain yang lebih positif (mis., Paolini, Hewstone, Cairns, Voci, 2004). Bahkan, interaksi ini diketahui memiliki efek lanjutan, yaitu penilaian positif pada kelompok lain yang tidak terlibat langsung dalam interaksi antar kelompok (van Laar, Levin, Sinclair, & Sidanius, 2005). Misalnya, jika anda adalah seorang Muslim, lalu memiliki pengalaman interaksi yang positif dengan kelompok etnis minoritas seperti Tionghoa. Sikap positif terhadap orang beretnis Tionghoa tersebut juga cenderung akan menular pada sikap Anda terhadap
kelompok etnis minoritas lainnya, misalnya orang
TOPIK PSIKOLOGI TERKINI KITA BERBEDA, KITA BERTEMAN
beragama Kristen, Hindu, atau Budha.
Meskipun efektivitas kontak antar kelompok sudah seringkali ditemukan, namun bukan berarti hipotesis ini bebas dari kritik. Salah satu kritik utamanya adalah teori ini tidak
mempertimbangkan adanya peran konteks.
Kontak antar kelompok dianggap sebagai interaksi antar kelompok yang bebas dari pengaruh
lingkungan sosial. Chris et al. (2014), misalnya, menemukan bahwa efektivitas kontak antar kelompok berbeda di wilayah yang lebih beragam dan kurang beragam. Mereka menemukan bahwa masyarakat di daerah dengan keberagaman tinggi cenderung memiliki sikap yang lebih positif meski pengalaman kontak antar kelompoknya minim.
Hal ini terjadi karena masyarakat di daerah tersebut lebih cenderung untuk mempersepsikan bahwa tetangga mereka memiliki hubungan yang positif dengan orang-orang yang berbeda identitas sosialnya. Pengetahuan tersebut menjadikan individu mempersepsikan bahwa hubungan antar kelompok di daerah tersebut baik. Dengan kata lain, tanpa pengalaman kontak antar kelompok secara langsung sekalipun, sikap positif terhadap orang beda kelompok dapat terbentuk. Lain halnya dengan orang-orang yang tinggal di daerah yang cenderung homogen. Pada daerah semacam ini, kontak antar kelompok secara langsung menjadi kunci terbentuknya harmoni antar kelompok.
Pada konteks Indonesia, saya juga telah mencoba melihat bagaimana konteks berperan dalam meningkatkan keberhasilan pertemanan antar kelompok bagi terciptanya sikap antar kelompok yang positif (Yustisia, 2016). Secara konseptual, saya mencoba melihat efek moderasi norma kelompok dalam hubungan pertemanan antar kelompok (cross-group friendship) dengan sikap pada kelompok lain (Yustisia, 2016). Saya menduga pertemanan antar kelompok dapat
memprediksi sikap positif terhadap kelompok lainnya hanya ketika norma kelompok juga mendukung pertemanan antar kelompok.
Sebelum menjelaskan temuan penelitian ini, berikut saya jelaskan terlebih dahulu konsep-konsep dasar dan mekanisme psikologis ide penelitian ini.
Norma kelompok dapat diartikan sebagai aturan tidak tertulis yang mengatur tentang apa-apa yang perlu anggota kelompok lakukan dalam konteks tertentu. Di Indonesia, misalnya ada norma bahwa murid seharusnya mencium tangan gurunya.
Studi-studi norma kelompok berawal dari
penelitian-penelitian identitas sosial. Ide dasarnya adalah ketika individu teridenti kasi kuat dengan sebuah kelompok, perilakunya akan banyak dipengaruhi oleh norma dan standar kelompok tersebut (Smith & Louis, 2009). Misalnya, jika Anda tergabung dalam kelompok aktivis
lingkungan yang melarang menggunakan sedotan plastik, dan Anda merasa kelompok tersebut penting bagi identitas Anda, maka Anda akan mengikuti aturan tersebut: tidak menggunakan sedotan plastik.
Dalam penelitian ini saya menggunakan
hubungan antar kelompok agama sebagai konteks penelitian. Hal ini bergerak dari fakta bahwa ketegangan sosial antar umat beragama di Indonesia masih dapat ditemukan baik secara eksplisit maupun implisit. Saya melihat bahwa meski keberagaman identitas sosial bisa dengan mudah ditemukan di Indonesia, tapi
kenyataannya tidak semua kelompok bisa menerima bahkan mendorong adanya interaksi antar kelompok, terutama terkait kelompok agama. Dalam konteks hubungan Muslim dan Kristen di Indonesia, khususnya, hal ini dapat dikaitkan dengan rasa takut karena adanya sejarah pemimpin Islam yang secara eksplisit menyatakan perlawanan terhadap ekspansi Kristenisasi pada
TOPIK PSIKOLOGI TERKINI KITA BERBEDA, KITA BERTEMAN
tahun 1964 (Mujiburrahman, 2006).
Untuk mengembangkan penelitian sebelumnya, norma kelompok dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu norma injungtif dan norma deskriptif. Norma injungtif berbicara tentang aturan-aturan yang menunjukkan apa yang seharusnya kita lakukan. Sementara itu, norma deskriptif berbicara tentang informasi tentang apa yang sebenarnya orang-orang lakukan. Beberapa penelitian menunjukkan norma injungtif lebih efektif mengubah sikap dan perilaku (mis., Savani, Morris, & Naidu, 2012). Namun penelitian lain menunjukkan norma deskriptif lebih efektif (Kobis, van Prooijen, Righetti, Van Lange, 2015).
Norma yang lebih efektif tergantung pada tujuan dari sikap atau perilaku itu sendiri. Jika tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi tentang perilaku apa yang feasible dalam konteks tertentu, orang akan melihat norma deskriptif. Namun, jika tujuannya adalah untuk membina hubungan sosial, orang akan berfokus pada norma injungtif.
Contohnya, seorang mahasiswa
mempertimbangkan akan mencontek atau tidak dalam sebuah ujian. Jika ia melihat banyak
mahasiswa lain yang mencontek, ia berarti melihat norma deskriptif perilaku mencontek. Namun, tentu ia sadar bahwa dosen, kampus, maupun sebagian mahasiswa lainnya mengharapkan tidak ada aktivitas mencontek saat ujian. Pengetahuan tentang harapan lingkungan ini disebut sebagai norma injungtif. Bergerak dari pembagian norma tersebut, saya menduga bahwa pertemanan antar kelompok dapat membentuk sikap positif terhadap orang beda agama jika norma injungtif mendukung pertemanan beda agama tersebut;
namun tidak bergantung pada norma deskriptif yang berlaku.
Dengan menggunakan 110 partisipan mahasiswa, studi ini menemukan bahwa hipotesis utama
penelitian ini dapat diterima. Bahwa norma injungtif dapat memoderasi hubungan pertemanan antar kelompok dengan sikap terhadap orang beda agama. Namun, perlu dicatat bahwa norma injungtif berperan penting saat pertemanan antar kelompok diukur dalam frekuensi pertemanan. Saat pertemanan antar kelompok diukur terkait dengan kualitas, yaitu seberapa menyenangkan pertemanan antar kelompok tersebut, norma injungtif tidak menunjukkan peranan moderasi yang signi kan.
Artinya adalah, semakin sering pertemanan antar kelompok agama, semakin positif sikap terhadap orang beda agama, khususnya pada saat norma injungtif mendukung pertemanan tersebut. Jika norma injungtif tidak mendukung pertemanan tersebut, kuantitas pertemanan beda agama tidak cukup mampu menciptakan sikap positif terhadap orang beda agama. Sementara itu, sejalan dengan hipotesis, norma deskriptif tidak menunjukkan peran moderasi yang signi kan baik ketika pertemanan antar kelompok diukur dalam hal kuantitas maupun kualitas.
Temuan-temuan ini mengindikasikan dua hal.
Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa norma injungtif memiliki peranan lebih penting ketimbang norma deskriptif dalam konteks hubungan antar kelompok agama. Seperti yang sudah dijelaskan, hal ini terkait dengan
karakteristik dari konteks penelitian ini, yaitu hubungan antar kelompok, yang memang lebih menuntut penilaian moral tentang benar dan salah. Penilaian tentang benar dan salah tentunya erat kaitannya dengan norma injungtif daripada norma deskriptif. Kedua, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kualitas pertemanan lebih penting daripada kuantitas pertemanan.
Berdasarkan uraian di atas, lantas saran praktis apa yang bisa diberikan untuk mewujudkan harmoni antar kelompok sosial di Indonesia? Pertama, kita
TOPIK PSIKOLOGI TERKINI KITA BERBEDA, KITA BERTEMAN
perlu menyadari bahwa kecenderungan bias adalah konsekuensi tak terelakkan dari proses kategorisasi sosial. Artinya adalah, ketika Anda sudah merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu dan orang lain masuk ke kelompok yang berbeda, maka Anda secara sadar atau tidak punya kecenderungan untuk menilai kelompok Anda lebih baik dari orang lain. Kesadaran ini
diharapkan dapat sedikit menurunkan bias antar kelompok, jika tidak dapat menghilangkan.
Kedua, mengingat cara pandang politik maupun agama tidak dapat diseragamkan, toleransi atas keberagaman menjadi mutlak. Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hubungan yang penuh toleransi tersebut adalah kontak antar kelompok. Bergerak dari temuan penelitian Yustisia (2016) soal pentingnya peranan norma injungtif, pihak-pihak yang punya
kepentingan dengan terwujudnya harmoni
kelompok ini perlu memperhatikan apakah norma injungtif di berbagai kelompok masyarakat sudah mendukung pertemanan dengan orang-orang beda cara pandang atau tidak. Masyarakat perlu yakin bahwa berteman dengan orang-orang yang berbeda identitas sosialnya adalah hal yang wajar dan bahkan didukung oleh lingkungan sosial mereka. Terakhir, bergerak dari temuan pentingnya kualitas pertemanan, pihak-pihak terkait perlu memperhatikan aspek kuantitas sekaligus kualitas hubungan antar kelompok di Indonesia.
*Versi asli/panjang artikel ini telah dimuat di jurnal Makara Hubs Asia tahun 2016 volume 20 nomor 1 dengan judul Group Norms as Moderator in e Effect of Cross Group Friendship on Outgroup Attitude: A Study on Interreligious Group in
Indonesia