MENJADI PSIKOLOGI
YANG RELEVAN
Perlunya mengembangkan kurikulum yang mengarah kepada produksi
pengetahuan psikologi yang lebih relevan bagi kehidupan bangsa secara luas.
(HALAMAN 8)
Menimbang sikap etis psikolog terhadap hasil asesmen kandidat politik/tokoh publik.
(HALAMAN 14)
VS
INFORMASI
PRIVAT
PERNYATAAN
PUBLIK
Pendidikan nan
Kita Berbeda
NEOLIBERAL
Kita Berteman
INDONESIA volume 1 no. 1, Juli 2019
(HALAMAN 32)
(HALAMAN 49)
INDONESIA
REDAKSI
PEMIMPIN UMUM Seger Handoyo PEMIMPIN REDAKSI Augustinus Supratiknya WAKIL PEMIMPIN REDAKSI
Juneman Abraham REDAKTUR PELAKSANA
Tjipto Susana Rahkman Ardi REPORTER
Ahmad Fauzan Iswahyudi Diah Budiarti DESAIN DAN LAYOUT Bivita Brata Prabawa Riko
HIMPUNAN PSIKOLOGI INDONESIA Jl. Kebayoran Baru No. 85B
Kebayoran Lama, Velbak
Jakarta Selatan DKI Jakarta 12240
Indonesia, 021 72801625, +62 821-1435-0101
ALAMAT REDAKSI
PAGES
conte nts conte nts
Editorial
Kata Pengantar
ISU PSIKOLOGI TERKINI
Menjadi Psikologi yang Relevan
Informasi Privat vs Pernyataan Publik: Menimbang-nimbang Sikap Etis Psikolog terhadap Hasil Asesmen Kandidat Politik/Tokoh Publik
WAWANCARA
Asesmen Tokoh Politik Beda dengan Medical Report!
LIPUTAN KHUSUS
HIMPSI Perlu Membangun Epistemic Community
LSP Psikologi Indonesia: Pengakuan Kompetensi Bidang Psikologi
ARTIKEL ILMIAH POPULER Pendidikan nan Neoliberal
ULASAN TOKOH
Fuad Hassan: Memahami Manusia dengan Psikologi Kita Belajar dari Pak Nim, Ayah yang Melindungi
TOPIK PSIKOLOGI TERKINI Kita Berbeda, Kita Berteman
Psikologi untuk Pendidikan, Pengajaran, dan Belajar Program Doktor (S3) Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Malang
RESENSI BUKU
Merentas Jalan Kajian Sejarah Psikologi di Indonesia 1
7
8 14
21
27 30
32
38 44
49
54
56
DAFTAR ISI
T
anggal 11 Juli 2019 ini Himpunan Psikologi Indonesia atau HIMPSImenginjak usia 60 tahun. Didirikan pada tanggal 11 Juli 1959 di Jakarta dengan nama Ikatan Sarjana Psikologi (ISPsi), organisasi profesi
Psikologi ini berganti nama menjadi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) melalui Kongres Luar Biasa pada tahun 1998 di Jakarta. HIMPSI merupakan induk dari organisasi profesi tingkat wilayah di 32 provinsi di Indonesia dan 16 organisasi ikatan minat/asosiasi serta memiliki anggota berjumlah lebih dari 12.000 orang.
HIMPSI memiliki mitra 93 Fakultas Psikologi penyelenggara pendidikan tinggi akademik, profesi dan terapan psikologi terdiri dari 18 fakultas di lingkungan perguruan tinggi negeri (PTN) baik yang bernaung di bawah Kemenristekdikti maupun di bawah Kemenag; serta 75 fakultas di lingkungan perguruan tinggi swasta (PTS) yang bernaung di bawah Kemenristekdikti dan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Fakultas-fakultas Psikologi mitra HIMPSI ini berhimpun di tingkat nasional dan wilayah dalam wadah Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi (AP2TPI) dan menyelenggarakan total 151 program studi meliputi jenjang S1 Psikologi, S2 Ilmu Psikologi, S2 Profesi Psikologi, S2 Psikologi Terapan, serta S3 Ilmu Psikologi.
Sebagai sebuah organisasi profesi komunitas terdidik atau terpelajar di bidang Psikologi, baik sebagai akademisi-ilmuwan maupun sebagai
praktisi, sangat wajar diharapkan HIMPSI memiliki rekaman tertulis tentang keberadaan dan kiprahnya:
sejarah berdirinya, perdebatan tentang berbagai isu
Editorial
baik menyangkut keberadaannya sendiri maupun menyangkut nasib masyarakat dan bangsa yang dilayaninya, prestasi-prestasi yang dicapainya, dan mungkin juga masalah bahkan kegagalan yang pernah dialami dan belum mampu diatasinya, dan sebagainya. Sepanjang yang kita ketahui, selain berbagai dokumen dan rekaman kejadian-gagasan lain yang terunggah di website HIMPSI, hanya tersedia enam dokumen berupa buku dan satu jurnal ilmiah yang bisa dijadikan jendela untuk mengintip keberadaan dan kiprah HIMPSI sejak berdirinya hingga kini. Enam buku yang dimaksud diurutkan secara kronologis berdasarkan tahun penerbitannya meliputi Dialog Psikologi Indonesia:
Doeloe, Kini dan Esok (Himpsi Jaya, 2007); 50 Tahun Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI):
Rede nisi Psikologi Indonesia dalam Keberagaman (HIMPSI, 2010); Integritas, Keberbedaan &
Kesejahteraan Psikologis. Kontribusi Psikologi dalam Menjawab Tantangan Bangsa Masa Kini (HIMPSI, 2014); Revolusi Mental: Makna dan Realisasi (HIMPSI, 2015); Psikologi dan Teknologi Informasi (HIMPSI, 2016); dan Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan (HIMPSI, 2018). Tiga buku terakhir merupakan Seri Sumbangan
Pemikiran Psikologi untuk Bangsa yang merupakan salah satu program kerja Pengurus Pusat HIMPSI
merupakan jurnal ilmiah menyajikan laporan penelitian orisinal warga komunitas Psikologi di Indonesia yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia. JPI diterbitkan melalui permohonan ISSN tahun 2007
(http://issn.pdii.lipi.go.id/), di mana ISSN yang tercantum di LIPI adalah 0853-3059.
Berkala dengan ISSN tersebut terbit pertama kali pada tahun 2008 dan selanjutnya terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Terbitan terbaru dan terakhir yang tersedia adalah Volume 12, Nomor 1 yang terbit dalam bulan Juni 2017.
Jika boleh memasukkan berkala ilmiah yang diterbitkan oleh berbagai lembaga pendidikan tinggi Psikologi sebagai jendela untuk mengintip denyut kehidupan ilmu dan profesi psikologi di Indonesia, ada paling sedikit 79 jurnal ilmiah Psikologi yang diterbitkan oleh fakultas atau program studi Psikologi atau disiplin ilmu serumpun di lingkungan PTN dan PTS di Indonesia (“Daftar jurnal”, 2018).
Dokumen-dokumen itu mungkin cukup memberikan gambaran tentang perkembangan ilmu dan profesi Psikologi hingga state of the arts atau status keberadaannya di Indonesia hingga kini, namun diduga kurang memberikan informasi tentang dinamika keberadaan HIMPSI sebagai organisasi baik di tingkat nasional, wilayah maupun dalam berbagai ikatan minat/asosiasi yang
bernaung di bawahnya sejak kelahirannya enam puluh tahun lalu, status keberadaannya saat ini, serta masa depan yang diimajinasikannya dalam rangka merespon perkembangan baik dunia keilmuan dan profesi Psikologi sendiri maupun perkembangan masyarakat yang dilayaninya baik pada tingkat nasional, regional, maupun global.
Tanpa terjebak dalam mentalitas paska-kolonial sebagai negara dan bangsa yang pernah dijajah bangsa Barat terus mereproduksi sikap dan pandangan kolonial Barat yang melihat bangsa jajahan Timur sebagai inferior dibandingkan bangsa Barat penjajahnya yang superior, kiranya
American Psychological Association sebagai organisasi profesi Psikologi di Amerika Serikat. Didirikan oleh G. Stanley Hall pada tahun 1892 dengan anggota perdana sebanyak 31 orang, pada tahun 2017 organisasi profesi Psikologi terbesar di dunia ini menginjak usianya yang ke-125. Saat ini organisasi ini memiliki lebih dari 118.000 anggota terdiri dari peneliti, pendidik, praktisi dan mahasiswa yang tersebar ke dalam 56 divisi setara dengan
asosiasi/ikatan minat mulai dari divisi 1 Society for General Psychology sampai dengan divisi 56 Trauma Psychology. Organisasi ini menerbitkan 88 jurnal ilmiah yang dikelompokkan ke dalam 10 bidang mulai dari General Psychology (11 jurnal, termasuk American Psychologist) sampai dengan Social
Psychology (17 jurnal) serta dua majalah (Monitor on Psychology dan Good Practice) serta 16 online
newsletters.
Dalam edisi khusus menyambut ulang tahun APA yang ke-125, jurnal American Psychologist (volume 72, nomor 8, November 2017), menurunkan 10 artikel berisi ulasan re ektif tentang perkembangan organisasi itu sendiri serta perkembangan ilmu dan praktik Psikologi beserta sistem pendidikannya di Amerika Serikat di masa lalu, masa kini, dan prospeknya di masa mendatang. Dari salah satu artikel (Green & Cautin, 2017) terungkap bahwa organisasi yang awalnya didirikan dengan misi memajukan Psikologi sebagai science atau disiplin ilmu ini tak pernah lepas dari ketegangan di antara para anggota sebagai bagian dari dinamika
perkembangannya. Ketegangan pertama muncul tak lama sesudah berdiri karena anggota yang berlatar belakang pendidikan Psikologi merasa gerah dengan kehadiran anggota yang berlatar belakang pendidikan disiplin ilmu lain, khususnya Filsafat. Ketegangan ini sirna sesudah para lsuf praktis mundur dari APA dan berhimpun bersama
lsuf lain untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Ketegangan kedua muncul paska Perang Dunia I antara anggota yang berstatus academics atau academic purists dan mereka yang berstatus professionals atau professional psychologists terkait misi organisasi. Sampai tahun 1945, misi
memajukan Psikologi sebagai disiplin ilmu. Artinya, arah dan kiprah APA didominasi oleh kaum
akademisi. Namun sesudah 1945 misi itu
dirumuskan ulang menjadi “memajukan Psikologi sebagai ilmu, sebagai profesi, dan sebagai sarana mempromosikan kesejahteraan manusia”. Dengan berlakunya rumusan misi organisasi yang baru, terjadi keseimbangan kekuatan antara kelompok akademisi dan kelompok profesi, namun bukan berarti ketegangan berhasil dihilangkan. Ketegangan ketiga muncul terkait model pendidikan profesi, khususnya profesi Psikologi Klinis. Model yang semula diterima adalah scientist-practitioner model hasil rancangan David Shakow pada tahun 1941 berupa program
empat tahun yang
mengintegrasikan pendidikan metodologi ilmiah dan pendidikan klinis meliputi
diagnosis dan psikoterapi.
Model ini selanjutnya disebut “Boulder
Model” yang lebih tegas mengarahkan pendidikan (profesi) Psikologi Klinis untuk menghasilkan peneliti dan clinician atau praktisi Psikologi Klinis sekaligus. Dengan alasan bahwa banyak mahasiswa yang menempuh pendidikan profesi Psikologi Klinis sesungguhnya hanya ingin menekuni profesi sebagai pemberi layanan tritmen psikologis,
dibentuklah sebuah komisi untuk merancang program pendidikan the Doctor of Psychology atau PsyD yang menekankan pendidikan yang
berorientasi praktik. Sebelum rincian program baru itu disahkan oleh APA, ternyata ada perguruan tinggi yang segera mulai menerapkannya pada tahun 1965. Ketegangan keempat merupakan sejenis reinkarnasi ketegangan antara kaum akademisi dan kaum praktisi. Dimotori oleh sejumlah scientists dan scientist-practitioners yang
Applied Psychologists (ASAP) dilakukanlah referendum atau pengumpulan pendapat untuk melakukan reorganisasi APA. Karena tidak
memperoleh dukungan yang diperlukan, kelompok ASAP mundur dari APA dan membentuk organisasi baru, the American Psychological Society, pada akhir tahun 1987. Selanjutnya organisasi ini berganti nama menjadi the Association for Psychological Science hingga kini (Green & Cautin, 2017).
Ketegangan kelima berlangsung selama dasawarsa 2000-an yang berdampak pada penurunan jumlah anggota. Konon ketegangan ini dipicu oleh dua peristiwa terkait keuangan dan etika. Ketegangan terkait keuangan muncul akibat penolakan sebagian
anggota praktisi terhadap kebijakan APA yang mengutip iuran tambahan (additional fee) selain iuran rutin (regular membership dues) bagi anggota yang berstatus praktisi berlisensi.
Ketegangan ini berhasil diselesaikan lewat pengadilan pada tahun 2015. Ketegangan terkait etika muncul akibat keberatan banyak anggota terhadap keterlibatan APA dalam pengembangan tehnik-tehnik interogasi disertai kekerasan oleh dinas rahasia CIA dan Departemen Pertahanan AS. Ketegangan ini berakhir dengan larangan bagi para psychologists berpartisipasi dalam berbagai interogasi terkait keamanan nasional yang dikeluarkan oleh Komisi Etik maupun tekad Presiden APA mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaiki aneka kekurangan yang dilakukan oleh organisasi di masa lalu, pada tahun 2015.
Dinamika yang kurang lebih serupa kiranya juga dialami oleh HIMPSI dalam perjalanan sejarahnya.
Dari Dialog Psikologi Indonesia: Doeloe, Kini dan
sepakat dan mendukung gagasan dan/atau prakarsa sebagai berikut. Pertama, HIMPSI memutuskan tidak melanjutkan penerbitan Jurnal Psikologi Indonesia. Menyadari bahwa HIMPSI memiliki anggota lebih dari 12.000 orang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan dengan latar belakang profesi yang beraneka ragam mulai dari akademisi, peneliti riset tindakan, guru, terapis dan
sebagainya, maka sebagai ganti JPI Pimpinan HIMPSI memutuskan menerbitkan buletin Psikologi Indonesia. Buletin ini dimaksudkan sebagai media populer berkala yang dapat dijadikan sarana pertukaran informasi dan komunikasi terkait perkembangan ilmu beserta dinamikanya pada semua komunitas psikologi di Tanah Air. Informasi keilmuan yang dapat dibaca oleh semua komunitas psikologi yang majemuk ini diharapkan dapat berdampak langsung sehingga setiap anggota yang berlatar berlakang keilmuan psikologi dapat menjadi agen-agen perubahan dalam lingkungan masyarakatnya dengan menggunakan kaidah- kaidah keilmuan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Secara lebih spesi k, tujuan penerbitan buletin Psikologi Indonesia adalah: (1) mempopulerkan hasil riset psikologi yang dilakukan oleh ilmuwan
psikologi Indonesia anggota HIMPSI secara umum yang terpublikasi melalui telaah sejawat di jurnal- jurnal terbitan dalam maupun luar negeri; (2) memberikan wawasan ilmiah atas isu-isu terkait keilmuan, praktik-terapan, maupun pendidikan psikologi terkini di Indonesia; (3) mempopulerkan pemikiran tokoh-tokoh psikologi Indonesia yang telah memberikan sumbangsih dalam memperkuat fondasi keilmuan dan praktik psikologi di
Indonesia; dan (4) mensosialisasikan kredibilitas program studi penyelenggara pendidikan psikologi di Indonesia. Untuk itu, setiap terbitan buletin Psikologi Indonesia akan terdiri dari beberapa rubrik: (1) rubrik artikel ilmiah populer; (2) rubrik isu psikologi terkini; (3) rubrik pro l program studi penyelenggaraan pendidikan tinggi Psikologi; (4) rubrik ulasan tokoh; dan (5) rubrik resensi buku.
sedikit anggota awal ISPsi bahkan para perintis pendidikan tinggi Psikologi di Indonesia adalah tokoh-tokoh yang tidak berpendidikan sarjana Psikologi. Bisa diduga bahwa pada masa awal perkembangannya muncul ketegangan atau paling tidak kekikukan di kalangan ISPsi-HIMPSI manakala dalam anggaran rumah tangga organisasi dinyatakan bahwa “Anggota biasa adalah Psikolog, Sarjana, Magister dan Doktor dalam Psikologi”
(HIMPSI, 2001). Situasi ini hanya bisa kita duga, sebab tidak ada sumber tulisan yang
melukiskannya. Beruntung bahwa dalam dua buku lainnya, bisa ditemukan tulisan berisi sketsa ringkas sejarah HIMPSI maupun pendidikan Psikologi di Indonesia serta aneka capaian, tantangan dan peluangnya (Suhapti, 2010; 2014). Tentang perkembangan state of the arts HIMPSI dan pendidikan Psikologi di Indonesia di masa kini serta prospeknya ke depan kita hanya bisa memperoleh serpihan-serpihan informasi yang harus kita simpulkan sendiri menjadi pengetahuan berdasarkan sumber-sumber berupa buku-buku, jurnal-jurnal, unggahan dalam websites, bahkan selebaran-selebaran dalam rangka promosi kegiatan ilmiah atau profesi yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga atau komunitas Psikologi.
Dengan semua hal yang dikemukakan di atas hendak digaris-bawahi pentingnya HIMPSI khususnya dan komunitas Psikologi di Indonesia umumnya memiliki media untuk
memperbincangkan aneka isu dan persoalan baik terkait ilmu maupun profesi Psikologi dalam bentuk tulisan. Psikologi Indonesia hadir untuk memenuhi kebutuhan dan ruang kosong yang dimaksud. Bersamaan dengan itu PP HIMPSI mengambil kebijakan untuk menggeser penerbitan dan pengembangan jurnal agar dilakukan oleh asosiasi/ikatan minat keilmuan dan atau praktik spesialisasi Psikologi bekerjasama dengan program studi atau fakultas Psikologi. Kebijakan ini diambil untuk mendorong kecepatan perkembangan pengetahuan dan ilmu Psikologi di berbagai spesialisasi dan kajian spesi knya.
minat/asosiasi menerbitkan berkala keilmuan yang menjadi minat-spesialisasi masing-masing untuk melengkapi berbagai jurnal dan/atau buletin yang sudah diterbitkan oleh berbagai Fakultas/program studi. Ketiga, HIMPSI mendorong semua
pemangku kepentingan internalnya, khususnya ikatan minat/asosiasi dan organisasi wilayah, untuk mulai mengembangkan tradisi penulisan dengan cara melakukan re eksi kritis tertulis atas semua aktivitas keilmuan dan/atau profesionalnya, antara lain dengan memanfaatkan Psikologi
Indonesia sebagai media diseminasinya.
Nomor perdana Psikologi Indonesia ini menyajikan tujuh artikel undangan, dua liputan khusus, satu wawancara, dan satu advertorial. Artikel undangan tersebut terdiri dari tulisan: (1) Abdul Malik Gismar yang mengulas bagaimana psikologi dapat lebih terlibat dalam pembuatan kebijakan-
kebijakan nasional; (2) Nani Nurrachman yang secara jernih mere eksikan sikap etis psikolog terhadap hasil asesmen kandidat politik; (3) Teguh Wijaya Mulya yang secara tajam mengkritisi wacana neoliberal dalam pendidikan tinggi Psikologi di Indonesia; (4) Bagus Takwin yang mengulas tentang peran Prof Dr. Fuad Hassan dalam membangun pemikiran psikologi di Indonesia; (5) Ahmad Gimmy Prathama dan Achmad Djunaidi yang memberikan kesaksian atas karakter salah satu tokoh dalam sejarah
perjalanan psikologi Indonesia yaitu Prof. Dr. John S. Nimpoeno; (6) Whinda Yustisia yang
membahas bagaimana kelompok yang berbeda keyakinan atau cara pandang masih dapat berteman dan berjalan beriringan; serta (7) Iwan Wahyu Widayat yang meresensi buku yang
berjudul Sejarah Psikologi: Perkembangan perspektif teoretis yang ditulis oleh Irwanto. Dua liputan khusus berjudul “HIMPSI perlu membangun epistemic community” dan “LSP dorong dukungan Asosiasi dan Universitas” diambil dari Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Sosial ke-9 2019 yang diselenggarakan tanggal 5-7 April 2019 di Solo.
Yang pertama menyajikan ringkasan pokok-pokok pikiran empat pembicara meliputi Yanuar
Nurhaeni, M.Si., Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si., dan Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si. Yang kedua menyajikan ringkasan paparan Prof. Dr. Fendy Suhariyadi, Direktur LSP Psikologi, tentang Lembaga Serti kasi Profesi Psikologi (LSPPsi).
Dalam advertorial, Program Doktor (S3) Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Malang
memaparkan seluk-beluk Program Doktor (S3) Psikologi Pendidikan yang mereka kelola. Akhirul kalam, selamat membaca dan sekaligus kami undang sidang pembaca menyumbangkan tulisan pada edisi-edisi berikut.
Salam Psikologi Indonesia!
Daftar Acuan
Green, C.D., & Cautin, R.L. (2017). 125 years of the American Psychological Association.
American Psychologist, 72(8), 722-736.
http://dx.doi.org/10.1037/amp0000208 HIMPSI. (2001). Anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga. Jakarta: Pengarang.
HIMPSI. (2010). Rede nisi Psikologi Indonesia dalam Keberagaman. Jakarta: Pengarang.
HIMPSI. (2014). Integritas, keberbedaan, &
kesejahteraan psikologis. Kontribusi Psikologi dalam menjawab tantangan bangsa masa kini.
Jakarrta: Pengarang.
HIMPSI. (2015). Revolusi mental: Makna dan realisasi. Jakarta: Pengarang.
HIMPSI. (2016). Psikologi dan teknologi informasi.
Jakarta: Pengarang.
HIMPSI. (2018). Psikologi dan pendidikan dalam konteks kebangsaan. Jakarta: Pengarang.
HIMPSI Jaya. (2007). Dialog Psikologi Indonesia.
Doeloe, kini dan esok. Jakarta: Pengarang.
Suhapti, Retno. (2010). Sejarah Himpunan Psikologi Indonesia. Dalam HIMPSI, Rede nisi Psikologi Indonesia dalam Keberagaman (h. 487- 496). Jakarta: HIMPSI.
Suhapti, Retno. (2014). HIMPSI: Capaian, tantangan dan peluang. Dalam HIMPSI, Integritas, keberbedaan, & kesejahteraan
psikologis. Kontribusi Psikologi dalam menjawab tantangan bangsa masa kini (h. 309-316).
Jakarta: HIMPSI.
Surat Pembaca
Anda dipersilakan mengirim surat pembaca atau komentar kepada redaksi.
Surat pembaca atau komentar dikirim kepada alamat redaksi, dengan menuliskan nama lengkap, alamat, dan nomor telepon yang bisa dihubungi, disertai dengan fotokopi atau scan identitas diri.
B
uletin Psikologi Indonesia ini lahir dari gagasan Prof. Dr. A. Supratiknya (biasa kami panggil Pak Pratik) yangmemimpikan agar HIMPSI dapat membuat sebuah media komunikasi yang memberikan ruang diseminasi pemikiran tentang berbagai persoalan bangsa yang ditinjau dari perspektif Psikologi, baik yang berasal dari hasil riset maupun gagasan logis para ahli dan tokoh Psikologi di Indonesia. Selain itu, media komunikasi tersebut secara luas juga dapat menampung informasi tentang
perkembangan pendidikan Psikologi di Indonesia, perkembangan program studi, resensi buku, serta perkembangan kegiatan seluruh perangkat
organisasi HIMPSI. Gagasan tersebut disampaikan oleh Pak Pratik dalam beberapa kali kesempatan bertemu saya. Saya mendengarkan dengan saksama dan menyampaikan bahwa itu adalah gagasan yang sangat baik, saya akan membantu
merealisasikannya. Pada rapat perdana Pengurus Pusat HIMPSI periode 2018 – 2022, gagasan tersebut dibahas lebih mendalam dan disepakati menjadi salah satu program kerja PP HIMPSI.
Realisasi penerbitan Psikologi Indonesia dilaksanakan secara kolektif para personil Kompartemen 5 dan Kompartemen 6 PP
HIMPSI. Puji syukur alhamdulillah, akhirnya Psikologi Indonesia berhasil untuk diterbitkan perdana tepat pada saat HIMPSI merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Sebuah kado ulang tahun yang tak ternilai harganya.
Apresiasi dan ucapan terimakasih yang sebesar- besarnya kami sampaikan kepada para tokoh dan ahli Psikologi yang telah bersedia memberikan pemikirannya dengan menuliskannya untuk buletin perdana ini. Apresiasi dan ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada dewan redaksi yang terdiri Prof. Dr. A. Supratiknya, Psikolog, Dr. Juneman Abraham, M.Si., Dr. Tjipto Susana, M.Si, Psikolog, serta Dr. Rahkman Ardi, M.Psych. Secara khusus terimakasih kepada Dr.
Rahkman Ardi, M.Psych dan tim reporter serta Bivita Brata yang menjadi Team in Charge penerbitan perdana buletin ini. Sebuah kerja dan karya perdana yang luar biasa.
Buletin ini direncanakan terbit secara reguler dan diharapkan dapat menambah rekaman pemikiran gagasan dan pemikiran ahli dan tokoh Psikologi Indonesia, bersama dengan buku seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa. Buletin perdana ini HIMPSI persembahkan untuk bangsa
Indonesia sebagai tanda syukur di usia HIMPSI yang ke-60 tahun. HIMPSI mengambil tema ulang tahun kali ini "Psikologi Bersinergi untuk Integrasi Bangsa". HIMPSI akan terus menerus berkarya bagi bangsa Indonesia dengan berbagai kegiatan dan programnya.
HIMPSI Berkarya untuk Bangsa
Jakarta, 29 Juni 2019
Kata Pengantar
Dr. Seger Handoyo, Psikolog - KETUA UMUM PP HIMPSI
MENJADI PSIKOLOGI
YANG RELEVAN Abdul Malik Gismar
Universitas Paramadina
D alam Kongres Psikologi ke XV 2018 di Bandung topik yang diajukan kepada saya sebagai keynote speaker adalah bagaimana psikologi dapat lebih terlibat dalam pembuatan kebijakan-kebijakan nasional. Pada tahun 1980, dalam Kongres HIMPSI di Bandung (ketika itu saya anggota delegasi mahasiswa UI) salah satu butir keprihatinan mahasiswa adalah ketidakmampuan psikologi untuk ikut berperan dalam pembangunan nasional. Pertanyaan dan keprihatinan yang terpisah 40 tahun di atas pada dasarnya mempersoalkan hal yang sama: relevansi psikologi di dalam mengurus persoalan-persoalan sosial dan kebangsaan negeri ini.
Relevansi psikologi untuk terlibat dalam mengurus masalah-masalah sosial selalu dipertanyakan sejak awal perkembangan psikologi sebagai disiplin ilmu. Secara sederhana, bila kita lihat akarnya pertanyaan-pertanyaan ini dapat kita bedakan antara pertanyaan yang terkait dengan
epistemologis, kompetensi, dan kompatibilitas.
Ketiganya bisa saling terkait dan tidak sepenuhnya eksklusif satu dengan yang lain.
Pertanyaan pertama berakar dari keraguan
epistemologis apakah metode dalam psikologi yang fokusnya adalah kesadaran individu (individual consciousness) bisa berbicara mengenai fenomena sosial. Sejak awal perkembangannya psikologi berhadapan dengan sikap skeptik, bahkan sinis, dari ilmu sosial pada umumnya terkait persoalan epistemologis ini. Sikap ini sangat dipengaruhi
oleh prinsip (sosiologi) yang dikemukakan oleh Emile Durkheim pada tahun 1895 yang membuat dikotomi fenomena individual – sosial yang kaku, dengan kesimpulan bahwa fenomena sosial tidak bisa dijelaskan melalui faktor-faktor psikologis.
Persisnya, Durkheim mengatakan bahwa the determining cause of a social fact must be sought among antecedent social facts and not among the states of the individual consciousness. Implikasinya, bila kita mencoba menjelaskan peristiwa sosial dengan penjelasan psikologis maka kita akan terjerembab ke dalam psikologisme yang bukan saja keliru tapi juga sangat tidak bertanggung jawab karena justru akan mengaburkan persoalan sesungguhnya. Sikap skeptis atau sinis di atas untuk waktu yang cukup lama sangat dominan dan mengakibatkan hubungan yang tidak
harmonis antara psikologi dan ilmu sosial lainnya serta menempatkan psikologi dalam posisi yang sulit untuk berinteraksi dengan ilmu sosial lainnya.
Relevansi: Persoalan yang Selalu Membayangi Psikologi
ISU PSIKOLOGI TERKINI
MENJADI PSIKOLOGI YANG RELEVAN
Residu dari doktrin ini masih cukup berpengaruh hingga tahun 80an sebagaimana dapat dirasakan dalam artikel berjudul e Role of Psychology in National Development: Wishful inking and Reality dalam International Journal of Psychology pada tahun 1984 yang dengan sinis mengatakan:
…psychology as a science or profession has not played a signi cant role in the historical
evolution of industrialized countries. It is further argued that the problems of developing
countries are basically political and economic and to psychologize them might be both unproductive and immoral. It is suggested that psychologists might do a better service by studying ways and means of changing the behavior of people who control the material resources of the world.
Pertanyaan kedua berakar pada keraguan apakah psikologi memiliki kompetensi untuk ikut berperan dalam pemecahan persoalan sosial. Barangkali disumbang oleh posisi psikologi yang relatif terisolasi dari ilmu sosial lainnya (yang muncul
karena sinisisme epistemologis di atas) ada masa di mana psikologi begitu terobsesi pada proses-proses psikologis dasar untuk menjelaskan perilaku.
Fokus penelitianpun menjadi sangat mikro, dengan rancangan penelitian terutama
eksperimen, dan metode yang dipakai terutama kuantitatif. Manusia sebagai spesies kultural dan hidup dalam matriks sosial yang kompleks menjadi terabaikan. Produktivitas penelitian memang sangat tinggi dalam atmosfer ini namun, sebagaimana dikatakan Moscovici (1972), di bawah derasnya “small scale theories and
methodological sophistications” psikologi kehilangan
fokus tentang apa yang seharusnya menjadi inti dari upayanya, yaitu memahami “nature of man (sic) and the phenomenon that is uniquely human.”
Pada masa-masa ini, sebagaimana digambarkan oleh Ring (1967, p. 120), psikologi merupakan:
… a eld of many frontiersmen, but few settlers…..we can expect our eld to continue its
erratic and yet curiously stagnant course, saturated with “cute”
experiments and petty quarrels between theorists…” ³
Senada dengan Ring, Tajfel (1972) mengatakan bahwa psikologi “has studied the wrong kind of homo in its attempt to derive general laws of human social behaviour from the presumed 'universal' and 'pre- social' laws of individual
motivation” (Tajfel, 1972; p. 4).
Atau, menurut Moscovici (1972;
p. 63) psikologi tidak lagi mempelajari perilaku sosial sebagai interaksi antara individu dan masyarakat ataupun
mempelajari individu dalam masyarakat:
¹ Lihat Durkheim, E. (1982). e rules of sociological method. New York, NY. Free Press.
² Durkheim juga menunjukkan bahwa faktor sosial dapat menjelaskan fenomena psikologis. Contohnya, bunuh diri yang sekilas merupakan keputusan yang sangat individual, ternyata dipengaruhi oleh faktor sosial: Dalam studinya, tingkat bunuh diri di kalangan protestan lebih tinggi daripada di kalangan katolik. Lihat Durkheim, E. (1951).
Suicide. New York, NY: Free Press.
³ Ring, K. (1967) Experimental social psychology: Some sober questions about some frivolous values. Journal of Experimental Psychology, 3, 113-23.
⁴ Tajfel, H. (1972). Introduction. In J. Israel and H. Tajfel (Eds), e context of social psychology (pp. 1-13). London, UK: Academic Press.
“Implikasinya, bila kita mencoba menjelaskan peristiwa sosial dengan penjelasan psikologis maka kita akan terjerembab ke dalam psikologisme yang bukan saja keliru tapi juga sangat tidak bertanggung jawab karena justru
akan mengaburkan persoalan sesungguhnya. Sikap skeptis atau
sinis di atas untuk waktu yang cukup lama sangat dominan dan
mengakibatkan hubungan yang tidak harmonis antara psikologi dan ilmu sosial lainnya serta menempatkan psikologi dalam
posisi yang sulit untuk berinteraksi dengan ilmu sosial
lainnya.”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
MENJADI PSIKOLOGI YANG RELEVAN
….psychology has become a psychology of private life, and at the same time it has managed to transform its practitioners into members of a private club. ….It certainly cannot be said that there is a dearth of important problems: war, profound social change, race and international relations, individual alienation, struggle for political freedom, and technology. One might add the problems created by science, technology and the change of scale in the evolution of our world - and yet there is no trace of any of this in our journals and our textbooks; it is as if the very existence of all these problems was being
denied.⁵
Keadaan di atas bertentangan dengan harapan- harapan yang ada pada awal perkembangan psikologi yang, menurut Moscovici, diharapkan dapat menyumbang pemahaman mengenai the conditions which underlie the functioning of a society and the constitution of a culture. Dengan
kecenderungan di atas psikologi telah menarik diri dari diskursus bareng dengan disiplin ilmu sosial lainnya terkait isu-isu sosial, politik, dan ideologis.
Psikologi, di antara ilmu-ilmu sosial lainnya telah menjadi secondary science. Pendeknya, dengan hilangnya kompetensi untuk memahami manusia dalam kompleksitas sosialnya ini maka psikologi juga kehilangan relevansinya untuk bicara masalah-masalah sosial.
Pertanyaan ketiga berakar dari keraguan apakah teori, konsep, dan metodologi psikologi yang dikembangkan di suatu tempat memiliki makna dan dapat digunakan atau kompatibel di tempat yang lain. Pertanyaan ini hadir sepanjang masa.
Di penghujung abad 19 para mahasiswa AS yang pulang belajar dari Wilhelm Wundt di Jerman ditanya mengenai kegunaan experimental instrospection bagi Era Progresif Amerika Serikat yang sangat pragmatis dan sangat menekankan upaya-upaya membangun masyarakat yang tertib, terkendali, dan teratur. Fungsionalisme (William James) dan Behaviorisme (J.B. Watson) lebih cocok dengan semangat zaman ketika itu. Di sini psikologi dituntut untuk tidak saja memiliki relevansi teoretis, tapi juga relevansi sosial.
Lalu, ketika psikologi menyebar ke luar dunia Barat, maka ia pun dituntut untuk memiliki relevansi kultural.⁶ Diskusi mengenai emic vs etic, culture free vs culture fair, dan berbagai persoalan bias metodologis adalah cerminan dari tantangan untuk menjadi kompatibel di dalam matriks sosial yang berbeda. Lebih jauh lagi, bentuk lain dari upaya menjawab persoalan relevansi ini adalah upaya indigenisasi psikologi yang bermunculan di India, Cina, Filipina, Korea Selatan, dan juga Indonesia.⁷ Pertanyaan tentang kompatibilitas psikologi ini mengakui bahwa mungkin saja pengetahuan psikologi yang berkembang di suatu
⁵ Moscovici, S. (1972). Introduction. Dalam J. Israel and H. Tajfel (Eds), e context of social psychology (pp. 1-13).
London, UK.: Academic Press.
⁶ Di Afrika Selatan, misalnya, ada tuntutan bahwa psikologi yang dikembangkan di sana memilki social relevance, cultural relevance, market relevance, dan theoretical relevance. Lihat Wahbie Long (2016)
⁷ Lihat Wahbie Long (2016), A history of “relevance” in psychology untuk diskusi menarik mengenai persoalan relevansi dalam psikologi dalam berbagai konteks dan lapisannya.
“Psikologi telah menarik diri dari diskursus bareng dengan disiplin ilmu
sosial lainnya terkait isu-isu sosial, politik, dan ideologis. Psikologi, diantara
ilmu-ilmu sosial lainnya telah menjadi secondary science. Pendeknya, dengan hilangnya kompetensi untuk memahami manusia dalam kompleksitas sosialnya ini
maka psikologi juga kehilangan relevansinya untuk bicara masalah-
masalah sosial.”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
MENJADI PSIKOLOGI YANG RELEVAN
Lebih dari itu, hubungan antara psikologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya kini diformalkan dalam program-program studi yang menggabungkan keduanya. Program studi semacam itu dapat kita temukan, misalnya, pada program “Human Development and Public Policy” di Georgetown University, Washington DC yang tujuannya melahirkan lulusan yang “well versed in basic processes of human development; highly skilled in research methods, statistics, and policy analysis; and well prepared to apply their knowledge and skills to real public policy issues affecting human
development.”
Karya-karya banyak penulis seperti Malcolm Gladwell (jurnalis, bukan psikolog) membuat hasil-hasil penelitian psikologi dikenal masyarakat luas.¹⁰ Penelitian-penelitian psikologi, menurut Brian Hughes (2018):
…..affects our lives in so many ways. It is consulted in the design of everything from road safety
campaigns, to anti-litter initiatives, to health promotion programmes, to educational curricula, to psychometric test, to household products, to
advertising. Politicians cite psychology research when debating policies about childcare, or poverty, or social tempat berlaku dan sangat relevan untuk tempat
tersebut, namun penerapannya di dalam matriks sosial lain belum tentu relevan.
Uraian di atas adalah gambaran sangat ringkas dan generik sifatnya mengenai persoalan relevansi psikologi. Yang ingin ditekankan adalah bahwa pertanyaan mengenai relevansi psikologi bagi masyarakat sudah ada sejak awal psikologi berdiri sebagai disiplin ilmu, dan akan selalu ada,
meskipun bentuk dan ragam pertanyaannya bisa berbeda-beda dari suatu tempat ke tempat lain dan dari satu masa ke masa lain.
Status Psikologi Kini
Dari ketiga pertanyaan terkait relevansi psikologi di atas, masalah epistemologis kini tidak lagi menjadi perhatian. Justru, di kalangan ilmu-ilmu sosial, ada kecenderungan konvergensi, bahkan sinergi teoretis dan metodologis, untuk memahami fenomena manusia yang kompleks. Ada perkembangan yang menarik dalam hal ini di mana cognition, mind, mental model – konsep-konsep yang secara tradisional menjadi domain psikologi – kini menjadi topik penting dalam studi-studi antropologi dan sosiologi.⁸ Bertolak belakang dengan doktrin Durkheim, sebagian antropolog hari ini percaya bahwa makna kultural selalu lahir dua kali, secara internal (dalam pikiran individu) dan eksternal (dalam interaksi antar individu).⁹
“Pertanyaan tentang kompatibilitas psikologi ini mengakui bahwa mungkin
saja pengetahuan psikologi yang berkembang di suatu tempat berlaku dan
sangat relevan untuk tempat tersebut, namun penerapannya di dalam matriks
sosial lain belum tentu relevan.”
“Masalah epistemologis kini tidak lagi menjadi perhatian. Justru, di kalangan
ilmu-ilmu sosial, ada kecenderungan konvergensi, bahkan sinergi teoretis dan metodologis, untuk memahami fenomena
manusia yang kompleks. Ada
perkembangan yang menarik dalam hal ini di mana cognition, mind, mental model –
konsep-konsep yang secara tradisional menjadi domain psikologi – kini menjadi
topik penting dalam studi-studi antropologi dan sosiologi.”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
MENJADI PSIKOLOGI YANG RELEVAN
exclusion, or environmental protection. Even disputes about major constitutional issues such as whether to extend access to abortion or to lower the voting age, will be in uenced by what psychology research has revealed about the lesson.¹¹
Lebih dari itu, psikolog dan penelitian-penelitian psikologis juga mendapatkan rekognisi tertinggi.
Misalnya, dianugerahkannya hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2002 kepada psikolog sosial Daniel Kahneman untuk studi-studinya mengenai pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari- hari. Lalu pada tahun 2017 Richard aler, seorang behavioral economist, mendapatkan hadiah Nobel di bidang ekonomi untuk studi-studinya dalam bidang perilaku ekonomi.¹² Bukan hanya relevan, psikologi hari ini mempunyai pengaruh yang signi kan.
⁸ Lihat D'Andrade, R.( 2003). e development of cognitive anthropology. Cambridge, UK: Cambridge University Press.; Zerubavel, E. (1997). Social mindscape: an inivation to cognitive sociology.
Cambridge, MA: Harvard University Press.
⁹ Shore, B. (1996). Culture in the mind; cognition, culture, and problem of meaning. Oxford, UK: Oxford University Press.
¹⁰ Lihat misalnya karya-karya Malcolm Gladwell seperti e tipping point; blink; outliers.
¹¹ Hughes, B. (2018). Psychology in crisis. London: Palgrave.
¹² Pemenang hadiah Nobel untuk ekonomi tahun 2017 adalah Richard aler, seorang Behavioral Economist yang menulis banyak hal mengenai bagaimana faktor-faktor psikologis menentukan perilaku ekonomi.
Menjadi Psikologi Indonesia yang Relevan dan Tantangannya
Kembali ke persoalan di awal artikel ini, secara generik tak perlu diragukan lagi bahwa psikologi dapat mengambil peran yang signi kan dalam
mengurus persoalan-persoalan sosial di Indonesia.
Sejak berdirinya, Indonesia adalah sebuah proyek psikologis besar. Hendak dicoba dalam mega project ini untuk menciptakan perasaan dalam diri populasi yang begitu besar dan beraneka ragam, yang tersebar ribuan kilometer dari Sabang sampai Merauke, bahwa mereka merupakan bagian dari suatu entitas abstrak bernama Indonesia. Proyek ini pada hakikatnya meminta, sebagai misal, seseorang di Sumatra untuk membayangkan bahwa mereka terikat dalam satu kebersamaan, bahkan persaudaraan (sebagai saudara sebangsa dan setanah air), dengan seseorang di Kalimantan, Jawa, Papua, dan pulau-pulau lain yang terpisah jarak ribuan kilometer, berbeda bahasa dan agama, serta tak pernah bertemu satu dengan yang lain.
Indonesia dalam hal ini adalah sebaik-baik contoh dari, meminjam istilahnya Ben Anderson, the imagined community.¹³
Dari sudut kebangsaan, insight psikologis
dibutuhkan untuk mengurus imagined community yang kompleks ini. Pengetahuan psikologi dapat membantu mengurus ruang-ruang publik di mana manusia Indonesia yang begitu beragam
berinteraksi dan menegosiasikan identitasnya, mengkonstruksi diri, dan mengaktualisasikannya secara individual maupun kelompok. Manifestasi
“Insight psikologis dibutuhkan untuk mengurus imagined community yang kompleks ini. Pengetahuan psikologi
dapat membantu mengurus ruang- ruang publik di mana manusia Indonesia yang begitu beragam berinteraksi dan menegosiasikan identitasnya, mengkonstruksi diri, dan
mengaktualisasikannya secara individual maupun kelompok.”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
MENJADI PSIKOLOGI YANG RELEVAN
negatif dari interaksi ini bisa bermunculan dalam bentuk prasangka, ujaran kebencian, kekerasan, dan banyak lagi persoalan kebangsaan lainnya.
Lebih dari itu, secara umum insight psikologis dibutuhkan pula untuk memformulasikan kebijakan serta merancang program dan kegiatan pembangunan manusia (human development) Indonesia. Dalam hal ini psikologi yang fokus studinya adalah manusia sejak konsepsi hingga lansia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menyumbang kepada pembuatan kebijakan yang paling efektif dan e sien untuk memastikan pembangunan manusia yang optimal pada setiap tahapannya.
Untuk memainkan peran-peran di atas, psikologi di Indonesia harus memastikan diri sebagai
disiplin yang kompeten dan kompatibel menjawab persoalan Indonesia. Untuk itu menjadi keharusan bagi psikologi di Indonesia untuk memproduksi pengetahuan psikologis yang didasarkan
(grounded) pada penelitian-penelitian dengan manusia Indonesia dan menjawab persoalan- persoalan manusia Indonesia. Perlu dicatat bahwa sukses psikologi hari ini bukan tanpa masalah.
Brian Hughes (2018), bahkan mengatakan ada krisis dalam psikologi. Sementara semua orang sepertinya mencari jawab atas berbagai persoalan kepada psikologi, riset-riset dalam psikologi mengalami apa yang disebut reproducibility crisis;
hanya 36% riset dalam psikologi dapat direproduksi dengan hasil yang sama.
Persoalan reproducibility di atas di Indonesia menjadi lebih parah mengingat hubungan psikologi Indonesia vis a vis psikologi Barat yang harus diakui sampai hari ini masih bersifat hubungan center – periphery yang tidak imbang.
Dalam hubungan ini psikologi di Indonesia lebih merupakan pengguna konsep, teori, dan metode yang berkembang di Barat, tanpa ada jarak kritis
(critical distance) yang cukup bermakna.
Pertanyaannya, bila konsep dan teori yang dipakai tadi di dalam budaya yang sama saja tidak dapat direproduksi, bisakah konsep dan teori itu dipakai begitu saja di sini?
Persoalan reproducibility sangat terkait dengan database psikologi yang, menurut Henrich et al, sebagian sangat besar datang dari masyarakat WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic).¹⁴ Analisa yang ia lakukan terhadap jurnal-jurnal utama dalam enam sub-disiplin psikologi menunjukkan bahwa 68% partisipan studi adalah orang Amerika dan 96% datang dari negara-negara industri/maju barat.¹⁵
Lebih problematik lagi, partisipan ini pun tidak representatif masyarakat Barat pada umumnya, karena biasanya partisipan yang direkrut dalam studi ini adalah mahasiswa S1 yang ikut dalam studi untuk mendapat poin kredit suatu mata kuliah.
Untuk dapat menjawab persoalan di atas, psikologi dan psikolog di Indonesia harus berbenah diri, dimulai dengan institusi pendidikan psikologi. Fakultas psikologi perlu mengembangkan kurikulum yang mengarah kepada produksi pengetahuan psikologi yang lebih relevan bagi kehidupan bangsa secara luas.
Untuk ini diperlukan kemerdekaan berpikir, kreativitas, inovasi, dan eksperimentasi baik di tingkat individu pengajar/peneliti psikologi
¹³ Ben Anderson (1991). e imagined community. New York: Verso.
¹⁴ Henrich, J., Heine, S.J., & Norenzayan, A. (2010).
Beyond WEIRD: Towards a broad based behavioral science. Behavioral and Brain Science, 33.
¹⁵ Arnett, J. J. (2008). e Neglected 95%: Why American psychology needs to become less American. e American Psychologists, 63(7), 602-614.
ISU PSIKOLOGI TERKINI
MENJADI PSIKOLOGI YANG RELEVAN
maupun di tingkat institusi pendidikan psikologi dalam mende nisikan dan merumuskan program- programnya. Tantangan paling besar barangkali datang dari birokrasi pendidikan yang sentralistik dan hegemonik yang mendikte hampir semua aspek dan seluruh langkah dalam proses belajar – mengajar psikologi di perguruan tinggi. Mungkin sudah saatnya persoalan de nisi pendidikan psikologi ini dibicarakan secara tuntas oleh para penyelenggara pendidikan psikologi sehingga ada front bersama (united front) dalam
menegosiasikannya dengan regim birokrasi pendidikan tinggi di Indonesia.
ISU PSIKOLOGI TERKINI
INFORMASI PRIVAT vs PERNYATAAN PUBLIK:
Menimbang-nimbang Sikap Etis Psikolog terhadap Hasil Asesmen
Kandidat Politik/Tokoh Publik
Nani Nurrachman - Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya
A rtikel ini ingin memberikan perhatian terhadap masalah boleh tidaknya memublikasikan hasil asesmen psikologis kandidat politik, tokoh publik terutama pada masa-masa pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah. Perhatian ini diberikan mengingat adanya sikap pro-kontra khususnya di kalangan komunitas psikolog itu sendiri. Di satu pihak menganggap masyarakat berhak mengetahui hasil asesmen tersebut mengingat gaya kepemimpinan serta berbagai kebijakan yang akan dibuat oleh kandidat akan memengaruhi banyak aspek kehidupan dari masyarakatnya. Di lain pihak terdapat permasalahan etis terkait pelanggaran etika dengan memublikasikan hasil asesmen tersebut yang secara prinsip bersifat personal dan rahasia.
Secara ringkas bolehlah kita membicarakan isu-isu masalah psikologis di ranah publik, tetapi bukan sesuatu yang etis untuk memberikan asesmen terhadap seseorang yang bukan (pernah menjadi) kliennya. Hal ini belum termasuk kemungkinan digunakannya hasil asesmen yang dipublikasikan oleh para kandidat yang bersaing untuk saling 'menjatuhkan' lawannya. Kita boleh ingat ungkapan dalam dunia politik yang terkenal '...tidak ada lawan atau kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan bersama (sesaat)'. Yang lebih esensial lagi adalah pandangan umum tentang seseorang yang terpilih untuk diberikan kekuasaan memerintah secara historis adalah seseorang yang dianggap mampu bersikap adil dan demi kepentingan banyak orang. Artinya perilaku
kepemimpinannya merupakan model berperilaku etis dan dengan demikian pula memiliki otoritas moral. Namun apa yang telah kita saksikan, baca serta dengar secara langsung selama kampanye pemilihan umum dan legislatif kemarin ini sempat menunjukkan gejala-gejala yang mengarah
melampaui batas-batas kepantasan umum.
Mengapa? Marilah kita tengok dan cermati bebarapa hal dalam meletakkan permasalahan ini secara proporsional sesuai dengan profesi kita sebagai psikolog.
Pertama, asal mula aturan melarang
memublikasikan hasil asesmen psikologis seorang kandidat dan perkembangannya hingga saat ini.
Sejatinya untuk melakukan asesmen terhadap ISU PSIKOLOGI TERKINI
INFORMASI PRIVAT VS PERNYATAAN PUBLIK
seseorang yang belum pernah kita temui dan kenal akan sarat dengan masalah etis dan kualitas
keilmiahannya. Kita akan menghadapi risiko melakukan kesalahan yang fatal dan menimbulkan kebingungan bagi masyarakat. Contoh kasus yang terkenal adalah ketika Senator Barry Goldwater maju dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 1964. Ketika itu terdapat artikel di surat kabar dengan judul “Fact : 1,189 psychiatrists say Goldwater is psychologically un t to be
president”. Tindakan ini kemudian dinilai sebagai langkah yang tidak etis oleh American Psychiatric Association ketika itu karena bisa dipandang sebagai menurunkan kepercayaan publik terhadap profesi psikiater. Senator Goldwater sendiri akhirnya menuntut surat kabar tersebut ke pengadilan yang kemudian memenangkan tuntutannya. Lebih runyam lagi, kondisi sosial politik apapun yang terjadi setelah publikasi ini muncul akibat rumor dan spekulasi yang ditimbulkan olehnya akan menjadi santapan media dan para politisi lainnya. Bukan manfaat dan tujuan pemuatan hasil asesmen tersebut secara publik. Kasus ini pada akhirnya memunculkan apa yang kemudian disebut sebagai Goldwater Rule - yakni psikiater tidak diperbolehkan memberikan asesmen psikologis dengan data sekunder atau opini diagnostik terhadap kandidat politik ataupun tokoh publik lainnya yang masih hidup dan yang bersangkutan tidak pernah diperiksa oleh psikiater tersebut - yang berlaku di kalangan profesi psikiater (Blake, 2016).
Beberapa tahun terakhir ini Goldwater Rule mengalami tentangan dari sejumlah praktisi psikolog bergelar Ph.D dengan mengatakan bahwa Goldwater Rule ini tidak berlaku sepenuhnya bagi profesi mereka dengan memberikan argumentasi bahwa memberikan asesmen dari tokoh-tokoh publik dapat bermanfaat demi kepentingan nasional. Beberapa psikolog bahkan membuat ranking terhadap sifat narsistik sejumlah mantan
“Sejatinya untuk melakukan asesmen terhadap seseorang
yang belum pernah kita temui dan kenal akan sarat
dengan masalah etis dan kualitas keilmiahannya.
Kita akan menghadapi risiko melakukan kesalahan yang fatal dan menimbulkan
kebingungan bagi masyarakat.”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
INFORMASI PRIVAT VS PERNYATAAN PUBLIK
“...not a psychiatric expert opinion” tetapi merupakan
“...a political psychology pro le”. Bagaimanapun juga
setiap orang, tokoh publik, lebih-lebih kandidat politik
memiliki sejumlah aspek psikologis yang dapat dijadikan
isu. Untuk inilah maka dalam melakukan asesmen terhadap kandidat politik para profesi
kesehatan jiwa perlu perlu menimbang untung rugi serta dampaknya bagi masyarakat.”
presiden dan berargumen bahwa sifat ini telah memersuasi publik dalam memperjuangkan kebijakan dan legislasi. Kasus mutakhir yang terjadi pada tahun 1990 menyangkut Dr. Jerrold Post seorang psikiater yang melakukan wawancara terhadap sejumlah orang yang mengenal Saddam Hussein secara dekat. Pro l hasil wawancara ini kemudian disampaikan ke Kongres. Namun muncul beberapa keberatan mengenal pro l ini mengingat Dr. Post tidak mewawancarai Saddam Hussein sendiri sehingga akurasi analisisnya dipertanyakan. Hal ini dianggap menyalahi aturan yang telah ditentukan. Hak jawab yang diberikan oleh Dr. Post mengatakan bahwa apa yang telah dia lakukan bukanlah “...not a psychiatric expert opinion” tetapi merupakan “...a political psychology pro le”. Bagaimanapun juga setiap orang, tokoh publik, lebih-lebih kandidat politik memiliki sejumlah aspek psikologis yang dapat dijadikan isu. Untuk inilah maka dalam melakukan asesmen terhadap kandidat politik para profesi kesehatan jiwa perlu menimbang untung rugi serta
dampaknya bagi masyarakat (Klitzman, 2016).
Kedua, pemahaman tentang kaitan antara dunia politik dengan psikologi secara umum. Sejauh ini psikologi dipandang sebagai ilmu yang
mempelajari perilaku manusia sepanjang rentang kehidupannya. Oleh karena perilaku manusia itu luas menyentuh berbagai sendi kehidupan manusia, baik secara individual maupun
kelompok hingga bangsa, maka pemahaman akan titik singgung antara politik dengan psikologi kiranya perlu diketahui oleh mereka yang mengembangkan minat serta melakukan penelitian dalam bidang psikologi politik.
Dalam artikelnya yang dimuat di jurnal Political Psychology, Bar-Tal (2001) memberikan uraian pengertiannya tentang psikologi sebagai politik.
Sebagai titik tolak apa itu politik ia merujuk kepada empat de nisi tentang politik yang berasal dari Kamus Oxford Inggris (OED, 1973, Vol 7, h.
1074): "Political actions or practise; policy"; "Political affairs or business; political life"; “e political principles, convictions, opinions, or sympathies of a person or party";
"Conduct of private affairs; politic management, scheming, planning". Ia kemudian membagi uraiannya ke dalam dua fokus besar. Fokus pertama menitikberatkan pada pengertian psikologi: psikologi sebagai pengetahuan tentang politik; psikologi sebagai cerminan politik;
psikologi sebagai pengetahuan yang dibatasi oleh politik; psikologi sebagai re eksi dari politik pribadi seseorang; politik psikologi dan menerapkan psikologi sebagai politik.
Singkat kata beberapa pengertian psikologi dalam hubungannya dengan politik ini membicarakan dimensi politik dalam kognisi dan persepsi manusia: pengetahuan, opini, keyakinan, simpati, tindakan dan keterlibatannya dalam kehidupan politik. Fokus kedua menitikberatkan pada
psikologi politik yang mencakup: psikologi politik ISU PSIKOLOGI TERKINI
INFORMASI PRIVAT VS PERNYATAAN PUBLIK
sebagai suatu disiplin ilmu guna mempelajari politik secara umum; psikologi politik yang mempelajari proses-proses, peristiwa serta perilaku politik yang spesi k; psikologi politik sebagai praktik untuk diterapkan dalam kehidupan nyata para praktisi politik. Berbeda dengan psychological pro ling yang dilakukan pada tahun 1990
terhadap Saddam Hussein, Dr. Jerrold Post
sebelumnya telah melakukan pro l kepemimpinan dari sejumlah pemimpin dunia ketika bergabung dengan CIA. Selama beberapa waktu Dr Post memimpin suatu unit analisis pro l para pemimpin dunia dengan melibatkan ilmuwan yang berasal dari berbagai latar belakang
keilmuan: psikiater, ahli penyakit dalam, psikolog, antropolog, sejarawan dan analis intelijen yang diperuntukkan bagi komunitas intelijen dan pembuat kebijakan tingkat tinggi pemerintahan.
Salah satu analisis yang dilakukannya terhadap Perdana Menteri Israel Menachem Begin dan Presiden Mesir Anwar Sadat ketika itu telah membantu Presiden Jimmy Carter untuk menyusun strategi perundingan yang akhirnya membuahkan Perjanjian Perdamaian Camp David pada tahun 1979 (Dekleva, 2018).
Ketiga, menimbang kedudukan psikolog sebagai profesi dengan kode etiknya dalam dunia politik.
Hal utama dalam konteks ini adalah kompetensi psikolog ketika melakukan analisis kepemimpinan para kandidat politik ataupun tokoh publik lainnya. Salah satunya adalah metodologi yang dipakai untuk menganalisis yang bukan saja mencakup kemampuan tetapi juga mencakup sifat-sifat atau kepribadian tokoh. Analisis
terhadap kemampuan dan kepribadian tokoh pada saat ini cenderung dilakukan dengan memakai pendekatan psikobiogra secara deskriptif. Data yang dipakai sebagai rujukan biasanya berasal dari berbagai sumber antara lain biogra , ucapan, liputan media, tampilan dalam berbagai acara, serta informasi dari relasi, teman sejawat tokoh
yang bisa menimbulkan interpretasi bahkan bias yang berbeda-beda. Psikolognya sendiri bahkan besar kemungkinan tidak mengenal ataupun belum pernah berjumpa dengan tokoh yang dianalisisnya. Di sisi lain pemakaian istilah-istilah kejiwaan seperti delusi, narsistik, megaloman dan sejenisnya untuk menggambarkan sifat-sifat kepribadian tokoh akan mudah dirancukan dengan orang lain dengan gejala yang sama yang memang mengalami masalah kejiwaan dan sedang menjalani terapi di mata orang awam. Gejala- gejala yang menggambarkan kesehatan mental orang merupakan isu yang sensitif, baik bagi masyarakat umum maupun bagi kandidat politik atau tokoh publik. Jangan lupa bahwa istilah- istilah kejiwaan ketika membicarakan kesehatan mental mengandung dan mengundang stigma tertentu. Dari perspektif yang berbeda membuat dan memublikasikan analisis psikologis terhadap kandidat politik atau tokoh publik dapat memiliki nilai manfaat bagi masyarakat pemilih. Mereka dapat memilih kandidat ataupun tokoh yang mereka nilai dan rasakan dapat dipercaya memimpin masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik, khususnya bila masyarakat masih terpengaruh oleh kon ik dan kekerasan sosial masa lalu yang masih dirasakan dampaknya.
Situasi ini merupakan problema dilema etik yang seyogyanya disadari oleh psikolog, sebab kepada siapakah tanggung jawab utama psikolog tersebut layak diberikan: kandidat atau masyarakat?
Lilienfeld, seorang penulis utama dalam masalah analisis tokoh dan profesor psikologi dari Emory University mengatakan “We reviewed a large body of published scienti c literature and it clearly showed that examining someone directly is often not necessary if you compile other valid sources of information.
Even though it is possible to make reasonably valid psychiatric diagnosis at a distance that doesn't necessarily mean that mental health professional should. Such a diagnosis should only be made with great discretion and after a thorough investigation”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
INFORMASI PRIVAT VS PERNYATAAN PUBLIK
sebagaimana dikutip oleh Aaron Blake dalam surat kabar Washington Post (2016).
Kembali kepada ide pokok dalam tulisan ini serta meletakan uraian di atas secara kontekstual pada masa pemilihan presiden dan pemilihan calon legislatif 2019 Indonesia yang baru saja kita lakukan. Menurut hemat penulis ada satu hal yang perlu dipahami tetapi selama ini terasa terabaikan yaitu tingkat literasi politik dan kedewasaan masyarakat Indonesia dalam
berpolitik. Apa yang dimaksudkan di sini adalah perhatian terhadap ikatan psikologis antara kandidat politik, tokoh publik dengan massa pengikutnya. Pertikaian hingga bentrokan massa antar kelompok pendukung kandidat atau tokoh masih terjadi. Budaya masyarakat Indonesia yang memiliki ciri kolektivitas dengan power distance tinggi mengisyaratkan sulitnya tokoh pemimpin, apalagi yang diidolakan, untuk melepaskan diri bilamana secara politik perlu bersikap dan mengambil tindakan yang berbeda dari harapan pengikutnya (Setiadi, 2008).
Selain itu Indonesia masih dalam proses belajar berdemokrasi yang bukan hanya ditandai dalam bentuk penyelenggaran pemilihan presiden dan pemilihan calon legislatif belaka. Demokrasi juga ditandai dengan pembangunan institusi pelayanan publik yang mengakui, memperlakukan dan melayani warganya sebagai sesama manusia. Masih cukup banyak berbagai kebijakan publik yang bersifat diskriminatif. Permasalahan dalam mengimplementasikannya pun di sana-sini masih bersifat tebang pilih. Belum ditambah dengan kesenjangan sosial yang semakin dirasakan meski pertumbuhan ekonomi menggambarkan
kemajuan secara positif. Kesemuanya ini meletakkan kondisi kehidupan keseharian masyarakat dalam keadaan yang mudah terpicu berbagai isu, baik yang benar maupun yang hoax.
Dikaitkan dengan uraian tentang problema dilema
“Pemakaian istilah-istilah kejiwaan seperti delusi, narsistik, megaloman dan
sejenisnya… mudah
dirancukan dengan orang lain dengan gejala yang sama yang memang mengalami masalah
kejiwaan… Istilah-istilah kejiwaan… mengandung dan mengundang stigma tertentu.
Dari perspektif yang berbeda membuat dan memublikasikan
analisis psikologis terhadap kandidat politik atau tokoh publik dapat memiliki nilai
manfaat bagi masyarakat pemilih. Situasi ini merupakan
problema dilema etik yang seyogyanya disadari oleh
psikolog.”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
INFORMASI PRIVAT VS PERNYATAAN PUBLIK
dilakukan. Apalagi pada saat ini Kode Etik Psikologi Indonesia (2010) sedang direvisi untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan komunitas psikolog dan masyarakat umum. Pilihan serta keputusan etis pada
hakekatnya adalah sikap moral pribadi yang tidak bisa diwakilkan kepada siapapun. Apa yang ingin disampaikan di sini adalah apakah dalam
melakukan suatu tindakan yang mengandung dilema etis psikolog sudah mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait, karena pelanggaran etik meski belum tentu terkait dengan aspek hukum tetapi jelas mengandung sanksi moral yang bersumber pada hati nurani masing-masing orang, termasuk psikolog. Bagaimana perubahan Kode Etik Psikologi Indonesia akan dilakukan serta berbekal pengetahuan serta pengalaman perihal isu yang diangkat dalam tulisan ini ada satu hal yang pasti tidak akan berubah yakni apa yang tertuang dalam Pasal 2 Prinsip Umum Kode Etik Psikologi Indonesia yang pada intinya mengakui adanya shared human values antara psikolog dengan para pengguna jasa layanan psikolognya.
etika antara informasi privat dengan pernyataan publik tentang pro l kandidat politik tokoh publik di atas maka gambaran masyarakat Indonesia kiranya patut dimasukkan dalam pertimbangan etis ketika psikolog hendak memberikan pernyataan terkait pro l kandidat politik, tokoh publik. Untuk kepentingan apakah dan siapakah pernyataan publik itu diberikan?
Apakah untuk masyarakat Indonesia yang beragam, plural tetapi tingkat literasinya masih tergolong rendah agar bisa memilih pemimpin yang kompeten, berintegritas dan dapat dipercaya?
Apakah untuk kandidat politik ataupun tokoh publik sebagai upaya penggambaran citra diri positif guna meraih suara pemilih? Apakah untuk psikolog-nya sendiri sebagai pemaparan hasil penelitian di bidang psikologi dan politik yang menjadi minatnya dan atau karena rasa tanggung jawab profesionalnya? Jika ingin dicari landasan etis untuk memikirkan opsi sikap yang akan diambil maka kiranya ethics of care dari Gilligan lebih relevan dipakai sebagai rujukan daripada ethics of justice dari Kohlberg. Bagaimana kita bisa adil jika tidak memiliki kepedulian?
Tulisan ini tidak memiliki intensi untuk memberi penilaian boleh tidaknya atau etis tidaknya
pernyataan publik terhadap pro l kandidat politik
“Untuk kepentingan apakah dan siapakah pernyataan publik itu diberikan? … Jika ingin dicari landasan etis untuk memikirkan
opsi sikap yang akan diambil maka kiranya ethics of care dari Gilligan lebih relevan dipakai sebagai rujukan daripada ethics of justice dari Kohlberg. Bagaimana kita bisa
adil jika tidak memiliki kepedulian?”
ISU PSIKOLOGI TERKINI
INFORMASI PRIVAT VS PERNYATAAN PUBLIK
Bar-Tal, D. (2001): Foreword: Meanings of
“Psychology as politics'. Political Psychology, 22, 219-226
Blake, A.(2016): the American Psychiatric Association issues a warning: No psychoanalyzing Donald Trump. e Washington Post, August 7. Diunduh dari:
https://www.washingtonpost.com/news/the- x/wp/2016/08/07/the-american-psychiatric- association-reminds-its-doctors-no-
psychoanalyzing-donald-trump/?nodirect- on&utm.term=.8876ade62a42
Dekleva, K.B.(2018). Leadership analysis and political psychology in the 21st Century. e Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law, 46(3), 359-363.DOI:
https://doi.org/10.29158/JAAPL.003771-18
Klitzman, R. (2016). Should therapist analyze presidential candidates ?. New York Times, March 7. Diunduh dari:
https://www.nytimes.com/2016/03/07/opinion/c ampaign-stops/should-therapist-analyze-
presidential-candidates.html
Oxford University Press. (1973). Oxford English Dictionary (OED) 1973. United Kingdom:
Oxford University Press.
Himpunan Psikologi Indonesia (2010). Kode Etik Psikologi Indonesia Himpsi. Jakarta: HIMPSI Setiadi, B. (2008, 31 Oktober). Relevansi psikologi
lintas-budaya dalam memahami kepemimpinan global. Pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Psikologi di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Daftar Pustaka
ISU PSIKOLOGI TERKINI
Hamdi Muluk:
Asesmen tokoh politik itu
beda dengan
medical report!
Wawancara khusus dengan Prof. Dr. Hamdi Muluk
Prof. Dr. Hamdi Muluk. Dokumentasi Temilnas IPS 2019, Prodi Psikologi UNS
Psikologi Indonesia, Solo - Asesmen psikologi terkait kandidat calon presiden dan wakil presiden yang pernah dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia tak jarang menuai pro dan kontra.
Sabtu malam, tanggal 6 April 2019 di sela-sela Musyawarah Nasional Ikatan Psikologi Sosial di Grand Hap Hotel, Solo,
reporter psikologi Indonesia,
Rahkman Ardi, melakukan wawancara dengan Prof. Dr.
Hamdi Muluk. Dalam
kesempatan tersebut Prof. Dr.
Hamdi Muluk menjelaskan bagaimana silang pendapat atas hal tersebut dapat terjadi dan juga bagaimana secara
metodologis penelitian tersebut dikerjakan. Berikut ini
kutipannya.
men-tracking, si pejabat itu nggak boleh lagi berlindung, “Tidak ada itu!” Terus bilang, “saya tidak pernah direhabilitasi!” Padahal dia cuma perlu menjelaskan saja, “Saya waktu itu
direhabilitasi sekian tahun,” gitu lho. Jadi, nggak perlu lagi dia tanya, “kok dibuka? kan sudah ada di consent saya.” Itu ga ada urusan. Keterbukaan itu dianggap relevan. Penting. Untuk kepentingan publik yang harus terlindungi. Untuk kepentingan yang lebih besar. Jadi kalo orang ini punya
catatan-catatan yang tidak bagus, kita boleh tahu, nggak boleh disembunyikan.
Soal persoalan etik dimana pihak yang
dipublikasikan seharusnya ada informed consent terlebih dahulu dan jika memang dipublikasikan seharusnya anonim. Bagaimana Pak?
Nggak. Nggak bisa. Karena percuma. Misalnya begini, saya melakukan analisis terhadap tokoh publik bernama A, terus saya umumkan hasil analisis terhadap tokoh yang berinisial A tersebut, siapa yang mau baca? Aneh saja. Kok tokoh X gitu. Siapa itu tokoh X? Harusnya dibuka karena dia mencalonkan diri menjadi pejabat publik.
Logika itu ngawur banget itu. Anonim itu Ngawur...
Ok, saya mempertegas bahwa logika medis itu sebenarnya tidak bisa digunakan dalam Psikologi Politik karena pertanggungjawaban publik?
Ya, karena kepentingan publik itu lebih besar. Satu lagi, kalau orang berobat ke dokter maka dia harus melakukan serangkaian pemeriksaan medis dan hasilnya di medical report itu harus di-preferential- kan. Nah, sama juga dengan di Psikologi. Orang yang melakukan asesmen Psikologi, mendatangi psikolog, minta dites, interview, diassess segala macem, itu tetep tidak boleh dibuka. Sama dengan KPU. KPU meminta RSPAD melakukan asesmen catatan kesehatan jiwa. Itu asesmen nggak Apa sih yang membuat bapak tertarik dengan
asesmen tokoh politik?
Di luar negeri itu memang lazim publik diberikan informasi segala hal yang berkaitan dengan tokoh- tokoh politik. Nah ini harus dipahami oleh politisi. Nanti saya bahas soal yang dikait-kaitkan dengan kerahasiaan pemeriksaan, termasuk juga terkait ke dokter, dimana kalau orang diperiksa itu harus di apa…
Itu salah satunya tentang aspek kerahasiaan klien, bagaimana Pak jika di Psikologi?
Kalau di kedokteran itu hasil medical report itu nggak boleh dibuka karena kerahasiaan medis.
Psikologi kan mau mengambil analogi yang seperti itu. Itu salah assumption. Orang-orang Psikologi harus disadarkan juga. Sementara hak publik juga untuk mendapatkan informasi tentang calon pejabat publik, political leader, calon bupati. Jadi jangan anda tarik analogi medis. Itu logika yang keliru. Nangkap ya? Di semua negara dengan iklim demokratis itu hal yang biasa, ketika orang berani menjadi pejabat publik, menjadi senator,
legislator, menjadi walikota, presiden dan segala macamnya, dia harus rela bahwa hal-hal yang mungkin ada implikasinya terhadap kepentingan publik boleh dibuka.
Tanpa ada informed consent tidak masalah?
Tidak masalah, karena dia sudah akan menjadi pejabat publik. Misalnya, kalau ada orang yang tahu dia pernah masuk panti rehabilitasi narkoba ketika waktu di SMA, which is waktu itu dia mungkin pergi ke dokter untuk mendapat terapi.
Itu ada informed consent di situ kan.
Lantas?
Tapi, ketika record itu ada dan ternyata orang bisa
HAMDI MULUK WAWANCARA