ULASAN TOKOH JOHN NIMPOENO
/1973 dalam hal penanggulangan bahaya narkotik, anggota Tim Penyusunan Program Studi
Lingkungan Fakultas Pasca Sarjana ITB, serta anggota Tim Pengembangan Kurikulum Bimbingan dan Penyuluhan di Fakultas Pasca Sarjana IKIP Bandung. Beliau juga pernah tercatat sebagai tenaga pemikir di PPLH-ITB untuk permasalahan perencanaan dan pengelolaan lingkungan hidup, khususnya dalam rangka kerja sama dengan pihak luar negeri. Beliau pernah melakukan perlawatan ke Canada untuk membantu mewujudkan kerja sama akademik ITB dengan tiga universitas di negara tersebut.
Karier militer Pak Nim bermula di Pendidikan Menengah saat bergabung dengan Barisan Polisi Istimewa SMT dan Tentara Genie Pelajar Detasemen IV. Beliau masih aktif bergabung hingga Tentara Pelajar Detasemen II
diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Sebagai Psikolog Angkatan Darat, beliau ditempatkan di Dinas Psikologi Angkatan Darat (AD) di
Bandung. Pak Nim kemudian dipindahkan ke Divisi VI Siliwangi sebagai Psikolog dalam berbagai operasi militer di pulau Jawa dan Sulawesi. Setelah mengabdi pada negara di AD selama 36 tahun, beliau memasuki masa pensiun dengan pangkat akhir Kolonel di tahun 1981.
Pada tahun 1981, beliau berkesempatan untuk melakukan promosi dan menjadi Doktor di bidang Psikologi di Universitas Padjadjaran dengan judul disertasi "Keperantaraan dalam Konteks Budaya Indonesia" yang dihargai dengan judicium cum laude. Setahun setelahnya, beliau diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dan Dosen Tetap di Fakultas Psikologi Universitas
Padjadjaran. Pak Nim pernah menyandang jabatan struktural sebagai Pembantu Dekan I, Dekan, Kepala Lembaga Psikologi Unpad, dan Ketua Jurusan. Beliau juga pernah menjabat
sebagai pembantu Dekan III di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran dan Ketua
Program Studi Psikologi di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran.
Pak Nim kemudian diangkat menjadi Guru Besar terhitung mulai 1 April 1988. Beliau pernah menjadi pengajar tamu di Universitas Katolik Nijmegen di Nederland dan di Jerman Barat di tahun 1989. Selanjutnya, beliau memiliki
pengalaman mengajar yang semakin luas, yakni di Fakultas Pasca Sarjana ITB Program Studi
Arsitektur, Fakultas Pasca Sarjana IKIP Bandung untuk Program Studi S2 dan S3, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB untuk Program S1, tenaga pengajar non-organik pada SESKOAD,
SESPIMPOL dan secara insidental di SESKOAU di Lembang.
Terhitung mulai tahun 1972, jumlah karya ilmiah Pak Nim meliputi 150 tulisan dalam beragam bentuk. Karya beliau meliputi bidang
kesejahteraan masyarakat, kemasyarakatan, transmigrasi, kemahasiswaan dan generasi muda, kelembagaan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi, pengembangan wilayah dan pembangunan, serta lingkungan hidup. Penelitian beliau berpusat pada lingkungan hidup dan pengembangan wilayah.
Dalam laporan yang ditulis oleh Weny Widyowati yang dimuat dalam portal daring unpad
(http://news.unpad.ac.id/?p=19575)
tercatat aktivitas lain yang pernah beliau tekuni adalah sebagai Sekretaris Eksekutif Konsorsium Psikologi Departemen P & K (1982); salah seorang pendiri Yayasan Kecelakaan Lalu Lintas (1982); dan menjadi anggota Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Psikologi. Adapun karyanya antara lain “Kepribadian dan Perubahannya” (co-author) terbitan Gramedia (1979); “Manajemen Kerugian
ULASAN TOKOH JOHN NIMPOENO
Semesta” (co-author) terbitan LPMI (1984);
“Penyakit-penyakit Akibat Kerja” (co-author) terbitan Hiperkes dan Gra ndo Utama (1985).
Perkembangan karier beliau dan kegiatan-kegiatan yang telah terlaksana hanya dimungkinkan karena tetap belajar dari orang lain.
---Pak Nim adalah panggilan kami terhadap Prof.
Dr. John Nimpoeno, Dipl. Psych. “Sering-sering datang ke sini, jangan khawatir, kalau mau tanya-tanya, boleh...”, begitulah kira-kira ungkapan Pak Nim. Pak Nim adalah sosok yang begitu teduh dan ramah. Beliau juga sosok yang penuh support pada mahasiswanya yang masih gamang dan ragu dalam mulai meniti kehidupan sebagai psikolog.
Ruang kerja beliau, baik di kantor maupun di rumah, selalu terbuka untuk siapapun yang hendak bertanya.
Beliau memiliki perhatian yang luas pada berbagai permasalahan kehidupan. Waktu luangnya
dimanfaatkan untuk menonton televisi seperti National Geographic hingga lm Woody Woodpecker pun tidak luput dari perhatiannya. Pernah suatu saat, kami bertamu ke rumah beliau yang sedang menonton lm kartun tersebut. Beliau bertanya,
”Coba kamu pikirkan, anak-anak yang menonton lm seperti ini, kira-kira nanti besarnya kayak apa?”. Kami berpikir sejenak lalu menjawab,
“Agresif pak, karena dalam lm tersebut terdapat adegan seperti mematuk, memukul dan membuka pintu dengan keras hingga gur yang bersembunyi di belakang pintu itu gepeng. Belum lagi gerakan-gerakan yang cenderung cepat dan keras. Hal ini dibarengi dengan solusi yang selalu bernuansa kekerasan mewarnai tiap episodenya.” Pak Nim membenarkan jawaban kami sembari
menambahkan keterangan bagaimana pengalaman-pengalaman masa kecil yang
terpendam dalam pengalaman bawah sadar dimungkinkan akan menjadi ciri anak tersebut kelak di masa mendatang.
Ciri beliau yang sangat kami kagumi adalah kebiasaan mengamati suatu hal sambil merenung dan mencari hikmah terkait dengan psikologi, psikodiagnostik, dan psikodinamika dalam hal tersebut. Sikap Pak Nim menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang sangat aktif berpikir, menghayati, serta memberi arah dan pencerahan bagi individu, komunitas, masyarakat dan lingkungannya.
Dalam buku pedoman pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, nama beliau memang tidak tercatat sebagai pendiri atau perintis Fakultas Psikologi UNPAD sejak tahun 1961. Hal tersebut dimungkinkan karena beliau saat itu masih aktif di bidang militer dan baru bergabung di UNPAD tahun 1967. Namun, bukan berarti peran beliau di Fakultas Psikologi UNPAD tidak sepenting tokoh-tokoh pendiri yang membangun fakultas sejak awal. Pengalaman Pak Nim sebagai kepala Bagian Psikoterapi di Institut fuer Jugendpsychiatrie memberikan nuansa Psikologi sebagai praktisi penanganan kasus individual yang kuat.
Pada masa-masa beliau aktif mengajar, beliau senantiasa memberi inspirasi bagi para mahasiswa yang berminat menjadi psikolog klinis. Rumah beliau hanya berjarak sekitar 200 meter dari fakultas. Hal ini membuat mahasiswa sering melihat plang/papan nama yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang psikolog, grafolog, psikoterapis/psikoanalis praktek yang aktif. Buat kami mahasiswanya, sosok psikolog ideal itu salah satunya seperti Pak Nim. Sosok beliau kuat tertanam dan menjadi arah bagi pengembangan karier kami pada masa mendatang. Cerita-cerita
ULASAN TOKOH JOHN NIMPOENO
Pak Nim banyak beredar tentang bagaimana ia menangani pasien, terutama dalam
mengombinasikan pemikiran psikodiagnostik, psikodinamik dan logika pemecahan masalah yang kreatif. Hal ini membuat kami makin ingin seperti beliau; membuat beliau menjadi model psikolog 'scientist-professional' yang ideal. Salah satu
gagasan beliau, misalnya memasang rekaman suara bayi untuk memancing gerombolan DI/TII untuk menyerah dan 'turun gunung' karena kerinduan mereka dengan keluarga.
Kedalaman dan keluasan berpikir beliau tidak hanya terbatas pada area klinis. Beliau memiliki kemampuan berpikir komprehensif yang mumpuni serta dapat mengemukakan gagasan-gagasan yang solutif untuk persoalan-persoalan makro. Beliau tampaknya ingin agar psikologi dapat memberikan sentuhan pada berbagai aspek kehidupan manusia sebagai makhluk
multidimensional. Dengan demikian, meski latar belakang psikologi klinisnya kuat, beliau mampu memberikan warna bagi pemanfaatan psikologi untuk bidang-bidang yang lebih luas seperti arsitektur, seni rupa, pendidikan dan lingkungan hidup sebagai suatu yang sangat makro dan kompleks.
Kemampuan berpikir mendalam dan
komprehensif ditunjukkan dengan kemampuan beliau dalam membuat kerangka berpikir
psikologis bagi setiap persoalan kemanusiaan yang dihadapi. Mahasiswa yang sedang kebingungan dalam membuat kerangka ber kir penelitian – mulai dari S1 sampai dengan S3 – dapat beliau arahkan dengan mudah melalui skema-skema alur berpikir yang jelas dan mencerahkan. Gambar dan alur berpikir yang Pak Nim buat seringkali menimbulkan insight pada mahasiswa tentang landasan penelitian, variabel apa saja yang mesti diperhatikan, bagaimana keterkaitan antar variabel
tersebut, serta bagaimana baiknya variabel-variabel tersebut dibahas sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi. Belakangan kami tahu bahwa kecanggihan tersebut antara lain karena keahlian beliau dalam memanfaatkan teori sistem
(misalnya, Ludwig von Bertalanffy, dkk.). Hal itu membuat beliau mampu melihat berbagai
permasalahan dari sistem yang berlaku. Beliau seperti melihat masalah dengan helicopter view yang detil, jelas, terintegrasi, dan menyeluruh.
Warisan Pak Nim yang lain yang masih terkait dengan kemampuan berpikirnya yang terstruktur dan jelas tercermin dari cara beliau mengajarkan kami (Tim Psikolog di Lembaga Psikologi UNPAD) mengenai pembuatan psikogram.
Beliaulah yang mengajarkan sarjana-sarjana baru Psikologi (akhir dekade 1980an) tentang
bagaimana melihat kepribadian sebagai suatu sistem dengan aspek dan fungsi-fungsi psikologis