B. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Kredit 1. Pengertian Perjanjian
4. Jaminan Hutang Dalam Pelaksanaan Perjanjian Kredit
Bank dalam memberikan jaminan kredit harus berkeyakinan atas kemampuan dari kesanggupan nasabah debitur dalam melunasi kewajibannya sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Untuk memperoleh keyakinan tersebut maka sebelum memberikan kredit bank harus melakukan penelitian dan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, jaminan/agunan, dan prospek usaha dari nasabah debitur yang bersangkutan.
Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan disebutkan bahwa “dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad, kemampuan serta kesanggupan dari nasabah debitur untuk melunasi hutangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang
diperjanjikan”. Di sini terlihat bahwa suatu kredit mengandung resiko“ oleh karenanya diperlukan suatu jaminan hutang dalam rangka pengamanan pemberian kredit .22
Jaminan hutang merupakan salah satu unsur didalam pemberian kredit, namun yang terpenting adalah pihak kreditur/bank telah memperoleh keyakinan atas kemampuan nasabah debitur dapat mengembalikan hutangnya. Jaminan hutang berupa barang atau hak tagih atau lainnya yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan hanya merupakan jaminan tambahan. Dengan memperhatikan hal-hal yang akan terjadi di luar jangkauan nasabah debitur dan kreditur/bank, misalnya terjadinya kredit tidak lancar atau kredit macet, maka bank semestinya memperhatikan jaminan hutang dan atau asuransi atas jaminan hutang kredit tersebut sudah cukup aman untuk menutupi resiko yang akan timbul di kemudian hari. Oleh karena itu, jaminan hutang dapat diklasifikasikan dalam beberapa kriteria, yaitu :
a. Jaminan Umum dan Jaminan Khusus. Jaminan umum merupakan jaminan yang diberikan pihak nasabah debitur yang terjadi pada setiap barang bergerak ataupun tidak bergerak milik nasabah debitur menjadi tanggungan hutangnya kepada kreditur/bank, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1131 KUH Perdata. Jaminan khusus meruapakan jaminan hutang yang bersifat kontrak, yaitu timbul oleh karena perjanjian tersebut .
b. Jaminan Pokok dan Jaminan Tambahan artinya bahwa kredit dapat diberikan kepada nasabah debitur berdasarkan unsur “kepercayaan” dari kreditur akan
22
kesanggupan pihak nasabah debitur untuk membayar kembali hutangnya, sesuai dengan kesepakatan yang telah diperjanjikan antara nasabah debitur dengan kreditur. Di dalam hukum perbankan diberlakukan suatu prinsip hukum bahwa ”kepercayaan” tersebut dipandang sebagai jaminan pokok dari kreditur terhadap nasabah debitur, bahwa nasabah debitur akan membayar kembali dengan hak tangungan hutangnya. Sementara itu jaminan lain seperti tanah dan pengikatannya dengan hak tanggungan, gadai dan lainnya hanya dianggap sebagai jaminan tambahan, artinya hanya sebagai jaminan tambahan atas barang yang dibiayai dengan kredit itu sendiri. Prinsip hukum yang dimaksudkan dapat terlihat jelas di dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.
c. Jaminan Kebendaan dan Jaminan Perorangan. Maksudnya bahwa jaminan kebendaan mempunyai hubungan langsung dengan pihak pemberi jaminan, bukan terhadap benda tertentu. Sedangkan jaminan perorangan hanya diberikan orang-orang tertentu, dimana diklasifikasikan ke dalam tiga golongan, yakni pertama, jaminan pribadi (personal guarantee), kedua, jaminan perusahaan (corporate guarantee) dan ketiga, garansi bank (bank
guarantee) .
d. Jaminan Regulatif dan Jaminan Non Regulatif Maksudnya bahwa jaminan regulatif yakni jaminan yang selain telah mendapat pengakuan dari peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan juga diatur secara eksplisist, seperti
gadai, hak tanggungan atas tanah, garansi dan akta pengakuan hutang. Jaminan non regulatif merupakan bentuk jaminan yang tidak secara khusus diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi dilaksanakan dan dikenal dalam praktek, seperti pengalihan tagihan dagang, pengalihan tagihan asuransi dan kuasa menjual yang tidak dicabut kembali.
Dengan pemberian kredit kepada nasabah debitur bukan berarti bank lepas tangan dalam hal penggunaan dan pengelolaan kredit tersebut, tetapi bank akan selalu memantau penggunaan kredit oleh nasabah debitur yang bersangkutan. Sehubungan dengan itu, S. Mantayborbir, Iman Jauhari dan Agus Hari Widodo, berpendapat hal itu dilakukan guna memastikan bahwa :
a. Kredit digunakan oleh nasabah debitur sesuai dengan tujuan peruntukannya sebagaimana diperjanjikan di dalam perjanjian kredit.
b. Kredit ditarik sesuai dengan tahap-tahap penarikan kredit sebagaimana telah diperjanjikan di dalam perjanjian kredit.
c. Kredit ditarik sesuai dengan yang ditentukan di dalam perjanjian .23
Dari uraian di atas, tergambarlah bahwa pemantauan bank terhadap penggunaan kredit oleh nasabah debitur merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak kreditur untuk memastikan atas pembayaran bunga serta angsuran atas pokok kredit yang telah diberikan kepada nasabah debitur dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah diperjanjikan di dalam perjanjian kredit. Karena bisa
23
saja terjadi bahwa nasabah debitur melakukan tindakan penyimpangan didalam menggunakan kredit tersebut.
Misalnya kredit untuk mendirikan bangunan ternyata dipergunakan untuk modal pengembangan usaha oleh nasabah debitur, sehingga jika terjadi, maka akan mengakibatkan pembayaran kembali pelunasan atas kredit tersebut tidak lancar yang akan mengakibatkan terjadinya kredit macet. Sehingga pihak bank harus mengatur mengenai penarikan kredit sesuai dengan dana yang diperlukan yaitu melalui casflow
projection (proyeksi aliran kas) untuk menentukan jumlah kebutuhan dana dari
debitur. Dengan menggunakan cash budget akan terlihat bahwa jumlah dana yanag dibutuhkan dapat ditentukan dengan lebih baik. Selain jumlah, dengan cash budget juga dapat diketahui kapan (waktu) dana tersebut dibutuhkan.
Ditekankannya jaminan hutang dalam pemberian kredit adalah untuk mencegah resiko yang akan timbul apabila pembayaran dan pelunasan atas kredit tersebut tidak lancar untuk melakukan pembayaran dan/atau pelunasan atas hutangnya sesuai dengan perjanjian kredit yang telah disepakati.
Dengan demikian jaminan hutang nasabah debitur bersifat yuridis materiil yang bertujuan sebagai tindakan pencegahan (preventif) dari kreditur terhadap perbuatan ingkar janji dari nasabah debitur. Jaminan hutang dalam pemberian guna menyelamatkan kredit dari nasabah debitur yang tidak memenuhi akan kewajibannya sesuai dengan perjanjian kredit yang telah disepakatinya. Apabila nasabah debitur wanprestasi, maka kreditur dapat menarik kembali kredit melalui penjualan atas jaminan hutang.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa jika seseorang hendak memperoleh fasilitas kredit, maka seseorang harus memberikan jaminan hutang, termasuk melakukan pengikatan jaminan. Suatu kredit tanpa jaminan berarti kredit yang diberikan tersebut penuh dengan resiko.
C. Tinjauan Umum Tentang Sistem Hukum Pengurusan Piutang Negara 1. Pengertian Piutang Negara
Istilah piutang negara ini timbul karena adanya perjanjian utang piutang diantara dua orang atau lebih subjek hukum. Subjek hukum ini adalah baik pribadi (perseorangan) maupun badan hukum. Jadi perjanjian utang piutang ini boleh saja dilakukan oleh satu orang atau lebih dengan satu orang atau lebih lainnya, atau satu orang atau lebih dengan satu badan hukum atau lebih, atau satu badan hukum dengan satu badan hukum lainnya.
Jika subjek hukum ini telah mengadakan suatu perjanjian utang piutang maka timbullah hak dan kewajiban diantara keduanya. Dalam ilmu hukum, subjek hukum adalah pendukung hak dan kewajiban.24 Dengan kata lain timbullah hubungan hukum. Hubungan hukum adalah hubungan yang terhadapnya hukum melekatkan “hak” pada satu pihak dan melakukan kewajiban pada pihak lainnya 25 Piutang adalah “hak untuk menerima pembayaran”. Sedangkan utang adalah “kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang...”.
24
Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, Alumni, Bandung, 1997, hal.35
25
Mariam Darus Badrulzaman,et.all,Kompilasi Hukum Perikatan, P.T Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal.1.(selanjutnya disebut Buku II)
Kalau melihat defenisi piutang tersebut di atas, maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa piutang negara berarti hak negara untuk menerima pembayaran.
Dalam Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960, yang dimaksud dengan Panitia Urusan Piutang Negara atau hutang kepada negara adalah “ jumlah uang yang dibayar kepada negara atau badan-badan baik yang secara langsung atau tidak langsung dikuasai oleh negara berdasarkan peraturan, perjanjian atau sebab apapun. Dari bunyi pasal tersebut di atas tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan piutang negara. Namun dalam penjelasan pasal 8 dari undang-undang tersebut dijelaskan apa yang dimaksud dengan piutang negara.
Dengan piutang negara dimaksudkan hutang yang :
1. Langsung terhutang kepada negara dan oleh karena itu harus dibayar kepada Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.
2. Terhutang kepada badan-badan yang umumnya kekayaan dan modalnya sebagian atau seluruhnya milik negara, misalnya bank-bank, perseroan terbatas-perseroan terbatas negara, perusahaan-perusahaan negara, yayasan perbekalan dan persediaan, yayasan urusan bahan makanan dan sebagainya.
Dari bunyi pasal 8 dan penjesalan Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960 tentang PUPN tersebut di atas dapatlah dipahami bahwa piutang negara dapat dikelompokkan atas dua jenis yaitu Piutang Negara Perbankan dan Piutang Negara Non Perbankan.
Piutang Negara Perbankan yaitu kredit macet bank-bank pemerintah seperti Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI) maupun Bank Pemerintah Daerah misalnya Bank Sumut.
Piutang Negara Non Perbankan berupa tagihan dari lembaga atau instansi atau badan pemerintah selain bank seperti tagihan macet Perusahaan Listrik Negara, Telkom, tuntutan ganti rugi dan lain-lain.
Selain dari kedua jenis piutang tersebut di atas, ada juga piutang negara yang berasal dari pajak masyarakat. Namun hutang pajak masyarakat ini diselesaikan bukan melalui PUPN melainkan melalui Undang-Undang Penagihan Pajak Negara. Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan UU No.49 Prp tahun 1960 bahwa “hutang pajak tetap merupakan piutang negara, akan tetapi diselesaikan tersendiri dengan Undang-undang Penagihan Pajak Negara dengan Surat Paksa.