Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) Medan mempunyai visi menjadi unit operasional terbaik dalam melakukan pengurusan piutang dan pelayanan lelang yang profesional dan bertanggung jawab serta dibanggakan oleh masyarakat baik sekarang maupun dimasa yang akan mendatang.
Pasal 1 Keputusan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Nomor Kep-25/PL/2002 tentang Petunjuk Teknis Piutang Negara, foto copy kelengkapan persyaratan dokumen dilampirkan bersamaan dengan Piutang Negara Macet Perbankan adalah : 65
a. Perjanjian kredit dan atau perjanjian lain yang sejenis membuktikan adanya piutang.
65
Wawancara dengan Marlaris Simanjuntak, S.E, M.Si, Kepala Seksi Piutang Negara KP2LN Medan tanggal 12 September 2006.
b. Rekening koran, prima nota, mutasi piutang dan atau dokumen lain sejenis yang membuktikan besarnya piutang.
c. Surat menyurat antara penyerah piutang dengan nasabah debitur penanggung hutang dan atau penjamin hutang yang berkaitan dengan upaya penagihan. d. Surat pemberitahuan dari penyerah piutang kepada nasabah debitur/
penanggung hutang bahwa piutang negara macet diserahkan kepada panitia cabang.
e. Bukti pemilikan dan pengikatan jaminan hutang
f. Bukti penjaminan kredit oleh pihak ketiga atau bukti lain yang sejenis.
g. Akta pendirian perusahaan dalam Tambahan Berita Negara beserta Akta Perubahannya, tanda pengenal/pendaftaran perusahaan dan atau identitas lainnya.
h. Izin Usaha, Izin Mendirikan Bangunan dan atau surat-surat izin lainnya. i. Kartu Identitas Diri penanggung hutang dan atau penjamin hutang j. Daftar harta kekayaan lain, dan
k. Asli Surat Pernyataan Kesanggupan penyerah piutang untuk mengajukan permohonan roya dalam hal piutang yang diserahkan didukung dengan barang jaminan
Apabila dokumen-dokumen tersebut di atas tidak dapat diserahkan seluruhnya, maka penyerah piutang dapat menyerahkan dokumen asli perjanjian kredit/perjanjian, dokumen asli barang jaminan dan pengikatannya, serta surat
kesanggupan mengajukan permohonan roya jika jaminannya sertifikat tanah, serta besarnya piutang negara dapat dibuktikan, penyerahan pengurusan piutang negara dapat diterima.
Surat Penyerahan Piutang Negara Macet berikut lampirannya tersebut di atas diteliti oleh KP2LN dan hasil penelitian tersebut dituangkan kedalam Resume Hasil Penelitian Kasus. Lalu berdasarkan Resume dan dokumen penyerahan, KP2LN menghitung besarnya piutang negara. Jika penyerah piutang atau bank tidak dapat menyampaikan rekening koran, prima nota atau data mutasi keuangan, KP2LN dapat menghitung sendiri besarnya piutang negara berdasarkan syarat-syarat yang tercantum dalam perjanjian kredit.66
Piutang negara perbankan terdiri atas hutang pokok, bunga, denda, dan ongkos-ongkos lainnya. Besarnya bunga, denda dan ongkos-ongkos lainnya ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah kredit dikategorikan macet berdasarkan peraturan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif.
Pasal 12 ayat 1 dan 2 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 300/KMK.01/2002, besarnya piutang negara non perbankan dihitung berdasarkan pada saat piutang negara macet tersebut jatuh tempo. Dalam hal ini terdapat pembebanan bunga, denda atau beban lainnya ialah besarnya ditetapkan paling lama
66
Wawancara dengan Dotor Silaen, S.H, Staf Seksi Piuatang Negara pada KP2LN Medan, tanggal 24 September 2006.
6 (enam) bulan setelah jatuh tempo, kecuali ditetapkan tersendiri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hasil perhitungan besarnya piutang negara oleh PUPN dan KP2LN Medan dikonfirmasikan kepada penyerah piutang/kreditur (bank). Dalam hal ini BKPN dapat dibuktikan adanya dan besarnya piutang negara, maka panitia cabang menerima penyerahan piutang negara macet dengan menerbitkan SP3N.
Dengan terbitnya SP3N, maka piutang negara macet yang diserahkan kreditur/bank beralih kepada panitia cabang yang pelaksanaannya dilakukan oleh KP2LN. Dengan demikian terjadilah perubahan ketentuan hukum yang berlaku yaitu dari ketentuan semula yang bersifat hukum privat perdata berubah menjadi ketentuan hukum publik, karena penyelesaiannya telah diambil alih oleh negara/pemerintah dalam hal ini adalah PUPN dan KP2LN Medan.
Misi dari Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) adalah melaksanakan pengurusan piutang negara dan pelayanan lelang yang efektif dan efisien dengan meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasa.
Dalam mengembankan misi yang telah ditetapkan tersebut dengan berorientasi kepada harapan untuk memperoleh hasil yang optimal dalam pencapaian target pengurusan piutang dan lelang negara, maka ditetapkan tujuan sebagai berikut : 1. Meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasa (stake holder)
Sedangkan yang menjadi sasaran dari Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) Medan adalah sebagai berikut:
1. Terciptanya pelayanan yang prima
2. Terwujudnya tertib admistrasi dalam pengelolaan barang jaminan hutang
Panitia Pengurusan Piutang Negara (PUPN) dan Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) Medan melakukan penataan dan pengamatan barang jaminan hutang baik dokumen asli maupun fisik barang jaminan.
Dalam pelaksanaannya menurut hasil penelitian yang diperoleh dilapangan bahwa Panitia Pengurusan Piutang Negara (PUPN) dan Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) Medan telah menyelesaikan pengurusan tentang pengelolaan jaminan hutang kebendaan milik nasabah debitur pada Tahun 2004-2006 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel. 1
Data Pengelolaan Barang Jaminan/Yang Telah Selesai Pengurusannya Tahun 2004 s/d 2006 Tahun No Jenis Penyelesaian 2004 2005 2006 1 Lelang 457 484 520 2 Penebusan 4 3 1
3 Penjualan dibawah tangan 3 3 2
4 Pemblokiran 5 3 4
5 Penyitaan 242 304 239
6 SPPBS 484 343 150
Jumlah 1.195 1.137 916
Dari tabel di atas, terlihat bahwa pada data pengelolaan barang jaminan yang telah selesai pengurusannya tahun 2004 berjumlah 1.195 kasus, tahun 2005 berjumlah 1.137 kasus dan tahun 2006 berjumlah 916 kasus, yang telah diselesaikan pengurusannya secara lelang, penebusan, penjualan di bawah tangan, pemblokiran, penyitaan dan SPPBS. Adapun masing-masing penyelesaian tersebut dapat dijelaskan pada pembahasan berikut ini.
Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum baik secara langsung maupun melalui media elektronik dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis yang didahului dengan usaha mengumpulkan peminat. Ada beberapa lelang yang terdiri dari :
a. Lelang eksekusi adalah lelang untuk melakasanakan putusan/penetapan pengadilan atau dokumen yang dipersamakan dengan itu.
b. Lelang Non Eksekusi adalah lelang barang milik/dikuasai negara atau lelang sukarela atas barang milik swasta.
Lelang ada beberapa fungsi yang terdiri dari :
b. Fungsi privat yaitu: karena lelang merupakan institusi pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli, dan lelang berfungsi untuk memperlancar arus lalu lintas perdagangan barang ;
c. Fungsi publik yang terdapat beberapa bagian yaitu: melakukan pengamanan terhadap penjualan asset yang dimiliki/dikuasai oleh negara dan meningkatkan efisiensi serta tertib administrasi, memberikan pelayanan penjualan atas barang
yang bersifat cepat, aman, tertib dan mewujudkan harga yang wajar, memberikan konstribusi penerimaan negara dalam bentuk bea lelang dan uang miskin.67
Perorangan maupun Badan Usaha dapat menjadi peserta/pembeli lelang, kecuali yang nyata-nyata dilarang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti : Hakim, Jaksa, Panitera, Advokat, Pengacara, Pejabata Lelang, Juru Sita, dan Notaris yang sedang menangani pokok perkara yang barangnya akan dilelang. Sedangkan prosedur lelang adalah :
a. Siapapun yang berminat untuk melakukan penjualan secara eksekusi lelang harus mengajukan permohonana lelang kepada Pejabat Lelang melalui KP2LN
b. Setiap permohonan lelang harus dilengkapi dengan dokumen yang berkaitan dengan barang yang akan dilelang, serta bukti-bukti lain yang berkenaan lelang, dan harus sudah diserahkan kepada KP2LN paling lambat 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan lelang.
c. Pemohon lelang dapat menentukan syarat-syarat lelang dalam pengumumman, yang harus diserahkan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan eksekusi lelang.
d. Waktu dan tempat pelaksanaan eksekusi lelang ditetapkan oleh Kepala KP2LN dengan memperhatikan keinginan pemohon lelang/penjual.
e. Pemohon lelang wajib mengumumkan lelang atas barang-barang yang akan dieksekusi lelang pada surat kabar harian atau media cetak/elektronik lainnya, berselang 15 (limabelas) hari untuk barang tidfak bergerak, sedangkan untuk
67
Djamhuri Zein, Pengurusan Lelang Negara, Jakarta: Departemen Keuangan dan BPLK Pusdiklat Keuangan Umum, 1996, hal. 5.
barang yang bergerak hanya 1 (satu) kali pengumuman lelang dan pelaksanaan lelang sesudah 7 (tujuh) hari. Terhadap barang tidak bergerak dan barang bergerak yang diumumkan bersamaan surat kabar untuk dilelang berlaku ketentuan 15 (limabelas) hari. 68
Menurut responden KP2LN Medan bahwa setiap peserta lelang harus menyetor uang jaminan penawaran lelang yang besarnya ditentukan oleh pemohon lelang. Dalam peserta lelang tidak ditunjuk sebagai pembeli, uang jaminan akan dikembalikan seluruhnya tanpa potongan. Dalam hal peserta lelang ditunjuk sebagai pembeli uang jaminan akan diperhitungkan dengan pembayaran hasil lelang. Apabila pembeli tidak melunasi pembayaran hasil lelang (wanprestasi), uang jaminan lelang akan menjadi hak pemohon lelang setelah dikurangi bea lelang dan baginya dikenakan sanksi tidak dibenarkan mengikuti lelang diseluruh wilayah Indonesia dalam waktu 6 (enam) bulan setelah ditunjuk sebagai pemenang lelang 69
Pada setiap pelaksanaan lelang, oleh Pejabat Lelang dibuatkan berita acara yang disebut risalah lelang yang merupakan akte autentik dan berkekuatan pembuktian yang sempurna. Risalah lelang dipergunakan antara lain :
a. Bagi penjual, sebagai bukti penjualan telah dilaksanakan dan penjualan melalui lelang telah sesuai prosedur;
b. Bagi pembeli, sebagai bukti pembelian;
68
S. Mantayborbir, Sistem Hukum Pengurusan Piutang Negara, Pustaka Bangsa Press, Jakarta. 2004, hal. 78.
69
Wawancara dengan Ibu Karmila, Sekretaris Lelang KP2LN Medan, pada tanggal 10 September 2006.
c. Bagi pihak ketiga, misalnya kantor pertanahan adalah merupakan dasar hukum untuk pendaftaran/balik nama;
d. Bagi administrasi lelang sendiri adalah sebagai dasar perhitungan bea lelang dan uang miskin serta pertanggungjawaban lelang.
Hak-hak pemohon lelang (penjual) adalah : 1. Memilih cara penawaran lelang
2. Menetapkan besarnya uang jaminan bagi peserta eksekusi lelang serta menetapkan harga limit yang wajar atas barang yang dilelang.
3. Menetapkan syarat-syarat lelang (jika ada). 4. Menerima uang hasil lelang (pokok lelang).
5. Menerima uang jaminan dalam hal pemenang lelang mengundurkan diri. 6. Meminta kutipan/salinan Risalah Lelang berikut bukti-bukti terkait.70
Adapun kewajiban-kewajiban pemohon lelang (penjual) adalah: 1. Mengajukan permohonan/permintaan eksekusi lelang ke KP2LN setempat 2. Melengkapi syarat- syarat/dokumen-dokumen yang diperlukan
3. Mengadakan pengumuman lelang disurat kabar harian setempat dan atau media cetak/elektronik lainnya.
4. Membayar bea lelang penjual, dalam hal penjualannya adalah pemerintah ( tidak termasuk BUMN/BUMD), maka tidak dipungut bea lelang penjual.
5. Menyerahkan barang kepada pemenang lelang. 71
70
Djamhuri Zein, 1996, Pengurusan Lelang Negara, Op.Cit, hal. 48.
71
Kewajiban-kewajiban peserta lelang (calon pembeli lelang) adalah : a. Menyetor uang jaminan lelang tunai kepada Pejabat Lelang.
b. Hadir dalam pelaksanaan eksekusi lelang.
c. Mengisi surat penawaran diatas kertas bermaterai dengan huruf yang jelas dan tidak ada coretan (dalam hal penawaran lelang secara tertutup/tertulis)
d. Membayar pokok lelang, bea lelang dan uang miskin secara tunai dalam hal ditunjuk sebagai pemenang lelang
e. Mentaati tata tertib pelaksanaan eksekusi lelang. 72
Lelang yang akan dilaksanakan hanya dapat ditunda atau dibatalkan, karena adanya penetapan lembaga peradilan atau permintaan tertulis dari pemohon lelang/penjual, atau karena objek/barang yang dilelang tersebut terdapat adanya masalah/peristiwa hukum.
Berdasarkan tabel 1 tentang data pengelolaan barang jaminan yang telah selesai pengurusannya tahun 2004 s/d 2006 di atas, diketahui bahwa yang jaminan hutang debitur yang pengurusan telah diselesaikan secara lelang, sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini:
72
Tabel 2.
Barang Jaminan yang Telah Selesai Pengurusannya Secara Lelang pada KP2LN Medan Tahun 2004 s/d 2006
No Tahun Jlh Kasus Telah Dilelang %
1 2004 1195 457 38,24%
2 2005 1137 484 42,57%
3 2006 916 520 56,77%
Sumber: Data Sekunder diolah dari KP2LN Medan Tahun 2006.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa barang jaminan yang telah selesai pengurusannya secara lelang, yakni: pada tahun 2004 dari 1195 kasus telah diselesaikan sebanyak 457 kasus atau 38,24%, pada tahun 2005 dari 1137 kasus telah diselesaikan sebanyak 484 kasus atau 42,57%, dan pada tahun 2006 dari 916 kasus dapat diselesaikan sebanyak 520 kasus atau 56.77%.
Sebagai contoh kasus debitur yang barang jaminannya telah diselesaikan secara lelang pada tahun 2004 s/d 2006 tersebut, diambil sebanyak masing-masing 5 debitur dari setiap tahunnya, sebagaimana dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.
Beberapa Kasus Yang Jaminan Hutang Kebendaannya Telah Diselesaikan Melalui Lelang Pada KP2LN Medan Tahun 2004 s/d 2006
Barang Jaminan No.
Bergerak Tidak Bergerak
1 16 Januari 2004 - Sebidang tanah seluas 344 m2
berikut bangunan yang ada diatasnya.
2 21 Januari 2004 - Sebidang tanah seluas 833 m2
berikut segala sesuatu yang ada diatasnya.
3 6 Mei 2004 Barang-barang bergerak berupa-berupa mesin industri untuk membuat suku cadang kendaraan bermotor roda dua
-
4 19 Mei 2004 - Sebidang tanah seluas 265 m2
berikut bangunan tempat tinggal permanen di atasnya
5 30 Juni 2004 - Sebidang tanah darat seluas
265 m2 berikut segala sesuatu yang di atasnya.
6 30 Juni 2004 - a. Sebidang tanah darat
seluas 2060 m2 berikut segala sesuatu yang diatasnya
b. Sebidang tanah darat seluas 2060 m2 berikut segala sesuatu yang diatasnya
7 24 Februari 2005 - Sebidang tanah seluas 119 m2
berikut bangunan rumah yang ada di atasnya
8 18 Mei 2005 - a. Sebidang tanah seluas 112
m2 berikut bangunan rumah di atasnya
b. Sebidang tanah seluas 135 m2 berikut bangunan rumah di atasnya
9 19 Mei 2005 - Sebidang tanah seluas 112 m2 berikut bangunan rumah di atasnya
10 14 Maret 2006 - Sebidang tanah seluas 107 m2
berikut bangunan rumah di atasnya
11 28 Maret 2006 - Tanah seluas 210 m2 berikut
bangunan rumah di atasnya
12 6 April 2006 - Sebidang tanah seluas 153 m2
berikut bangunan rumah di atasnya
13 18 April 2006 - Sebidang tanah seluas 7094
m2 berikut bangunan rumah di atasnya
14 25 April 2006 - Sebidang tanah seluas 262 m2
berikut bangunan rumah di atasnya
Sumber: KP2LN Medan Tahun 2006
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah jaminan yang dilelang pada tahun 2004 ada 5 (lima) kasus yang jaminan hutang kebendaan yang bergerak terdiri dari 4 (empat) kasus berupa sebidang tanah dan berikut segala sesuatu diatasnya, dan 1 (satu) kasus barang tidak bergerak yang berupa mesin-mesin industri untuk membuat suku cadang kendaraan bermotor roda dua.
Pada tahun 2005 jumlah jaminan kebendaan yang dilelang adalah sebanyak 5 (lima) jaminan kebendaan yang tidak bergerak yaitu berupa sebidang tanah dan berikut segala sesuatu diatasnya, tetapi pada tahun 2005 jaminan hutang kebendaan yang tidak bergerak adalah tidak ada atau nol.
Pada tahun 2006 jumlah jaminan kebendaan yang dilelang adalah sebanyak 5 (lima) jaminan kebendaan yang tidak bergerak yaitu berupa sebidang tanah dan berikut segala sesuatu diatasnya, tetapi pada tahun 2006 jaminan hutang kebendaan yang tidak bergerak adalah tidak ada atau nol.
Selain dari pada penyelesaian secara lelang, pencairan barang jaminan hutang juga ada telah dilakukan penebusan, yaitu pencairan barang jaminan yang dilakukan oleh Penjamin Hutang dalam rangka penyelesaian hutang di KP2LN Medan. Adapun tahap-tahap penebusan adalah sebagai berikut:
a. Persyaratan Permohonan:
1) Penjamin Hutang dapat mengajukan permohonan untuk menebus Barang Jaminan miliknya secara tertulis.
2) Permohonan penebusan paling sedikit sama dengan Nilai Pengikatan.
3) Penanggung Hutang atau Penjamin Hutang yang menjamin seluruh hutang Penanggung Hutang tidak boleh mengajukan permohonan penebusan.
4) Surat permohonan penebusan memuat sekurangkurangnya: uraian barang yang akan ditebus; nilai penebusan; dan cara pembayaran.
5) Dalam hal Penjamin Hutang telah meninggal dunia, permohonan Penebusan dapat diajukan oleh ahli warisnya, dengan dilengkapi dengan: foto kopi surat Kematian Penjamin Hutang fatwa waris/surat keterangan waris dari Desa/Kelurahan yang diketahui oleh Camat. kuasa dari para ahli waris, apabila ahli waris lebih dari 1 (satu) dan para ahli waris menunjuk kuasa. 6) Apabila permohonan belum lengkap, KP2LN akan menerbitkan surat
permintaan kelengkapan. b. Putusan atas Permohonan
1) Putusan atas permohonan penebusan dapat disetujui atau ditolak dengan berpedoman pada Nilai Pasar dan Nilai pengikatan barang yang akan ditebus.
2) Putusan penebusan dapat ditetapkan di bawah Nilai Pengikatan, apabila Nilai Pasar barang jaminan di bawah Nilai Pengikatan. Namun putusan dimaksud memerlukan persetujuan dari Penyerah Piutang dan Penanggung Hutang. c. Lama Waktu Putusan:
Putusan atas permohonan penjualan tidak melalui lelang ditetapkan paling lama: 7 (tujuh) hari sejak surat permohonan diterima secara lengkap oleh KP2LN; atau 2 (dua) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap oleh KP2LN, namun pemberian putusan memerlukan persetujuan dari Penyerah Piutang dan Penanggung Hutang.
d. Pembayaran:
1) Nilai Penebusan yang ditetapkan ditambah Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara.
2) Pembayaran atas persetujuan Penebusan dapat dilakukan secara tunai maupun angsuran. Dalam hal nilai Penebusan kurang dari atau sama dengan Rp1 Milyar, pembayaran dilakukan secara tunai paling lama 2 bulan sejak tanggal surat persetujuan. Dalam hal nilai Penebusan lebih dari Rp 1 Milyar rupiah, pembayaran dapat dilakukan secara angsuran pro rata paling lama 6 bulan sejak tanggal surat persetujuan.
Dalam hal pembeli tidak memenuhi pembayaran sesuai yang ditetapkan dalam persetujuan Penebusan, persetujuan penebusan dibatalkan dan pembayaran yang telah dilakukan diperhitungkan sebagai angsuran hutang.
Untuk lebih lanjut mengenai proses penebusan barang jaminan sebagaimana terlihat pada bagan di bawah ini:
Bagan 1.
Alur Proses Penebusan Barang Jaminan
Penjelasan dari bagan di atas, adalah:
1. Penjamin Hutang (PjH) selaku pemilik barang jaminan mengajukan permohonan penebusan kepada Kepala KP2LN dilampiri dengan foto kopi identitas yang masih berlaku.
2. KP2LN akan melakukan penelitian/verifikasi atas kelengkapan berkas permohonan.
3. Apabila berkas permohonan belum lengkap, KP2LN akan meminta agar PjH melengkapinya.
4. Setelah berkas permohonan diterima secara lengkap, KP2LN akan melakukan verifikasi barang jaminan.
5. Apabila berdasarkan hasil verifikasi, nilai permohonan penebusan sama atau di atas Nilai Pengikatan, maka PUPN akan segera menerbitkan Surat Persetujuan Penebusan.
6. Apabila nilai permohonan penebusan di bawah nilai pengikatan, maka KP2LN akan melakukan penilaian atas barang jaminan.
7. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, KP2LN meminta persetujuan Penyerah Piutang dan Penanggung Hutang .
8. Penyerah Piutang dan Penanggung Hutang menyampaikan persetujuan/ penolakan.
9. Apabila Penyerah Piutang dan Penanggung Hutang memberikan persetujuan, maka PUPN akan menerbitkan Surat Persetujuan Penebusan atau akan menerbitkan Surat Penolakan Penebusan apabila Penyerah Piutang dan atau
Penanggung Hutang menyatakan menolak/ keberatan atas permohonan penjualan tidak melalui lelang.
10. Setelah PjH melunasi kewajibannya, maka KP2LN akan menyerahkan dokumen asli barang jaminan kepada PjH.
Berdasarkan hasil penelitian, pencairan barang jaminan debitur dengan cara penebusan pada KP2LN Medan Tahun 2004 s/d 2006 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.
Barang Jaminan yang Telah Selesai Pengurusannya Secara Penebusan pada KP2LN Medan Tahun 2004 s/d 2006
No Tahun Jlh Kasus Penebusan %
1 2004 1195 4 0,33%
2 2005 1137 3 0,26%
3 2006 916 1 0,11%
Sumber: Data Sekunder diolah dari KP2LN Medan Tahun 2006.
Dari tabel di atas dapat dlihat bahwa barang jaminan hutang yang telah selesai pengurusannya secara penebusan, yakni: tahun 2004 dari 1195 kasus telah diselesaikan sebanyak 4 kasus atau 0,33%, tahun 2005 dari 1137 kasus telah diselesaikan sebanyak 3 kasus atau 0,26%, dan tahun 2006 dari 916 kasus dapat diselesaikan sebanyak 1 kasus atau 0,11%. Sedangkan debitur yang barang jaminannya telah diselesaikan secara penebusan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.
Beberapa Kasus Jaminan Hutang Kebendaannya Yang Telah Diselesaikan Melalui Penebusan Pada KP2LN Medan Tahun 2004 s/d 2006
Barang Jaminan No. Tahun Jumlah
Kasus Bergerak Tidak Bergerak
1 2004 2 -
Sebidang tanah berikut bangunan tempat tinggal permanen di atasnya
2 2005 4 -
Sebidang tanah berikut bangunan tempat tinggal permanen di atasnya
3 2006 2 -
Sebidang tanah berikut bangunan tempat tinggal permanen di atasnya
Sumber: Data Sekunder diolah dari KP2LN Medan Tahun 2006.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 jaminan hutang kebendaan yang telah diselesaikan dengan cara penebusan adalah dimana jaminan hutang kebendaan yang tidak bergerak terdapat sebanyak 8 (delapan) kasus yang berupa sebidang tanah berikut segala sesuatu diatasnya, tetapi pada tahun 2004 sampai tahun 2006 bahwa jaminan kebendaan yang bergerak tidak ada (nol).
Selanjutnya menurut Pasal 273 ayat (1) Keputusan Menteri keuangan Republik Indonesia Nomor 300/KMK.01/2002 tentang Pengurusan Piutang Negara, dinyatakan bahwa jaminan hutang dan atau harta kekayaan lainnya milik nasabah debitur/penanggung hutang dapat mengajukan permohonan penjualan tidak melalui eksekusi lelang (penjualan secara di bawah tangan) untuk penyelesaian hutang.
Penyelesaian hutang melalui penjualan atas jaminan hutang secara di bawah tangan tersebut dapat dimohonkan secara tertulis oleh nasabah debitur melalui KP2LN dengan memuat hal-hal sebagai berikut :73
a. uraian tentang jaminan hutang yang akan dijual ; b. nilai penjualan;
c. identitas calon pembeli ; dan d. cara pembayaran.
Selanjutnya dalam Pasal 276 Keputusan Menteri Keuangan tersebut dinyatakan bahwa persetujuan penjualan secara di bawah tangan ditetapkan oleh Ketua Panitia Cabang dengan ketentuan :
1. berpedoman pada laporan Penilaian yang masih berlaku; 2. nilai persetujuan paling sedikit sama dengan nilai Pasar; dan 3. nilai Pasar paling sedikit sama dengan Nilai Pengikatan
Dalam Pasal 277 disebutkan bahwa dalam situasi tertentu dimungkinkan juga bahwa Nilai Pasar di bawah Nilai Pengikatan setelah Penyerah Piutang menyetujui, dan menyatakan tidak keberatan, atau menyerahkan penjualan sepenuhnya kepada PUPN Cabang melalui KP2LN.
Tanggapan atas surat permintaan persetujuan penjualan di bawah tangan wajib disampaikan oleh penyerah piutang paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung
73
Lihat Pasal 273 ayat (3) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 300/KMK.01/2002 Tentang Pengurusan Piutang Negara.
sejak surat permohonan penjualan diterima oleh Penyerah piutang.74 Dan dalam Pasal 278 ayat (2) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 300/KMK.01/2002 tentang Pengurusan Piutang Negara, jika penyerah piutang keberatan atas rencana penjualan dengan nilai pasar di bawah pengikatan, penyerah piutang wajib menyampaikan secara tertulis dengan alasan keberatan disertai data atas penilaian yang masih berlaku.
Persetujuan/penolakan atas penjualan terhadap jaminan hutang secara di bawah tangan ditetapkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak surat