REKOMENDASI PENELITIAN
3. Aplikasi Hasil Penelitian 1 Air
3.3 Jasa Wisata
Manfaat jasa wisata dari kawasan hutan di Provinsi Jawa Tengah sudah cukup baik, sebab dengan luas hutan wisata 384.85 ha atau sekitar 0.05% dari luas kawasan hutan pada 16 lokasi mampu memberikan output senilai Rp 83.05 milyar atau sekitar 3.5% dari output hasil hutan senilai Rp 2.45 triliun.
Sumbangan jasa wisata hutan tersebut pada perhitungan pendapatan provinsi, oleh Badan Pusat Statistik dimasukkan sebagai penerimaan sub sektor hiburan dan jasa lainnya sesuai dengan standard klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia. Kontribusi sektor tersebut dalam pembentukan pendapatan regional sebesar Rp 3.7 miliar. Besar pendapatan tersebut merupakan penjumlahan dari balas jasa faktor produksi tenaga kerja sebesar Rp 55 miliar, kapital Rp 20 miliar dan pajak tidak langsung neto Rp 10 miliar.
Nilai sumbangan jasa wisata hutan relatif kecil dibanding hasil produk lain misalnya kayu maupun non kayu, tetapi biaya pengelolaannya relatif kecil. Kecilnya nilai sumbangan jasa wisata hutan juga disebabkan kecilnya tarif karcis masuk kawasan hutan wisata tersebut. Bahkan tarif karcis masuk di beberapa tempat wisata hutan misalnya kali urang, guci dan sebagainya masih nol rupiah. Tarif masuk hanya dikenakan pada sarana permainan yang ada di dalam hutan wisata tersebut. Nilai terbesar dari jasa hutan wisata di
Jawa Tengah adalah Hutan Wisata Grojokan Sewu di Kabupaten Karanganyar yang memberikan output sebesar Rp 9.6 juta/ha/tahun. Angka tersebut diperoleh dari penelitian Bahruni (1993).
Penyebaran lokasi wisata dan nilai jasa wisata di Provinsi Jawa Tengah sebagaimana Tabel 40. Pada tabel tersebut terlihat bahwa kabupaten -kabupaten Cilacap, Sragen, Karanganyar, dan Semarang mempunyai hasil jasa wisata hutan yang cukup besar.
Tabel 40. Nilai Jasa Wisata di Beberapa Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003
No Kabupaten Luas hutan wisata (ha)
Nilai Jasa Wisata ( juta Rp)
1 Cilacap 126.2 784.47
2 Wonogiri 8.3 14.81
3 Karanganyar 64.3 4 413.32
4 Sragen 103.9 222.43
5 Blora 55.4 4.20
6 Rembang 62.2 170.31
7 Jepara 63 2 437.07
8 Semarang 18.3 97.10
9 Kendal 33.2 6.07
10 Batang 80.1 38.14
12 Pemalang 52.1 15.99
13 Tegal 8.7 5.39
14 Brebes 48.5 11.42
15 Magelang 18.3 29.64
Jumlah 384.85 8 340.89
Lebih lanjut bahwa peran kehutanan dalam memberikan jasa lingkungan khususnya jasa wisata sangat potensiil dan berkembang dalam menggerakkan perekonomian apabila dikelola dengan tepat. Arah perkembangan ekonomi yang dibentuk oleh sektor wisata hutan erat kaitannya dengan adanya bentang alam yang indah dan khas yang tern ah habis dikonsumsi. Peran jasa wisata tidak menghasilkan langsung begi kehutanan, tetapi justru sangat penting bagi daerah maupun nasional secara lebih luas. Dimasa depan, jasa wisata hutan akan menjadi primadona untuk penghasil devisa, maka peran kehutanan menjadi amat setrategis bagi perkembangan eknomi makro dan juga bagi ekonomi mikro di daerah dan di sekitar obyek wisata hutan tersebut. Dengan demikian, kehutanan tidak hanya berkaitan dengan ekonomi perkayuan saja,
tetapi lebih jauh menjangkau berbagai sistem ekonomi, sosial dan budaya yang beranekaragam, serta juga merupakan potensi untuk pengembangan ilmu dan teknologi.
3.4 Erosi
Nilai ekonomi penggantian adanya pengurangan kapasitas hutan direfleksikan dari nilai erosi, yang dihitung berdasarkan biaya penggantian erosi yang telah dilakukan oleh Magrath (1989). Hasil perhitungan Magrath (1989) tersebut, bahwa nilai penggantian erosi di Jawa Tengah sebesar 4 % dari nilai usaha tani lahan kering. Angka 4% tersebut akan berdampak sangat berpengaruh sebab dengan 3 (tiga) musim panen dalam setahun maka secara komulatif akan menjadi lebih besar.
Berdasarkan data pada BPDAS Jratunseluna Semarang luas lahan kering di Provinsi Jawa Tengan tahun 2003 seluas 526368.40 ha. Selanjutnya berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jawa Tengah tahun 2003, diketahui produksi gabah lahan kering rata-rata sebesar 2500 kg/ha dan harga gabah sebesar Rp 1700/kg. Dengan menggunakan rumus tersebut di atas didapatkan nilai kerugian akibat erosi Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 8.95 trliun.
Rincian kerugian erosi per Kabupate/Kota sebagaimana Lampiran 5.
Erosi terjadi diseluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah baik di dalam kawan hutan maupun di kawasan-kawasan lain antara lain pertanian, perkebunan, pertambangan, perumahan dan sebagainya. Berdasarkan luas lahan kritis disetiap wilayah serta tingkat kekritisannya makan nilai kerugian erosi tersebut sebagaimana Tabel 41.
Kawasa kehutanan, pertanian secara luas, dan pertambangan dan galian penyumbang terbesar terjadinya erosi. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa ketiga kawasan tersebut terdapat pembukaan lahan baik yang resmi maupun illegal. Penebangan. Pembukaan lahan secara resmi misalnya tebangan tahunan, pembuaatan kebun dan ladang, galian C dan sebagainya. Sedangkan pembukaan lahan yang illegal antara lain perambahan hutan, penebangan liar, galian liar dan sebagainya. Sementara itu kawasan perumahan yang cukup besar mengakibatkan erosi adalah pembukaan lahan untuk perumahan, dan pengurugan lahan.
Tabel 41. Nilai Kerugian Erosi untuk Setiap Kawasan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003.
No Kawasan Luas Lahan Kritis (Ha)
Nilai Kerugian Erosi (Juta Rp)
1 Kehutanan 722 2 131 970
2 Pertanian 67 287 836
3 Perkebunan 50 226 844
4 Pertambangan dan galian
48 6 268 938
5 Peternakan 37 169 197
6 Perumahan 48 519 363
7 Industri 82 103 776
8 Lain-Lain 102 8 948 263
Berdasarkan Lampiran 5 sebanyak 29 kabupaten/kota dari seluruh kabupaten/kota (35 kabupaten/kota) di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan kapasitas hutan akibat erosi. Penurunan kapasitas hutan akibat erosi di kabupaten -kabupaten tersebut relatif besar yaitu nilai ekonominya (kerugiannya) di atas Rp 40 milyar. Bahkan. untuk kabupaten-kabupaten Purbalingga. Banjarnegara. Kebumen, Purworejo, Karanganyar, Sragen, Pati.
Semarang, Pekalongan, menanggung nilai kerugian akibat erosi di atas Rp 300 milyar per tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi hutan dan lahan wilayah Provinsi Jawa Tengah sudah sangat rawan terhadap bahaya erosi.
Bahaya erosi sudah dirasakan oleh masyarakat Provinsi Jawa Tengah maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagai gambaran jelas yaitu bahaya erosi akan mempengaruhi langsung produktivitas padi. Hal tersebut dibuktikan dari catatan BPS Jawa Tengah ( 2004), bahwa sejak tahun 1998 hingga 2003 produktivitas padi dari lahan kering sebesar 25.3 kuintal per hektar cenderung turun 5.34 % per tahun. Sehingga pada tahun 2003 produksi padi di provinsi tersebut turun 7.17 %. Hal tersebut tentunya akan berdampak kepada perekonomian wilayah mengingat hasil padi Provinsi Jawa Tengah adalah komoditi strategis dan sekaligus andalan bagi penyangga pangan nasional.
Dampak erosi akan mengancam kondisi sosial ekonomi masyarakat di Pulau Jawa. Daerah atas (up land) telah menerawang terang tanpa pepohonan yang rimbun. sehingga ketika hujan turun, air dari perbukitan mengalir deras
membawa lumpur. batuan dan humus yang tidak dapat diserap lagi oleh tanah.
Lahan menjadi miskin hara dan produktivitas tanaman pangan menurun.