REKOMENDASI PENELITIAN
3. Aplikasi Hasil Penelitian 1 Air
7.1 Simulasi Kebijakan
Terdapat 2 (dua) skenario kebijakan yang dipergunakan dalam melakukan simulasi. Pertama, upaya mengeliminir kebocoran pendapatan yang berasal dari illegal logging, illegal trading, kehilangan nilai tambah, dan efektifitas kelembagaan. Kebijakan tersebut telah dijadikan program proritas Departemen Kehutanan selaku penanggung jawab yang didukung oleh instansi terkait, baik penegak hukum maupun pelaksana pengelolaan hutan. Kebijakan pertama tersebut dapat dihapuskan sama sekali karena bersifat manusiawi. Penghapusan aktivitas illegal tidak mungkin dapat dilaksanakan dalam waktu sesaat, melainkan perlu dilakukan secara bertahap yang diperkirakan dapat tuntas selama 5 tahun.
Sehingga simulasi dapat dilakukan dengan memberikan besaran pada tingkat 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%. Kebocoran illegal logging, illegal trading, kehilangan nilai tambah, dan efektifitas kelembagaan lebih lanjut dalam bahasan ini disebut Kebocoran Manusiawi. Upaya eliminasi pada tingkat 0% maksudnya bahwa kebijakan penanggulangan kebocoran tersebut sama sekali tidak efektif.
Dan sebaliknya, jika upaya eleminasi mencapai 100% berarti tidak terjadi illegal logging, illegal trading, kehilangan nilai tambah, dan kelembagaan sangat efektif.
Kedua , skenario kebijakan pengurangan laju erosi. Skenario kebijakan ini dilatarbelakangi adanya upaya pemerintah untuk melakukan reboisasi dan rehabilitasi hutan dan lahan yang mempunyai target 3 juta ha selama 5 tahun sejak tahun 2003. Meskipun seandainya terget reboisasi dan rehabilitasi lahan terealisir 100% tetapi laju erosi tidak dapat langsung berkurang hingga 0% tetapi mungkin hanya akan turun 5%, 10%, 15% atau maksimum 20%. Oleh karena itu simulasi pengurangan erosi dan deforerstasi yang dapat diajukan pada angka-angka tersebut.
Kebocoran manusiawi pada tingkat 0% artinya hasil illegal logging, illegal trading, kehilangan nilai tambah, dan efektifitas kelembagaan yang masuk dalam perekonomian dengan kata lain bahwa kebocoran tersebut sama sekali tidak terdapat kebocoran. Sebaliknya Kebocoran manusiawi pada tingkat 100%
artinya seluruh hasil illegal logging, illegal trading, kehilangan nilai tambah, dan
efektifitas kelembagaan masuk dalam perekonomian tidak dapat diatasi.
Sedangkan simulasi penanggulangan kebocoran pendapatan akibat erosi pata tingkat 0% berarti efektifitas pengurangan erosi tidak berhasil. Dan sebaliknya simulasi pada tingkat tertinggi sebesar 20% berarti efektifitas pengurangan erosi dapat berhasil 20% dari kondisi saat ini. Oleh karena itu pada simulasi kebocoran ini dapat dibuat 4 (empat) skenario yaitu 5%, 10%, 15%, dan 20%. Hasil perhitungan skenari-skenario tersebut sebagaimana Tabel 56 dan Tabel 57.
Tabel 56. Hasil Simulasi Penaggulangan Kebocoran Pendapatan Sektor Kehutanan Terhadap Output di Provinsi Jawa Tengah
( Juta Rp) Dampak Total
Skenario Uraian
Transfer Open loop Close Loop
Perubahan
Tabel 57. Hasil Simulasi Penaggulangan Kebocoran Pendapatan Sektor Kehutanan Terhadap Rumahtan gga Kehutanan di Jawa Tengah
( Juta Rp) No. Skenario
Kebijakan
Rumahtangga Buruh Kehutanan
Rumahtangga Pengusaha Kehutanan
Rumahtangga Lainnya
Total
1 Skenario 1 - 2 552.5 - 11 315.5 - 197 686.8 - 211 544 .8 2 Skenario 2 240.0 402.6 52 814.6 53 457.2 3 Skenario 3 479.9 805.2 105 629.2 106 914.3 4 Skenario 4 719.9 1 207.8 158 443.8 160 371.5 5 Skenario 5 959.9 1 610.4 211 258.3 213 828.7 6 Skenario 6 1 987.1 3 408.1 576 996.0 582 391.3 7 Skenario 7 3 974.3 6 816.2 1 153 992.1 1 164 782.6 8 Skenario 8 5 961.4 10 224.3 1 770 988.2 1 747 173.8 9 Skenario 9 13 632.3 13 632.3 2 307 984.2 2 329 565.1
Berdasarkan hasil simulasi tersebut pad a Tabel 56 dan Tabel 57 di atas secara umum dapat dijelaskan bahwa kebijakan menghapus sama sekali kegiatan illegal kehutanan pada jangka pendek akan berdampak penurunan output di tingkat wilayah dan juga penurunan pendapatan di tingkat rumah tangga. Hal ini terjadi karena kegiatan illegal kehutanan di Provinsi Jawa Tengah mempunyai kaitan yang sangat luas dengan sektor-sektor lain maupun berbagai faktor produksi maupun institusi rumah tangga, swasta, pemerintah sebagaimana telah diuraikan pada Sub Bab te rdahulu (foward backward lingkage dan analisis alur struktural). Disamping itu kaitan tersebut khususnya. Dengan demikian perubahan aktivita illegal kehutanan akan berpengaruh langsung terhadap output maupun pendapatan.
Lebih lanjut berdasarkan hasil simulasi tersebut juga dapat diketahui bahwa rumah tangga buruh hanya menikmati hasil kegiatan illegal kehutanan lebih kecil dibanding rumah tangga pengusaha pada seluruh ringkatan skenario. Oleh karena itu jika dilakukan kegiatan penghapusan kegiatan illegal tersebut maka yang paling besar penurangan pendapatan adalah rumah tangga pengusaha. Meskipun demikian karena rumah tangga buruh kehutanan pada umumnya tidak memiliki tabungan sebagaimana rumah tangga pengusaha maka buruh kehutanan tersebut akan paling merasakannya. Penjelasan secara rinci masing-masing skenario dapat diuraikan pada point-point sub bab berikut.
7.1.1 Penaggulangan Kebocoran Manusiawi pada Tingkat 0%
Hasil penghitungan menunjukan bahwa penekanan kegiatan illegal dan kehilangan nilai tambah akan mempengaruhi permintaan terhadap output sektor produksi yang lain. Penjumlahan dari effek transfer, open loop dan close loop merupakan effek total dari pengaruh penghapusan kegiatan ilegal dan kehilangan nilai tambah sampai 0 %. Dampak dari penghilangan tersebut akan menyebabkan output seluruh sektor akan berkurang sampai Rp 492.78 miliar. Dengan menghapuskan kegiatan illegal tersebut secara makro keonomi berdampak kepada pengurangan pendapatan. Oleh karena itu kebijakan menekan kegiatan illegal sampai 0% pada jangka pendek akan akan berdampak negatif bagi perekonomian wilayah. Oleh karena itu penghapusan kegiatan illegal harus dilakukan secara bertahap.
Lebih lanjut berdasarkan hasil simulasi penanggulangan kegiatan illegal hingga 0% sebagaimana Lampiran 23, dapat diketahui bahwa sektor produksi yang paling banyak di pengaruhi pengeluarannya adalah sektor listrik dan gas, dan industri pengolahan kayu yang masing -masing mengalami pengurangan permintaan output sampai sekitar Rp 26.6 miliar dan Rp 13.6 miliar. Dengan demikian penghilangan kegiatan illegal sektor kehutanan terkait dengan konsumsi listrik, gas, dan juga pasokan bahan baku industri perkayuan.
Menurunnya permintaan output sektor produksi menyebabkan produksi yang dilakukan oleh setiap sektor juga berkurang. Dampak selanjutnya, pemakaian faktor produksi untuk kegiatan produksi juga menjadi berkurang, yang pada akhirnya akan mempengaruhi besar balas jasa yang diperoleh oleh faktor produksi. Gambaran tersebut terlihat, bahwa balas jasa yang d iperoleh oleh tenaga kerja buruh kasar, operator alat angkut dan operator manual penerima upah/gaji turun sampai Rp 23.5 miliar. Kemudian balas jasa kelompok tenaga kerja lainnya yang cukup besar berkurang balas jasanya adalah tenaga kerja kehutanan bukan penerima upah/gaji (Rp 19.3 miliar) dan tenaga kerja buruh kasar, operator alat angkut dan operator manual bukan penerima upah/gaji (Rp 13.7 miliar).
Sedangkan modal, balas jasanya berkurang Rp 83.4 miliar.
7.1.2 Penaggulangan Kebocoran Manusiawi pada Tingkat 25%
Hasil penghitungan menunjukan bahwa apabila dari kegiatan illegal hanya terjadi sebanyak 25 persen dari kondisi saat ini sebagaimana Lampiran 24, akan meningkatkan output sektor sebesar Rp. 85.19 miliar. maka sektor produksi yang langsung memperoleh peningkatan output adalah sektor industri pengolahan kayu, sekitar Rp 6.6 miliar. Kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar Rp 5.5 miliar, sektor industri makanan dan minuman sebesar Rp 4.1 miliar dan sektor industri migas sebesar Rp 3,2 miliar. Lebih lanjut faktor produksi akan mendapatkan tambahan output Rp 58.91 miliar dan institusi rumah tangga mendapatkan tambahan output sebesar Rp 65.61 miliar. Berdasarkan kenyataan tersebut maka kegiatan illegal sektor kehutanan mendorong kehidupan industri pengolahan kayu, perdagangan, makanan dan minuman serta migas. Hal tersebut dapat dipahami bahwa industri pengolahan kayu di Jawa Tengah banyak tergantung dengan kegiatan illegal kehutanan, sebab secara regional pemanfaatan kapasitas terpasang industri pengolahan kayu lebih besar dibanding tingkat produksi resmi kayu bahan baku. Sehingga terjadi over demand kayu. Oleha karena itu kegiatan illegal kehutanan sulit diberantas karena aktivitasnya didorong oleh sektor-sektor lain.
7.1.3 Penaggulangan Kebocoran Manusiawi pada Tingkat 50%
Hasil penghitungan menunjukan bahwa apabila dari kegiatan illegal hanya terjadi sebanyak 50 persen dari kondisi saat ini sebagaimana Lampiran 25, akan meningkatkan output sektor kehutanan sebesar Rp. 170.37 miliar. maka sektor produksi yang langsung memperoleh peningkatan output adalah sektor industri pengolahan kayu sekitar Rp 13.20 miliar. Kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar Rp 6.32 miliar, sektor industri makanan dan min uman sebesar Rp 8,30 miliar dan sektor industri migas sebesar Rp 3,7 miliar. Lebih lanjut faktor produksi akan mendapatkan tambahan output Rp 117.83 miliar dan institusi rumah tangga mendapatkan tambahan output sebesar Rp 131.21 miliar. Berdasarkan hal tersebut maka ada kecenderungan kenaikan output tenaga kerja maupun institusi rumah tangga yang lebih besar dibanding