REKOMENDASI PENELITIAN
4.4. Metode Aplikasi Hasil Valuasi Sektor Kehutanan
Metode aplikasi atau penerapan hasil valuasi sektor kehutanan (18 sub sektor) menggunakan 3 (tiga) pendekatan, yaitu pertama , penggunaan langsung data sekunder untuk sub sektor yang telah lengkap jumlah dan nilainya. Data sekunder langsung tersebut antara lain nilai kayu, non kayu, jasa wisata, dan industri primer kehutanan yang bersumber dari BPS Provinsi Jawa Tengah, Kedua , proksi dari data sekunder yang terkait dengan sub sektor yang akan dimasukkan dalam perhitungan pendapatan yaitu rehabilitasi hutan, kehilangan nilai tambah, illegal trading, dan efektifitas kelembagaan kehutanan serta deforestasi dan illegal logging. Ketiga, penerapan hasil valuasi nilai manfaat ekonomi hutan dari penelitian sebelumnya terutama yang berlokasi di Pulau Jawa.
Penerapan hasil penelitian tersebut antara lain manfaat air, udara bersih, manfaat langsung ke masyarakat, keberadaan atau pilihan hutan dan erosi.
Pendekatan pertama dan kedua dilakukan dengan pengumpulan data sekunder. Sedangkan pendekatan ketiga yaitu penerapan hasil valuasi nilai manfaat ekonomi hutan dari penelitian sebelumnya yang kemudian dilakukan pembuatan formula dengan faktor koreksi sesuai metode penelitian yang
bersangkutan. Faktor koreksi didapatkan dari data sekunder. Pendekatan -pendekatan tersebut dapat dijelaskan pada uraian berikut.
4.4.1 Pemanfaatan Air
Nilai manfaat air dari kawasan hutan di Provinsi Jawa Tengah adalah penjumlahan dari nilai manfaat air dari hutan lindung dan hutan produksi, hutan Taman Nasional dan hutan rakyat yang dirumuskan sebagai berikut :
NAht = NAhlp + NAhtn + NAhrt……….……. (3)
dimana :
NAht NAhlp NAhtn NAhrt
: : : :
Total nilai manfaat air dari kawasan hutan
Nilai manfaat air dari kawasan hutan lindung dan produksi Nilai manfaat air dari kawasan hutan Taman Nas ional.
Nilai manfaat air dari hutan rakyat.
Nilai pemanfaatan air dari kawasan hutan lindung dan hutan produksi menggunakan hasil penelitian Supriyadi (1997). Hasil penelitian tersebut antara lain sebagai berikut :
a. Nilai total air dari hutan lindung dan hutan produksi adalah sebesar Rp. 54.5 milyar/tahun dari kawasan hutan seluas 76 273.19 hektar di kabupaten dengan jumlah penduduk sebanyak 3.3 juta jiwa.
b. Kontribusi sektor hutan lindung dan hutan produksi terhadap total produk domestik regional bruto (PDRB) sebesar 0.48% di wilayah ekonomi Kabupaten Bandung.
Pendekatan yang dipergunakan pada penelitian tersebut adalah nilai kesediaan untuk membayar (willingness to pay/WTP) air yang dihasilkan dari kawasan hutan dengan metode kontingensi. Sebagaimana Sanim (2003), WTP mempresentasikan kurva demand, maka secara alamiah besarnya nilai air tersebut ditentukan oleh kesediaan masyarakat untuk membayar konsumsi air dan kuantitas hutan (dalam hal ini luas hutan). Tingkat konsumsi air ditentukan oleh banyaknya konsumen yang tidak lain adalah penduduk suatu wilayah. Semakin padat atau banyak masyarakat maka konsumsi air cenderung makin meningkat dan harga air akan semakin tinggi. Oleh karena itu untuk digunakan di tempat lain, maka hasil penelitian Supriyad i (1997) tersebut perlu diberikan koreksi jumlah penduduk dan luas kawasan hutan. Berdasarkan hasil di atas maka nilai
manfaat air dari kawasan hutan lindung dan produksi Jawa Tengah sebagai
Nilai manfaat air dari kawasan hutan lindung dan produksi Luas hutan lindung dan hutan produksi di kabupaten ke-i Jumlah kab. yang memiliki hutan lindung dan produksi Produk domestik regional bruto kabupaten
Jumlah penduduk di kabupaten ke-i
Sedangkan nilai manfaat air dari kawasan hutan Taman Nasional menggunakan hasil penelitian Darusman (1993) yang dilakukan di Taman Nasional Gede Pangrango. Hasil penelitian memperlihatkan nilai total manfaat air dari Taman Nasional sebesar Rp 280 juta/ha/tahun. Pendekatan penelitian tersebut menggunakan metode kontingensi individu yang dituangkan dalam kurva permintaan (demand ) air. Permintaan tersebut diturunkan dari pernyataan preferensi individu untuk bersedia membayar air yang berasal dari kawasan Taman Nasional Gede Pangrango. Pernyataan preferensi individu tersebut diperoleh dari survey dengan menggunakan kuesioner. Oleh karena penelitian tersebut sudah menggambarkan nilai air dalam satuan luas dan tahun di Pulau Jawa, maka untuk digunakan di tempat lainnya di Pulau Jawa memerlukan koreksi jumlah penduduk. Oleh karena itu dengan koreksi jumlah penduduk maka nilai manfaat air dari kawasan hutan Taman Nasional Jawa Tengah adalah : ……..………….. (5)
Nilai manfaat air dari kawasan Taman Nasional Luas kawasan Taman Nasional di Kabupaten ke-i Kabupaten ke-i
Jumlah Kab. yang memiliki Taman Nasional.
Jumlah penduduk kabupaten ke-i n Gi
Selanjutnya nilai manfaat air dari hutan rakyat diproksi dari nilai manfaat air hutan produksi dengan faktor koreksi sebesar 50%. Faktor koreksi tersebut ditetapkan dengan asumsi bahwa kerapatan hutan rak yat di Pulau Jawa hanya sekitar 50 % dari kerapatan hutan produksi. Oleh karena itu nilai manfaat air dari hutan rakyat Jawa Tengah adalah sebagai berikut:
NAhrt = 50 % X NAhlp ...
dimana : NAhrt NAhlp
: :
Nilai manfaat air dari hutan rakyat Nilai manfaat air dari hutan produksi
4.4.2 Pemanfaatan Hasil Hutan Langsung Oleh Masyarakat
Nilai pemanfaatan hasil hutan langsung oleh masyarakat (kayu bakar dan makanan ternak) di Pulau Jawa telah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda (Yogasara,2000). Kayu bakar dan makanan ternak tersebut diambil langsung oleh masyarakat dari kawasan hutan tanpa dikenakan pembayaran. Hal tersebut terjadi karena sifat keberadaan hutan yang terbuka bagi masyarakat di dalam dan disekitar hutan. Hasil penelitian Tatuh (1992) antara lain ditemukan fakta bahwa 82.5% penduduk didalam dan disekitar hutan di Pulau Jawa mengkonsumsi kayu bakar dari hutan, dan 66.9% penduduk tergantung rumput dan daun-daunan dar i hutan untuk makanan ternak. Kebutuhan makanan ternak bagi masyarakat pedesaan di Pulau Jawa sebesar 3 300 kg/KK/tahun. Selanjutnya berdasarkan survey kayu bakar tahun 1985 Departemen Kehutanan (2003) menunjukkan tingkat konsumsi kayu bakar masyarakat pedesaan di dalam dan di sekitar hutan di Pulau Jawa sebesar 1 050 kg/KK/tahun. Oleh karena penelitian dan survey tersebut dilakukan di Pulau Jawa maka dapat digunakan untuk Provinsi Jawa Tengah. Dengan demikian nilai manfaat langsung hutan ke masyarakat dapat dirumusnya sebagai berikut :
...………...
dimana:
Nhhlm PKKsh
: :
Nilai manfaat hasil hutan langsung oleh masyarakat Jumlah KK sekitar hutan di Jaw a Tengah
Nhhlm = (82.5 % x PKKsh x CKB x PK B) + (66.9 % x PKKsh ) x CM K x PMK)
(6)
(7)
CKB
CMK PKB PMK
: : : :
Konsumsi kayu bakar per KK Konsumsi makanan ternak per KK Kayu bakar
Makanan ternak
4.4.3 Penggantian Kegiatan Deforestasi
Nilai ekonomi penggantian kegiatan deforestasi (konversi hutan, perambahan hutan, dan kerusakan lahan hutan yang lain) menggunakan hasil perhitungan Perum Perhutani Jawa Tengah (data sekunder).
4.4.4 Penggantian Pengurangan Kapasitas Hutan ( Nilai Erosi)
Nilai ekonomi penggantian adanya pengurangan kapasitas hutan yang direfleksikan dari nilai erosi, dihitung berdasarkan biaya penggantian erosi. Nilai penggantian erosi tersebut telah dilakukan oleh Magrath (1989). Hasil perhitungan Magrath (1989) tersebut antara lain nilai penggantian erosi di Jawa Tengah sebesar 1% untuk on site dan 4% untuk off site dari nilai usaha tani lahan kering. Oleh karena erosi terjadi di hampir seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah maka nilai penggantian erosi tersebut lebih tepat sebesar 4% dari nilai usaha tani lahan kering. Apabila hasil usaha tani tersebut berupa padi, maka penghitungan nilai erosi di Provinsi Jawa Tengah dapat dirumuskan sebagai berikut:
………....
dimana :
NEht : Nilai pengganti erosi kawasan hutan/ tahun Llk
Ylk Plk
: : :
Luas lah an kering
Produksi padi rata-rata lahan kering (ton/ha/tahun) Harga rata-rata padi (Rp/ton)
4.4.5 Penggantian Kegiatan Illegal Logging.
Nilai penggantian kegiatan illegal logging di Jawa Tengah menggunakan data sekunder yaitu laporan Perum Perhutani Jawa Tengah (data sekunder).
NEht = 4% x Llk x Ylk x Plk (8)
4.4.6 Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Total nilai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di Provinsi Jawa Tengah diproksi dari jumlah anggaran instansi kehutanan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan penghijauan yang telah berlangsung sejak tahun 2003. Total nilai tersebut dihitung berdasarkan jumlah anggaran rata-rata per tahun yang ada di seluruh instansi kehutanan di daerah ( BPDAS, BKSDA, Perum Perhutani) untuk kegiatan reboisasi dan penghijauan.
4.4.7 Penyediaan Udara Bersih
Penentuan nilai karbon dalam penelitian ini difokuskan pada hutan primer (lindung, wisata, taman nasional dan konservasi) dan hutan sekunder (hutan produksi/areal kerja Perum Perhutani). Produksi udara bersih (O2) menggunakan hasil penelitian Kirsfianti (2004), yaitu. rata-rata sebanyak 41.6 ton/ha/tahun atau pada kisaran produksi 19.2 – 85.7 ton/ha/tahun. Penelitian tersebut dilakukan pada kawasan hutan campuran (agroforestry) di wilayah DAS Citanduy Kabupaten Ciamis dan Tasik Malaya Jawa Barat. Kemampuan produksi udara bersih tertinggi pada kawasan hutan primer, sedangkan produksi rara-rata pada hutan sekunder. Oleh karena penelitian tersebut dilakukan di Jawa Barat yang lokasinya relatif sama dengan Jawa Tengah, produksi udara bersih hasil penelitian tersebut dapat digunakan untuk menduga produksi udara bersih di Jawa tengah.
Untuk nilai karbon digunakan pendekatan harga karbon yang berlaku di pasar international yaitu sebesar Rp 18 000 per ton (Kompas 18 September 2004).
Penentuan nilai udara bersih di Jawa Tengah dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :
NUBht = ({Lp x Kcp} +{Ls x Kcs}) x Hc ... ....
dimana : NUBht
Lp Ls
: : :
Nilai penyediaan udara bersih (Rp) Luas hutan primer (hektar) Luas hutan sekunder (hektar)
(9)
Kcp Kcs Hc
: : :
Kemampuan produksi udara bersih hutan primer (ton/ha) Kemampuan produksi udara bersih hutan sekunder (ton/ha) Harga udara bersih (Rp per ton)
4.4.8 Kehilangan Nilai Tambah
Nilai ekonomi dari kehilangan nilai tambah adalah nilai penggantian dari selisih harga jual hasil hutan olahan dengan harga jual hasil hutan asalan. Untuk sektor ini terbatas pada hasil hutan kayu. Bersarnya kehilangan nilai tambah dihitung berdasarkan jumlah kayu hasil hutan Jawa Tengah yang yang tidak diolah di provinsi sendiri dikalikan faktor nilai tambah hasil penelitian Darusman (1989).
4.4.9 Nilai Keberadaan, Pilihan, dan Pelestarian
Nilai ekonomi keberadaan, pilihan, dan pelestarian untuk seluruh kawasan hutan di Jawa Tengah menggunakan dasar hasil penelitian Widad a (2004).
Metode yang dipergunakan pada penelitian tersebut kontingensi, yaitu kepada individu-individu secara langsung ditanyakan tentang kesediaan mereka membayar untuk barang dan jasa yang diperoleh dari keberadaan sumberdaya hutan. Menurut Sanim (2003), metode kontingensi sangat tepat untuk barang dan jasa lingkungan kawasan hutan yang tidak ada pasar yang relevan. Dengan pertimbangan lokasi di Pulau Jawa dan metodenya cukup tepat, maka hasil penelitian tersebut dapat dipergunakan di Provinsi Jawa Tengah dengan memasukkan faktor koreksi luas dan jumlah penduduk. Rumus perhitungan tersebut :
...
dimana : NKPPht Lht
Wit
: : :
Nilai pelestarian, pilihan, dan keberadaan (Rp) Luas hutan Jawa Tengah (hektar)
Jumlah penduduk Jawa Tengah (orang) Lht Wjt
NKPPht = x x Rp 8.07 miliar
38 175 ha 2 892 orang (10)
4.4.10 Efisiensi Kelembagaan
Nilai efisiensi atau efektifitas kelembagaan diproksi dari nilai efisiensi atau surplus usaha sektor kehutanan di Jawa Tengah yaitu prosentase selisih total biaya produksi dengan nilai produk yang dihasilkan. Nilai prosentase tersebut dikalikan PDRB maka akan didapat nilai efisiensi kelembagaan.
4.4.11 Moral Hazard yang Berupa Illegal Trading
Nilai ekonomi moral hazard yang berupa illegal trading yaitu transaksi ilegal pada penyelenggaraan pengelolaan sumberdaya hutan di Provinsi Jawa Tengah diproksi dari nilai ekonomi dari perbedaan atau selisih produksi hasil hutan dengan yang diedarkan/diolah dan stock dikalikan harga yang berlaku.
Besarnya sub sektor hasil kayu, hasil non kayu, jasa wisata dan industri primer kehutan digunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut telah tersedia pada Tabel Input-Output Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003.