PASAR BARANG
2.4 Konsep Nilai Ekonomi Sumberdaya Hutan
Menurut Davis dan Johnson (1987), nilai merupakan persepsi seseorang, yaitu harga yang diberikan terhadap sesuatu pada waktu dan tempat tertentu.
Ukuran harga dapat ditentukan oleh waktu, barang, atau uang yang akan dikorbankan seseorang untuk memiliki, menggunakan atau mengkonsumsi suatu barang atau jasa yang diinginkannya. Adapun penilaian adalah kegiatan yang
berkaitan dengan pembangunan konsep dan metodologi untuk menduga nilai barang atau jasa. Selanjutnya menurut Tietenberg (1992), nilai yang diberikan terhadap sesuatu atau komoditas, pada dasarnya ditentukan oleh kesediaan individu membayar (willingness to pay) untuk jumlah dan kualitas dari komoditas tertentu yang lazim diukur dengan nilai uang dalam transaksi kegiatan ekonomi atau harga pasar. Nilai tersebut mencerminkan besarnya korbanan yang setara dengan utilitas yang diterima. Adanya variasi tingkat kemakmuran menyebabkan adanya perbedaan antara harga pasar dengan konsumer surplus, maka total nilai ekonomi untuk barang dan jasa sumberdaya hutan, termasuk air yang umumnya tidak mempunyai harga pasar, sarat dengan ketidak pastian dan bersifat publik goods, adalah merupakan total willingness to pay.
Pengertian nilai ekonomi sumberdaya hutan berdasarkan nilai kesediaan untuk membayar (willingnes s to pay) pada dasarnya mempresentasikan kurva demand. Artinya, pengelola sumberdaya hutan akan bersedia memberikan nilai atau harga atas hasil hutan yang diambilnya. Oleh karena pada eksploitasi sumberdaya hutan akan menimbulkan kerusakan lingkungan maka nilai willingness to pay akan semakin tinggi jika kerusakannya semakin besar.
Sementara itu masyarakat yang bersedia menanggung resiko atas kerusakan sumberdaya hutan akan menerima nilai ekonomi (willingness to accept) yang mempresentasikan kurva supp ly. Dengan demikian kondisi optimum dalam pengelolaan sumberdaya hutan terjadi pada saat nilai willingness to pay (WTP) sama dengan willingness to accept (WTA). Secara grafis nilai willingness to pay dan willingness to accept tersebut dapat diilustrasikan sebagaimana Gambar 4.
Pengertian nilai ekonomi menurut konsep ekonomi bahwa kegunaan, kepuasan atau kesenangan yang diperoleh individu atau masyarakat tidak terbatas kepada barang dan jasa yang diperoleh melalui jual beli (transaksi) saja, tetapi semua barang dan jasa yang memberikan manfaat akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat tersebut. Oleh karena itu terdapat dua pengertian nilai ekonomi, yaitu nilai guna dan nilai korbanan. Nilai guna adalah nilai dari barang dan jasa berdasarkan kegunaannya yang memiliki kualitas tertentu dalam memberi kepuasan (utility) baik secara langsung maupun tidak langsung. Nilai ini tidak dipengaruhi oleh tingkat kelangkaan (supply) maupun permintaan (demand), dan
tidak bisa diukur dengan harga pasar. Sedangkan nilai korbanan adalah nilai menurut kemampuan barang yang diukur berdasarkan besarnya pengorbanan untuk memperolehnya barang tersebut Oleh karena itu nilai korbanan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh utility dan kelangkaannya, tetapi juga oleh tingkat permintaan dan harga pasar (Pindyck and Rubinfeld, 2001).
Nilai ekonomi merupakan salah -satu ukuran yang sering dijadikan dasar dalam analisis, namun ukuran ini sangat relatif tergantung kepada sifat barang, hubungan dengan barang lainnya, dan orang yang menilai. Nilai yang dapat diukur umumnya hanya didasarkan pada sebagian karakteristik yang terkait dengan keinginan atau preferensi seseorang. Dalam hal ini kemampuan seseorang untuk menilai sangat berkaitan dengan tingkat kemakmuran atau consumer surplus dan mekanisme kelembagaan yang mengatur interaksi berbagai keinginan (Young, 1992).
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan nilai barang dan jasa sumberdaya hutan secara financial, yaitu melalui pendekatan kurva demand dan non-kurva demand (Turner, et al, 1994). Pendekatan kurva demand dapat digunakan untuk mengukur tingakat kesejahteraan atau konsumer surplus dan mempunyai nilai positif. Sedangkan pendekatan non-kurva demand tidak
Harga (Rp)
Harga (Rp)
Jumlah (Q) Q Optimum
WTP WT
A
Gambar 4. Optimum Pengelolaan SDH Berdasarkan WTP dan WTA
mengukur tingkat kesejahteraan namun berguna sebagai informasi dalam pertimbangan pengambilan kebijaksanaan.
Nilai manfaat sumberdaya hutan sangat ditentukan oleh hubungan timbal balik antara subjek penilai (manusia) yang memiliki berbagai nilai, dengan objek yang dinilai. Nilai manfaat sumberdaya hutan dapat dibedakan kedalam nilai guna (use-value) dan bukan nilai guna (non-use-value) (Turner at al, 1994;
Young, 1992). Jumlah nilai keduanya merupakan total nilai ekonomi (total economic value) dari ekosistem hutan. Nilai guna mempunyai nilai positif yang dapat dihitung berdasarkan willingness to pay, sedang bukan nilai guna merupakan nilai yang diberikan seseorang terhadap sesuatu karena rasa simpatik dan atau penghargaan hak (right) atas hadirnya sesuatu yang sifatnya bukan manusia (impersonal), seperti hutan atau kehidupan liar, sebagai komponen ekosistem yang berfungsi mendukung kehidupan.
Menurut Davids and Johnson (1987), konsepsi nilai ekonomi sumberdaya hutan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu nilai pasar (market value), nilai kegunaan (value in use) dan nilai sosial (social value). Nilai pasar dihitung berdasarkan willingness to pay dari barang dan jasa hasil hutan. Nilai kegunaan hutan adalah nilai ekonomi sumberdaya hutan yang dihitung berdasarkan nilai vegetasi dan sekaligus lahannya. Nilai kegunaan tersebut dapat dihitung dengan 3 (tiga) cara yaitu: (1) nilai vegetasi dan lahan yang digunakan sekarang ataupun masa yang akan datang, (2) nilai jual vegetasi dan lahan pada harga pasar sekarang, dan (3) nilai kegunaan dari masing-masing pembelinya. Sedangkan nilai sosial dari sumberdaya hutan adalah besarnya nilai kontribusi kepada masyarakat akibat sumberdaya hutan merupakan barang publik. Nilai sosial tersebut bersifat komplek dan sulit untuk dikuantifikasikan. Oleh karena itu perlu adanya peraturan perundangan dari pemerintah untuk mengatur nilai sosial sumberdaya hutan tersebut.
Menurut Suparmoko (2000), nilai ekonomi sumberdaya hutan dapat dibedakan nilai atas dasar penggunaan (instrumental value) / (use value ) dan nilai yang terkandung di dalamnya (instrinsic value) / (non-use value). Nilai atas dasar penggunaan menunjukkan kemampuan hutan yang muncul apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau dieksploitasi. Sedangkan nilai yang terkandung
di dalam hutan adalah nilai yang melekat pada keberadaan hutan sendiri, misalnya pengatur cuaca, pengatur ata air, penghasil udara bersih, penyerap pencemaran udara, dan sebagainya. Selanjutnya use value dapat dipilah kembali menjadi nilai atas dasar penggunaan langsung (direct use value), nilai atas dasar penggunaan tidak langsung (indirect use value), nilai atas dasar pilihan penggunaan (option use value), dan nilai yang diwariskan (bequest value).
Lebih lanjut menurut Pearce (1993), nilai non use value dapat dibedakan menjadi nilai atas dasar keberadaannya (existence value), dan dasar warisan generasi sebelumnya (bequest value). Sebagai gambaran pembagian tersebut adalah keberadaan sumberdaya hutan yang dilestarikan dapat memenuhi kebutuhan rekreasi dan kesenangan lain (warisan) dan juga keberadaan hutan tersebut dapat memelihara sumberdaya hayati (biodiversity). Pemilahan nilai ekonomi tersebut di atas dapat dilihat pada Gambar 5.
2.5 Peran Nilai Ekonomi Sumberdaya Hutan dan Perekonomian Wilayah Nilai ekonomi sumberdaya hutan merupakan indikator yang berpengaruh terhadap kebijaksanaan, sikap dan tingkah laku semua pihak yang terlibat dalam pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya hutan (Supriadi, 1997). Penilaian ekonomi bukan suatu proses akhir tetapi mempunyai peran langsung dalam pengambilan kebijaksanaan perekonomian wilayah. Disamping itu nilai ekonomi sumberdaya hutan juga berperan dalam berbagai hal antara lain mengidentifikasi dan membandingkan antara biaya dengan keuntungan, sebagai informasi mengenai efisiensi investasi baik pada sektor pemerintah maupun swasta.
Pola interaksi antara nilai ekonomi dan kebijaksanaan perekonomian wilayah secara hipotetik disajikan dalam Gambar 6, dalam hal ini hutan dan pengelolaannya diasumsikan berada pada posisi supply yang berperan sebagai sektor ekonomi. Produk atau output yang dihasilkan menjadi input terhadap ekonomi yang menyebabkan : (1) berjalannya berbagai aktivitas produksi barang dan jasa, (2), terbukanya lapangan kerja dan (3) meningkatkan pendapatan pemerintah dan masyarakat. Dalam perekonomian wilayah, nilai tersebut diukur secara agregat sebagai nilai tambah yang menjadi ukuran nilai kontribusi terhadap pendapatan ekonomi wilayah (PDRB).
Sumber : Pearce (1993)
Lebih lanjut Supriadi (1997) menjelaskan bahwa dalam mekanisme pasar, tingkah laku supply ditentukan oleh nilai atau harga, kenaikan harga akan merangsang supply berkurang. Demikian pula karakter pengelola kawasan hutan mempunyai analogi bahwa upaya pelestarian hutan merupakan kebijaksanaan supply yang dipengauhi oleh harga atau nilai manfaat produknya, sehingga kebijaksanaan alokasi dana untuk pengelolaan hutan akan sangat dipengaruhi oleh besarnya nilai kontribusi atau nilai tambah yang dihasilkan dari sektor kehutanan sebagai gambaran nilai atau harga dari produk hutan tersebut.
Ditinjau dari aspek ekonomi wilayah, kehutanan berperan dalam penyediaan lapangan kerja dan pendapatan nasional. Hal tersebut tercermin dalam struktur ekonomi kehutanan yang memiliki lima segmen kegiatan, yaitu yaitu : (1) proses produksi primer tanaman hutan, (2) pemanenan atau eksploitasi, (3) pengolahan hasil hutan, (4) peredaran atau distribusi dan (5) konsumsi. Seluruh segmen kegiatan tersebut menyerap tenaga kerja yang cukup banyak (Gregory, 1972).
Gambar 5. Diagram Nilai Sumberdaya Hutan
Sumber : Supriadi (1997)