Cara-Cara Membela Perkara
4. Jawaban Tergugat
... (hakim anggota) ... (hakim anggota)
Ongkos-ongkos:
1. Penolakan sita : Rp ...
2. Panggilan kedua pihak : Rp ...
3. Meterai Akta Perdamaian : Rp ...
4. Dan lain-lain : Rp ...
mengajukan bantahan, maka bantahannya itu harus disertai dengan alasan-alasannya.39
Pengakuan harus dibedakan dari referte. Kedua-keduanya merupakan jawaban yang tidak bersifat. Sudikno Mertokusumo pernah menjelaskan, bahwa pengakuan itu merupakan jawaban yang membenarkan isi gugatan, sedangkan referte berarti menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan hakim dengan tidak membantah dan tidak pula membenarkan gugatan.40
Dengan demikian, dalam hal referte tergugat hanya bersikap menunggu putusan. Pada umumnya hal ini terjadi apabila pemeriksaan perkara itu tidak secara langsung menyangkut kepentingannya, melainkan kepentingan orang lain. Jika tergugat menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan hakim ia di dalam tingkat banding masih berhak mengajukan bantahan.
Contoh jawaban yang berisi bantahan dapat dilihat sebagai be-rikut.
Kepada Yth,
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sungai Penuh di
Sungai Penuh Dengan hormat.
Yang bertanda tangan di bawah ini, nama A, umur 30 tahun, pekerjaan wiraswasta, bertempat tinggal Koto Lebu, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci dalam perkara perdata No: ...
digugat oleh ..., dengan ini mengajukan jawaban atas gugatan itu sebagai berikut:
--- Bahwa keterangan perkawinan antara tergugat dengan almarhum suami tergugat yang dialihkan oleh penggugat terjadi lebih kemudian daripada adanya harta warisan, adalah tidak benar. Untuk
membuk-39 Abdulkadir Muhammad, ibid., hlm. 126.
40 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 1993, hlm. 94.
tikan ketidakbenaran itu, bersama ini dilampirkan surat keterangan nikah, dan diajukan dua orang saksi masing-masing bernama ... umur, ..., pekerjaan ... bertempat di ...nama ... umur ... pekerjaan ...
bertempat tinggal di ...
---Bahwa , harta warisan yang didalilkan oleh penggugat, yang berupa sebidang sawah luasnya 4.000 Ha dengan batas-batas sebagai berikut.
– Sebelah utara berbatas dengan ...
– Sebelah timur berbatas dengan ...
– Sebelah barat berbatas dengan ... sebuah rumah, yang terletak di desa Koto Lebu, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, yang sekarang didiami oleh tergugat, adalah tidak benar. Karena sebidang sawah dan sebuah rumah tersebut adalah harta bersama antara almarhum suami tergugat dengan tergugat yang telah dibeli semasa perkawinan, yang dapat dibuktikan dengan surat perjanjian jual beli serta tanda pembayarannya sebagaimana terlampirkan,
---- Bahwa, penggugat mendalilkan belum pernah mendapat bagian ataupun hasil dari sawah tersebut, adalah tidak benar. Hal ini dapat dibuktikan dengan surat keterangan yang dikuatkan oleh kepala desa Koto Lebu, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, yang menyatakan bahwa penggugat sebagai anak (tiri) tergugat telah diberi kesempatan menggarap sawah tersebut selama 4 (empat) tahun, sementara tergugat berada di ... surat keterangan mana bersama ini dilampirkan;
---- Bahwa, penggugat mendalilkan diusir dari usaha garapan sawah serta merta oleh tergugat, adalah tidak benar. Malahan sebaliknya tergugat sebagai seorang ibu yang berstatus janda, pernah menawarkan hidup bersama anak-anak dengan rukun, sekalipun dengan anak tiri, tetapi dijawab oleh penggugat secara kasar dengan disaksikan oleh ketua adat nama ... umur ... bertempat tinggal di ... dan nama ... umur ... bertempat tinggal di ... bersama ini diajukan sebagai saksi;
---- Bahwa, berdasarkan alasan-alasan dan keterangan tersebut di atas tergugat membantah kebenaran gugatan penggugat dan mohon supaya bapak ketua menolak gugatan penggugat seluruhnya dan menghukum penggugat membayar biaya perkara ini;
Sungai Penuh, ... 200....
Tergugat tersebut di atas ( A )
Eksepsi (tangkisan) merupakan salah satu jawaban tergugat terhadap gugatan penggugat. Jadi eksepsi adalah sanggahan atau perlawanan yang dilakukan pihak tergugat terhadap gugatan penggugat yang tidak mengenai pokok perkara dengan maksud agar hakim menetapkan gugatan dinyatakan tidak diterima atau ditolak.
Menurut H. Roihan A. Rasyid, bahwa tangkisan dari tergugat yang diajukannya ke Pengadilan karena tergugat digugat oleh penggugat, yang tujuannya supaya pengadilan tidak menerima perkara yang diajukan oleh penggugat karena adanya alasan tertentu.41
Di dalam undang-undang (HIR dan RBg) tidak memberikan definisi dan penjelasan, akan tetapi HIR hanya mengenal satu macam eksepsi yaitu perihal tidak berkuasanya hakim. Eksepsi ini terdiri atas:
(a) eksepsi yang menyangkut kekuasaan absolut, dan (b) eksepsi yang menyangkut kekuasaan relatif. Kedua macam eksepsi ini termasuk eksepsi yang menyangkut acara, dalam hukum acara perdata disebut dengan eksepsi prosesuil (procesueel). Hal ini telah diatur dalam Pasal 125 ayat (2), Pasal 133, Pasal 134, Pasal 136 HIR, dan Pasal 149 ayat (2), Pasal 159, Pasal 160, Pasal 162 RBg.
41 H. Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Pengadilan Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998, hlm. 106.
Contoh eksepsi (tangkisan) terhadap tidak berwenang pengadilan negeri (Perkara Perdata).
Sungai Penuh, ... 20 ....
Kepada Yth,
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sungai Penuh di
Sungai Penuh
Hal : Eksepsi (tangkisan) Pengadilan Negeri Sungai Penuh tidak berwenang untuk memeriksa perkara perdata Nomor ... No. ...
Dengan hormat,
Dengan ini kami sampaikan, bahwa yang bertanda tangan di bawah ini adalah kami:
Nama : Umar Dani bin Bilal Ahmad Umur : 44 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
Alamat : Jl Depati Parbo Desa Karya Bakti Sungai Penuh Kabupaten Kerinci sebagai TERGUGAT dalam perkara perdata Nomor .../20 ...
Melawan
Nama : Nurhazizah, S.Pd Binti H. Jarab SM.
Umur : 48 tahun Agama : Islam
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
Alamat : Rt IV Desa Sumur Anyir, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci sebagai PENGGUGAT
Dengan ini mohon diizinkan menolak, pemeriksaannya perkara perdata tersebut oleh Pengadilan Negeri Sungai Penuh, karena
menurut pendapat kami hal-hal yang dipermasalahkan dalam surat gugatannya itu termasuk permasalahan tentang nikah, talak, dan rujuk antara penggugat dan tergugat, yang dahulu sebagai suami istri telah menikah secara sah menurut agama Islam, sehingga yang berwenang untuk memeriksa perkaranya berdasarkan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama adalah kewenangan Pengadilan Agama.
Berdasarkan hal tersebut, kami mohon pada hari sidang pertama yang akan datang berkenan memutuskan:
Bahwa Pengadilan Negeri Sungai Penuh menyatakan tidak berwenang untuk memeriksa perkara tersebut. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 134 HIR/Pasal 160 RBg, sedangkan ongkos perkara dibebankan kepada Penggugat.
Hormat kami, Tergugat
Umar Dani bin Bilal Ahmad
Sebenarnya eksepsi prosesuil banyak lagi macamnya tetapi tidak disebutkan dalam HIR, namun kadangkala digunakan juga oleh pengadilan umum, yang tentunya juga bisa digunakan oleh pengadilan agama. Seperti eksepsi bahwa persoalan yang sama telah pernah diputus dan putusannya telah memperoleh kekuatan hukum tetap, eksepsi bahwa persoalan yang sama sedang diperiksa oleh pengadilan negeri yang lain atau masih dalam tarap banding atau kasasi, dan eksepsi bahwa yang bersangkutan tidak mempunyai kualifikasi atau sifat untuk bertindak menggunakan dalam perkara tersebut. Seperti penggugat adalah orang gila, tetapi menggugat tidak memberikan kuasa kepada orang lain yang sehat (walinya).
Selain eksepsi yang menyangkut acara (prosesuil), ada juga eksepsi yang berdasarkan hukum materiil, dan ini disebut bantahan pokok perkara. Eksepsi ini menurut R. Subekti ada dua macam, yakni:
1. eksepsi dilatoir;
2. eksepsi peremtoir.42
Kedua eksepsi di atas disebut juga eksepsi materiil. Eksepsi dilatoir adalah eksepsi yang menyatakan bahwa gugatan penggugat belum dapat dikabulkan, karena penggugat telah memberikan penundaan pembayaran atau seperti dalam perkara gugatan cerai karena pelanggaran ta’liq talaq yang diajukan oleh istri (penggugat), padahal suami (tergugat) belum cukup 3 (tiga) bulan tidak mau memberikan nafkah, sedangkan dalam lafas ta’liq talaq dicantumkan syarat 3 (tiga) bulan tidak memberi nafkah.
Eksepsi peremtoir yaitu eksepsi yang menghalangi dikabulkannya gugatan. Misalnya karena gugatan telah diajukan lampau waktu (kada-luarsa), atau bahwa utang yang menjadi dasar gugatan telah dihapuskan, contohnya pada perkara gugatan cerai karena pelanggaran ta’liq talaq seperti di atas, istri (penggugat) nusyuz (tidak taat kepada suami) menjadi penghalang hak nafkah istri.
Menurut HIR/RBg, eksepsi prosesuil yang menyangkut kekuasaan relatif sebagaimana diatur dalam Pasal 125 ayat (2), Pasal 133, Pasal 136 HIR/ Pasal 149 ayat (2), Pasal 159 RBg, hanya boleh diajukan oleh tergugat pada sidang pertama, baik gugat lisan maupun gugat tertulis, artinya kalau diajukan sesudah waktu itu tidak diindahkan lagi.
Eksepsi prosesuil yang menyangkut kekuasaan absolut sebagaimana diatur dalam Pasal 134 HIR/Pasal 160 RBg, dan eksepsi tentang pokok perkara lain-lainnya, dapat diajukan kapan saja dan ia akan diadili sekaligus bersama-sama dengan pokok perkara secara keseluruhan. Maksud dapat diajukan kapan saja, boleh di pengadilan tingkat pertama kapan saja, boleh juga diajukan ketika di tingkat banding (kalau banding) ataupun ketika ditingkat kasasi (kalau kasasi), artinya dapat dijadikan sebagai alasan memohon kasasi.43
42 R. Subekti, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional, 1977, hlm. 61. Ny. Retnowulan Sutantio, Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktik, Bandung: Alumni, 1979, hlm. 27.
43 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985, Pasal 30.
Menurut pendapat Wirjono Prodjodikoro, bahwa Pasal 136 HIR / Pasal 162 RBg tersebut sebaiknya diartikan sebagai anjuran saja kepada tergugat supaya seberapa boleh mengumpulkan segala sesuatu yang ingin diajukan dalam jawaban pada waktu ia mengajukan jawaban pada permulaan pemeriksaan perkara.44 Pendapatnya itu disandarkan kepada tidak adanya sanksi pada Pasal 136 HIR /Pasal 162 RBg tersebut. Sedangkan menurut R. Subekti, bahwa ketentuan Pasal 136 HIR /Pasal 162 RBg itu adalah untuk menghindarkan kelambatan yang tidak perlu, atau dibuat-buat, agar proses berjalan cepat dan lancar.45 Jawaban tergugat yang mengenai pokok perkara hendaknya dibuat dengan jelas, singkat dan berisi, langsung menjawab pokok persoalan dengan mengemukakan alasan-alasan yang mendasar.
Contoh surat jawaban tergugat terhadap gugatan dapat dilihat sebagai berikut.
Kepada
Yth Bapak Ketua Pengadilan Negeri ...
di
...
Hal: Eksepsi dan jawaban tergugat atas gugatan penggugat dalam perkara perdata nomor: ...
Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya bernama A, pekerjaan ... tempat tinggal di ..., yang dalam perkara perdata nomor: ..., disebut pihak tergugat.
Bahwa tergugat melalui surat ini mengajukan eksepsi dan jawaban atas gugatan penggugat sebagai berikut:
44 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata di Indonesia, Bandung: Sumur Bandung, 1962, hlm. 58–59.
45 R. Subekti, op. cit., hlm. 62.
Eksepsi:
Bahwa gugatan dan tuntutan penggugat kepada tergugat, harus dinya-takan tidak dapat diterima, karena suatu gugatan haruslah diajukan oleh orang yang mempunyai hubungan hukum yang bersangkutan dan bukan oleh orang lain. (Putusan Mahkamah Agung RI No.294 K/
Sip/1971 tanggal 7 Juli 1971).
Dalam pokok perkara:
1. Bahwa tergugat menyangkal semua dalil gugatan penggugat, kecuali yang telah diakui secara tegas dan bulat oleh penggugat;
2. Bahwa tergugat tidak pernah mempunyai utang kepada peng-gugat. Yang berutang kepada penggugat adalah orang bernama X, tinggal di Jl. ... dan kebetulan namanya sama;
3. Bahwa demikian pula dalil gugatan penggugat yang lainnya seperti penggugat mohon agar baik barang bergerak maupun tidak bergerak milik tergugat yang terletak di jalan ...
diletakkan sita jaminan, tuntutan uang ganti rugi, dan lain-lain mohon dikesampingkan.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas tergugat mohon kepada Pengadilan Negeri ... agar berkenan memutuskan:
1. Menolak gugatan dan tuntutan penggugat seluruhnya, dan 2. Menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara yang
timbul dakam perkara ini.
Sungai Penuh ... 200 ....
Hormat saya,Tergugat;
( A )
Eksepsi tolak (declinatoir exceptie), yaitu eksepsi yang bersifat menolak, supaya pemeriksaan perkara jangan diteruskan. Termasuk jenis ini adalah eksepsi tidak berwenang memeriksa gugatan, eksepsi batalnya gugatan, eksepsi perkara telah pernah diputus, eksepsi
penggugat tidak berhak mengajukan gugatan, eksepsi tidak mungkin naik banding.
Contoh eksepsi tolak (declinatoir) dapat dilihat sebagai berikut.
Sungai Manau,……….200….
Kepada Yth,
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sungai Penuh di
Sungai Penuh.
Dengan hormat,
Saya bertanda tangan dibawah ini, saya bernama A, umur 30 tahun, pekerjaan dagang, bertempat tinggal di Jl. ...
desa Sungai Manau sebagai tergugat dalam perkara perdata nomor ...
Melawan
Nama B, umur 35 tahun, pekerjaan wiraswasta, bertempat tinggal di Jl. Depati Parbo Desa Lawang Agung Sungai Penuh Kerinci, sebagai penggugat,
Dengan ini mengajukan eksepsi bahwa Pengadilan Negeri Sungai Penuh tidak berwenang memeriksa perkara perdata nomor:
..., karena menurut pendapat tergugat, bahwa desa Sungai Manau di mana tergugat bertempat tinggal termasuk daerah hukum Kabupaten Merangin sehingga yang berwenang memeriksa perkara tersebut berdasarkan undang-undang yang berlaku adalah Pengadilan Negeri Bangko,
---- Bahwa berhubung karena itu, tergugat mohon hari sidang pertama yang akan datang berkenan memutuskan,
---- Bahwa pengadilan negeri Sungai Penuh, menyatakan tidak ber-wenang untuk memeriksa perkara tersebut, sesuai dengan Pasal 133 HIR/Pasal 159 RBg, sedangkan ongkos perkara dibebankan kepada penggugat,
----Bahwa, atas kesediaan dan perkenan Bapak ketua, tergugat mengucapkan banyak terima kasih.
Hormat tergugat
( B ) 5. Rekonvensi (Gugatan Balasan)
Gugatan asal disebut “gugatan dalam konvensi”. Tergugat dalam konvensi (tergugat asal) ada kalanya ia akan menggunakan sekaligus dalam kesempatan beperkara itu untuk menggugat kembali kepada penggugat asal (penggugat dalam konvensi), sehingga tergugat asal (dalam konvensi) sekaligus bertindak menjadi penggugat dalam rekonvensi (penggugat balik).
Rekonvensi (gugatan balasan) diatur dalam Pasal 132a dan Pasal 132b HIR. Kedua pasal tersebut memberi kemungkinan bagi tergugat atau para tergugat, apabila ia atau mereka kehendaki, dalam semua perkara untuk mengajukan gugat balasan terhadap penggugat. Karena gugat adalah balasan terhadap gugat yang telah diajukan oleh penggugat, maka tidak dibenarkan apabila tergugat ke-I misalnya, lalu menggugat tergugat yang lainnya, melainkan gugat balasan harus ditujukan kepada penggugat atau para penggugat, atau salah seorang atau beberapa orang dari penggugat saja, dan diajukan oleh tergugat atau para tergugat atau turut tergugat.
Gugat balasan diajukan bersama-sama dengan jawaban tergugat, baik itu merupakan jawaban lisan atau tertulis. Dalam praktik gugat balasan dapat diajukan selama belum dimulai dengan pemeriksaan bukti, artinya belum pula dimulai dengan pendengaran para saksi.
Pengajuan gugat balasan merupakan suatu hak istimewa yang diberikan oleh hukum acara perdata kepada tergugat untuk mengajukan gugatannya terhadap pihak penggugat secara bersama-sama dengan gugat asal.
Apabila di persidangan pengadilan negeri tergugat tidak mengajukan rekonvensi (gugat balasan), maka dalam pemeriksaan
tingkat banding rekonvensi tidak boleh diajukan lagi. Tergugat hanya dibolehkan mengajukan gugatan biasa kepada pengadilan negeri.
Menurut Abdulkadir Muhammad, rekonvensi adalah gugatan yang diajukan oleh tergugat, berhubung penggugat juga melakukan wanprestasi terhadap tergugat.46 Menurut ketentuan Pasal 132a HIR dan Pasal 157 RBg, terhadap setiap gugatan, tergugat dapat mengajukan rekonvensi, kecuali dalam tiga hal, yaitu sebagai berikut.
1. Rekonvensi tidak boleh diajukan, apabila penggugat bertindak dalam suatu kualitas, sedangkan rekonvensi ditujukan kepada diri penggugat pribadi dan sebaliknya. Contoh: penggugat Sudirman dalam kualitas sebagai Direktur CV Apotik Bersamo mengajukan gugatan terhadap tergugat Syafii. Kemudian tergugat Syafii menjawab dengan mengajukan rekonvensi kepada Sudirman pribadi. Rekonvensi semacam ini tidak diperbolehkan, dan hakim akan menolaknya, karena Sudirman itu bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai Direktur CV Apotik Bersamo.
2. Rekonvensi tidak boleh diajukan, apabila pengadilan negeri yang memeriksa gugatan penggugat tidak berwenang memeriksa gugatan rekonvensi. Contoh: penggugat Ramli (bekas suami beragama Islam) mengajukan gugatan terhadap tergugat Fatimah (bekas istri yang beragama Islam) mengenai pembagian harta yang dikuasainya. Kemudian tergugat Fatimah mengajukan jawaban beserta rekonvensi kepada penggugat soal nafkah yang belum dipenuhinya. Di sini soal nafkah termasuk wewenang pengadilan agama. Rekonvensi semacam ini akan ditolak oleh hakim (kompetensi absolut).
3. Rekonvensi tidak boleh diajukan, apabila mengenai perkara tentang pelaksanaan putusan hakim. Dalam soal pelaksanaan putusan hakim, tidak ada lagi menyangkut penetapan hak karena perkaranya sudah diputus dan tinggal lagi pelaksanaan hak yang telah ditetapkan dalam putusan itu, sedangkan rekonvensi itu masih menyangkut penetapan hak. Rekonvensi semacam ini harus ditolak.
46 Abdulkadir Muhammad, op. cit., hlm. 132.
Seperti hakim memerintahkan tergugat yang dinyatakan kalah supaya melaksanakan putusan, yaitu menyerahkan sebidang sawah kepada penggugat. Kemudian tergugat mengajukan rekonvensi supaya penggugat membayar hutangnya yang dijamin dengan sawah tersebut. Hakim akan menolak rekonvensi tersebut.
Contoh, surat jawaban tergugat dan gugat balik atau gugatan dalam rekonvensi dapat dilihat di bawah ini:
Kepada
Yth, Bapak Ketua Pengadilan Negeri di
...
Hal: Jawaban tergugat atas gugatan penggugat dalam konvensi dan gugatan penggugat dalam rekonvensi dalam perkara perdata nomor: ...
Antara:
A : – Penggugat dalam konvensi – Tergugat dalam rekonvensi Lawan
B : – Tergugat dalam konvensi – Penggugat dalam rekonvensi.
Dengan hormat,
Untuk dan atas nama saya sendiri bernama B tinggal di Jl.
... yang selanjutnya disebut pihak tergugat dalam konvensi dan penggugat dalam rekonvensi.
Bahwa tergugat dalam konvensi melalui sepucuk surat ini mengajukan eksepsi dan jawaban dalam konvensi dan gugat balik, sebagai berikut:
Dalam konvensi
1. Bahwa tergugat dalam konvensi menyangkal semua dalil gugatan penggugat dalam konvensi, kecuali yang telah diakui secara tegas oleh pihak tergugat dalam konvensi.
2. Bahwa tergugat dalam konvensi tidak pernah mempunyai utang kepada penggugat dalam konvensi sebagaimana tersebut dalam surat gugatnya karena utang sebagaimana tersebut dalam gugatan penggugat dalam konvensi telah dibayar lunas dan sebagai bukti akan diajukan dalam sidang pembuktian nanti oleh tergugat dalam konvensi.
3. Bahwa tuntutan penggugat selanjutnya mengenai kerugian bunga, karena utang tergugat dalam konvensi hingga kini belum dibayar kepada penggugat dalam konvensi juga tergugat tolak dengan alasan penggugat tidak berhak menuntut bunga karena utang pokok telah dibayar lunas berikut bunganya.
4. Bahwa ... dan seterusnya.
Berdasarkan atas alasan-alasan tersebut di atas tergugat dalam konvensi mohon agar Pengadilan Negeri ...berkenan me-mutuskan:
1. Menolak gugatan penggugat dalam konvensi atau setidak-tidaknya menyatakan tidak dapat menerima gugatan penggugat dalam konvensi.
2. Menghukum penggugat dalam konvensi untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini.
Gugatan balik atau gugat dalam rekonvensi
Untuk dan atas nama penggugat dalam rekonvensi (dulu tergugat dalam konvensi) melalui sepucuk surat ini mengajukan gugat balik kepada tergugat dalam rekonvensi (dulu penggugat dalam konvensi), sebagai berikut.
1. Bahwa pada tanggal ... tergugat dalam rekonvensi telah membeli dari penggugat dalam rekonvensi sebuah sepeda motor merk Honda No. BH ... seharga Rp9.500.000,00
(sembilan juta lima ratus ribu rupiah) dan oleh tergugat dalam rekonvensi baru dibayar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan sisanya sebesar Rp9000.000,00 (sembilan juta rupiah) akan dilunasi tanggal ...
2. Bahwa jangka waktu pelunasan pada tanggal ... sudah tiba, bahkan telah lewat waktunya, tetapi tergugat dalam rekonvensi belum juga datang kepada penggugat dalam rekonvensi untuk melunasinya.
3. Bahwa penggugat dalam rekonvensi telah berusaha dengan segala jalan agar sisa uang jual beli sepeda motor merk Honda sebesar Rp9000.000,00 (sembilan juta rupiah) segera dibayar lunas, namun usaha penggugat menemui jalan buntu.
4. Bahwa untuk menjamin gugat balik penggugat dalam rekonvensi tidak menjadi illusoir (sia-sia), mohon agar barang-barang bergerak berupa mobil BH ... milik tergugat dalam rekonvensi dilekatkan sita jaminan.
5. Bahwa tuntutan penggugat dalam rekonvensi ini berdasarkan atas surat-surat bukti di bawah tangan yang kebenarannya tidak dapat disangkal oleh tergugat dalam rekonvensi, maka keputusan dalam perkara ini dapat dijalankan lebih dahulu (uitvoerbaar bij voorraad) walaupun tergugat dalam rekonvensi banding maupun kasasi.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas penggugat dalam rekon-vensi mohon kepada Pengadilan Negeri... agar berkenan memutuskan:
Primair:
1. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang telah dilekatkan.
2. Menyatakan tergugat dalam rekonvensi telah melakukan ingkar janji atau wanprestasi.
3. Menghukum tergugat dalam rekonvensi untuk membayar sisa jual beli motor merk Honda no BH……….. kepada penggugat dalam rekonvensi sebesar Rp.9000.000,00 (sembilan juta rupiah).
4. Menyatakan keputusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu walaupun tergugat dalam rekonvensi naik banding maupun kasasi.
Subsidiair:
Memberi keputusan lain yang seadil-adilnya.
Primair dan Subsidiair:
Ongkos perkara menurut hukum.
Sungai Penuh, ... 200 ...
Hormat tergugat dalam konvensi penggugat dalam rekonvensi:
( B ) 6. Intervensi terhadap Perkara yang Diperiksa
Istilah intervensi dalam bahasa Belanda adalah interventie, artinya turut campur tangannya pihak ketiga. Dalam HIR dan RBg tidak mengatur tentang intervensi, akan tetapi diatur dalam Pasal 279 sampai dengan Pasal 282 Rv (Reglement of derechts Vordering), yaitu hukum acara perdata untuk golongan Eropa di Indonesia dulu, yang sekarang sudah tidak berlaku lagi.
Dalam suatu proses pemeriksaan perkara perdata sangat dimung-kinkan masuknya pihak ketiga ke dalam proses pemeriksaan.
Masuknya pihak ke tiga ini disebut dengan intervensi. Dengan demikian, menurut H. A. Mukti Arto, bahwa yang dimaksud dengan intervensi adalah suatu aksi hukum oleh pihak yang berkepentingan dengan jalan melibatkan diri atau dilibatkan oleh salah satu pihak dalam suatu perkara perdata yang sedang berlangsung antara dua pihak yang sedang beperkara.47
47 H. A. Mukti Arto, Praktik Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 109.
Menurut ketentuan Pasal 279 Rv, barang siapa yang mempunyai kepentingan dalam suatu perkara yang sedang diperiksa di pengadilan, dapat ikut serta dalam perkara tersebut dengan jalan menyertai (voeging) atau menengahi (tussenkomst). Berdasarkan ketentuan pasal tersebut dapatlah dijelaskan, bahwa intervensi adalah ikut sertanya pihak ketiga dalam suatu perkara yang sedang berlangsung, apabila ia mempunyai kepentingan. Jadi syaratnya harus ada kepentingan.
Caranya adalah dengan jalan menyertai salah satu pihak (voeging), atau menengahi melawan kedua belah pihak (tussenkomst).
Intervensi dalam bentuk voeging adalah ikut sertanya pihak ketiga menjadi pihak dalam perkara dengan jalan menggabungkan diri dengan salah satu pihak untuk membela kepentingannya.
Adapun ciri-ciri voeging adalah sebagai berikut:
1. Sebagai pihak yang berkepentingan dan berpihak kepada salah satu pihak dari penggugat atau tergugat.
2. Adanya kepentingan hukum untuk melindungi dirinya sendiri dengan jalan membela salah satu yang bersangkutan.
3. Memasukkan tuntutan terhadap pihak-pihak yang beperkara.
Kemudian syarat-syarat voeging yaitu sebagai berikut:
1. Merupakan tuntutan hak.
2. Adanya kepentingan hukum untuk melindungi dirinya dengan jalan berpihak kepada salah satu pihak.
3. Kepentingan tersebut harus ada hubungannya dengan pokok sengketa yang sedang berlangsung.
Selanjutnya keuntungan voeging itu dapat dilihat sebagai berikut:
1. prosedur beracara dipermudah dan disederhanakan, 2. proses beperkara dipersingkat,
3. terjadinya penggabungan tuntutan, dan
4. mencegah timbulnya putusan yang saling bertentangan.48 Sedangkan prosedur acara voeging dilakukan oleh pihak ketiga yang berkepentingan mengajukan permohonan kepada Ketua
48 H. A. Mukti Arto, ibid., hlm. 113.
Pengadilan Negeri/Agama dengan mencampuri yang sedang bersengketa yakni penggugat dan tergugat untuk bersama-sama salah satu pihak menghadapi pihak lain guna kepentingan hukumnya.
Permohonan dibuat seperti gugatan biasa dengan menunjuk nomor dan tanggal perkara yang akan diikutinya itu. Permohonan voeging dimasukkan ke meja pertama dan diproses oleh kasir dan meja kedua sampai pada ketua, yang selanjutnya oleh ketua diserahkan lewat panitera kepada ketua majelis yang menangani perkara itu.
Contoh Intervensi dalam bentuk voeging dapat dilihat di bawah ini:
Kepada Yth,
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sungai Penuh di
Sungai Penuh.
Hal: Permohonan turut campur beperkara dalam perkara perdata Nomor: ... tanggal ... antara:
A : – Penggugat.
Lawan
B : – Tergugat, dan C : – Intervenient.
Dengan hormat
Yang bertanda tangan di bawah ini saya bernama C, tinggal di jalan RE Martadinata Rt. I Desa Koto Renah Sungai Penuh yang selanjutnya disebut pihak intervenient.
Bahwa intervenient melalui sepucuk surat ini mengajukan intervensi terhadap perkara perdata No: ... tanggal ... antara A sebagai penggugat lawan B sebagai tergugat.
Adapun duduk perkaranya adalah sebagai berikut:
1. Bahwa antara penggugat dan tergugat pada tanggal 1 September 2002 telah mengadakan perjanjian utang-piutang Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) dan C sebagai pihak ketiga pada waktu itu sebagai penjamin.