Upaya Hukum
1. Upaya Hukum Biasa
Upaya hukum biasa terdiri dari dua bagian, yaitu bagian kesatu tentang pemeriksaan banding, dan bagian kedua tentang pemeriksaan kasasi.
a. Pemeriksaan Tingkat Banding
Hak terdakwa atau penuntut umum untuk memohon pemeriksaan banding ini dasarnya telah disebutkan dalam Pasal 26 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi:
(1) Putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada pengadilan tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain.
(2) Putusan pengadilan tingkat pertama, yang tidak merupakan pembebasan dari dakwaan atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum, dapat dimintakan banding kepada pengadilan tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain.
Pemeriksaan tingkat banding ini pada dasarnya adalah pe-meriksaan ulangan dari pepe-meriksaan oleh pengadilan negeri. Dengan demikian, memeriksa kembali semua fakta-fakta yang ada tanpa kehadiran para pihak, sehingga pengadilan tinggi sering disebut judex factie.
Permohonan banding (terdakwa atau pengacara atau penuntut umum) ditujukan kepada pengadilan tinggi melalui panitera peng-adilan negeri yang memutus perkaranya dan diajukan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir (lihat Pasal 233 ayat (2) KUHAP).
Tempo selama 7 (tujuh) hari adalah kesempatan untuk berpikir bagi terdakwa atau pengacara atau penuntut umum apakah akan naik banding kepada pengadilan tinggi atau akan menerima saja keputusan pengadilan negeri tersebut.
Apabila terdakwa atau pengacara atau penuntut umum merasa puas atas putusan pengadilan negeri tersebut dan menerimanya, maka keputusan tersebut sudah dapat dijalankan oleh penuntut umum.
Selain itu bagi terdakwa dan/atau pengacara dapat memohon agar dalam menjalankan keputusan itu ditunda dulu selama 14 (empat belas) hari lagi karena ia akan mengajukan grasi atau permohonan ampun kepada presiden.
Jika terdakwa dan/atau pengacara atau penuntut umum tidak puas dengan keputusan pengadilan negeri, dapat mengajukan banding ke pengadilan tinggi, dan tidak wajib mengajukan memori banding.
Pengadilan tinggi dalam praktiknya hanya memeriksa dari berkas perkara, sekali pun ada wewenang untuk mendengarkan para pihak dan saksi. Upaya hukum banding terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum, dan putusan cepat tidak dapat dilakukan (Pasal 67 KUHAP).
Terhadap putusan bebas (Vrijspraak/Acquitted) telah dijelaskan di dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP, apabila kesalahan terdakwa sesuai dengan perbuatan yang didakwakan kepadanya, “tidak terbukti secara sah dan meyakinkan,” maka putusan bebas yang demikian tidak dapat diajukan permintaan banding.
Terhadap putusan lepas dari segala tuntutan hukum (Onslag Van Rechts Vervolging) telah diatur di dalam Pasal 191 ayat (2) KUHAP, yakni apabila pengadilan berpendapat apa yang didakwakan terhadap terdakwa memang terbukti, akan tetapi perbuatan yang didakwakan tidak merupakan tindak pidana.
Terhadap putusan acara cepat, baik perkara yang diperiksa dengan acara tindak pidana ringan maupun acara pelanggaran lalu lintas jalan, tidak dapat dimintakan banding, kecuali apabila putusan itu berupa pidana perampasan kemerdekaan.
Dalam ketiga hal di atas, permintaan banding tidak dapat diajukan, sehingga terhadap putusan-putusan ini hanya cukup diperiksa oleh pengadilan negeri dalam tingkat pertama dan tingkat terakhir. Tidak ada alternatif lagi untuk menguji dan mengoreksi putusan tersebut.
Hal seperti ini, sangat tidak wajar, dan benar-benar tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kenyataan masyarakat kurang dapat menerima jika putusan bebas tidak dapat dimintakan banding.
Oleh karena itu, untuk pihak eksekutif (dalam hal ini Departemen Hukum dan HAM) maupun Mahkamah Agung sebagai kekuasaan tertinggi peradilan, menyadari “akibat negatif” yang mungkin timbul dari keluasaan yang diberikan undang-undang terhadap putusan bebas. Maka terlepas dari larangan yang diatur dalam Pasal 244 KUHAP, kedua instansi ini mengambil jalan keluar dari ketentuan tersebut. Jalan keluar dimaksud, memberi kemungkinan bagi Mahkamah Agung untuk memeriksa putusan bebas dalam peradilan kasasi atas permintaan penuntut umum.
Departemen Kehakiman dan Mahkamah Agung mengambil sikap, terhadap putusan bebas mutlak tidak dapat dimintakan banding, tetapi langsung dapat diminta kasasi.4 Departemen Kehakiman mengambil langkah ini telah disebutkan di dalam angka 19 Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman Nomor. M.14-PW.07.03 Tahun 1983. Angka 19 Lampiran tersebut memberi pedoman tentang putusan bebas dalam hubungannya dengan banding dan kasasi.
Petunjuk pedoman itu tetap bertitik tolak dari ketentuan Pasal 67 dan Pasal 244 KUHAP.
Berdasarkan kedua ketentuan pasal ini (Pasal 67 dan Pasal 244 KUHAP) dapat ditarik pedoman pelaksanaan yang harus diterapkan dalam kehidupan peradilan yakni:
1. terhadap putusan bebas “tidak dapat dimintakan banding”;
2. tetapi berdasar situasi dan kondisi, demi hukum, keadilan dan kebenaran, terhadap putusan bebas “dapat dimintakan kasasi”;
4 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Jakarta: Sinar Grafika, 2006, edisi kedua cet. Kedelapan, hlm. 461.
3. hal ini akan didasarkan pada yurisprudensi.
Adapun contoh surat memori banding dapat dilihat di bawah ini:
Sungai Penuh, ... 200....
Kepada Yth,
Bapak Ketua Pengadilan Tinggi Jambi di
Jambi Melalui
Yth Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sungai Penuh di
Sungai Penuh
Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini saya bernama A, advokat dan pengacara, tinggal di jalan Depati Parbo Rt. 2 Koto Lebu Sungai Penuh, berdasarkan surat kuasa tanggal ... (terlampir) penasihat hukum dari saudara B, tinggal di jalan K.H. Ahmad Dahlan Rt 2 Desa Koto Renah Sungai Penuh, melalui sepucuk surat ini mengajukan memori banding atas keputusan Pengadilan Negeri Sungai Penuh No.
... tanggal ..., adalah sebagai berikut.
1. Bahwa terdakwa dengan keputusan pengadilan negeri tersebut telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kejahatan karena mengharap untung menyimpan benda yang patut disangkanya berasal dari kejahatan (Pasal 480 KUHP). Oleh karena itu, meng-hukum terdakwa dengan hukuman penjara selama sepuluh bulan dengan masa percobaan dua tahun.
2. Bahwa pembanding tidak dapat menerima putusan tersebut dengan alasan-alasan sebagai berikut.
a. Di dalam pertimbangan hukum pengadilan pada alinea menimbang pertama telah mengatakan, bahwa ...
maka timbullah pada pengadilan keraguan-keraguan tentang dapat tidaknya terdakwa dipertanggungjawabkan.
Dalam pemeriksaan ternyatalah terdakwa tidak dapat bicara lancar, sedang pada waktu bicara tidak tenang air mukanya, meskipun ia sekali-kali tidak ditakuti, melainkan diajak bicara dengan perlahan-lahan.
Pembanding tidak sependapat atas pertimbangan hukum Pengadilan Negeri tersebut. Sebab di dalam hukum acara pidana terkenal dengan indubio pro reo yang berarti, bahwa kalau ada keraguan-keraguan tentang hal seseorang terdakwa dapat atau tidak dapat dihukum harus diputuskan secara menguntungkan terdakwa yaitu membebaskan terdakwa dari segala tuduhan.
b. Selanjutnya dalam pertimbangan hukum pengadilan, bahwa berada pada vermin derde toerekenbaarheid (kurang dapat dipertanggungjawabkan), sehingga pengadilan menentukan hukuman bersyarat kepada pembanding.
Dalam hal ini pembanding tidak sependapat dengan pengadilan apabila pengadilan berkeyakinan adanya keraguan-keraguan tidak perlu ditentukan hukuman ringan yaitu hukuman bersyarat melainkan harus membebaskannya.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas pembanding mohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Tinggi di Jambi agar berkenan:
1) Membatalkan Keputusan Pengadilan Negeri Sungai Penuh No ..., tanggal ... dan ditinjau kembali dan mengadili sendiri, yaitu membebaskan terdakwa dari segala tuntutan hukuman.
2) Biaya perkara dibebankan kepada negara.
Hormat Kami
Penasihat Hukum Pembanding
(A)
b. Pemeriksaan Tingkat Kasasi
Dalam penjelasan umum alinea terakhir ditegaskan, KUHAP memuat pula hukum acara pidana Mahkamah Agung setelah dicabutnya Undang-Undang Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1951 oleh Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1965. Berarti pemeriksaan perkara pidana oleh Mahkamah Agung pada peradilan kasasi, mem-pergunakan ketentuan yang diatur dalam KUHAP sebagai hukum acara, seperti yang diatur dalam Bagian Kedua Bab XVII, mulai dari Pasal 244 sampai dengan Pasal 258.
Kasasi menurut R. Soesilo adalah jalan hukum untuk melawan keputusan hakim tingkat tertinggi yaitu keputusan-keputusan yang tidak dapat dimintakan banding, baik karena memang tidak diperbolehkan oleh undang-undang, maupun karena kesempatan banding itu telah digunakan.5
Pemeriksaan untuk kasasi ini diatur dalam Pasal 244 sampai Pasal 258 KUHAP. Ketentuan yang menjadi dasar kasasi adalah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 pada Pasal 11 ayat (2) huruf a yang berbunyi mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, kecuali undang-undang menentukan lain.
Pemeriksaan kasasi disampaikan oleh pemohon kepada panitera pengadilan yang telah memutus perkaranya dalam tingkat pertama, dalam waktu 14 (empat belas) hari sesudah putusan pengadilan yang dimintakan kasasi itu diberitahukan kepada terdakwa atau penuntut
5 R. Soesilo, Hukum Acara Pidana, Bogor: Politeia, 1982, hlm. 134.
umum. Permohonan harus disampaikan dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah pemberitahuan putusan.
Sebagai contoh misalnya, putusan pengadilan tinggi diberitahukan kepada terdakwa pada tanggal 1 Februari. Berarti tenggang waktu mengajukan permohonan kasasi adalah 14 hari dari tanggal pemberitahuan putusan tersebut. Jadi batas terakhir bagi terdakwa mengajukan permohonan kasasi, jatuh pada tanggal 15 Februari. Lewat dari batas waktu tersebut, berakibat “gugur hak” terdakwa mengajukan permohonan kasasi. Tidak ada perbedaan tenggang waktu untuk Jawa dan luar Jawa.
Agar permohonan kasasi dapat dipakai sebagai dasar pemeriksaan dalam tingkat kasasi oleh pemohon kasasi wajib diajukan memori atau risalah kasasi yang membuat alasan permohonan kasasinya, dan dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah mengajukan permintaan tersebut, harus sudah menyerahkannya kepada panitera yang memberikan surat tanda terima.
Sebagai contoh misalnya, pemberitahuan putusan Pengadilan Tinggi disampaikan panitera kepada terdakwa pada tanggal 1 Februari.
Oleh karena itu, batas waktu mengajukan permohonan kasasi jatuh pada tanggal 15 Februari. Jika dimisalkan terdakwa mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 6 Februari, berarti tenggang waktu dan batas terakhir menyampaikan memori kasasi adalah dalam waktu 14 hari terhitung sejak 6 Februari. Jadi tenggang waktu menyerahkan memori kasasi dalam contoh ini adalah tanggal 20 Februari. Lewat dari jangka waktu itu sudah terlambat menyampaikan memori kasasi.
Permohonan kasasi dapat dicabut selama perkara belum diputus oleh Mahkamah Agung, dan apabila permohonan tersebut sudah dicabut, maka tidak dapat diajukan lagi. Dengan demikian permohonan kasasi hanya dapat dilakukan satu kali saja.
Dalam Pasal 253 ayat (1) KUHAP menyebutkan, sebagai berikut.
Pemeriksaan dalam tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung atas permintaan para pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 dan Pasal 248 guna menentukan:
a. apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya;
b. apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang;
c. apakah benar pengadilan telah melampaui batas wewenangnya.6 Jika terdakwa dan/atau pengacara atau penuntut umum mengajukan kasasi maka memori kasasi harus dibuat, dan susunannya dapat dilihat dalam contoh di bawah ini:
Sungai Penuh, ... 200…
Kepada Yth,
Bapak Ketua Mahkamah Agung RI di
Jakarta Melalui:
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sungai Penuh di
Sungai Penuh
Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini saya bernama A, Advokat dan pengacara, tinggal di jalan Depati Parbo Rt. 2 Desa Koto Lebu Sungai Penuh berdasarkan surat kuasa tanggal 14 September 2003 kuasa dari saudara B, tinggal di jalan K.H. Ahmad Dahlan Rt. 2 Desa Koto Renah Sungai Penuh, melalui sepucuk surat ini mengajukan memori kasasi atas Keputusan Pengadilan Tinggi Jambi No ...
tanggal ... bahwa terdakwa dengan Keputusan Pengadilan Tinggi Jambi No ... tersebut telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kejahatan, karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain.
Menghukum terdakwa karenanya dengan pidana penjara selama 6 bulan.
6 M. Budiatro, K. Wantjik Saleh, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 1981, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1981, hlm. 131.