PENDIDIKAN
KEADVOKATAN
Ishaq, S.H., M.Hum.
PENDIDIKAN
KEADVOKATAN
SG. 02.16.0757
PENDIDIKAN KEADVOKATAN Oleh:
Ishaq, S.H., M.Hum.
Diterbitkan oleh Sinar Grafika Jl. Sawo Raya No. 18
Jakarta 13220
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak buku ini sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan dengan
cara apa pun juga, baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk fotokopi, rekaman, dan lain-lain tanpa izin tertulis
dari penerbit.
Cetakan pertama, Juni 2010 Perancang kulit, Kreasindo Mediacita
Dicetak oleh Sinar Grafika Offset ISBN 978-979-007-307-4
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Ishaq
Pendidikan keadvokatan/Ishaq;
Editor, Leny Wulandari. -- Ed. 1. Cet. 1.
-- Jakarta: Sinar Grafika, 2010 xvi, 294 hlm.; 23 cm Bibliografi: hlm. 223 ISBN 978-979-007-307-4
1. Pendidikan Keadvokatan 2. Hukum I. Judul II. Leny Wulandari
PERSEMBAHAN
Buku ini saya persembahkan kepada:
Ayahanda Dama (Almarhum) dan Ibunda Hj. Halwiah.
Kakandaku M. Yusuf Istriku yang tercinta Asyirah
Putra-putriku tersayang: Nurhikmah Ishaq, dan Fadhli Muhaimin Ishaq
Para guru-guruku dan Almamaterku.
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahman dan rahimnya kepada kita terutama kepada saudara Ishaq, S.H., M.Hum yang telah berusaha menyusun suatu buku yang berjudul Pendidikan Keadvokatan. Shalawat dan salam saya persembahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mem- berikan pencerahan kepada kita semua.
Saya menyambut baik terbitnya buku Pendidikan Keadvokatan, karya saudara Ishaq, S.H., M.Hum, merupakan buku yang membahas masalah Pendidikan Advokat, serta dilengkapi contoh-contoh surat kuasa yang sangat dibutuhkan oleh Advokat untuk beracara.
Hampir setiap orang di dalam menghadapi masalah hukum seperti kasus korupsi, kasus pembunuhan, kasus perbankan, sengketa bisnis, kepailitan, dan lain sebagainya, cenderung untuk menggunakan jasa profesi Advokat. Profesi Advokat merupakan profesi yang mulia (officium nobile) yang harus berani bertindak dengan kejujuran di dalam menegakkan hak asasi manusia, hukum, dan keadilan.
Harapan saya semoga buku ini dapat menjadi pegangan bagi rekan-rekan Advokat dan calon Advokat, maupun kalangan akademisi.
Mudah-mudahan usaha penulis ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, praktisi hukum, maupun di kalangan akademisi.
Sungai Penuh, 29 Maret 2010 Advokat LBH Alti Sungai Penuh
PAHRUDIN KASIM, S.H.
Kata Pengantar
Dengan mengucapkan puji dan syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga karena-Nya penulis telah dapat menyelesaikan penyusunan Pendidikan Keadvokatan.
Penulisan buku ini merupakan penyempurnaan lebih lanjut dari Buku Dasar-Dasar Pendidikan Advokasi, yang disusun oleh penulis pada tahun 2004 yang pokok materinya terdiri dari hukum pidana dan hukum perdata yang pokok bahasannya sudah disesuaikan dengan kurikulum dengan tujuan untuk membantu mahasiswa dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada mata kuliah Pendidikan Advokasi.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. H. Asafri Jaya Bakri, M.A., Ketua STAIN Kerinci yang telah banyak memberikan semangat dan dorongan kepada penulis.
Dengan adanya buku ini tidak berarti bahwa para mahasiswa lalu dapat menyampingkan buku literatur Advokasi dan buku-buku yang telah diwajibkan.
Disadari bahwa penyajian materi dan sistematika buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penyusun tetap mengharapkan saran-saran dan kritikan yang bersifat membangun dari pembaca demi untuk kesempurnaan materi buku ini. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan dan
Prakata
penerbitan buku ini, diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, terutama Sinar Grafika yang telah berkenan menerbitkannya.
Selanjutnya semoga kehadiran buku ini ada manfaatnya bagi kita semua. Amiin.
Wassalam,
Sungai Penuh, Maret 2010
Ishaq, S.H., M.Hum.
KATA PENGANTAR ... v
PRAKATA ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. Istilah dan Pengertian Pengacara atau Advokat... 1
1. Advokat ... 9
2. Pengacara Praktik ... 10
3. Kuasa Insidentil ... 10
4. Lembaga Bantuan Hukum Perguruan Tinggi .. 11
B. Selintas Sejarah Advokat atau Bantuan Hukum .... 12
BAB 2 KEBUTUHAN AKAN SEORANG ADVOKAT ... 19
A. Jenis-Jenis Kebutuhan... 19
B. Cara-Cara Mengukur Adanya Kebutuhan ... 21
C. Kebutuhan Jasa Hukum Seorang Advokat ... 23
1. Peradilan (Litigasi) ... 25
2. Di Luar Peradilan (Nonlitigasi) ... 29
BAB 3 FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB PROFESI ADVOKAT ... 35
A. Fungsi Advokat ... 35
Daftar Isi
1. Dari Segi Kepentingan Tersangka ... 37
2. Dari Segi Kepentingan Pemeriksaan ... 39
B. Advokat sebagai Pengawal Konstitusi dan Penegak Hak Asasi Manusia ... 40
C. Advokat sebagai Penggerak Pembangunan Hukum (Agen of Law Development) ... 42
D. Sifat dan Asas Profesi Advokat ... 42
E. Tanggung Jawab Profesi Advokat ... 43
1. Tanggung Jawab kepada Negara ... 44
2. Tanggung Jawab kepada Masyarakat ... 44
3. Tanggung Jawab kepada Pengadilan ... 45
4. Tanggung Jawab kepada Klien ... 45
5. Tanggung Jawab kepada Tuhan ... 45
6. Tanggung Jawab kepada Pihak Lawan ... 46
BAB 4 KODE ETIK DAN SUMBER DAYA ADVOKAT... 48
A. Kode Etik Advokat ... 48
B. Sumber Daya Advokat ... 66
1. Penguasaan Sistem Intelejensia ... 67
2. Pendalaman Ilmu dan Pengetahuan ... 67
3. Peningkatan Penanganan Perkara ... 68
4. Kegiatan Sosial Kemasyarakatan ... 68
5. Komunikasi Profesi ... 69
BAB 5 CARA-CARA MEMBELA PERKARA ... 70
A. Dalam Perkara Pidana ... 70
1. Dalam Persidangan ... 70
2. Eksepsi ... 72
3. Surat Dakwaan ... 77
4. Pemeriksaan Saksi dan Terdakwa ... 82
5. Surat Tuntutan Pidana (Requisitoir) ... 96
6. Pembelaan atau Pleidooi ... 98
B. Dalam Perkara Perdata ... 103
1. Dalam Persidangan ... 103
2. Gugatan Penggugat Dibacakan ... 109
3. Perdamaian dalam Sidang Pengadilan ... 111
4. Jawaban Tergugat ... 114
5. Rekonvensi (Gugatan Balasan) ... 124
6. Intervensi terhadap Perkara yang Diperiksa.... 129
7. Gugatan dengan Prodeo (Cuma-Cuma) ... 139
8. Pembuktian ... 148
9. Kesimpulan dari Penggugat dan Tergugat Sebe- lum Perkara Diputus ... 174
BAB 6 UPAYA HUKUM ... 178
A. Dalam Perkara Pidana ... 178
1. Upaya Hukum Biasa ... 179
2. Upaya Hukum Luar Biasa ... 188
B. Dalam Perkara Perdata ... 197
1. Verzet (Perlawanan) ... 197
2. Banding ... 200
3. Kasasi ... 206
4. Bantahan Pihak Ketiga (Derden Verzet) ... 210
5. Peninjauan Kembali ... 213
DAFTAR PUSTAKA ... 223
Lampiran ... ... 227
1. Undang-Undang No.18 Tahun 2003 tentang Advokat ... 227
2. Contoh Gugatan Cerai Gugat ... 251
3. Contoh Surat Permohonan Cerai Talak dengan Memakai .
Pengacara ... 254
4. Contoh Surat Gugatan dalam Perkara Perbuatan Melawan Hukum dengan Memakai Pengacara ... 257
5. Contoh Jawaban Sanggahan terhadap Gugatan ... 260
6. Contoh Surat Kuasa Khusus untuk Mengajukan Gugatan 261 7. Contoh Surat Kuasa Limpahan Secara Penuh ... 262
8. Contoh Surat Kuasa Limpahan Terbatas ... 263
9. Contoh Surat Kuasa Khusus untuk Menjawab Gugatan Penggugat ... 264
10. Contoh Surat Kuasa untuk Naik Banding ... 265
11. Contoh Surat Kuasa sebagai Terbanding ... 266
12. Contoh Surat Kuasa Khusus Untuk Mengajukan Kasasi ... 267
13. Contoh Surat Kuasa untuk Mengajukan Kontra Memori Kasasi ... 268
14. Contoh Surat Kuasa untuk Mengajukan Permohonan PK 269
15. Contoh Surat Kuasa untuk Mengajukan Jawaban atas Per- mohonan PK ... 270
16. Contoh Surat Kuasa untuk Mengajukan Bantahan ... 271
17. Contoh Surat Kuasa sebagai Terbantah ... 272
18. Contoh Surat Kuasa untuk Intervensi ... 273
19. Contoh Surat Kuasa Khusus dalam Perkara Pidana ... 274
20. Contoh Permohonan Penangguhan Penahanan ... 276
21. Contoh Surat Keterangan Menjamin ... 277
22. Contoh Surat Permohonan Perubahan Status Tahanan ... 278
23. Contoh Surat Kuasa Khusus untuk Banding dalam Perkara Pidana ... 279
24. Contoh Surat Kuasa Khusus untuk Kontra Memori Banding . 280 25. Contoh Surat Kuasa Khusus untuk Memori Kasasi ... 281 26. Contoh Surat Kuasa Khusus untuk Kontra Memori Kasasi 282
27. Contoh Membuat Permohonan Praperadilan ... 283
28. Contoh Surat Permohonan Pengangkatan Anak ... 285
29. Contoh Permohonan Pencabutan Gugatan ... 287
30. Tahap-Tahap Pemeriksaan Perdata ... 288
31. Tahap-Tahap Pemeriksaan Perdata Khusus Cerai Gugat .... 289
32. Tahap-Tahap Pemeriksaan Perdata Khusus Cerai Talak... 290
33. Tahap-Tahap Pemeriksaan Perdata Khusus Cerai Talak dan Gugatan Rekonvensi ... 291
34. Tahap-Tahap Pemeriksaan Perdata Khusus Cerai Gugat dan Gugatan Rekonvensi ... 292
PROFIL PENULIS ... 293
A. ISTILAH DAN PENGERTIAN PENGACARA ATAU AD- VOKAT
Sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, maka penggunaan istilah advokat di dalam praktiknya belum ada yang baku untuk sebutan profesi tersebut. Dalam berbagai ketentuan perundang-undangan terdapat inkonsistensi sebutannya.
Misalnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970, sebagaimana telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999, dan diganti lagi dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 serta terakhir diganti dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, tentang Kekuasaan Kehakiman, menggunakan istilah bantuan hukum dan advokat.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung menggunakan istilah penasihat hukum. Departemen Hukum dan HAM menggunakan istilah pengacara, dan Pengadilan Tinggi menggunakan istilah advokat dan pengacara. Kemudian Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat menggunakan istilah advokat, di samping itu ada juga yang menyebutnya dengan istilah pembela.
BAB 1
Pendahuluan
Setelah dikeluarkannya Undang-Undang Advokat, yaitu Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2003, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4228, maka istilah advokat sudah menjadi baku dan berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum serta wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia.
Istilah penasihat hukum/bantuan hukum dan advokat/pengacara merupakan istilah yang lebih tepat dan sesuai dengan fungsinya sebagai pendamping tersangka atau terdakwa dalam perkara pidana, atau sebagai pendamping penggugat atau tergugat dalam perkara perdata dalam pemeriksaan, daripada istilah pembela.
Istilah pembela menurut Andi Hamzah sering disalahtafsirkan, seakan-akan berfungsi sebagai penolong tersangka atau terdakwa bebas atau lepas dari pemidanaan, walaupun ia jelas bersalah melakukan yang didakwakan itu.1 Padahal fungsi pembela atau penasihat hukum itu adalah membantu hakim dalam usaha menemukan kebenaran materiil,2 walaupun bertolak dari sudut pandangan subjektif, yaitu berpihak kepada kepentingan tersangka atau terdakwa.
Istilah advokat bukan asli bahasa Indonesia. Advokat berasal dari bahasa Belanda, yaitu advocaat, yang berarti orang yang berprofesi memberikan jasa hukum. Jasa tersebut diberikan baik di dalam atau di luar ruang sidang.3
Pengertian advokat menurut Blacks’s Law Dictionary adalah to speak in favour of or defend by argument (berbicara untuk keuntungan
1 Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985, hlm. 88.
2 Yaitu kebenaran yang nyata atau betul-betul kebenaran dalam perbuatan pidana yang dilakukan oleh terdakwa, atau hubungan antara pihak yang terkait dalam perbuatan pidana tersebut.
3 Ari Yusuf Amir, Strategi Bisnis Jasa Advokat, Yogyakarta: Navila Idea, 2008, hlm. 18.
dari atau membela dengan argumentasi untuk seseorang). Adapun orang yang berprofesi sebagai advocate adalah one who assists, defends, or pleads for another. One who renders legal advice and aid, pleads the cause of another before a court or a tribunal, a counselor (Seseorang yang membantu, mempertahankan, atau membela untuk orang lain.
Seseorang yang memberikan nasihat hukum dan bantuan membela kepentingan orang lain di muka pengadilan atau sidang, seorang konsultan).
Adapun pengertian advokat menurut Pasal 1 butir (1) Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan undang-undang ini.
Kemudian Frans Hendra Winarta menjelaskan, bahwa pekerjaan legal counseling (konsultan hukum) sudah termasuk di dalamnya mendampingi, membantu, dan menyatakan salah atau tidak bersalah seseorang di pengadilan maupun sidang umum lainnya.4
Pengertian penasihat hukum menurut Pasal 1 butir 13 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana adalah seseorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh atau berdasar undang-undang untuk memberi bantuan hukum.5 Rumusan Pasal 1 butir 13 tersebut menjelaskan, bahwa untuk menjadi penasihat hukum itu haruslah orang yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang.
Selain pengertian penasihat hukum sebagaimana telah dijelaskan di atas, ada juga pengertian penasihat hukum yang dijelaskan para ahli, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Sudikno Mertokusumo berpendapat, bahwa penasihat hukum adalah orang diberi kuasa untuk memberikan bantuan hukum
4 Frans Hendra Winarta, Advokat Indonesia, Citra, Idealisme, dan Keprihatinan, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995, hlm. 66.
5 M. Budiarto, K. Wantjik Saleh, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 1981, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1981, hlm. 33.
dalam bidang hukum perdata maupun pidana kepada yang memerlukannya, baik berupa nasihat maupun bantuan aktif, baik di dalam maupun di luar pengadilan dengan jalan mewakili, mendampingi, atau membelanya.6
2. J.S.T. Simorangkir, dkk., menjelaskan bahwa penasihat hukum adalah seseorang yang bertindak dalam suatu perkara untuk kepentingan yang beperkara, dalam perkara perdata untuk penggugat atau tergugat dan dalam perkara pidana untuk terdakwa.7
3. Sudarsono berpendapat bahwa penasihat hukum adalah seseorang yang memenuhi syarat yang ditentukan berdasarkan undang-undang untuk memberikan bantuan hukum.8
4. Martiman Prodjohamidjojo menjelaskan bahwa, penasihat hukum ialah mereka yang pekerjaannya (job) atau mereka yang karena profesinya memberikan jasa hukum, pelayanan hukum, bantuan hukum, serta nasihat hukum kepada pencari keadilan baik yang melalui pengadilan negeri, pengadilan agama, atau panitia penyelesaian perburuhan maupun yang di luar pengadilan.9 Dari beberapa pendapat di atas dapatlah dijelaskan bahwa penasihat hukum adalah orang yang diberi kuasa untuk memberikan bantuan hukum, baik dalam perkara perdata, perkara pidana, maupun perkara tata usaha negara dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.
Berbicara tentang bantuan hukum sebenarnya tidak terlepas dari fenomena hukum itu sendiri. Seperti telah diketahui keberadaan bantuan hukum adalah salah satu cara untuk meratakan jalan menuju
6 Sudikno Mertokusumo, Bunga Rampai Ilmu Hukum, Yogyakarta: Liberty, 1984.
hlm. 66.
7 J.S.T. Simorangkir, dan kawan-kawan, Kamus Hukum, Jakarta: Aksara Baru, 1987, hlm. 124.
8 Sudarsono, Kamus Hukum, Jakarta: 1982, hlm. 349.
9 Martiman Prodjohamidjojo, Penasihat Hukum dan Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982, hlm. 5.
kepada pemerataan keadilan yang penting maksudnya bagi pembangunan hukum, khususnya di Indonesia.
Adapun pengertian bantuan hukum telah dijelaskan oleh Jaksa Agung Republik Indonesia, yaitu pembelaan yang diperoleh seseorang terdakwa dari seseorang penasihat hukum, sewaktu perkaranya diperiksa dalam pemeriksaan pendahuluan atau dalam proses pemeriksaan perkaranya di muka pengadilan.10
Kemudian Lasdian Walas mengatakan bahwa, bantuan hukum adalah jasa memberikan bantuan hukum dengan bertindak baik sebagai pembela dari seseorang yang tersangkut dalam perkara pidana maupun kuasa hukum dalam perkara perdata atau tata usaha negara di muka pengadilan atau memberi nasihat hukum di luar pengadilan.11 Di samping itu juga di dalam Pasal 1 butir 9 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat memberikan suatu penjelasan bahwa bantuan hukum, adalah jasa hukum yang diberikan oleh advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu.
Secara konsepsional, apabila dilihat pada tujuan dan orientasi, sifat, cara pendekatan, dan ruang lingkup aktivitas program bantuan hukum, khususnya bagi golongan miskin dan buta hukum di Indonesia, pada dasarnya dapat dikategorikan pada dua konsep pokok, yaitu konsep bantuan hukum tradisional dan konsep bantuan hukum konstitusional.12
Konsep bantuan hukum tradisional adalah pelayanan hukum yang diberikan kepada masyarakat miskin secara individual. Sifat dari bantuan hukum ini pasif, dan cara pendekatannya sangat formal-legal, dalam arti melihat segala permasalahan hukum kaum miskin semata- mata dari sudut yang hukum yang berlaku. Orientasi dan tujuan
10 Jaksa Agung RI, Pemberian Bantuan Hukum oleh Fakultas Hukum Negeri dan Penegakan Hukum dalam Pemberian Bantuan Hukum oleh Fakultas Hukum Negeri, Jakarta: Departemen Penerangan RI, 1976, hlm. 72.
11 Lasdian Walas, Cakrawarala Advokat Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 1980, Cet.
ke-1, hlm. 119.
12 Bambang Sunggono, Aries Harianto, Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia, Bandung: Mandar Maju, 1994, hlm. 26.
bantuan hukum ini adalah untuk menegakkan keadilan bagi si miskin menurut hukum yang berlaku, kehendak mana dilakukan atas landasan semangat derma (charity).
Konsep bantuan hukum konstitusional merupakan bantuan hukum untuk rakyat miskin yang dilakukan dalam kerangka usaha dan tujuan yang lebih luas, seperti (a) menyadarkan hak-hak masyarakat miskin sebagai subjek hukum, (b) penegakan dan pengembangan nilai-nilai hak asasi manusia sebagai sendi utama bagi tegaknya negara hukum.13
Dengan demikian, seorang advokat harus memperhatikan kliennya yang tidak mampu. Sebab dalam kenyataannya yang terlihat setiap hari di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, bantuan hukum yang diberikan oleh advokat tampaknya hanya berkisar kepada orang-orang yang berada saja. Jarang sekali dilihat seorang advokat di dalam media massa, baik berupa televisi, surat kabar, dan majalah diberitakan memberikan jasa hukum kepada orang yang tidak mampu.
Akan tetapi, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat telah menetapkan dengan tegas tentang bantuan hukum dengan cuma-cuma kepada pencari keadilan. Hal ini telah dijelaskan di dalam Pasal 22 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003, yang berbunyi sebagai berikut.
(1) Advokat wajib memberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu.
(2) Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara pemberian bantuan hukum secara Cuma-Cuma sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 ini merupakan sebuah sentuhan moral kepada advokat, agar dalam menjalankan profesinya harus tetap memperhatikan kepentingan orang-orang yang
13 Bambang Sunggono, Aries Harianto, ibid., hlm. 28.
tidak mampu. Pasal ini juga merupakan imbauan moral dan sekaligus mengasah kepekaan sosial.
Selanjutnya Lasdian Walas menyebutkan bahwa pemberi bantuan hukum itu dapat dibedakan menjadi dua golongan, sebagai berikut.
1. Pemberi bantuan hukum yang menjalankan pekerjaan sebagai mata pencaharian pokok adalah advokat, pengacara dan konsultan hukum.
2. Pemberi bantuan hukum yang menjalankan pekerjaan tersebut tidak sebagai mata pencarian pokok, yakni mereka yang secara insidentil memberikan bantuan hukum, yaitu pegawai negeri termasuk TNI, setelah mendapat izin lebih dahulu dari pimpinannya, komandan, dan orang-orang swasta.14
Pada tahun 1969 Persatuan Advokat Indonesia (PERADIN) telah mengadakan kongres di Jakarta yang menghasilkan berdirinya Lembaga Bantuan Hukum bagi kaum miskin di Indonesia. Lembaga Bantuan Hukum ini menurut Adnan Buyung Nasution adalah bertujuan (sebagai pilot project peradin) meliputi tiga hal yaitu:
1. memberikan bantuan hukum kepada masyarakat miskin yang buta hukum;
2. menumbuhkan dan membina kesadaran warga masyarakat akan hak-haknya sebagai subjek hukum;
3. mengadakan pembaruan hukum (modernisasi) sesuai dengan tuntutan zaman.15
Pekerjaan memberikan bantuan hukum, pelayanan, atau jasa hukum termasuk pekerjaan berwiraswasta. Pekerjaan ini ada hubungan langsung dengan ketertiban hukum dan ketertiban umum.
Oleh karena itu, dianut sistem pengangkatan yang merupakan izin untuk berpraktik. Untuk dapat menjadi seseorang yang berprofesi sebagai penasihat hukum/advokat menurut Undang-Undang Nomor
14 Lasdian Walas, op. cit., hlm. 121.
15 Adnan Buyung Nasution, Bantuan Hukum di Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1988, hlm. 110.
18 Tahun 2003 tentang Advokat telah dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 ayat (1), sebagai berikut.
Pasal 2 ayat (1) berbunyi:
Yang dapat diangkat sebagai Advokat adalah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum dan setelah mengikuti pendidikan khusus profesi Advokat yang dilaksanakan oleh Organisasi Advokat.
Pasal 3 ayat (1) berbunyi:
Untuk dapat diangkat menjadi Advokat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. warga negara Republik Indonesia;
b. bertempat tinggal di Indonesia;
c. tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat negara;
d. berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun;
e. berijazah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1);
f. lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat;
g. magang sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terus-menerus pada Kantor Advokat;
h. tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;
i. berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas yang tinggi.
Menurut penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat menegaskan bahwa, yang dimaksud dengan “berlatar belakang pendidikan tinggi hukum”, adalah lulusan fakultas hukum, fakultas syariah, perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu kepolisian.
Adapun kedudukan dan peran advokat/pengacara dalam hubungan dengan hakim dan jaksa dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system) terhadap sikap dan penilaiannya masing-masing
pihak dalam suatu proses pidana adalah bahwa hakim berpangkal tolak pada posisinya yang objektif dan penilaiannya juga yang objektif, sedangkan jaksa penuntut umum yang mewakili negara dan masyarakat berpangkal tolak pada posisinya yang subjektif, tetapi penilaiannya yang objektif. Hal ini berbeda dengan penasihat hukum/
pengacara/advokat itu yang berpangkal tolak pada posisinya yang subjektif karena mewakili kepentingan tersangka/terdakwa atau klien, dan penilaiannya yang subjektif pula. Meskipun demikian, penasihat hukum/pengacara advokat itu berdasarkan legitimasi yang berpangkal pada etika, ia harus mempunyai penilaian yang objektif terhadap kejadian-kejadian di sidang pengadilan.
Sebelum terbitnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, terdapat beberapa jenis penasihat hukum/pengacara yang berpraktik di muka pengadilan, yaitu sebagai berikut.
1. Advokat
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa advokat adalah salah satu istilah yang sering digunakan untuk seseorang yang memberikan bantuan atau layanan hukum kepada pencari keadilan yang beperkara.
Advokat adalah penasihat hukum yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM dalam Surat Keputusan tersebut dijelaskan beberapa ketentuan-ketentuan sebagai berikut.
a. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM ter- sebut, telah ditetapkan tempat kedudukannya atau domisilinya pada suatu kota tertentu di dalam wilayah Pengadilan Negeri.
b. Pada dasarnya advokat tersebut dapat beracara di muka pengadilan di semua lingkungan badan, termasuk di Pengadilan Agama di seluruh wilayah Republik Indonesia.
c. Dalam rangka penertiban administrasi pengawasan dan pembinaan maka apabila advokat tersebut akan beracara di muka pengadilan di luar daerah hukum Pengadilan Tinggi di mana ia berdomisili, maka advokat tersebut wajib melaporkan diri kepada Ketua Pengadilan Tinggi secara tertulis dengan menyampaikan tembusan kepada:
1) Mahkamah Agung RI,
2) Ketua Pengadilan Tinggi Agama yang dituju, 3) Pengadilan Agama yang dituju.
Penyampaian surat pemberitahuan ini dilakukan dengan surat tercatat, diharapkan sudah diterima pada alamat yang dituju satu minggu sebelum ia mulai beracara.
2. Pengacara Praktik
Pengacara praktik adalah penasihat hukum yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Ketua Pengadilan Tinggi. Berdasarkan Surat Keputusan Ketua Pengadilan Tinggi tersebut, pengacara praktik dimaksud telah ditetapkan tempat kedudukannya, atau domisilinya pada suatu kota tertentu di dalam wilayah Pengadilan Negeri. Pada dasarnya pengacara praktik tersebut dapat beracara di semua lingkungan badan peradilan, termasuk di Pengadilan Agama, di seluruh wilayah Pengadilan Tinggi Agama. Dalam rangka penertiban administrasi pengawasan dan pembinaannya, apabila pengacara praktik tersebut akan beracara di muka pengadilan di luar daerah hukum Pengadilan Negeri tempat domisilinya, ia wajib melaporkan secara tertulis dengan menyampaikan tembusan kepada:
a. Mahkamah Agung RI,
b. Ketua Pengadilan Tinggi Agama tempat domisilinya, c. Ketua Pengadilan Negeri tempat domisilinya,
d. Ketua Pengadilan Agama yang dituju.
3. Kuasa Insidentil
Kuasa hukum yang dimintakan oleh seseorang yang beperkara untuk memberikan bantuan atau nasihat hukum selama perkara berjalan, dengan ketentuan sebagai berikut.
a. Yang bersangkutan tidak harus sarjana hukum, dan tidak pula melakukan kegiatan memberikan bantuan ataupun jasa hukum sebagai profesinya.
b. Yang bersangkutan cukup memperoleh izin Ketua Pengadilan Agama/Pengadilan Negeri, di wilayah hukum di mana yang
bersangkutan diminta untuk memberikan bantuan hukum, dan dalam waktu satu tahun untuk satu perkara saja.
c. Yang bersangkutan tidak perlu memiliki izin berpraktik dari Ketua Pengadilan Tinggi, akan tetapi wajib melaporkan izin dari Ketua Pengadilan Agama tersebut secara tertulis kepada Ketua Pengadilan Tinggi tersebut, dan mengirimkan tembusan kepada:
1) Ketua Pengadilan Tinggi Agama, 2) Ketua Pengadilan Negeri,
3) Ketua Pengadilan Agama yang dituju.16 4. Lembaga Bantuan Hukum Perguruan Tinggi
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Fakultas Hukum atau Syariah dapat memberikan bantuan hukum di muka pengadilan di daerah hukum pengadilan, di mana Lembaga Bantuan Hukum (LBH) tersebut terdaftar. Jika berpraktik di luar wilayah Pengadilan Negeri namun masih dalam wilayah Pengadilan Tinggi tempat kedudukannya, maka ia harus mendapat izin praktiknya, dan menyampaikan izin praktik tersebut kepada (a) Ketua Pengadilan Tinggi di luar Pengadilan Tinggi Umum, (b) Ketua Pengadilan Negeri tempat terdaftar, dan (c) Ketua Pengadilan di luar Pengadilan Negeri yang dituju.17
Setelah adanya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, maka istilah advokat, penasihat hukum, pengacara praktik, dan konsultan hukum yang berpraktik di muka pengadilan, ditetapkan sebagai advokat, dan pengangkatan advokat menurut Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2003 itu dilakukan oleh Organisasi Advokat (Pasal 2 ayat (2)).
16 H. A. Mukti Arto, H. Praktik Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2005, Cet. Ke-VI, hlm. 53.
17 Ahmad Mujahidin, Pembaharuan Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah di Indonesia, Jakarta: Ikatan Hakim Indonesia, 2008, hlm. 101.
B. SELINTAS SEJARAH ADVOKAT ATAU BANTUAN HUKUM
Istilah advokat sesungguhnya telah dikenal semenjak zaman Romawi yang jabatannya atau profesinya disebut dengan nama officium nobile (profesi yang mulia), karena mengabdikan dirinya kepada kepentingan masyarakat dan bukan kepada dirinya sendiri, serta berkewajiban untuk turut menegakkan hak-hak asasi manusia, serta bergerak di bidang moral, khususnya untuk menolong orang-orang tanpa mengharapkan dan/atau menerima imbalan atau honorarium. Hal ini telah dijelaskan oleh Abdul Hakim G. Nusantara yang mengatakan, bahwa bantuan hukum (baca advokat) sebagai kegiatan pelayanan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat miskin dan buta hukum.18
Suatu penelitian yang mendalam tentang sejarah pertumbuhan program bantuan hukum atau advokat dilakukan oleh Mauro Cippelleti, yang dikutip oleh Adnan Buyung Nasution yang me- ngatakan bahwa:
"Program bantuan hukum kepada si miskin telah dimulai sejak zaman Romawi. Juga ternyata bahwa pada tiap zaman, arti dan tujuan pemberian bantuan hukum kepada miskin erat hubungannya dengan nilai-nilai moral, pandangan politik dan falsafah hukum yang berlaku.
Pada zaman Romawi pemberian bantuan hukum oleh Patronus hanyalah didorong oleh motivasi untuk mendatangkan pengaruh dalam masyarakat. Pada zaman abad pertengahan masalah bantuan hukum ini mendapat motivasi baru sebagai akibat pengaruh agama Kristen, yaitu keinginan orang untuk berlomba-lomba memberikan derma (charity) dalam bentuk membantu si miskin dan bersamaan dengan itu pula tumbuh nilai-nilai kemuliaan (nobility) dan kesatriaan (chivalry) yang sangat diagungkan orang. Sejak revolusi Prancis dan Amerika sampai zaman modern sekarang ini, motivasi pemberian bantuan hukum bukan hanya charity atau rasa perikemanusiaan kepada orang yang tidak mampu, melainkan telah timbul aspek hak-
18 Abdul Hakim G. Nusantara, Beberapa Pemikiran Mengenai Bantuan Hukum: Ke arah Bantuan Hukum Struktural, Bandung: Alumni, 1981, hlm. 16.
hak politik atau hak warga negara yang berlandaskan kepada konstitusi modern".19
Pada tahun 1892 di kota Amsterdam dibentuk suatu biro bantuan hukum dari organisasi Toynbee, yang bernama Ons Huis. Biro-biro semacam itu juga dibentuk di kota Leiden dan Den Hag. Biro tersebut memberikan konsultasi hukum dengan biaya yang sangat rendah.
Pada tahun 1905 di kota Keulen Jerman didirikan biro konsultasi hukum yang pertama dengan nama Rechtsaus kunfsteble fur minderbemittleden dengan mendapat subsidi dari kotapraja. Di Amerika Serikat juga dibentuk organisasi bantuan hukum swasta pada tahun 1876, yang tujuannya untuk melindungi kepentingan-kepentingan para imigran Jerman, yang bernama Deutsche Rechtsschutz Verein.
Pemberian advokat khususnya bagi rakyat kecil yang tidak mampu dan buta hukum tampaknya merupakan hal yang dapat dikatakan relatif baru di negara berkembang, demikian juga di Indonesia. Bantuan hukum sebagai suatu legal institution (lembaga hukum) semula tidak dikenal dalam sistem hukum tradisional, dan baru dikenal di Indonesia sejak masuknya atau diberlakukannya sistem hukum Barat di Indonesia.
Menurut Ari Yusuf Amir bahwa bantuan hukum merupakan pelayanan hukum yang bersifat cuma-cuma.20 Semua warga masyarakat atau warga negara, memiliki aksesbilitas yang sama dalam memperoleh pelayanan hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan.
Kemudian Bambang Sunggono, dan Aries Harianto menjelaskan bahwa "Bantuan hukum sebagai kegiatan pelayanan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat miskin dan buta hukum dalam dekade terakhir ini tampak menunjukkan perkembangan yang amat pesat di Indonesia, apalagi sejak Pelita ke III, pemerintah mencanangkan program bantuan hukum sebagai jalur untuk meratakan jalan menuju pemerataan keadilan di bidang hukum."21
19 Adnan Buyung Nasution, op. cit., hlm. 3–4.
20 Ari Yusuf Amir, op. cit., hlm. 25.
21 Bambang Sunggono, Aries Harianto, Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia, Bandung: Mandar Maju, 1994, hlm. 11.
Secara formal, bantuan hukum di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Hal ini bermula pada tahun 1848 ketika di Belanda terjadi perubahan besar dalam sejarah hukumnya.
Berdasarkan asas konkordansi, maka dengan firman raja tanggal 16 Mei 1848 Nomor 1, perundang-undangan di negeri Belanda tersebut juga diberlakukan untuk Indonesia (waktu itu bernama Hindia Belanda), antara lain peraturan tentang susunan kehakiman dan kebijaksanaan pengadilan (Reglement op de Rechterlijke Organisatie en het beleid der justitie in Indonesia) yang disingkat dengan nama R.O.
Stb. 1847 Nomor 23 Juncto Stb. 1848 Nomor 57, dengan segala perubahan dan tambahannya.
Dalam reglement ini diatur persyaratan formal tentang kualifikasi sebagai advokat dan pengacara praktik, pengangkatan dan pember- hentiannya, jenis bantuan yang dilakukan, sistem pengawasannya, dan jenis hukuman atas pelanggaran yang dilakukannya. Dengan demikian, dapatlah diperkirakan bahwa bantuan hukum dalam arti formal baru dimulai di Indonesia pada tahun-tahun itu, dan hal itu pun baru terbatas bagi orang-orang Eropa saja di dalam peradilan Raad Van Justitie.
Menurut Adnan Buyung Nasution, bahwa advokat pertama bangsa Indonesia adalah Mr. Besar Mertokoesoemo yang baru membuka kantornya di Tegal dan Semarang pada sekitar tahun 1923.22 Dalam hukum positif Indonesia masalah bantuan hukum telah diatur dalam Pasal 250 ayat (5) dan ayat (6) Het Herziene Indone- sische Reglemen (HIR atau Hukum Acara Pidana lama). Pasal tersebut dalam praktiknya lebih mengutamakan bangsa Belanda daripada bangsa Indonesia (Inlanders). Daya laku pasal tersebut terbatas bila para advokat tersedia dan bersedia membela orang-orang yang dituduh dan diancam hukuman mati dan/atau hukuman seumur hidup.
Keadaan gambaran di atas terjadi karena di zaman kolonial Belanda dikenal adanya 2 (dua) sistem peradilan yang terpisah satu dengan yang lainnya. Pertama, satu hierarki peradilan untuk orang-
22 Adnan Buyung Nasution, op. cit., hlm. 24.
orang Eropa dan yang dipersamakan (Residentie Gerecht, Raad Van Justitie, dan Hoge Rechtshof). Kedua, hierarki peradilan untuk orang- orang Indonesia dan yang dipersamakan (District Gerecht Regents cheps gerecht, dan lanraad).
Meskipun HIR terbatas daya lakunya dan tidak diperlakukan secara penuh tetapi HIR masih dianggap sebagai pedoman dalam beracara sampai terbitnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan sekarang telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, di mana hak untuk mendapatkan ban- tuan hukum itu dijamin melalui Pasal 56 dan Pasal 57 sebagai berikut.
Pasal 56
(1) Setiap orang yang tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hukum.
(2) Negara menanggung biaya perkara bagi pencari keadilan yang tidak mampu.
Pasal 57
(1) Pada setiap pengadilan negeri dibentuk pos bantuan hukum kepada pencari keadilan yang tidak mampu dalam memperoleh bantuan hukum.
(2) Bantuan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan secara cuma-cuma pada semua tingkat peradilan sampai putusan terhadap perkara tersebut telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
(3) Bantuan hukum dan pos bantuan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Demikian juga hak seorang tersangka atau terdakwa dibela dan di dampingi seorang advokat, juga telah dijamin dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) khususnya dalam Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 114.
Pasal 54
Guna kepentingan pembelaan tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang ini.
Pasal 55
Untuk mendapatkan penasihat hukum tersebut dalam Pasal 54, tersangka atau terdakwa berhak memilih sendiri penasihat hukumnya.
Pasal 56
(1) Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka.
(2) Setiap penasihat hukum yang ditunjuk untuk bertindak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), memberikan bantuannya dengan cuma-cuma.
Pasal 57
(1) Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak menghubungi penasihat hukumnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ini.
(2) Tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing yang dike- nakan penahanan berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya dalam menghadapi proses perkaranya.
Pasal 114
Dalam hal seorang disangka melakukan suatu tindak pidana sebelum dimulainya pemeriksaan oleh penyidik, penyidik wajib mem- beritahukan kepadanya tentang haknya untuk mendapatkan bantuan
hukum atau bahwa ia dalam perkaranya itu wajib didampingi oleh penasihat hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56.
Apabila dilihat dari aspek institusional (kelembagaan) tentang bantuan hukum ini, dapat diketahui bahwa lembaga atau biro bantuan hukum dalam bentuk konsultasi hukum bernama Rechtsshooge School (Sekolah Tinggi Hukum) pernah didirikan di Jakarta pada tahun 1940 oleh Prof. Zeyle Maker, seorang guru besar hukum dagang dan hukum acara perdata, yang bertugas untuk memberi nasihat hukum kepada masyarakat yang tidak mampu, di samping itu juga untuk memajukan kegiatan klinik hukum.
Pada tahun 1953 ide untuk mendirikan semacam biro konsultasi hukum muncul kembali, dan pada tahun 1954 didirikan biro “Tjandra Naya,” yang dipimpin oleh Prof. Ting Swan Tiong, dengan ruang geraknya hanya mengutamakan konsultasi hukum bagi orang-orang keturunan Cina. Atas usulan Prof. Ting Swan Tiong yang disetujui oleh Prof. Sujono Hadibroto (Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia), pada tanggal 2 Mei 1963 bertepatan dengan hari pendidikan nasional resmilah berdiri Biro Konsultasi Hukum di Universitas Indonesia dengan Prof. Ting Swan Tiong sebagai ketuanya. Pada tahun 1968 biro ini berubah namanya menjadi Lembaga Konsultasi Hukum, dan pada tahun 1974 menjadi Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH).
Kemudian T. Mulia Lubis mengemukakan, bahwa di daerah- daerah lain biro yang serupa juga didirikan Prof. Muchtar Kusumaatmadja di Fakultas Hukum Universitas Pajajaran bisa disebut tokoh bantuan hukum yang banyak jasanya dalam memberi contoh teladan bagi biro-biro serupa di daerah lain. Meski Biro Konsultasi Hukum di Fakultas Hukum Unpad baru didirikan pada tahun 1967, tidaklah salah jika menyimpulkan bahwa Fakultas Hukum Unpad telah amat berhasil dalam tugas pengabdian masyarakat.23
23 T. Mulia Lubis, Gerakan Bantuan Hukum di Indonesia Sebuah Studi Awal, dalam Beberapa Pemikiran Mengenai Bantuan Hukum: Ke arah Bantuan Hukum Struktural, Bandung: Alumni, 1981, hlm. 11.
Di luar kelembagaan bantuan hukum di Fakultas-Fakultas Hukum, lembaga bantuan hukum melakukan aktivitasnya dengan lingkup yang lebih luas di mulai sejak didirikannya Lembaga Bantuan Hukum di jakarta pada tanggal 28 Oktober 1970 oleh Persatuan Advokat Indonesia di bawah pimpinan Adnan Buyung Nasution. Pada masa Orde Baru itu masalah bantuan hukum tumbuh dan berkembang dengan pesat.
Dewasa ini jasa bantuan hukum banyak dilakukan oleh organisasi- organisasi bantuan hukum yang tumbuh dari berbagai organisasi profesi maupun organisasi kemasyarakatan. Hal ini telah disebutkan dalam Pasal 32 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yaitu Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM), dan Asosiasi Pengacara Syari’ah Indonesia (APSI). Dengan demikian, para penikmat bantuan hukum dapat lebih leluasa dalam upaya mencari keadilan dengan memanfaatkan organisasi-organisasi bantuan hukum tersebut.
A JENIS-JENIS KEBUTUHAN
Semua warga masyarakat yang menghadapi masalah hukum, mengharapkan adanya advokat. Akan tetapi di dalam kenyataannya, tidak semua orang yang menghadapi masalah hukum, memperoleh advokat/penasihat hukum. Oleh karena itu, sering kali dikatakan, bahwa kebutuhan akan advokat/penasihat hukum lebih bersifat subjektif, kekurangan akan advokat lebih bersifat institusional.
Maksudnya ada kekurangan-kekurangan pada penyelenggaraan proses penasihat hukum (dari sudut pihak yang berfungsi untuk menyelenggarakannya).
Apabila berbicara masalah kebutuhan secara umum, maka menurut Maslow dikenal adanya 6 (enam) jenis kebutuhan manusia.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:
1. kebutuhan fisiologis;
2. kebutuhan akan rasa aman;
3. rasa cinta dan mengerti;
4. ingin tahu dan ingin memiliki;
5. kebutuhan akan penghargaan;
6. kebutuhan akan kebebasan dalam bertingkah laku.1
1 Soerjono Soekanto, Bantuan Hukum Suatu Tinjauan Sosio Yuridis, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983, hlm. 34.
BAB 2
Kebutuhan Akan Seorang
Advokat
Adanya kebutuhan-kebutuhan yang dikehendaki oleh manusia akan menimbulkan suatu hasrat atau motivasi untuk berperilaku, yang pada gilirannya akan tercapai tujuan-tujuan yang dikehendaki. Kalau tujuan tersebut tercapai, maka sementara waktu terwujudlah suatu keserasian.
Seandainya kebutuhan-kebutuhan manusia itu tidak tercapai atau kurang tercapai, maka akan terjadi kekacauan. Jika toleransi terhadap kekacauan tersebut tidak memadai, akan menimbulkan berbagai reaksi, misalnya agresi, dan kompensasi. Sarlito Wirawan Sarwono pernah menjelaskan, bahwa kalau pada suatu saat terjadi dua kebutuhan sekaligus yang sama maka akan timbul keadaan dalam diri orang yang bersangkutan dinamakan konflik.2
Konflik tersebut dapat bersifat mendekat-mendekat, menjauh- menjauh atau mendekat-menjauh. Konflik mendekat-mendekat terjadi, apabila seseorang dihadapkan pada pemilihan yang sama kuat nilai positifnya. Adapun konflik menjauh-menjauh, terjadi apabila pilihan melibatkan hal-hal yang sama nilai negatifnya.
Secara psikologis kebutuhan akan bantuan hukum atau seorang advokat senantiasa harus dikaitkan dengan hal-hal di atas. Yang tidak kalah pentingnya adalah, akibat-akibat yang harus diperhitungkan apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi.
Adnan Buyung Nasution mengatakan antara lain, yaitu "... ma- salah kesempatan mendapatkan keadilan bukan hanya masalah hukum melainkan juga merupakan masalah politik , bahkan lebih jauh lagi adalah pula masalah budaya ..., persoalannya bertambah rumit apabila kita melihat dari sudut ekonomi disebabkan oleh kemiskinan yang merembes luas, tingkat tuna huruf yang tinggi, dan keadaan kesehatan yang buruk."3
2 Sarlito Wirawan Sarwono, Topik-Topik Psikologi Social. Proyek Normalisasi Kehidupan Kampus, Materi Dasar Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi, Jilid II, Jakarta: Departemen P dan K. 1982/1983, hlm. 6.
3 Adnan Buyung Nasution, Bantuan Hukum di Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1988, hlm. 49–50.
B. CARA-CARA MENGUKUR ADANYA KEBUTUHAN
Sebagaimana telah diketahui, bahwa kebutuhan bukan hanya terbatas pada bantuan hukum (advokat), namun menyangkut juga masalah- masalah hidup lainnya, seperti kebutuhan akan pendidikan, pe- rawatan, kesehatan, dan rekreasi.
Cara untuk mengukur adanya kebutuhan menurut Harvey adalah sebagai berikut:
1. mekanisme pasaran, melalui permintaan dan penawaran;
2. menanyakan kepada orang-orang yang mempunyai kebutuhan, misalnya dengan mengadakan suatu survei;
3. menafsirkan data statistik;
4. menanyakan kepada mereka yang ahli.4
Mengukur adanya kebutuhan berdasarkan mekanisme pasaran agaknya kurang memadai, karena kebutuhan akan bantuan hukum (advokat) diukur semata-mata atas dasar frekuensi datangnya warga masyarakat untuk meminta bantuan hukum. Sudah dapat diduga, bahwa para pemberi bantuan hukum (dalam hal ini para advokat) akan mempertimbangkan dengan saksama antara bantuan hukum komersial dengan sosial, sehingga kurang menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari kebutuhan akan bantuan hukum.
Kebutuhan akan bantuan hukum dengan suatu penelitian survei, akan dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada mekanisme pasaran. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan akan bantuan hukum, akan dapat diungkapkan secara merata. Akan tetapi ada pula bahayanya, yaitu bahwa kebutuhan akan bantuan hukum terlalu dibesar-besarkan oleh peneliti. Walaupun demikian, penelitian tersebut mempunyai arti penting, karena pertama, untuk mengidentifikasi secara ilmiah permasalahan-permasalahan serta sasaran utama strategi pemerataan khususnya pemerataan kesempatan untuk memperoleh keadilan; kedua, sebagai bagian dari upaya pengembangan pengetahuan mengenai gejala kemiskinan di Indonesia
4 Soerjono Spekanto, op. cit., hlm. 37.
dalam rangka pendayagunaan hukum untuk kepentingan masyarakat miskin serta guna mengefektifkan operasionalisasi konsep pelayanan hukum dalam arti luas.5
Kemudian kebutuhan akan advokat dapat juga diukur dari data statistik mengenai bantuan hukum yang ada. Selain itu dapat juga digunakan berbagai data statistik mengenai kasus-kasus tertentu, seperti angka perceraian serta proyeksinya ke masa depan. Walaupun kadang-kadang data statistik hanyalah mengungkapkan aspek kuantitatif belaka, akan tetapi informasi ini pun akan sangat berguna.
Sebagai contoh data statistik sebagaimana dikemukakan oleh Adnan Buyung Nasution mengenai Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, yaitu sebagai berikut.
"Menurut catatan selama 5 (lima ) tahun yang lalu, ternyata ada rata-rata 2000 (dua ribu) orang pencari keadilan yang datang ke Lembaga Bantuan Hukum setiap tahunnya untuk meminta bantuan hukum. Sembilan puluh persen dari padanya diterima sebagai klien dan hanya 10% yang ditolak. Alasan-alasan penolakan adalah karena mereka tidak termasuk orang miskin dan buta hukum, atau perkara yang diajukannya tidak ada dasar hukumnya untuk diurus.
Jika dilihat jenis atau sifat perkara/persoalan-persoalan yang dibela dan diwakili oleh Lembaga Bantuan Hukum, maka kita peroleh perincian sebagai berikut:
1. 60% perkara-perkara perdata;
2. 20% perumahan;
3. 15% perkara pidana;
4. 5% perkara perburuhan.
Dari jumlah perkara-perkara yang masuk tersebut di atas, menurut catatan rata-rata 75 % dapat diselesaikan setiap tahunnya."6
5 Tim Peneliti Lembaga Kriminologi UI, Kebutuhan Hukum Golongan Miskin, Jakarta: Seminar Evaluasi Penelitian L.K. UI, 1982, hlm. 2–3.
6 Adnan Buyung Nasution, op. cit., hlm. 11.
Perlu dijelaskan bahwa pengertian diselesaikan tidaklah berarti bahwa semua perkara-perkara tersebut diselesaikan melalui proses peradilan, melainkan juga termasuk penyelesaian perkara di luar pengadilan, yaitu dengan melalui cara-cara pemberian advis-advis hukum, perdamaian ataupun teguran-teguran pada pihak-pihak yang bersangkutan.
Mengukur kebutuhan dengan cara menanyakan pengalaman dari para ahli, merupakan suatu ukuran juga bagi kebutuhan akan bantuan hukum. Mereka yang sehari-hari berkecimpung di bidang bantuan hukum maupun mereka yang meneliti masalah tersebut, akan dapat memberikan dasar-dasar tertentu bagi kebutuhan akan bantuan hukum. Lord Denning berpendapat bahwa kebutuhan akan bantuan hukum tidak hanya terbatas pada lapisan masyarakat terbawah.7
Selanjutnya Adnan Buyung Nasution berpendapat sebagai berikut.
"Bantuan bagi si miskin umumnya diartikan sebagai pemberian jasa-jasa hukum (legal services) kepada orang-orang yang tak mampu untuk menggunakan jasa-jasa advokat atau professional lawyers.
Meskipun motivasi ataupun rationale dari pemberian bantuan hukum kepada si miskin ini berbeda-beda dari zaman ke zaman, namun ada suatu hal yang kiranya tidak berubah sehingga merupakan suatu benang merah, yaitu dasar kemanusiaan (humanity)."8
C. KEBUTUHAN JASA HUKUM SEORANG ADVOKAT Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999–2004 dengan tegas dinyatakan, bahwa mengembangkan budaya hukum di semua lapisan masyarakat untuk terciptanya kesadaran dan kepatuhan hukum dalam kerangka supremasi hukum dan tegaknya negara hukum.
Tujuan di atas adalah, agar warga masyarakat menghayati hak dan kewajibannya. Kecuali itu, tujuannya adalah agar sikap pelaksana
7 Lord Denning, What Next In The Law, London: Butterworths, 1982, hlm. 114.
8 Adnan Buyung Nasution, op. cit., hlm. 99.
penegak hukum menuju pada tegaknya hukum, keadilan serta perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia.
Sebagaimana diketahui, telah banyak lembaga-lembaga yang didirikan untuk melakukan bantuan hukum. Lembaga-lembaga tersebut ada yang berada di sektor swasta, dan ada juga yang berada di bawah naungan perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Dalam memenuhi kebutuhan akan jasa advokat atau Lembaga Bantuan Hukum dari masyarakat diperlukan beberapa kualifikasi yang memadai agar seorang advokat dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut.
Menurut Ropaun Rambe menjelaskan bahwa, kebutuhan akan jasa hukum dari seorang advokat dapat berupa nasihat hukum, konsultasi hukum, pendapat hukum, legal audit, pembelaan baik di luar maupun di dalam pengadilan serta pendampingan di dalam perkara-perkara pidana atau malahan dalam arbitrase perdagangan dan perburuhan.9
Selanjutnya Soerjono Soekanto pernah menjelaskan, bahwa kebutuhan akan jasa hukum dari seorang advokat pada umumnya mencakup sebagai berikut.
1. Penerangan, yaitu memberikan informasi kepada warga masyarakat yang tidak tahu hukum (yang kadang-kadang ditafsirkan sebagai “tidak tahu peraturan perundang-undangan”).
2. Pemberian nasihat, yang tujuannya adalah agar warga masyarakat tersebut dapat mengambil suatu keputusan.
3. Pemberian jasa, misalnya membantu menyusun surat gugatan.
4. Bimbingan yang merupakan suatu bentuk pemberian jasa yang bersifat permanen.
5. Memberi peraturan antara pencari keadilan dengan lembaga pemberi keadilan.
9 Ropaun Rambe, Teknik Praktek Advokat, Jakarta: Grasindo, 2001, hlm. 10.
6. Mewakili atau menjadi kuasa di dalam maupun di luar profesi peradilan.10
Kebutuhan di atas pada dasarnya merupakan metode atau cara penyelenggaraan bantuan hukum yang dikenal. Dalam rangka memasuki era perdagangan bebas, kebutuhan akan jasa advokat khususnya advokat yang bergerak di bidang business law, investment law, cross-border acquisition, dan merger akan sedemikian meningkat sehingga tentunya dunia bisnis membutuhkan dan menuntut kualitas advokat yang tangguh dan berwawasan internasional.
Advokat yang bergerak di bidang hukum bisnis disebut juga dengan konsultan hukum. Terjadinya sengketa atau perselisihan di dalam berbagai kegiatan bisnis dapat merugikan pihak-pihak yang bersengketa, baik mereka yang berada pada posisi yang benar maupun pada posisi yang salah. Oleh karena itu, terjadinya sengketa bisnis perlu dihindari untuk menjaga reputasi dan relasi yang baik ke depan.
Walaupun demikian, sengketa kadang-kadang tidak dapat dihindari karena adanya kesalahpahaman, pelanggaran perundang-undangan, ingkar janji, kepentingan yang berlawanan, dan/atau kerugian pada salah satu pihak.
Apabila sengketa telah terjadi, maka pihak yang merasa dirugikan tentu melakukan konsultasi hukum kepada advokat, yang akan menawarkan dua cara yang dapat ditempuh dalam penyelesaian sengketa yang tepat, yaitu (1) Peradilan (litigasi), dan (2) Di luar peradilan (nonlitigasi) atau alternative dispute resolution (ADR),11 sebagai berikut.
1. Peradilan (Litigasi)
Peradilan merupakan jalur penyelesaian konvensional untuk menyelesaikan berbagai macam sengketa misalnya yang timbul dari ingkar janji, keluhan konsumen, keluhan masyarakat terhadap lingkungan, sengketa pemborongan bangunan, dan sengketa sesama
10 Soerjono Soekanto, Beberapa Aspek Sosio Yuridis Masyarakat, Bandung: Alumni, 1983, hlm. 301.
mitra bisnis. Apabila sengketa tersebut timbul, maka salah satu pihak yang merasa benar atau dirugikan oleh pihak lain dapat membawa sengketa tersebut ke Pengadilan Negeri.
Seorang advokat akan memberikan jasa hukum kepada pelaku bisnis yang merasa dirugikan untuk membela hak-haknya, dan memper-juangkan kebenaran dan keadilan di pengadilan mulai dari tahap pengajuan gugatan, jawaban, replik, duplik, pembuktian, kesimpulan, dan putusan hakim.
Contoh gugatan perkara ingkar janji (wanprestasi) atau cidera janji, sebagai berikut.
Perihal: Gugatan Sungai Penuh, ... 20 ....
Kepada Yth,
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Sungai Penuh di,
Sungai Penuh.
Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini:
--- Ishaq, S.H.,M.Hum, --- Advokat, berkantor di jalan Depati Parbo Sungai Penuh Kerinci, berdasarkan Surat Kuasa tanggal 30 Desember 2009, bertindak untuk dan atas nama: --- --- Sudirman --- Pengusaha, bertempat tinggal di Jalan KH.Ahmad Dahlan Koto Renah Kecamatan Pesisir Bukit Kabupaten Kerinci, selanjutnya disebut Penggugat, mohon menyampaikan gugatan terhadap: --- --- Abdul Kadir --- pedagang, bertempat tinggal di Jalan Basuki Rahmat No. 10 Rt 2 Sungai Penuh Kabupaten Kerinci, selanjutnya disebut Tergugat; --- Bahwa gugatan Penggugat tersebut adalah sebagai berikut:--- ---- Bahwa pada tanggal 17 Agustus 2009 antara Penggugat dan
Tergugat telah diadakan perjanjian di muka Notaris Daman Huri, S.H.
sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris Nomor 12 yang isinya Penggugat akan mengerjakan mendirikan sebuah bangunan di atas tanah milik Tergugat berukuran panjang 15 meter, lebar 7 meter.
Semua bahan bangunan menjadi tanggung jawab Penggugat.
Bangunan tersebut harus selesai dan diserahkan Penggugat kepada Tergugat dalam waktu 2 (dua) bulan, yakni tanggal 17 Oktober 2009.
Harga bangunan tersebut adalah sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) kepada Penggugat, sedangkan sisanya sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dilunasi Tergugat pada saat bangunan toko tersebut selesai dan diserahkan Penggugat kepa- danya; --- ---- Bahwa bangunan toko tersebut telah Penggugat selesaikan dan serahkan kepada Tergugat tepat pada waktunya, yakni tanggal 17 Agustus 2009, tetapi ternyata Tergugat belum melunasi sisa harga bangunan toko sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) tersebut kepada Penggugat dengan alasan masih belum ada uang dan ia meminta waktu dua (2) minggu mendatang. Permintaan Tergugat tersebut disetujui oleh Penggugat; --- ---- Bahwa setelah tiba waktu dua (2) minggu sesuai yang dijanjikan, ternyata Tergugat ingkar janji. Oleh karena itu, wajarlah bila Penggugat menuntutnya lewat Pengadilan Negeri Sungai Penuh; --- ---Bahwa karena Penggugat khawatir Tergugat mengoperkan bangunan toko tersebut kepada orang lain, maka Penggugat mohon agar diletakkan sita jaminan atasnya; --- ---- Bahwa agar Tergugat mau melaksanakan putusan perkara ini nantinya, mohon agar Tergugat dihukum membayar uang paksa kepada Penggugat sebesar Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) sehari, setiap ia lalai memenuhi isi putusan terhitung sejak putusan diucapkan sampai dilaksanakan; --- ---- Bahwa mengingat gugatan Penggugat ini cukup beralasan dan dikuatkan oleh alat-alat bukti yang sah, maka penggugat mohon putusan bijvoorrad; --- Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Penggugat mohon kepada
Pengadilan Negeri Sungai Penuh berkenan memutuskan sebagai berikut: --- PRIMAIR
1. Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya; --- 2. Menyatakan sah dan berharga semua alat bukti yang diajukan
Penggugat dalam perkara ini; --- 3. Menyatakan sah menurut hukum Akta Notaris Nomor 12 tertanggal 17 Agustus 2009 antara Penggugat dan Tergugat yang dibuat di muka Notaris Daman Huri, S.H.; --- 4. Menyatakan Tergugat ingkar janji/cidera janji tidak melunasi sisa pembayaran pembangunan toko sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) kepada Penggugat; --- 5. Menghukum Tergugat untuk membayar kepada Penggugat sisa pembayaran pembangunan toko sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) secara tunai/sekaligus; --- 6. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan dalam perkara ini; --- 7. Menghukum Tergugat membayar uang paksa kepada Penggugat sebesar Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) sehari, setiap ia lalai memenuhi isi putusan, terhitung sejak putusan diucapkan hingga dilaksanakannya; --- 8. Menyatakan bahwa putusan ini dapat dijalankan lebih dahulu
meskipun ada perlawanan, banding, atau kasasi; --- 9. Menghukum Tergugat untuk membayar segala biaya yang timbul
dalam perkara ini; --- SUBSIDAIR
Mohon supaya Pengadilan Negeri Sungai Penuh dapat memberikan putusan yang seadil-adilnya; --- Terima kasih.
Hormat kuasa penggugat ISHAQ, S.H., M.Hum
Sebagai advokat peran utamanya adalah mendampingi dan membela hak-hak klien dalam menjalani seluruh tahapan proses pemeriksaan sidang tersebut.12 Kehadiran advokat (pengacara) dalam persidangan pengadilan diharapkan dapat membantu hakim dalam mencari kebenaran hukum.13
2. Di Luar Peradilan (Nonlitigasi)
Selain advokat memberikan jasa hukum di dalam persidangan pengadilan, advokat juga memberikan jasanya di luar sidang pengadilan berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang mulai berlaku tanggal 12 Agustus 1999.
Di dalam undang-undang tersebut mengatur mengenai pe- nyelesaian suatu sengketa antarpara pihak dalam hubungan tertentu yang telah mengadakan perjanjian arbitrase yang secara tegas menyatakan bahwa semua sengketa atau beda pendapat yang timbul atau mungkin timbul dari hubungan hukum akan diselesaikan dengan prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara negosiasi/perundingan (negotiation), mediasi/
penengahan (mediation), dan arbitrase (arbitration)14. a. Negosiasi/Perundingan (Negotiation)
Seorang pengacara atau advokat di dalam memberikan jasa hukum kepada klien di luar sidang pengadilan, terlebih dahulu membuat surat somasi kepada pihak lawan untuk kompromi atau negosiasi guna mencari penyelesaian. Negosiasi ini merupakan proses tawar-menawar antara pihak-pihak yang bersengketa, di mana pihak yang satu dalam hal ini pengacara berhadapan dengan pihak lainnya berusaha untuk mencapai titik kesepakatan tentang persoalan tertentu yang
12 Ari Yusuf Amir, Strategi Bisnis Jasa Advokat, Yogyakarta: Navila Idea, 2008, hlm. 19.
13 H. Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Kencana, 2005, hlm. 68.
14 Sanusi Bintang, Dahlan, op. cit., hlm. 116–118.
dipersengketakan. Misalnya negosiasi tentang pembayaran ingkar janji. Contoh surat somasi dapat dilihat di bawah ini.
Sungai Penuh, ………20…
Nomor : ...
Lampiran : 1 (satu) berkas Perihal : Somasi
Kepada Yth, Bapak Ahmad
Jl. Depati Parbo No.10 Rt. 1 Koto Lebu Sungai Penuh di
Sungai Penuh Kerinci
Dengan hormat,
Bersama ini disampaikan kepada Bapak, bahwa berhubung sampai saat ini Bapak masih wanprestasi kepada Bapak Burhan. Oleh karena itu, kami kuasa hukum Bapak Burhan mengharapkan kehadiran Bapak pada:
Hari/ tanggal : ...
Jam/Pukul : 10.00 Wib sampai dengan selesai.
Tempat : Jl Depati Parbo Rt 2 No.11 Karya Bakti Sungai Penuh Telp: ... Fax ...
Maksud : Musyawarah/Perdamaian.
Kehadiran Bapak tepat pada waktunya sangat Kami hargai, guna untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan.
Demikian disampaikan, terima kasih.
Hormat Kami, Kuasa Hukum Burhan
ISHAQ, SH., M.Hum.
b. Mediasi/Penengahan (Mediator)
Seorang advokat dapat juga memberikan jasa hukum kepada klien dengan cara mediasi sebagai kelanjutan proses negosiasi untuk membantunya menyelesaikan persengketaan itu. Tugas-tugas mediator menurut Pasal 15 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2008 adalah sebagai berikut.
1. Mediator wajib mempersiapkan usulan jadwal pertemuan mediasi kepada para pihak untuk dibahas dan disepakati.
2. Mediator wajib mendorong para pihak untuk secara langsung berperan dalam proses mediasi.
3. Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus.
4. Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para pihak.15
Dalam proses mediasi yang digunakan adalah nilai-nilai yang hidup pada para pihak sendiri, yang terdiri dari hukum, agama, moral, etika, dan rasa adil terhadap fakta-fakta yang diperoleh untuk mencapai suatu kesepakatan. Kedudukan mediator dalam mediasi hanya sebagai pembantu para pihak untuk mencapai konsensus, karena pada prinsipnya para pihak sendirilah yang menentukan putusannya bukan mediator.
Upaya penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui mediator demikian dengan memegang teguh keberhasilan, dalam waktu paling
15 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2008 ten- tang Prosedur Mediasi di Pengadilan, Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2008, hlm. 9–10.
lama 40 (empat puluh) hari kerja sejak mediator dipilih oleh para pihak. Atas dasar kesepakatan para pihak, jangka waktu mediasi dapat diperpanjang paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak berakhir masa 40 (empat puluh) hari.16
Jika mediasi berhasil menyelesaikan sengketa di luar pengadilan dengan kesepakatan perdamaian, dapat mengajukan perdamaian tersebut ke pengadilan yang berwenang, dalam hal ini pengadilan negeri, untuk memperoleh akta perdamaian dengan cara mengajukan gugatan. Pengajuan gugatan tersebut harus melampirkan kesepakatan perdamaian dan dokumen yang membuktikan adanya hubungan hukum antara para pihak dengan objek sengketa.
Berdasarkan ketentuan di atas, maka menurut Pasal 23 ayat (3) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan menyebutkan bahwa, hakim di hadapan para pihak hanya akan menguatkan kesepakatan perdamaian dalam bentuk akta perdamaian apabila kesepakatan perdamaian tersebut memenuhi syarat-syarat sebagai berikut. (a) se- suai kehendak para pihak, (b) tidak bertentangan dengan hukum, (c) tidak merugikan pihak ketiga, (d) dapat dieksekusi, (e) dengan iktikad baik.
Apabila Advokat selaku mediator tidak berhasil mendamaikan para pihak yang bersengketa selama waktu maksimal 40 (empat puluh) hari kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, maka mediator itu wajib menyatakan secara tertulis bahwa proses mediasi telah gagal, dan memberitahukan kegagalan kepada hakim. Selanjutnya advokat sebagai mediator menyerahkan kepada pengadilan negeri untuk selanjutnya diperiksa oleh hakim perkara tersebut sesuai dengan ketentuan hukum acara yang berlaku.
16 Pasal 13 ayat (3) dan ayat (4) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indo- nesia Nomor 01 Tahun 2008, ibid., hlm. 9.
c. Arbitrase (Arbitration)
Arbitrase merupakan sistem ADR (Alternative Dispute Resolution) yang paling formal sifatnya. Lembaga arbitrase tidak lain merupakan suatu jalur musyawarah yang melibatkan pihak ketiga sebagai wasitnya.17 Jadi, di dalam proses arbitrase para pihak yang bersengketa menyerahkan penyelesaian sengketanya kepada pihak ketiga yang bukan hakim, melalui advokat dengan sistem penyelesaian sengketa arbitrase walaupun dalam pelaksanaan putusannya harus dengan bantuan hakim.
Pemberian jasa hukum advokat dalam membela kliennya untuk menyelesaikan sengketa dengan jalur arbitrase ini dapat mempergunakan salah satu dari dua cara yang dapat membuka jalan timbulnya perwasitan, yaitu sebagai berikut.
1. Dengan mencantumkan klausula dalam perjanjian pokok, yang berisi bahwa penyelesaian sengketa yang mungkin timbul akan diselesaikan dengan peradilan wasit (pactum de compromittendo).
2. Dengan suatu perjanjian tersendiri di luar perjanjian pokok.
Perjanjian ini dibuat secara khusus bila telah timbul sengketa dalam melaksanakan perjanjian pokok. Surat perjanjian semacam ini disebut “akta kompromis”. Akta kompromis ini ditulis dalam suatu akta dan ditandatangani oleh para pihak. Kalau para pihak tidak dapat menandatangani, akta kompromis itu harus dibuat di muka notaris dan saksi. Akta kompromis tersebut berisi pokok- pokok dari perselisihan, nama dan tempat tinggal para pihak, demikian pula nama dan tempat tinggal wasit atau para wasit, yang jumlahnya selalu ganjil.18
Perlu diketahui bahwa sengketa yang dapat diselesaikan melalui jalur arbitrase yaitu sengketa dalam dunia bisnis saja seperti masalah perdagangan, perindustrian, dan keuangan. Sengketa perdata lainnya
17 Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis, Jakarta: Bina Cipta, 2003, hlm. 42.
18 Richard Burton Simatupang, ibid., hlm. 45.
seperti masalah warisan, pengangkatan anak, perumahan, perburuhan dan lain-lainnya, tidak dapat diselesaikan oleh lembaga arbitrase.
Perkembangan akan kebutuhan konsultan hukum bisnis adalah suatu kenyataan sebagai akibat dari perkembangan zaman. Pada akhir- akhir ini, permintaan akan seorang advokat secara kuantitatif sudah meningkat dan diharapkan akan meningkat terus.