LANDASAN TEORI
2.2 Teori Pengawasan
2.2.2 Jenis-jenis Pengawasan
Beberapa para ahli ilmu administrasi atau manajemen berbeda-beda dalam mengemukakan pendapat mengenai macam-macam dan syarat-syarat pengawasan, hal ini dikarenakan sudut pandang dari berbagai para ahli yang berbeda.
Menurut Maringan (2004:62) Pengawasan terbagi 4 yaitu :
a. Pengawasan dari dalam perusahaan
Pengawasan yang dilakukan oleh atasan untuk mengumpulkan data atau informasi yang diperlukan oleh perusahaan untuk menilai kemajuan dan kemunduran perusahaan.
b. Pengawasan dari luar perusahaan
Pengawasan yang dilakukan oleh unit diluar perusahaan. Ini untuk kepentingan tertentu.
c. Pengawasan preventif
Pengawasan dilakukan sebelum rencana itu dilaksanakan. Dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan/kekeliruan dalam pelaksanaan kerja.
d. Pengawasan represif
Pengawasan yang dilakukan setelah adanya pelaksanaan pekerjaan agar hasilnya sesuai dengan yang direncanakan. Menurut Ernie dan Saefullah (2005:327) jenis pengawasan terbagi menjadi tiga :
a. Pengawasan awal
Pengawasan yang dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan pekerjaan. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan.
b. Pengawasan proses
Pengawasan dilakukan pada saat sebuah proses pekerjaan tengah berlangsung untuk memastikan apakah pekerjaan tengah berlangsung untuk memastikan apakah pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ditetapakan. c. Pengawasan akhir
Pengawasan yang dilakukan pada saat akhir proses pengerjaan pekerjaan.
Menurut Handayaningrat (1980:143) mengemukakan bahwa pengawasan itu diuraikan dalam 4 macam yaitu :
1. Pengawasan dari dalam organisasi (internal control) adalah pengawasan yang dilakukan oleh Aparat/unit pengawasan yang dibentuk didalam organisasi itu sendiri. Aparat/unit pengawasan ini bertindak atas nama Pimpinan organisasi. Data-data dan informasi ini dipergunakan oleh Pimpinan untuk menilai kemajuan dan kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan. Hasil pengawasan ini dapat pula dgunakan dalam menilai kebijaksanaan Pemimpin.
2. Pengawasan dari luar organisasi (exernal control) adalah pengawasan yang dilakukan oleh Aparat/unit pengawasan dari luar organisasi itu. Aparat/unit pengawasan dari luar organisasi itu Aparat pengawasan yang bertindak atas nama atasan dan pimpinan organisasi itu, atau bertindak atas nama Pimpinan organisasi itu karena permintaannya.
3. Pengawasan Preventif adalah pengawasan yang dilakukan sebelum rencana itu dilaksanakan. Maksud dari pengawasan preventif ini adalah untuk mencegah terjadinya kekeliruan/kesalahan dalam pelaksanaan. Pengawasan preventif dapat dilakukan dengan usaha-usaha sebagai berikut :
a. Menentukan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan sistem prosedur, hubungan dan tata kerjanya; b. Membuat pedoman/manual sesuai dengan peraturan yang
ditetapkan;
c. Menentukan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggungjawabnya;
d. Mengorganisasikan segala macam egiatan, penempatan pegawai dan pembagian pekerjaannya;
e. Menentukan sistem koordinasi, pelaporan dan pemeriksaan;
f. Menetapkan sanksi-sanksi terhadap pejabat yang menyimpang dari peraturan yang telah diterapkan.
4. Pengawasan Repressif adalah pengawasan yang dilakukan setelah adanya pelaksanaan pekerjaan. Maksud diadakannya pengawasan ini adalah untuk menjamin kelangsungan pelakanaan pekerjaan agar hasilnya seuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Sedangkan apabila mengacu pada Lembaga Administratif Negara Republik Indonesia dalam bukunya Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia mengemukakan macam-macam pengawasan dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Subyek yang melakukan pengawasan
Berdasarkan subyek yang melakukan pengawasan, dalam Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia dikembangkan menjadi 4 macam pengawasan yaitu :
a) Pengawasan Melekat (Waskat), yaitu pengawasan yang dilakukan oleh setiap pimpinan terhadap bawahan dan satuan kerja yang dipimpinnya.
b) Pengawasan Fungsional (Wasnal), yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparat yang tugas pokoknya melakukan pengawasan. Seperti Itjen, Itwilprop, BPKP dan Bepeka.
c) Pengawasan Masyarakat (Wasmas), yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat, seperti yang termuat dalam media massa.
2. Cara pelaksanaan Pengawasan
Berdasarkan faktor ini, dapat dibedakan antara pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung.
a) Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilaksanakan di tempat kegiatan berlangsung, yaitu dengan mengadakan inspeksi dan pemeriksaan.
b) Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang dilaksanakan dengan mengadakan permintaan dan pengkajian laporan dari pejabat/satuan kerja yang bersangkutan, aparat pengawasan fungsional, pengawasan legislatif dan pengawasan masyarakat.
3. Waktu Pelaksanaan
a) Pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dimulai, pengawasan ini antara lain dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan dan peretujuan atas rencana kerja dan rencana anggarannya, penetapan petunjuk operasional (PO), persetujuan atas rancangan peraturan perundangan yang akan ditetapkan oleh pejabat/instansi yang lebih rendah. Pengawasan ini bersifat
preventif dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan, penyelewengan pemborosan, kesalahan, terjadinya hambatan dan kegagalan.
b) Pengawasan yang dilakukan selama pekerjaan sedang berlangsung. Pengawasan ini dilakukan dengan tujuan membandingkan antara hasil yang nyata dicapai dengan yang seharusnya telah dan yang harus dicapai dalam waktu selanjutnya.
c) Pengawasan yang dilakukan sesudah pekerjaan selesai dilaksanakan. Pengawasan ini dilakukan dengan cara membandingkan antara rencana dan hasil.
Ditinjau dari berbagai aspek, pada dasarnya terdapat berbagai macam pengawasan yang dibedakan dalam subyek pengawasan, obyek pengawasan dan waktu pengawasan.
Ditinjau dari segi subyek atau yang melaksanakan pengawasan, menurut Adisamita (2010:132) maka fungsi dan kegiatan pengawasan dibedakan dalam dua jenis, yakni :
a) Pengawasan internal adalah yang dilakukan oleh suatu badan/lembaga pengawasan terhadap organ-organ dalam tubuh suatu organisasi. Sebagai contoh mengenai pengawasan internal ini dikemukakan oleh Sujamto (1986:62) yaitu BPKP ditinjau dari Departemen yang bersangkutan, Inspektorat wilayah Provinsi, Inspektorat Wilayah Kabupaten/Kota ditinjau dari Provinsi dan Kabupaten/Kota masing-masing.
b) Pengawasan eksternal adalah pengawasan yang dilakukan oleh perangkat, pejabat atau lembaga pengawasan diluar suatu unit organisasi.
Kedua jenis pengawasan diatas disebut pengawasan formal, sebab yang melakukan ini adalah badan/lembaga yang mempunyai kedudukan formal (legal), seperti Badan Pemriksa Keuangan (BPK).
Ditinjau dari segi objek pengawasan Manullang yang mengutip Beishline (1983:177), membedakan objek pengawasan yaitu “(a) Pengawasan Operatif, dan (b) Pengawasan Administratif”. Pengawasan
operatif untuk bagian terbesar berurusan dengan tindakan, akan tetapi pengawasan administratif berurusan baik dengan tindakan maupun dengan pikiran.
Dari segi pelaksanaannya, objek pengawasan dapat dibedakan menjadi dua jenis kegiatan pengawasan, yakni :
a. Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan yang dilakukan oleh aparat pengawasan (pimpinan) dalam suatu organisasi terhadap bawahannya secara langsung dalam melaksanakan pekerjaan di tempat berlangsungnya pekerjaan (on the spot). Sistem pengawasan langsung yang dilakukan oleh atasan ini disebut Buill of Controll. Dengan demikian, hal ini mencakup pengertian Pemeriksaan (inspection).
b. Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat atau pimpinan organisasi tanpa mendatangi objek yang diawasi/diperiksa. Lazimnya, aparat atau pimpinan yang melakukan pengawasan tidak langsung, memeriksa pelaksanaan pekerjaan berdasarkan laporan yang tiba kepadanya dengan mempelajari serta menganalisis laporan atau dokumen yang berhubungan dengan objek yang diawasi.