• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif. Dalam kaitannya dengan penelitian normatif di sini akan

43 B.N Marbun, Kamus Hukum, Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2009, hal. 127.

44Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta:Universitas Indonesia, 1986, hal. 43.

45 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, cet IV, Jawa Timur:

BayuMedia Publishing, 2008, hal. 25.

46Husin Sayuti, Pengantar Metodologi Riset, Jakarta: CV. Fajar Agung, 1989, hal. 32.

digunakan beberapa pendekatan, yaitu dengan Pendekatan perundang-undangan (statute approach)47 dan dengan menggunakan metode studi kasus (case study).

Studi kasus adalah bagian dari metode kualitatif yang hendak mendalami suatu kasus tertentu secara lebih mendalam dengan melibatkan pengumpulan beraneka sumber informasi. Creswell mendefenisikan studi kasus sebagai suatu eksplorasi dari sistem-sistem yang terkait. Suatu kasus menarik untuk diteliti karena corak khas kasus tersebut yang memiliki arti pada orang lain minimal bagi peneliti.

Dengan metode ini peneliti diharapkan menangkap kompleksitas kasus tersebut.48 2. Sifat penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis ini yaitu bersifat deskiptif analitis. Deskriptif maksudnya untuk mengetahui gambaran secara menyeluruh dan sistematis mengenai peraturan yang dipergunakan yang berkaitan dengan masalah yang dikaji. Analitis adalah mengungkapkan karakteristik objek dengan cara mengurai dan menafsirkan fakta fakta tentang pokok persoalan yang diteliti. Jadi penelitian ini mengungkapkan peraturan perundang-undangan berkaitan dengan objek penelitian,49 serta peranan administrasi Badan Pertanahan Nasional dan penerapan UUPA dalam menciptakan kepastian hukum.

3. Sumber Data

Pengumpulan data adalah bagian penting dalam suatu penelitian,karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diterapkan.Dalam penelitian ini menggunakan

47 Johnny Ibrahim, Op.Cit., hal. 300.

48 Conny R Semiawan, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: Grasindo, 2010, hal. 49-50.

49Zainuddin Ali, Metode Penelitian hukum, Jakarta : Sinar Grafika,2009, hal. 105.

metode pengumpulan data kepustakaan. 50 Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.51

Data Sekunder diperoleh melalui studi pustaka atau literatur, data sekunder tersebut meliputi:

1. Bahan Hukum Primer ,yang merupakan bahan hukum yang mengikat berupa peraturan perundang-undangan antara lain dari:

a. Undang-Undang Agraria Nomor 5 Tahun 1960 b. Putusan Mahkamah Agung Nomor 1 PK/PID/2016

c. Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

d. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah.

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum dan seterusnya52 dalam hal ini berupa buku-buku, jurnal, artikel-artikel media, dan berbagai tulisan lainnya.

50 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian hukum,Suatu Pengantar, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2003, hal. 10.

51 Soejono Soekanto dan Sri Manudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tingkatan Singkat, Jakarta:Raja Grafindo Indonesia, 1995, hal. 38.

52 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Cv Rajawali, 1982, hal. 52.

3) Sedangkan bahan hukum Tersier yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, contoh berupa kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif dan lain sebagainya..53

4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Di dalam penelitian, pada umumnya dikenal tiga jenis alat pengumpulan data yakni studi dokumen, pengamatan dan pedoman wawancara. Ketiga teknik pengumpulan data tersebut dapat dipakai secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri.54Untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan bahan hukum primer, sekunder dan tersier peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data berupa penelitian kepustakaan atau penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research).

Penelitian kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder melalui pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan, literatur literatur, tulisan tulisan para pakar hukum, bahan kuliah yang berkaitan dengan penelitian ini.55 Sedangkan penelitian lapangan menurut Moh Nazir dalam bukunya berjudul Metode Penelitian adalah : “Penelitian lapangan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung tempat yang menjadi objek penelitian.”56

Berdasarkan metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, maka alat pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:

53Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Jakarta :Pustaka Pelajar, hal. 156-159.

54Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press: Jakarta, 1986, hal. 21.

55Riduan,Metode & Teknik Menyusun Tesis, Bandung : Bina Cipta, 2004, hal. 97.

56 Mohammad Nazir, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005, hal.65.

1. Studi dokumen, yaitu dengan meneliti dokumen-dokumen yaitu tentang UUPA dan Pendaftaran Tanah. Dokumen ini merupakan sumber informasi yang penting.

2. Pedoman wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Wawancara dilakukan terhadap informan dengan menggunakan pedoman wawancara bebas dan mendalam (depth interview). Informan yang dimaksud dalam tesis ini adalah Kepala Seksi Penanganan Masalah dan

Pengendalian Pertanahan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Medan yang

memiliki pengetahuan tentang pendaftaran hak atas tanah dan perkara di bidang pertanahan sehingga dapat diketahui bagaimana potensi terjadinya penerbitan sertifikat ganda di ruang lingkup administrasi, maupun pemeliharan data pendaftaran tanah maupun peralihan hak baik yang terjadi melalui warisan ataupun peralihan hak yang terjadi melalui proses jual beli.

5.Analisis Data

Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurai data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan data.57Analisa data yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah analisa data kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan

57Lexi J Maleonf, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung:Remaja Rosdakarya,1993, hal . 103.

perhitungan.58 Contoh penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengamatan dan studi kasus.59

Studi kasus merupakan suatu gambaran hasil penelitian yang mendalam dan lengkap sehingga dalam informasi yang disampaikannya tampak hidup sebagaimana adanya, bersifat grounded atau berpijak sesuai kenyataan yang ada sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Penelitian dengan studi kasus menyajikan informasi yang terfokus dan berisikan pernyataan-pernyataan yang terfokus dan disajikan dengan bahasa biasa bukan dengan bahasa teknis.60 Penelitian studi kasus dalam hal ini berfokus pada studi kasus dalam putusan Mahkamah Agung RI Nomor 61 PK/PID/2013, dimana pada berfokus pada legalitas kepemilikan tanah pasca terjadinya konflik sertifikat ganda yang diperoleh dari warisan.

Penarikan kesimpulan akan dilakukan dengan metode deduktif yaitu menyimpulkan pengetahuan-pengetahuan konkrit mengenai kaidah yang benar dan tepat untuk diterapkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan (perkara) tertentu.61 Dengan begitu, kesimpulan yang didapat berupa apakah permasalahan atau perkara tertentu telah sesuai atau tidak dengan pengetahuan-pengetahuan konkrit yang diyakini tersebut.

58 Soejono dan H. Abdurrahman, Metode Penelitian : Suatu Pemikiran dan Penerapan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005, hal. 26.

59 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996, hal. 20-22.

60 Ibid.,

61 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Raja Grafindo Persada,1996, hal. 73.

BAB II

KEPATUHAN HUKUM DALAM MEMPEROLEH KEPEMILIKAN DAN PENGALIHAN HAK ATAS TANAH YANG DIPEROLEH DARI

WARISAN A. Tinjauan Umum Mengenai Hak Atas Tanah.

Tanah sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia sehari hari, bahkan dapat dikatakan setiap saat manusia berhubungan dengan tanah. Setiap orang memerlukan tanah tidak hanya pada masa hidupnya, tetapi sudah meninggal pun masih tetap berhubungan dengan tanah.62 Sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 ayat (3) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat.63

Begitu pentingnya tanah dalam kehidupan manusia, maka perlindungan akan hak atas tanah yang dimiliki oleh manusia menjadi penting. Dalam hal ini peran pemerintah menjadi penting karena Indonesia merupakan Welfare State (Negara Kesejahteraan) harus melakukan segala sesuatu untuk menyejahterahkan masyarakat. Melihat pentingnya peranan dari pemerintah maka tidak terlepas juga dari produk hukum yang dibuat oleh pemerintah tentunya dalam hal ini perlu dibahas lebih lebih lanjut tentang sejarah hukum khususnya berkaitan dengan kepemilikan tanah di Indonesia.64

62 Mudjino, Politik dan Hukum Agraria, Cet Pertama, (Liberty: Yogyakarta, 1997), hal.

119.

63 Redaksi Kawan Pustaka, UUD 45 & Perubahannya Susunan Kabinet RI Lengkap, Cet ketujuh, (Kawan Pustaka, 2006), hal .34.

64 Angger Sigit Pramukti dan Erdha Widayanto, Awas Jangan Beli Tanah Sengketa, (Pustaka Yustisia: Yogyakarta, 2015), hal. 2.

1. Sejarah hukum agraria di zaman kolonial Belanda di Indonesia

Tujuan yang dikandung oleh hukum tidak terlepas dari siapa yang membat hukum tersebut. Jika sebelum Bangsa Indonesia merdeka, sebagian besar Hukum Agraria dibuat oleh penjajahan terutama pada masa Belanda. Hukum Agraria yang sebagaian besar tersuun berdasarkan tujuan dan keinginan sendiri dari pemerintah jajahan. Sehingga ketentuan Hukum Agraria yang ada dan berlaku di Indonesia sebelum UUPA dihasilkan oleh bangsa sendiri masih bersifat Hukum Agraria Kolonial yang sangat merugikan bagi kepentingan bangsa Indonesia.65

Secara singkat sejarah Hukum Agraria Kolonial bermula dari dibentuk perkumpulan dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) antara tahun 1602 sampai dengan tahun 1799. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah persaingan antara para pedagang-pedagang Belanda di wilayah Asia Selatan yang pada saati itu bersaing dengan orang-orang Portugis, Spanyol dan lain-lain.66

Berkaitan dengan hak atas tanah VOC mengadakan hukum secara Barat di daerah-daerah yang dikuasai dan dalam hal ini tidak memperdulikan hak-hak atas tanah yang dipegang oleh rakyat dan raja-raja Indonesia. Hukum adat sebagai hukum yang mempunyai corak sendiri tidak dipersoalkan oleh VOC. Bahkan pada waktu itu membiarkan rakyat Indonesia hidup menurut adat kebiasaannya sendiri.

Dimana pada zaman VOC ada beberapa kebijakan yang dibuat berkaitan dengan politik pertanian yang sangat menindas rakyat Indonesia.67

65 H. Muchsin dkk, Hukum Agraria Indonesia Dalam Perspektif Sejarah, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hal. 9.

66 Ibid.

67 Ibid.

Kebijakan tersebut terkait dengan kebijakan pajak dari hasil pertanian yang harus diserahkan kepada penguasa kolonial. Petani pribumi harus menyerahkan sebagian dari hasil pertaniannya kepada kompeni tanpa harus dibayar sepeser pun, membuat kebijakan harga dari hasil penen secara sepihak, dan terakhir adalah kerja Rodi yang dibebankan kepada rakyat Indonesia yang tidak mempunyai tanah pertanian dan menjual tanah yang luas kepada penguasa swasta.68

Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan digantik dengan masa pemerintahan Daendles. Pada masa ini ia mengeluarkan suatu kebijakan yang benar-benar langsung menyangkut penguasaan hak atas tanah oleh bangsa lain di bumi Indonesia. Politik yang dijalankan, berkaitan dengan pertanahan adalah menjual tanah-tanah kepada pemilik modal besar terutama kepada orang Cina, Arab maupun Bangsa Belanda sendiri. Tanah-tanah yang dijual tersebut dikenal dengan tanah partikelir. Dalam menjalankan pemerintahannya, Daendles terkenal sangat kejam dan sewenang-wenang sehingga pada akhirnya ia digantikan oleh Jan Willem Jansens dan tidak berselang lama pemerintahan kolonial Belanda jatuh ke tangan Pemerintahan Inggris yang pada saat itu dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Dalam bidang pertanahan Thomas Stamford Raffles mewujudkan pemikiran tentang pajak yang dikenal dengan nama “landrent”.69

Dari hasil penelitian Raflles, mengenai pemilikan tanah daerah-daerah Swapraja di Jawa dapat disimpulkan bahwa semua tanah adalah milik raja, sedangkan rakyat hanya sekedar memakai dan menggarapnya. Karena kekuasaan

68 Ibid., hal. 10.

69 Ibid., hal. 11.

berpindah ke pemerintahan Inggris, maka hukum kepemilikan atas tanah tersebut dengan sendirinya beralih kepada Raja Inggris. Dengan demikian tanah tanah yang dikuasai dan digunakan oleh rakyat itu bukan miliknya, melainkan milik Raja Inggris. Oleh karena itu, mereka wajib memberikan landrent kepada Raja Inggris.70

Pada tahun 1816, pemerintah Inggris kembali menyerahkan kekuasannya kepada pemerintahan Belanda dibawah pemerintahan Johannes van ben Bosch, dimana ia memberlakukan sistem tanam paksa. Petani dipaksa untuk menanam suatu jenis tanaman tertentu yang langsung maupun tidak langsung dibutuhkan oleh pasar Internasional pada waktu itu. Hasil pertanian tersebut diserahkan kepada pemerintah kolonial tanpa mendapat imbalan apapun. Sistem ini akhirnya mendatangkan kritikan oleh Edouward Douwes Dekker kemudian dikeluarkan kebijakan Regering Reglement yang menyatakan:71

a. Gubernur Jenderal dilarang menjual tanah.

b. Dikecualikan tanah sempit bagi perluasan kota dan untuk industri.

c. Gubernur Jenderal boleh menyewakan tanah berdasarkan Ordonnantie, dikecualikan tanah milik bumi putra atau tanah hak ulayat.

Dalam perjalanan sejarah pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia terdapat dualisme hukum yang menyangkut Hukum Agraria Barat, dan di pihak lain berlaku Hukum Agraria Adat. Sistem tanam paksa kemudian dihapus dan diganti dengan sistem liberal. Politik liberal adalah kebalikan dari politik konservatif. Prinsip politik liberal adalah prinsip tidak adanya campur tangan

70 Ibid., hal. 11-12.

71 Ibid.

pemerintah di bidang usaha, swasta diberikan hak untuk mengembangkan usaha dan modalnya di Indonesia. Hal ini kemudian mendorong kebijakan yang disebut Agrarisch Wet ( dimuat di dalam Staatblad 1870 Nomor 55).72

Agrarisch Wet awal mula dituangkan hanya berlaku bagi daerah-daerah yang dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda saja tidak berlaku bagi daerah daerah Swapraja. Tetapi, perkembangan juga berlaku di daerah Swapraja, kemudian melahirkan peraturan yang dinamakan Agrarische Besluit yang memuat pernyataan yang dikenal dengan Domein Verklaring (pernyataan kepemilikan) yaitu :73Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan dalam Pasal 2 dan 3 Agrarische Wet, tetap dipertahankan bahwa semua tanah yang pihak lain tidak dapat membuktikan sebagai hak eigendom-nya, adalah milik negara.

Dalam praktiknya Domein Verklaring mempunyai dua fungsi yaitu:74 a. Sebagai landasan hukum bagi pemerintah kolonial untuk daapt memberikan

tanah dengan hak-hak Barat seperti yang diatur dalam KUH Perdata, misalnya:

hak eigendom, hak erfpacht, hak opstal, dan sebagainya.

b. Untuk keperluan pembuktian pemilikan, yaitu apabila negara berperkara, maka negara tidak perlu membuktikan hak eigendomnya atas tanah tetapi pihak yang lainnya wajib membuktikan haknya.

Pada Pasal 1 Agrarisch besluit, dimuat tentang pernyataan-pernyataan secara umum (algemene-domeinverklaring) yang menganut suatu prinsip (azas) agraria yaitu pernyataan bahwa semua tanah yang tidak dapat dibuktikan eigendom seseorang adalah tanah negara (domein vanden Staat) Negara adalah sebagai eigenaar (pemegang hak milik) atau jika terbukti ada hak eigendom

72 Ibid.

73 Ibid., hal. 14.

74 Ibid., hal. 16.

orang lain diatasnya. Beberapa ketentuan ketentuan berdasarkan teori Domein melahirkan hak hak Barat seperti :

a. Hak Eigendom, Pasal 51 ayat (1) I.S. (Indische Staatsregeling) sebagai pengganti pasal 62 RR ayat (1) melarang Gubernur Jenderal menjual tanah tanah Landsdomein. Tetapi ayat (2) Pasal ini mengecualikan atas tanah-tanah yang kecil yang luasnya tidak lebih dari 10 bouw (0,7 hektar) dan pemberian ini asal untuk keperluan perluasan kota atau desa atau untuk mendirikan usaha usaha kerajinan. Jadi, cara memperoleh eigendom tersebut antara lain karena penjualan tanah oleh pemerintah atau penyerahan atas tanah kepada orang lain.

Tanah-tanah yang tunduk kepada hukum adat dapat juga diberikan eigendom.

Setelah dibebaskan terlebih dahulu dari hak adatnya dan diajukan permohonan kepada pemerintah.75Pasal 570 KUHPerdata menyebutkan, Eigendom adalah hak untuk dengan bebas mempergunakan suatu benda sepenuh penuhnya dan untuk menguasai seluas luasnya, asal saja tidak bertentangan dengan undang-undang atau peraturan-peraturan umum yang ditetapkan oleh instansi (kekuasaan) yang berhak menetapkannya, serta tidak menganggu hak hak orang lain, semua itu kecuali pencabutan eigendom untuk kepentingan umum dengan pembayaran yang layak menurut peraturan peraturan umum.Selain itu muncul kemudian “tanah partikelir”, yaitu tanah eigendom yang mempunyai sifat dan corak istimewa, dengan adanya hak-hak pada pemiliknya yang

75 A.P Parlindungan, Berbagai Aspek Pelaksanaan UUPA, (Bandung: Alumni, 1973), hal. 4

bersifat kenegaraan seperti dapat turut menentukan kepala kampung, dapat menuntut Rodi, mengadakan pungutan-pungutan atas jalan.76

b. Hak opstal, adalah hak untuk mempunyai rumah, ba-ngunan atau tanam tanaman di atas tanah orang lain. Hak ini diberikan berdasarkan S.1872 Nomor 124 untuk paling lama 30 tahun, sedangkan luasnya tanah terbatas yaitu paling banyak hanya 10 bauw. Tanah yang dapat diberikan dengan hal opstal hanya tanah negara bebas. Milik tanah perorangan dan desa dapat juga, diberikan hak opstal, yaitu setelah memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan haknya.77 c. Hak erfpacht, adalah hak benda yang paling luas yang dapat dibebankan atas

benda orang lain. Pasal 720 KUHPerdata menyebutkan, bahwa pemegang erfpacht mempunyai hak untuk mengusahakan dan merasakan hasil benda itu dengan penuh. Hak ini bersifat turun-temurun, banyak diminta untuk keperluan pertanian. Di Jawa dan Madura Hal erfpacht diberikan untuk pertanian besar, tempat tempat kediaman di pedalaman, perkebunan dan pertanian kecil.

Sedang di daerah luar Jawa hanya untuk pertanian besar, perkebunan dan pertanian kecil.78

d. Hak sewa, Gubernur jenderal berwenang untuk menyewakan tanah negara bagi kepentingan perkebunan untuk masa 20 tahun. Kebanyakan hak sewa ini kemudian diganti dengan hak erfpacht. Orang bumi putera juga diperbolehkan menyewakan tanahnya kepada bukan bumi putera. Perkebunan perkebunan di Jawa memerlukan tanah tanah dari rakyat dengan sewa yang murah. Sungguh

76 Boedi Harsono, Undang Undang Pokok Agraria- Sejarah Penyusunan, isi dan pelaksanaannya, (Jakarta: Djambatan, 1999), hal. 62

77 A.P Parlindungan, Op.Cit., hal. 4.

78 Ibid, hal. 5.

pun dalam sewa menyewa ini kelihatan atas dasar sukarela, namun perusahaan perusahaan-perkebunan melalui campur tangan pegawai-pegawai pemerintah melakukan paksaan agar rakyat menyerahkan tanah mereka untuk disewa.79 Dari hak sewa ini kemudian timbullah apa yang dikenal dengan hak-hak konversi di daerah daerah swapraja. Antara swapraja dengan pengusaha pertanian terjalin hubungan tertentu. Swaparaja menyediakan tanah, berikut buruh dan air. Sebagai imbalannya pengusaha pertanian membayar penggantian setiap tahun kepada swapraja. Semula jangka waktu Hak Konversi ini adalah 50 tahun.80

e. Hak Pakai, Hak pakai atas tanah negara ini diberikan kepada gereja-gereja atau badan-badan sosial untuk jangka waktu tertentu. Hak pakai diatur pasal 821 KUUPerdata.81

f. Hak Pinjam, Peminjaman tanah negara diatur oleh S. 1940 No. 427 Pemberian hak pinjam (sanggan), misalnya, meliputi keperluan untuk rumah sakit yang mendapat subsidi.82

Berdampingan dengan hak hak Barat tersebut, tetap hidup hak hak adat atas tanah, yaitu antara lain:

a. Hak milik. Hak ini memberikan kebebasan penuh kepada pemiliknya dalam batas-batas yang diperbolehkan oleh hak persekutuan. Pemiliknya mempunyai segala hak untuk melakukan transaksi atas tanah. Di mana hak persekutuan

79 Ibid, hal. 7.

80 Soedargo Gautama, Masalah Agraria Berikut Peraturan-peraturan Contoh-contohnya, (Bandung: Alumni, 1973), hal. 34

81 Soedigdo Hardjosudarmo, Masalah Tanah di Indonesia, (Jakarta: Bratara, 1970), hal.

51.

82 Ibid, hal. 52.

masih kuat, maka adalah terlarang untuk mengalihkan hak milik kepada orang luar persekutuan. Tetapi di mana hak persekutuan luntur, perpindahan tanah kepada orang luarorang asing bagi persekutuan itu, berjalan dengan sendirinya.83 Corak dan sifat yang lain dari hak milik atas tanah adalah apa yang disebut dengan pekulen. Di berbagai daerah Jawa Tengah terdapat sawah-sawah pekulen, yang diberikan kerena jabatan kepala desa.84

b. Hak memungut hasil, adalah hak yang diperdapat dengan persetujuan kepala persekutuan, untuk mengolah sebidang tanah, untuk satu atau beberapa kali panen. Di samping itu, terdapat juga hak memungut hasil hutan, dengan memberikan tanda tanda pada areal hutan yang dinikmatinya.85

c. Hak pakai adalah hak mengolah tanah dan memungut hasil yang diperoleh dari tanah pertanian orang lain. Hak ini paling sering diketemukan di Minangkabau dan Minahasa di mana tanah pertanian adalah milik bersama keluarga.

Biasanya tanah diserahkan kepada keluarga tertentu untuk di kerjakan.86 d. Hak gadai dan hak sewa,

Semua tanah tanah Adat tersebut tidak terdaftar, kecuali tanah-tanah agrarische eigendom di dalam S.1873 No. 38, tanah-tanah milik swapraja di Yogyakarta dan Surakarta, tanah-tanah grant di Sumatera Timur.87

83 R. Van Djik diterjemahkan oleh A Soehardi, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Bandung: Mandar Maju , 2006), hal. 46.

84 Ibid, hal. 47.

85 Ibid.

86 Ibid.

87 Boedi Harsono, Op.Cit, hal. 41.

Pada akhirnya dampak yang muncul dari kebjikan pemerintah penjajahan Belanda atas tanah di Hindia Belanda, menurut Iman Soetiknjo, setidaknya ada 3 (tiga) dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan demikian yaitu:88

a. Tidak adanya kesatuan hukum atau dengan kata lain terjadi dualisme hukum yaitu berlakunya sistem hukum Barat dan hukum Adat secara simultan.

b. Pluralisme hukum Adat dibiarkan berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan politik ekonomi penjajah.

c. Diitroduksinya hak baru: Agrarisch Eigendom (jeniks hak atas tanah yang diberikan kepada yang menghendaki terhadap tanah-tanah hak adat atau mirip dengan eigendom)

2. Kepastian hukum kepemilikan hak atas tanah menurut Undang-Undang Pokok Agraria.

Dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 terbentuklah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Seharusnya sejak saat itu terhapus pula segala peraturan hukum nasional yang sesuai dengan kemerdekaan. Namun untuk membentuk Hukum Agraria Nasional tidak mungkin dilaksanakan sekaligus, tetapi harus melalui proses yang bertahap. Usaha untuk mengadakan perombakan hukum agraria secara menyeluruh memerlukan waktu yang lama. Sementara itu banyak sekali persoalan yang dihadapi, yang harus segera diselesaikan dan tidak dapat ditangguhkan hingga terbentuknya hukum yang baru tersebut.89

Berdasarkan pada Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, maka sudah tentu berlakunya badan-badan negara dan peraturan peraturan hukum agraria sebelum Indonesia merdeka harus disesuaikan dengan kemerdekaan dan Pancasila serta

Berdasarkan pada Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, maka sudah tentu berlakunya badan-badan negara dan peraturan peraturan hukum agraria sebelum Indonesia merdeka harus disesuaikan dengan kemerdekaan dan Pancasila serta