• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Peran Badan Pertanahan Nasional (BPN)

2. Tugas, fungsi dan wewenang Badan Pertanahan Nasional

Tugas dari Badan Pertanahan Nasional adalah membantu Presiden dalam mengelola dan mengembangkan Administrasi Pertanahan baik berdasarkan UU No. 5 tahun 1960 tentang UUPA maupun peraturan perundang-undangan lain yang meliputi pengaturan, penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah, penetapan hak-hak atas tanah, pengukuran dan pendaftaran tanah dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah pertanahan berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Presiden.144

143 Pasal 1 tentang kedudukan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Pasal 29 tentang kedudukan Kantor Pertanahan dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Dan Kantor Pertanahan Kepala Badan Pertanahan Nasional Repulbik Indonesia.

144 Boedi Harsono., Op.Cit., hal. 28.

Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, BPN menyelenggarakan fungsi :145

a. Penyusunan dan penetapan kebijakan di bidang pertanahan;

b. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang survei, pengukuran, dan pemetaan;

c. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidangpenetapan hak tanah, pendaftaran tanah, dan pemberdayaan masyarakat;

d. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengaturan, penataan dan pengendalian kebijakan pertanahan;

e. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengadaan tanah;

f. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengendalian dan penanganan sengketa dan perkara pertanahan;

g. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BPN;

h. Pelaksanaan koordinasi tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan BPN;

i. Pelaksanaan pengelolaan data informasi lahan pertanian pangan berkelanjutan dan informasi di bidang pertanahan;

j. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan; dan k. Pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan.

Sedangkan fungsi lembaga BPN adalah merumuskan kebijaksanaan dan perencanaan penguasaan dan pengurusan tanah; merumuskan kebijaksanaan dan perencanaan pengaturan pemilikan tanah dengan prinsip tanah mempunyai fungsi sosial; mekasanakan pengukuran dan pemetaan serta pendaftaran tanah;

melaksanakan pengurusan hak-hak atas tanah; melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan serta pendidikan dan pelatihan pegawai dan hal-hal lain yang ditetapkan presiden.146

145 Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 20 tahun 2015 tentang Badan Pertanahan Nasional.

146 Elza Syarief, Menuntaskan Sengketa Tanah Melalui Pengadilan Khusus Pertanahan, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012), hal. 143.

Selain fungsi diatas Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia memiliki kewenangan dalam pemberian hak atas tanah negara atau tanah yang dikuasai langsung oleh negara dapat dilimpahkan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi atau Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. 147 Kewenangan tersebut mencakup dalam pemberian hak atas tanah yaitu :148

a. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota memberi keputusan mengenai : 1) Pemberian Hak Milik atas tanah pertanina yang luasnya tidak lebih dari

20.000 M2 (dua puluh ribu meter persegi);

2) Pemberian Hak Milik atas tanah non-pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2000 M2 (dua ribu meter persegi);

3) Pemberian Hak Milik atas tanah dalam pelaksanaan program:

a) Transmigrasi;

b) Redistribusi tanah;

c) Konsolidasi tanah;

d) Pendaftaran tanah yang bersifat strategis, massal, dan program lainnya.

b. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota memberikan keputusan mengenai : 1) pemberian Hak Guna Bangunan untuk orang perseorangan atas tanah yang

luasnya tidak lebih dari 1.000 M² (seribu meter persegi).

2) pemberian Hak Guna Bangunan untuk badan hukum atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 5.000 M² (lima ribu meter persegi).

3) semua pemberian Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan.

c. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota memberikan keputusan mengenai : 1) pemberian Hak Pakai untuk orang perseorangan atas tanah pertanian yang

luasnya tidak lebih dari 20.000 M² (dua puluh ribu meter persegi).

2) pemberian Hak Pakai untuk badan hukum atas tanah pertanian yang luasnya tidak lebih dari 20.000 M² (dua puluh ribu meter persegi).

3) pemberian Hak Pakai untuk orang perseorangan atas tanah non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2.000 M² (dua ribu meter persegi).

4) pemberian Hak Pakai untuk badan hukum atas tanah non pertanian yang luasnya tidak lebih dari 2.000 M² (dua ribu meter persegi).

5) semua pemberian Hak Pakai atas tanah Hak Pengelolaan.

d. Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional memberi keputusan mengenai:

1) pemberian Hak Milik untuk orang perseorangan atas tanah pertanian yang luasnya lebih dari 20.000 M² (dua puluh ribu meter persegi).

147 Urip Santoso, Hak Atas Tanah, Hak Pengelolaan dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, (Depok: Kencana, 2017), hal. 24.

148 Pasal 3 sampai Pasal 10 dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Hak Atas Tanah Dan Kegiatan Pendaftaran Tanah Tertentu.

2) pemberian Hak Milik untuk badan hukum atas tanah pertanian yang luasnya lebih dari 20.000 M² (dua puluh ribu meter persegi).

3) pemberian Hak Milik atas tanah non pertanian yang luasnya lebih dari 2.000 M² (dua ribu meter persegi) dan tidak lebih dari 5.000 M² (lima ribu meter persegi).

e. Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional memberi keputusan mengenai pemberian Hak Guna Usaha atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 1.000.000 M² (satu juta meter persegi).

f. Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional memberi keputusan mengenai:

1) pemberian Hak Guna Bangunan untuk orang perseorangan atas tanah yang luasnya lebih dari 1.000 M2 (seribu meter persegi) dan tidak lebih dari 5.000 M² (lima ribu meter persegi);

2) pemberian Hak Guna Bangunan untuk badan hukum atas tanah yang luasnya lebih dari 5.000 M2 (lima ribu meter persegi) dan tidak lebih dari 75.000 M² (tujuh puluh lima ribu meter persegi).

g. Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional memberi keputusan mengenai:

1) pemberian Hak Pakai untuk orang perseorangan atas tanah pertanian yang luasnya lebih dari 20.000 M² (dua puluh ribu meter persegi).

2) pemberian Hak Pakai untuk badan hukum atas tanah pertanian yang luasnya lebih dari 20.000 M² (dua puluh ribu meter persegi).

3) pemberian Hak Pakai untuk orang perseorangan atas tanah non pertanian yang luasnya lebih dari 2.000 M² (dua ribu meter persegi) dan tidak lebih dari 5.000 M2 (lima ribu meter persegi);

4) pemberian Hak Pakai untuk badan hukum atas tanah non pertanian yang luasnya lebih dari 2.000 M² (dua ribu meter persegi) dan tidak lebih dari 25.000 M² (dua puluh lima ribu meter persegi).

h. Kewenangan Kepala Badan Pertanahan Nasional menetapkan pemberian Hak atas tanah yang diberikan secara umum dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia memberi keputusan mengenai pemberian Hak Atas Tanah yang tidak dilimpahkan kewenangannya kepada Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional atau Kepala Kantor Pertanahan.

B. Kegiatan Pendaftaran Dan Peralihan Hak Atas Tanah Di Badan