• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kepatuhan Hukum Dalam Memperoleh Kepemilikan Hak

2. Memperoleh hak milik atas tanah dengan cara warisan

Pewarisan dalam hal tanah dapat ditemui dalam UUPA No 5 Tahun 1960, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Pasal 111 dan Pasal 112 Peraturan Menteri Agraria/Kepala Pertanahan Nasional No 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Peralihan hak atas tanah atau Hak Milik dibagi menjadi 2 (dua) bentuk:118 a. Beralih

Berpindahnya hak atas tanah atau hak milik dari pemegang haknya kepada pihak lain karena pemegang haknya meninggal dunia atau melalui pewarisan.

Boedi Harsono menyatakan bahwa pengertian beralih menunjukkan padda berpindahnya Hak Milik kepada pihak lain karena pemiliknya meninggal dunia. Peralihan Hak Milik karena pewarisan terjadi “karena hukum”, artinya dengan meninggalnya pemilik tanah, maka ahli waris memperoleh Hak Miliknya itun menurut hukum sejak ia meninggal dunia.119

b. Dialihkan

Berpindahnya hak atas tanah atau Hak Milik dari pemegang (subjek) haknya kepada pihak lain karena suatu perbuatan hukum yang sengaja dilakukan dengan tujuan agar pihak lain tersebut memperoleh hak tersebut.

Perbuatan hukum tersebut dapat berupa jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam modal perusahaan, pemberian dengan wasiat atau lelang.

Dalam dialihkan atau pemindahak hak disini, pihak yang mengalihkan hak harus berhak dan berwenang memindahkan hak, sedangkan pihak yang menerima harus memenuhi syarat sebagai pihak yang berhak menerima hak milik.

Hukum waris adalah hukum yang mengatur tentang bagaimana pembagian menurut undang-undang tentang harta kekayaan seseorang yang telah meninggal dunia dan yang mengatur dengan baik adanya peristiwa hukum maupun perbuatan

118 Angger Sigit Pramukti dan Erdha Widayanto.,Op.Cit, hal. 109.

119 Ibid.

hukum dari harta kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal kepada ahli warisnya serta akibat-akibatnya bagi para ahli waris.120

Fokus pembahasan cara memperoleh warisan dalam hal ini difokuskan pada bahasan secara garis besar mengenai tahap warisan secara hukum Islam.

Warisan atau harta peninggalan menurut hukum Islam yaitu sejumlah harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan bersih, artinya harta peniggalan yang akan diwarisi oleh para ahli waris adalah sejumpah harta benda serta segala hak, setelah dikurangi dengan pembayaran hutang-hutang pewaris dan pembayaran-pembayaran lain yang diakibatkan oleh wafatnya si peninggal warisan.121

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, hukum kewarisan diatur dalam buku II tentang kebendaan, karena unsur waris ada unsur kebendaannya.

Hal ini dikarenakan hanya hak dan kewajiban yang berwujud harta kekayaan saja yang merupakan warisan dan akan diwariskan. Unsur-unsur hukum waris lainnya adalah pewaris, ahli waris, perbuatan hukum tertentu dari pewaris di kala hidupnya yang menyebabkan seseorang yang bukan ahli waris menjadi ahli waris.

Perbuatan-perbuatan hukum tertentu yang mengakibatkan seseorang yang bukan ahli waris menjadi ahli waris meliputi pengakuan anak, pengangkatan anak atau adopsi dan testament.122

120 Effendi Perangin, Hukum Waris, (Jakarta : Penerbit PT.Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 3.

121 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan Di Indonesia, (Bandung : Penerbit Sumur Bandung, 1995), hal. 17.

122 Analistus Amanat, Membagi Warisan Berdasarkan Pasal-Pasal Hukum Perdata B.W, (Jakarta : Penerbit PT. Raja Grafindo, 2003), hal. 4-5.

Hukum Perdata yang berlaku di Indonesia dibedakan berdasarkan golongan warga negara, tetapi bagi bangsa Indonesia dan Timur Asing (Jepang, Arab, India), dibolehkan menundukkan diri kepada Hukum Perdata Eropa (BW) jika memang dibutuhkan dan dikehendaki oleh mereka, baik secara keseluruhan ataupun sebagian. Mengenai penundukan diri pada hukum Eropa diatur dalam Staatsblad 1917 Nomor 12, terdiri dari empat macam penundukan diri, yaitu :123

a. Penundukan pada seluruh Hukum Perdata Eropa;

b. Penundukan pada sebagian Hukum Perdata Eropa, dimaksudkan hanya pada hukum kekayaan harta benda saja (vermongensrecht);

c. Penundukan mengenai suatu perbuatan hukum tertentu;

d. Penundukan secara diam-diam, menurut Pasal 29 tentang penundukan diri pada hukum Eropa yang berbunyi “jika seorang bangsa Indonesia asli melakukan suatu perbuatan hukum yang tidak dikenal di dalam hukumnya sendiri, ia dianggap secara diam-diam menundukan dirinya pada hukum Eropa.”

Berkaitan dengan pembuatan surat keterangan waris yang berwenang membuat keterangan waris adalah berdasarkan Surat Keputusan Departemen Dalam Negeri Direktorar Pendaftaran Tanah No. DPT/12/63/12/69 juncto Pasal 111 ayat 1 point 4 PMNA No 3/1997 dibedakan tentang siapa saja yang berwenang untuk membuat keterangan waris. Pembagian kewenangan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Untuk penduduk golongan Eropa dan WNI keturunan Tionghua, keterangan warisnya dibuat dihadapan Notaris

b. Untuk penduduk pribumi, keterangan waris cukup dibuat dibawah tangan yang disaksikan dan dibenarkan oleh Lurah dan dikuatkan oleh Camat setempat.

123 R. Subekti dan Tjitrosubio, Kamus Hukum, (Jakarta : Penerbit Pradnya Paramita, 1980)., hal. 12.

c. Untuk WNI keturunan Timur Asing (India, Arab) yang berwenang membuat keterangan warisnya adalah Balai Harta Peninggalan (BHP).

Pasal 111 ayat (1) huruf c angka 3 menyebutkan bahwa pihak yang berhak mengeluarkan keterangan waris adalah melalui penetapan hakim atau ketua pengadilan. Keberadaan Pengadilan diatur dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, untuk selanjutnya disebut UU Kekuasaan Kehakiman, bahwa Kekuasaan Kehakiman dilaksanakan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

Dalam hal ini Mahkamah Agung merupakan Pengadilan Negara Tertinggi dari peradilan yang berada di dalam keempat lingkungan peradilan yang disebutkan di atas.

Keterangan waris diatas dari pengadilan diberikan apabila terjadi sengketa waris, sebab sebelum tahun 1990, untuk pembagian waris secara islam dibuat oleh Pengadilan Agama dalam bentuk Fatwa Waris. Namun demikian pada awal tahun 1990 ada edaran dari Mahkamah Agung yang melarang Pengadilan Agama untuk membuat Fatwa Waris untuk WNI yang beragama Islam, dalam hal ini tidak terjadi sengketa waris maka sejak saat itu yang berwenang membuat keterangan waris bagi pewaris yang beragama Islam cukup dibuat dibawah tangan dengan disahkan oleh Lurah dan dikuatkan oleh Camat setempat.124

124 Irmadevita, Artikel Keterangan Waris, diakses melalui media elektronik http://irmadevita.com/2012/keterangan-waris/ pada tanggal 17 Mei 2018.

Pembagian harta waris secara Islam itu wajib, namun harta warisan itu hak, dan hak itu harus diminta dan boleh untuk tidak diminta atau tidak diambil.

Sebagai contoh jika seorang kakak mengiklaskan sebagian hartanya untuk adiknya. Maka itu adalah pemberian yang sah. Namun, jika seorang kakak tidak mengiklaskan maka bisa menempuh jalur hukum Islam melalui Pengadilan Agama, dan tidak boleh menggunakan cara yang tidak dianjurkan oleh Islam.

Pada pokoknya syari ah bertujuan untuk menegakkan perdamaian di muka bumi dengan mengatur masyarakat dan memberikan keadilan bagi semua orang. Jadi perintah dan keadaan merupakan tujuan mendasar bagi syari ah. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, keadilan merupakan kata sifat yang menunjukan perbuatan, perlakuan adil, tidak berat sebelah, tidak berpihak, berpegang kepada kebenaran, proporsional.125

Jadi bila tidak ada jalur yang ditempuh melalui Pengadilan Agama dan para pihak sepakat untuk melakukan pembagian maka Notaris dalam hal ini dapat berperan untuk membuat Akta Pemisahan dan Pembagian harta warisan yang dibuat secara otentik dengan dijelaskan bahwa penghadap (para ahli waris) pada saat penandatanganan akta tersebut telah mengetahui hak bagian warisan masing-masing menurut syariat Islam dan bersepakat melakukan pembagian dan pemisahan harta warisan ini dengan penuh keiklasan.126

Dengan demikian dapat disimpulkan dalam pewarisan hal yang pertama sekali harus diperhatikan adalah terkait ahli waris dalam hal ini mempertanyakan

125Rosita Ruhani, Analisis Akta Pembagian Warisan Yang Dibuat Di Hadapan Notaris Menurut Hukum Islam, Jurnal Repertorium Volume III No 2 Juli-Desember,Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2016 hal. 125.

126 Ibid.

siapa pihak yang menjadi ahli waris pasca pewaris meninggal dunia. Hal-hal konkrit yang perlu diperhatikan adalah terkait dengan legalitas hukum dari ahli waris dalam hal ahli waris harus memiliki dasar bukti tertulis yang menandakan ia adalah ahli waris dan hal itu dibuktikan dengan surat keterangan warisan dengan adanya surat keterangan waris maka sudah menjadi satu langkah tahapan untuk menjadi pewaris. Berkaitan dengan pewarisan tanah tidak cukup hanya berpegang dengan surat keterangan waris melainkan harus dilanjutkan dengan tahap berikutnya yaitu melakukan permohonan balik nama ke atas nama ahli waris.

Ketentuan tentang bukti kepemilikan hak atas tanah merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 yang pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah menegaskan bahwa bukti sah kepemilikan hak atas tanah adalah sertifikat. Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 Pasal 1 angka 20 dijelaskan bahwa sertifikat adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun, dan hak tanggungan masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan.127

Kepemilikan terjadi sesuai dengan ketentuan yang ada dalam UUPA dinyatakan bahwa setiap hak atas tanah dapat beralih atau dialihkan. Peralihan yang dimaksud dapat berupa:128

a. Jual Beli

127Richard Eddy, Aspek Legal Properti, (Yogyakarta: Andi, 2010), hal, 25.

128 Muhammad Yamin., Op.Cit., hal. 39.

b. Hibah.

c. Tukar menukar

d. Pemisahan dan pembagian harta (biasa/ warisan) e. Penyerahan tanah sebagai modal usaha.

Terjadinya peralihan hak atas tanah tersebut harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah, akta tersebut harus dilampirkan pada permohonan pendaftaran dan peralihan hak beserta asli Sertifikat Hak Atas Tanah yang dialihkan dan bukti tanda setoran biaya peralihan hak sehingga resmilah seseorang tersebut sebagai pemilik sah atas tanah yang diperoleh berdasarkan perbuatan hukum tersebut diatas.

Adapun persyaratan secara formil dalam peralihan hak melalui pewarisan adalah orang yang berhak melakukan pendaftaran tanah adalah orang yang memiliki bukti bahwa ia berhak melalui bukti yang berasal dari surat kematian dan surat keterangan sebagai ahli waris. Peralihan hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun karena pewarisan secara yuridis terjadi pada saat pemilik sah dari tanah tersebut meninggal dunia. Akan tetapi secara administratif, penerima warisan harus mendaftarkan peralihan hak tersebut kepada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat untuk dilakukan perubahan nama pemegang hak atas nama pewaris menjadi nama ahli waris. Hal tersebut dilakukan agar ahli waris memiliki kekuatan hukum yang sah terhadap hak atas tanah yang beralih tersebut.129

Selain itu juga digunakan untuk kegiatan seperti jual beli, pembebanan hak tanggungan, tukar menukar, hibah dan lain sebagainya. Untuk pendaftaran

129 Angger Sigit Pramukti dan Erdha Widayanto.,Op.Cit, hal. 113.

peralihan hak atas tanah karena pewarisan yang diajukan dalam waktu enam bulan sejak tanggal meninggalnya pewaris tidak dipungut biaya.

Prosedur pendaftaran peralihan hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun karena pewarisan ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:130

a. Permohonan Pendaftaran Peralihan hak Dokumen-dokumen yang perlu dilampirkan :

1) Sertifikat hak atas tanah atau hak atas satuan rumah susun atas nama pewaris atau apabila mengenai tanah yang belum didaftar, bukti kepemilikannya berupa bukti lain selain sertifikat tanah. Contohnya adalah petuk pajak bumi, pajak hasil bumi, verponding Indonesia atau kutipan letter C.

2) Surat kematian atas nama pemegang hak yang tercantum dalam sertifikat yang bersangkutan dari Kepala Desa/Kelurahan tempat pewaris meninggal dunia, rumah sakit, petugas kesehatan atau instansi yang berwenang.

3) Surat tanda bukti sebagai ahli waris yang dapat berupa:

a) Wasiat dari pewaris;

b) Putusan Pengadilan;

c) Penetapan hakim;

d) Bagi warga negara Indonesia penduduk asli, surat keterangan waris dibuat oleh ahli waris dengan disaksikan oleh kedua orang saksi dan dikuatkan dengan Kepala Desa/Kelurahan dan Camat tempat tinggal pewaris pada waktu meninggal dunia. Selanjutnya untuk warga negara Indonesia

130 Ibid., hal. 114-116.

keturunan Tionghua dibuat akta keterangan hak mewaris dari notaris.

Apabila warga negara keturunan Timur Asing lainnya berupa surat keterangan waris yang dibuat oleh Balai Harta Peninggalan.

b. Pencatatan Peralihan Hak.

Kalau persyaratan dalam permohonan pendaftaran peralihan hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun karena pewarisan telah terpenuhi oleh ahli waris sebagai pemohon dan kuasanya, maka Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota melakukan pencatatan peralihan hak dalam buku tanah, sertifikat dan daftar lainnya, yaitu sebagai berikut:131

1) Nama pemegang hak lama di dalam buku tanah dicoret dengan tinta hitam dan dibubuhi paraf Kepala Kantor Pertanahan/Kota atau pejabat yang ditunjuk.

2) Nama atau nama-nama pemegang hak yang baru dituliskan pada halaman dan kolom yang ada dalam buku tanahnya dengan dibubuhi tanggal pencatatan, dan besarnya bagian setiap pemegang hak dalam hal penerimaan hak beberapa orang besarnya bagian ditentukan, dan kemudian di tandatangani oleh kantor Pertanahan Kabupatan/Kota atau Pejabat yang ditunjuk dan cap dinas Kantor Pertanahan kabupaten/kota.

3) Perubahan nama pemegang hak juga dilakukan pada sertifikat hak yang bersangkutan dan daftar umum lain yang memuat nama pemegang hak yang lama.

131 Teresia Din Dkk, Perlindungan Hukum Terhadap Pejabat Pembuat Akta Tanah Dalam Pembuatan Akta Otentik, Jurnal Penelitian Hukum Legalitas Volume 10 No 2, jakarta: Universitas Jayabaya, 2017. hal. 128.

4) Nomor hak dan identitas dari tanah yang dialihkan dicoret dari daftar nama pemegang hak lama dan nomor hak dan identitas tersebut ditulis pada daftar nama penerima hak.

c. Penyerahan Sertifikat.

Sertifikat hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang telah diubah nama pemegang haknya dari atas nama pewaris menjadi atas nama ahli waris oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota, kemudian diserahkan kepada ahli waris sebagai pemohon atau kuasanya.