BAB IV PENUTUP
Graik 18 Jumlah SDM Litbang berkualiikasi Master dan Doktor Periode 2011-2016
Melihat pada graik di atas, maka IKU untuk SDM Iptek bergelar Master dan Doktor telah tercapai. Walaupun target IKU telah tercapai, namun masih terdapat potensi hambatan dalam meningkatkan jumlah SDM Litbang berkualiikasi Master dan Doktor, yaitu sejak meningkatnya aging populasi (ingkat pensiun) sivitas SDM Lembaga Litbang di Indonesia. Hal ini akan mempengaruhi jumlah populasi SDM Lembaga Litbang di Indonesia secara
agregat di tahun-tahun mendatang.
Terkait dengan pengembangan kualiikasi Master dan Doktor bagi staf SDM litbang, maka kemenristekdiki telah memberikan beasiswa kepada berbagai lembaga litbang di Indonesia. Tabel 46 menunjukkan peningkatan jumlah SDM IPTEK dan jumlah karyasiswa Kemenristekdiki.
7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 3.140 3.260 3.477 3.562 3.540 6.647
Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A
Sementara itu berdasarkan hasil monev studi
lanjut SDM Litbang tahun 2016, diperoleh rerata IPK karyasiswa adalah 3,05. Angka tersebut berada di bawah target rerata IPK yaitu sebesar 3,5. Selain
itu dari segi indeks jumlah paper yang dihasilkan,
rerata paper Nasional yang dihasilkan sebesar 0,51 sedangkan rerata paper internasional mencapai 0,29. Rerata konferensi internasional yang diikui oleh karyasiswa SDM Litbang ingkat master dan doktor mencapai 0,42. Apabila seiap karyasiswa diwajibkan menulis paper dan/atau mengikui konferensi
internasional, seharusnya diperoleh indeks produksi
paper Nasional/internasional sebesar 1. Hal tersebut
menunjukkan bahwa sistem seleksi calon karyasiswa perlu diperketat agar diperoleh intake mahasiswa dengan kemampuan yang lebih baik.
Produkivitas peneliian atau riset dan
pengembangan dinilai oleh empat indikator yaitu paten, publikasi ilmiah dan prototype R&D dan protoipe industri. Kementerian Riset, Teknologi,
dan Pendidikan Tinggi terus mendorong peningkatan
perolehan HKI, diantaranya melalui instrumen kebijakan Insenif Riset SINas, disamping riset-riset
dasar dan terapan untuk meningkatkan academic excellence juga mendorong lebih banyak lagi pelaksanaan riset melalui pola konsorsium yang melibatkan lembaga litbang, pemerintah dan dunia
usaha/industri sehingga menghasilkan protoipe
yang dapat diadopsi oleh industri. Disamping itu juga
memfasilitasi peningkatan perolehan HKI domesik, dengan memberikan insenif berupa insenif inventor yang ingin mendatarkan paten, dan fasilitasi pembentukan dan penguatan sentra HKI.
Oleh karena itu Sasaran Meningkatnya Relevansi
dan Produkivitas Riset dan Pengembangan merupakan
upaya yang harus dilakukan dengan menetapkan
indikator kinerja yang harus diingkatkan yaitu: 1. Jumlah HKI yang didatarkan
2. Jumlah publikasi internasional 3. Jumlah protoipe R&D (TRL s.d. 6) 4. Jumlah protoipe industri (TRL 7)
Dari 4 (empat) indikator kinerja, semua indikator
kinerja telah memenuhi target. Untuk mencapai
sasaran Meningkatnya Relevansi dan Produkivitas Riset dan Pengembangan pada tahun 2016 telah dianggarkan sebesar Rp 1.515.260.927.028 dengan realisasi sebesar Rp 1.444.088.389.129 atau sebesar 95.30%. Gambaran ingkat ketercapaian sasaran Meningkatnya Relevansi dan Produkivitas Riset dan
Pengembangan adalah sebagai berikut:
Sasaran 4 : Meningkatnya Relevansi Dan Produkivitas Riset Dan Pengembangan
Tabel 48 Capaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Relevansi dan Produktivitas Riset dan Pengembangan
Sasaran
Strategis
Indikator Kinerja
Target
2015-2019
Realisasi
2015
Tahun 2016
Target
Realisasi
%
Meningkatnya relevansi dan produkivitas riset dan pengembanganJumlah HKI yang didatarkan 2.305 1.521 1.735 3.184 185% Jumlah publikasi internasional 12.089 6.470 6.229 9.574 153% Jumlah protoipe R&D (TRL s.d 6) 1.081 1.611 632 791 125% Jumlah protoipe industri (TRL 7) 15 4 15 45 300%
111
an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A1. Jumlah HKI Yang Didaftarkan
Penetapan Jumlah HKI yang didatarkan sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) bertujuan untuk meningkatkan perolehan perlindungan HKI dengan menggali secara maksimum potensi HKI yang diperoleh dari suatu kegiatan peneliian dan pengabdian
kepada masyarakat yang sedang berjalan maupun
yang sudah selesai yang dilakukan oleh dosen/ penelii. Program perolehan dan pendataran HKI
dibatasi untuk perolehan paten dan paten sederhana.
Sedangkan yang berupa Paten adalah hak eksklusif
yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
Sangat disadari sepenuhnya bahwa proses peraihan
Paten di Kementerian Hukum dan HAM RI memerlukan waktu cukup lama sejak sebuah pendataran invensi/ penemuan dosen/penelii pada lembaga tersebut,
namun hal ini sudah merupakan sebuah Guaranted,
yang memang menjadi kebanggaan bagi si penemu/ dosen/penelii dan aset bagi keberhasilan perguruan inggi/lembaga litbang dalam rangka pengembangan
keilmuan.
Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, pada tahun 2016 ingkat capaian indikator ini melebihi
target yang ditetapkan. Dari target yang ditetapkan
sebesar 1.735 berhasil terealisasi sebesar 3.184 dengan persentase capaian kinerja sebesar 184%. Hal ini mengalami peningkatan yang cukup signiikan.
Dalam Rencana Strategis 2015-2019, target di akhir periode perencanaan jangka menengah untuk Jumlah HKI yang didatarkan sebesar 2.305 HKI, capaian pada tahun 2014 sebesar 1.521 HKI, pada tahun 2015 sebesar 1.735 HKI sedangkan tahun 2016 Jumlah HKI yang didatarkan sudah mencapai 3.184 atau dengan persentase capaian kinerja 138% terhadap target Renstra 2015 - 2019, capaian tersebut seperi terlihat
pada tabel berikut.
Tabel 49 Capaian Indikator Kinerja Jumlah HKI yang Didaftarkan
Tabel 50 Perbandingan Jumlah Permintaan Paten Antara Negara-Negara ASEAN & Jepang
Indikator Kinerja
2015-2019Target
Tahun/Jumlah
2014
2015
2016
Jumlah HKI yang didatarkan 2.305 1.521 1.735 3.184
No Negara
Internaional Patent Domesic Patent
2013 2014 1015 2013 2014 2015 1 Indonesia 7 16 13 684 795 777 2 Malaysia 224 350 263 1.263 1.275 1.136 3 Filipina 21 14 21 668 759 822 4 Singapura 593 641 661 750 895 1.056 5 Thailand 20 72 67 2.441 2.452 2.161 6 Vietnam 5 9 18 524 521 493 7 Jepang 29.802 32.150 3.875 303.114 296.970 293.885 Sumber : Kemenkumham
Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A
Pada tahun 2016 target kinerja Jumlah HKI yang didatarkan terpenuhi, namun apabila melihat data tabel di atas, Indonesia masih teringgal cukup jauh Malaysia, Filipina dan Thailand, Indonesia masih diatas Vietnam, sehubungan itu Indonesia masih terus selalu
berupaya untuk secara terus menerus mengupayakan lebih keras lagi melakukan suatu terobosan baik
fasilitas dana, maupun fasilitasi kebijakan dan termasuk
meningkatkan sumberdaya hasil Riset yang mengarah pada permintaan Paten.
Meningkatnya capaian kinerja ini diantaranya terkait
adanya Undang-Undang No. 13 Tahun 2016 tentang
Paten, yang berisi solusi pengaturan mengenai beberapa
substansi pening, antara lain:
a. Pemanfaatan dengan sistem elektronik Kekayaan
Intelektual untuk peningkatan layanan dan manajemen Kekayaan Intelektual Nasional.
b. Imbalan bagi penelii Pegawai Negeri Sipil yang
merupakan bagian dari Aparatur Sipil Negara untuk
meningkatkan jumlah Paten dalam negeri, dan
sekaligus mendorong semangat para penelii yang
berstatus Pegawai Negeri Sipil.
c. Dimungkinkannya kepemilikan Paten oleh Instansi
pemerintah dan Inventor, kecuali diperjanjikan lain, akan memberikan semangat baru bagi penelii
untuk terus mempatenkan hasil karyanya walau sudah berusia menjelang purna tugas.
d. Penyempurnaan ketentuan terkait invensi baru dan
langkah invenif untuk publikasi di Perguruan Tinggi
atau lembaga ilmiah Nasional.
e. Hak Atas Paten dapat beralih/dialihkan dan bahkan
dapat dijadikan objek jaminan idusia.
f. Menambah kewenangan Komisi Banding untuk
memeriksa permohonan koreksi atas deskripsi, klaim, atau gambar setelah Permohonan diberi paten dan penghapusan Paten yang sudah diberi.
g. Pengangkatan dan pemberhenian ahli oleh
Menteri sebagai Pemeriksa. Ketentuan ini merupakan terobosan untuk menjawab tantangan perkembangan teknologi yang sangat pesat, dimana
diperlukan para professional pemeriksa yang memiliki ingkat kemampuan advance di bidang teknologi mutakhir dan juga untuk pemberdayaan ilmuwan dan ahli di bidang teknologi yang tersebar
di perguruan inggi dan litbang Pemerintah untuk
berkiprah dalam pembangunan sistem paten Nasional. Pengaturan mengenai force majeur
dalam pemeriksaan administraif dan substanif
Permohonan sera Pengaturan ekspor dan impor terkait Lisensi-wajib.
h. Keharusan pengungkapan dengan jelas dan benar
asal sumber daya geneik dan/atau pengetahuan
tradisional dalam deskripsi paten. Ketentuan ini sejalan dengan Nagoya Protokol yang dimaksudkan dalam rangka Access Beneic Sharing sebagai upaya
melindungi Sumber Daya Geneik Pengetahuan Tradisional (SDGPT). Perubahan mekanisme
pembayaran biaya tahunan paten dari setelah
Pemegang Paten memanfaatkan hak ekskulsifnya menjadi sebelum Pemegang Paten memanfaatkan hak eksklusifnya.
i. Pengaturan Paten sederhana, yang memberikan
kemudahan dan keberpihakan kepada para Penelii
dan Pengusaha lokal, utamanya UKM (Usaha
Kecil dan Menengah) untuk mempatenkan hasil-
hasil karyanya, akan mendorong semangat para pengusaha kecil dan menengah untuk bekerja
sama dengan para penelii dan sekaligus akan
mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan
ekonomi kreaif.
j. Percepatan/Pengurangan waktu penyelesaian
pemeriksaan substanif.
k. Pengecualian pembayaran biaya tahunan Paten bagi Perguruan Tinggi dan Litbang Pemerintah. Namun demikian secara umum masih ada beberapa permasalahan dan kendala yang perlu mendapatkan
perhaian, diantaranya:
a. Jumlah penelii/perekayasa, dosen dan
mahasiswa melakukan peneliian yang memiliki paten potensial idak opimal. Pemahaman Hak Kekayaan Intelektual di lembaga litbang, perguruan inggi dan industri, khususnya penelii/
perekayasa, dosen dan mahasiswa masih kurang.
Penelii/perekayasa, dosen hanya sekadar melakukan peneliian semata, tetapi idak mempunyai tujuan bahwa seiap peneliian harus menjadi sebuah invensi yang akan didatarkan
sebagai Paten atau Paten Sederhana, karena
apabila suatu peneliian idak ditujukan untuk menjadi invensi, maka hasil peneliian tersebut
hanya akan menjadi pengisi jurnal ilmiah atau proceeding.
b. Pusat HKI di lembaga litbang dan Perguruan Tinggi masih belum sepenuhnya mendapat dukungan dari pemimpin.
c. Perlu adanya usaha untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang
belum dimiliki oleh pengelola sentra HKI melalui training sehingga idak terjadi kemandekan bahkan kemunduran kemampuan pengelola
113
an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ Ad. Terbatasnya jumlah penelii/perekayasa, dosen
dan mahasiswa yang melakukan peneliian yang
berpotensi paten.
e. Pemahaman terhadap Hak Kekayaan Intelektual
di kalangan lembaga litbang dan perguruan inggi
masih lemah.
f. Kekhawairan para pemilik paten (Granteed
Paten) khususnya di kalangan lembaga litbang
dan perguruan inggi dalam hal pembiayaan pemeliharaan paten yang dikenakan seiap
tahun, terlebih paten tersebut belum dapat dikomersialisasikan. Walaupun sejak November
2016 telah dilakukan penurunan tarif.
Melihat hambatan dan permasalahan tersebut di
atas, beberapa langkah anisipasi yang dilaksanakan
adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas dan kuanitas Pelaihan
Pemanfaatan Hasil Peneliian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kreaiitas penelii/perekayasa,
dosen dan mahasiswa yang berpotensi paten yang di dalamnya memberikan pemahaman yang lebih untuk lembaga litbang dan universitas,
khususnya, penelii/perekayasa, dosen,
mahasiswa dan penelii, tentang peningnya Hak Kekayaan Intelektual. Mendorong penelii dari lembaga litbang dan perguruan inggi untuk terus melakukan peneliian yang berpotensi paten.
b. Memberikan insenif dan pendanaan dalam
rangka mendorong moivasi bagi penelii maupun
peningkatan kapasitas lembaga melalui berbagai program.
c. Mendorong pertemuan antara penemu dan pengusaha serta industri sebagai pengguna karya
peneliian yang telah diberikan paten untuk
memberikan lebih banyak kesempatan kepada pemilik paten untuk dapat dikomersialkan.
d. Memberikan pemahaman kepada lembaga
litbang/perguruan inggi khususnya penelii/ perekayasa, dosen dan mahasiswa akan ari peningnya Hak Kekayaan Intelektual.
2. Jumlah Publikasi Internasional
Salah satu ukuran produkivitas hasil Iptek adalah
publikasi baik dalam publikasi Nasional maupun
internasional yang bereputasi. Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, pada tahun 2016 ingkat capaian indikator ini telah mencapai target
yang ditetapkan bahkan telah melebihi target capaian.
Dari target yang ditetapkan sebesar 6.229 Publikasi Internasional, terealisasi sebesar 9.574 Publikasi Internasional dengan persentase capaian kinerja sebesar 153%. Jika dibandingkan dengan tahun 2015 dengan capaian 6.470, capaian tahun 2016 mengalami peningkatan yang sangat signiikan.
Walaupun capaian kinerja tahun 2016 melebihi
target, namun jika dibandingkan dengan negara-
negara Asean, khususnya dengan Thailand masih cukup jauh keinggalan, terlebih jika dibandingkan
dengan Malaysia, Singapura. Tetapi untuk Vietnam
dan Filipina jumlah publikasi internasional Indonesia
masih di atas dua negara terakhir.
Tabel 51 Publikasi Internasional Negara ASEAN 2014-2016
Negara
2013
2014
2015
2016
Malaysia 25.176 28.199 26.560 24.910 Singapore 18.931 19.456 19.619 18.950 Thailand 12.206 13.483 12.652 13.142 Indonesia 5.068 6.380 7.766 9.574 Vietnam 3.664 4.029 4.404 5.123 Phillipines 1.889 2.131 2.468 2.382 Sumber : ScopusLapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A - 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000
MALAYSIA SINGAPORE THAILAND INDONESIA VIETNAM PHILLIPINES 2013 2014 2015 2016