• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peminat dan Daya Tampung Bidikmisi 2010 s.d 2016

Dalam dokumen LAKIP KEMENRISTEK 2016 page (Halaman 50-57)

BAB IV PENUTUP

Graik 6 Peminat dan Daya Tampung Bidikmisi 2010 s.d 2016

Tabel 14 Perolehan IPK Mahasiswa Bidikmisi

Range IPK

Jumlah Mahasiswa

Total

%

D3

D4

S1

<2,00 148 29 3.131 3.308 2,05% 2,00-2,74 938 314 11.427 12.679 7,84% 2,75-2,99 1.418 425 13.560 15.403 9,53% 3,00-3,49 6.439 1.884 74.812 83.135 51,41% 3,51-3,99 3.437 1.228 41.395 45.960 28,42% 4 112 46 1.060 1.218 0,75%

Grand Total

12.492

3.826

145.385

161.703

100%

Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A

Besarnya beasiswa Bidikmisi adalah Rp 1.000.000 per bulan/mahasiswa dengan rincian untuk bantuan biaya pendidikan sebesar Rp 400.000/bulan/ mahasiswa diberikan langsung ke perguruan inggi, dan bantuan biaya hidup sebesar Rp 600.000/bulan/

mahasiswa diberikan langsung ke mahasiswa.

Sejak tahun 2013, sebanyak 20.336 mahasiswa Bidikmisi telah menyelesaikan studinya dari program sarjana dan diploma. Pada Semester Genap TA 2015/2016 ini diharapkan dapat menyelesaikan studi sejumlah 44.848 mahasiswa, terdiri atas 38.655 mahasiswa program sarjana (S-1)/Diploma 4(D- 4) angkatan 2012 dan 6.193 mahasiswa program Diploma 3 (D-3) angkatan 2012.

b. Bantuan Biaya Pendidikan

Peningkatan Prestasi

Akademik (PPA)

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi berupaya mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan biaya pendidikan kepada mahasiswa yang

orang tuanya idak mampu membiayai pendidikannya,

dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang

mempunyai prestasi inggi, baik kurikuler maupun ekstrakurikuler. Beasiswa PPA adalah bantuan biaya

pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa yang

memiliki prestasi inggi. Jumlah penerima beasiswa PPA seiap tahun bergantung pada anggaran yang

tersedia.

Tabel 15 Penerima Beasiswa PPA

Tahun

Jumlah Penerima

2013 180.000

2014 155.000

2015 121.000

2016 61.904

Beasiswa Airmasi Pendidikan Tinggi (ADik) Papua dan 3T adalah bantuan biaya pendidikan dalam rangka

percepatan dan pemerataan di bidang pendidikan

inggi di daerah 3T (Terluar, Teringgal, Terdepan),

program khusus sebagai wujud keberpihakan

pemerintah bagi provinsi Papua, Papua Barat dan

daerah 3T. Putra-putri asli provinsi Papua, Papua Barat, dan Daerah 3T, melalui program ADik diberikan

beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di

39 Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia, khususnya di wilayah pulau Jawa.

43

an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A

Tabel 16 Jumlah Penerima Beasiswa ADik Papua dan 3T

Gambar 8 Penyerahan Beasiswa Bidikmisi dan ADik di Lampung

Angkatan

Papua

3T

Jumlah

Keterangan

2013 389

92

481

On-going

2014 395

168

563

On-going

2015 434

312

746

On-going

2016 730

239

969

Baru

Jumlah

1.948

811

2.759

d.Pemberian Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN)

Dewasa ini, kemajuan pembangunan membutuhkan

kualiikasi yang semakin inggi sehingga kebutuhan akan pendidikan inggi juga semakin meningkat. Meskipun pertumbuhan parisipasi pendidikan inggi terus meningkat, namun secara relaif APK pendidikan inggi di Indonesia masih jauh teringgal dibanding

negara-negara tetangga. Mahalnya biaya pendidikan

inggi masih dirasa memberatkan masyarakat.

Salah satu upaya pemerintah dalam menganisipasi mahalnya biaya pendidikan inggi adalah menetapkan idak ada kenaikan uang kuliah (SPP) dan menggunakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada perguruan inggi

negeri yang mulai berlaku mulai tahun akademik

2012/2013. Untuk mengatasi masalah tersebut serta

untuk menjaga kelangsungan proses belajar mengajar

Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A

minimal, pemerintah meluncurkan program Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BO-PTN) dengan

memberikan bantuan dana penyelenggaraan kepada

perguruan inggi negeri. Program BO-PTN bertujuan

untuk menutupi kekurangan biaya operasional di

perguruan inggi. Bantuan operasional perguruan inggi negeri yang selanjutnya disebut BO-PTN merupakan

bantuan biaya dari Pemerintah yang diberikan pada

perguruan inggi negeri untuk membiayai kekurangan

biaya operasional sebagai akibat adanya batasan pada

sumbangan pendidikan (SPP) di perguruan inggi negeri. BO-PTN diperuntukkan bagi biaya operasional pendidikan termasuk untuk peneliian, yang langsung atau idak langsung dapat meningkatkan mutu lulusan

namun terkendala jika seluruhnya dipungut kepada mahasiswa.

Tabel 17 Alokasi BOPTN

Tabel 18 Pertumbuhan PT dan Prodi 2010 – 2016

Tahun

Alokasi BOPTN

Non Peneliian

Alokasi BOPTNPeneliian

Total BOPTN

2013 2.384.882.031.000 315.117.969.000 2.700.000.000.000 2014 3.017.994.757.000 180.281.050.000 3.198.275.807.000 2015 3.185.000.000.000 1.365.000.000.000 4.550.000.000.000 2016 3.185.000.000.000 1.365.000.000.000 4.550.000.000.000

TAHUN

2011 2012 2013 2014 2015 2016 Jumlah PTN 96 100 105 121 121 122 Jumlah PTS 2.849 2.910 2.966 3.089 3.106 3.124 Total PT 2.945 3.010 3.071 3.210 3.227 3.246 Jumlah Prodi 16.079 16.828 17.600 18.882 19.160 19.373

Perguruan inggi merupakan bagian dari sistem

pendidikan Nasional memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi sebuah lembaga pendidikan atau yang biasa disebut dengan satuan

pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inggi

dan menjadi gerbang terakhir bagi generasi penerus pembangunan bangsa untuk menempuh jenjang

pendidikan teringgi. Keberadaan sebuah perguruan inggi pada suatu daerah turut berperan dalam

menentukan kemajuan suatu daerah, karena perguruan

inggi juga merupakan tempat untuk meningkatkan

kualitas sumberdaya manusia dan menimba ilmu berbagai jenis ilmu pengetahuan yang diperlukan

untuk membangun daerah di mana perguruan inggi tersebut berada. Keberadaan perguruan inggi juga terbuki telah mampu meningkatkan jumlah angka parisipasi kasar (APK) ke perguruan inggi, yang

jika dikaitkan dengan semakin banyak jumlah warga

negara yang menempuh jenjang pendidikan inggi maka secara idak langsung keberadaannya sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemajuan dan

kemakmuran negara.

Sampai tahun 2016 jumlah Perguruan Tinggi di bawah Kemenristekdiki mencapai 3.246 PT dan Program Studi mencapai 19.373.

45

an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A

Kemenristekdiki bersinergi dengan kementerian

dan lembaga lain terus melakukan upaya untuk

meningkatkan APK PT secara Nasional. Peningkatan APK PT menjadi salah satu indikator keberhasilan

kebijakan pembangunan Nasional di bidang

pendidikan. Dalam jangka menengah, APK PT di Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain di ASEAN, Asia, bahkan dunia.

2. Persentase Lulusan Bersertiikat

Kompetensi

Tahun 2016 kita sudah memasuki era ASEAN

Community yang mempunyai semangat kebersamaan berupa One Vision, One Idenity, One Community.

Pada era ASEAN Community, terbuka peluang pasar bebas dalam ketenagakerjaan. Hal itu ditandai salah

satunya dengan adanya kesepakatan berupa Mutual Recognaion Arrangement (MRA) terhadap beberapa profesi di wilayah ASEAN untuk dapat saling mengakui mampu bekerja di semua negara ASEAN.

Pemberlakuan pasar bebas ASEAN (ASEAN Community) akan berakibat terjadinya peningkatan persaingan di bursa tenaga kerja. Hal itu, akan

mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus.

Masyarakat Ekonomi ASEAN idak hanya membuka

arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar

tenaga kerja profesional, seperi dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya. Berbagai profesi tersebut sangat

mungkin diisi oleh tenaga kerja asing yang notabene

memiliki ingkat kompetensi lebih unggul. ASEAN Community di samping merupakan sebuah tantangan, pada dasarnya juga merupakan sebuah peluang. Sebagai sebuah tantangan, pasar bebas mengharuskan

tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi unggul agar peluang kerja di Indonesia idak dipenuhi oleh

tenaga asing. Sementara itu, sebagai sebuah peluang

pasar bebas ASEAN membuka akses pekerjaan yang lebih luas untuk tenaga kerja Indonesia yang

berkompetensi unggul meraih pekerjaan di negara-

negara ASEAN.

Pemberlakuan MEA menuntut lembaga pendidikan

berbenah diri guna menyiapkan kualitas lulusan yang lebih baik. Dalam rangka mengupayakan tumbuhnya

tenaga kerja Indonesia yang unggul dan kompetensi memerlukan keterlibatan perguruan inggi. Perguruan inggi harus mampu menghasilkan kualitas lulusan yang mampu menangkap peluang pasar bebas ASEAN. Kualitas lulusan ditandai dengan perolehan seriikat

sebagai pengakuan standar kompetensi yang dimiliki.

Perolehan seriikat tersebut melalui penyelenggaraan

uji kompetensi. Prosentase lulusan berseriikat

kompetensi merupakan indikator untuk mengukur

lulusan perguruan inggi yang lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh organisasi profesi, lembaga pelaihan, atau lembaga seriikasi yang terakreditasi

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dengan seriikat kompetensi yang terstandar, lulusan perguruan inggi Indonesia memiliki daya saing untuk

masuk dalam pasar kerja Nasional, regional, ataupun internasional.

Seriikat kompetensi adalah dokumen pengakuan

kompetensi atas prestasi lulusan yang sesuai dengan

keahlian dalam cabang ilmunya dan/atau memiliki

prestasi diluar program studinya. Mengukur lulusan

perguruan inggi yang lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh organisasi profesi, lembaga pelaihan, atau lembaga seriikasi yang terakreditasi

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dengan seriikat kompetensi yang terstandar, lulusan perguruan inggi Indonesia memiliki daya saing untuk

masuk dalam pasar kerja Nasional, regional, ataupun internasional.

Berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan uji kompetensi, ada baiknya dicermai informasi yang

diperoleh dari kegiatan studi banding Tim Direktorat

Penjaminan Mutu ke Australia. Beberapa hal pening yang perlu diperhaikan sebagai berikut. Pertama, sistem uji kompetensi Nasional idak ada di Australia.

Tetapi perguruan inggi menerapkan assessment

ketat untuk memasikan lulusannya memenuhi standard professional yang telah di tetapkan oleh professional body. Kedua, terdapat batasan rata-

rata skore minimal SMU untuk dapat mendatar

menjadi mahasiswa perawat, bidan atau dokter untuk

menjamin kesuksesan proses belajar. Keiga, jumlah seat yang disediakan untuk pendidikan perawat dan bidan ditetapkan oleh pemerintah (kementerian

kesehatan). Jumlah mahasiswa yang ditempatkan di

rumah sakit sesuai dengan kesepakatan di RS dengan

perimbangan capaian kompetensi dan paient

safety di rumah sakit. Hal-hal pening tersebut perlu mendapatkan perhaian sebagai bahan penetapan

regulasi, khususnya berkaitan dengan pelaksanaan sistem uji kompetensi.

Sebagaimana disebutkan di atas, jumlah lulusan

yang berseriikat kompentensi menjadi salah satu

indikasi kualitas penyelanggaraan pembelajaran dan

kemahasiswaan di perguruan inggi. Oleh karena itu, pada Renstra Kemenristekdiki 2015–2019, lulusan berseriikat kompetensi menjadi salah satu indikator pencapaian IKSS “Meningkatnya Kualitas

Pembelajaran dan Kemahasiswaan di Perguruan

Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A

kompetensi merupakan indikator untuk mengukur

lulusan perguruan inggi yang lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh organisasi profesi, lembaga pelaihan, atau lembaga seriikasi yang terakreditasi

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dengan seriikat kompetensi yang terstandar, lulusan perguruan inggi Indonesia memiliki daya saing untuk

masuk dalam pasar kerja nasional, regional, ataupun internasional.

Pada tahun 2016 Kemenristekdiki baru melaksanakan Uji Kompetensi untuk enam profesi, yaitu: Dokter, Dokter Gigi, Perawat, Bidan, Ners, dan Guru. Pelaksanaan uji kompetensi untuk keenam pofesi tersebut sesuai dengan tuntutan pemberlakuan pasar bebas ASEAN membutuhkan tenaga kerja profesional yang memerlukan keahlian khusus, seperi dokter, dokter gigi, bidan, perawat, ners,

dan guru. Sejalan dengan hal itu, penyelenggaraan

uji kompetensi dilaksanakan untuk keenam profesi tersebut. Harapannya, untuk waktu yang akan datang uji kompetensi juga dilaksanakan pada profesi-profesi

yang lain sesuai tuntutan standardisasi dunia kerja.

Jumlah total peserta uji kompetensi dari keenam profesi pada tahun 2016 sebesar 199.722. Dari jumlah total tersebut yang dinyatakan lulus sebesar 101.167 atau 50,65%. Persentase kelulusan tersebut merupakan hasil perhitungan rata-rata ingkat kelulusan dari keenam profesi. Masih rendahnya capaian persentase ingkat kelulusan profesi dipengaruhi oleh ingkat kelulusan iga profesi, yakni: (a) bidan, (b) perawat, dan (c) ners. Tingkat kelulusan untuk keiga profesi tersebut masih di bawah 60%. Sementara itu, untuk profesi dokter, dokter gigi, dan guru sudah mencapai di atas 60%

Tabel 19 Persentase Kelulusan Uji Kompetensi Enam Profesi

No. Jumlah

Dokter Dokter Gigi

Ners Bidan Perawat Guru Metode

CBT Metode OSCE Metode CBT Metode OSCE

1 Peserta 14.334 9.870 2.381 2.012 39.084 75.950 53.591 2.500

2 Lulus 8.328 8.596 1.784 1.732 15.692 42.707 19.829 2.500

3 Persentase Kelulusan 58,10% 87,09% 74,93% 86,08% 40,15% 56,23% 37% 100%

Ket :

Metode CBT : Computer Based Test

Metode OSCE : Objevive Structured Clinical Examinaion

Pada tahun 2016 capaian persentase lulusan berseriikat kompetensi masih belum memenuhi

target yang ditetapkan. Dari target yang ditetapkan

sebesar 60% berhasil terealisasi sebesar 50,65%.

Dengan demikian persentase capaian kinerja pada

tahun 2016 ini sebesar 83,38%. Jika dibandingkan

dengan target pada periode sebelumnya, pada

tahun 2016 capaiannya mengalami penurunan. Data tahun 2015 capaian persentase lulusan berseriikat kompetensi sebesar 54,55%. Oleh karena IKSS ini baru ditetapkan pada tahun 2015, maka data pembanding

capaian kinerja hanya tersedia untuk satu tahun sebelumnya.

Dalam rencana strategis 2015-2019, target di akhir periode renstra, yakni tahun 2019, target untuk persentase lulusan berseriikat kompetensi sebesar

75%. Sampai dengan tahun 2016 persentase lulusan berseriikat kompetensi baru mencapai 50,65%.

Dengan demikian, persentase capaian kinerja tahun

2016 dibandingkan dengan target pada akhir periode renstra sebesar 67,53%.

Jumlah atau ingkat persentase lulusan berseriikat

kompetensi sangat dipengarui oleh jumlah peserta

(lulusan) yang mengikui kegiatan uji kompetensi pada

tahun tersebut. Di samping itu, kualitas atau mutu

lulusan juga berpengaruh pada persentase ingkat kelulusan uji kompetensi. Semakin inggi kualitas atau mutu lulusan, maka semakin inggi persentase

kelulusan uji kompetensi. Kualitas dan mutu lulusan

dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah mutu atau kualitas PT/Prodi asal peserta. Data menunjukkan bahwa ada korelasi signiikan antara

47

an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A

peringkat akreditasi prodi dan jumlah persentasi kelulusan peserta uji kompetensi. Prodi terakreditasi

baik/unggul menghasilkan persentase lulusan uji kompetensi inggi.

Secara umum, kendala yang dihadapi dalam

upaya meningkatkan persentase lulusan berseriikat

kompetensi, di antaranya:

1) objekivitas penilaian, khususnya pada ujian prakik;

2) keterbatasan tempat pelaksanaan uji kompetensi; 3) standarisasi soal uji prakik karena harus memperimbangkan keberadaan sarana dan prasarana untuk ujian prakik;

4) ketersediaan bahan ujian prakik.

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut dilakukan kegiatan di antaranya:

1) Menambah jumlah penguji eksternal dari luar

Insitusi Pendidikan Dokter Gigi (IPDG) untuk

menjadi penguji Objevive Structured Clinical

Examinaion (OSCE) agar proses ujian dapat lebih obyekif;

2) Perlu investasi pembelian alat dan bahan yang dipergunakan untuk uji kompetensi di pusat, dan disimpan untuk ujian berikutnya (dapat dipergunakan terus menerus walaupun bahan kemungkinan sudah expired karena idak dipergunakan ke manusia hanya pada manequin (dental panthom);

3) Proses penetapan kepaniiaan uji kompetensi di bawah koordinasi dan supervisi Kemenristekdiki; 4) Kepaniiaan Nasional agar membuat im kreaif

yang dapat menghasilkan materi atau bahan uji yang benar-benar dapat di buat di pusat (center), hal ini ditujukan agar penyediaan bahan-bahan

untuk uji prakik (OSCE) dapat disediakan oleh paniia pusat. Tujuannya adalah dengan proses ini proses uji prakik idak dapat ditebak oleh IPDG, sehingga ujian akan menjadi lebih obyekif. Untuk

memenuhi hal ini maka dibutuhkan support pembiayaan untuk investasi pengadaan alat dan

bahan yang di inventarisir oleh paniia pusat dengan baik;

5) Dukungan pembiayaan untuk pembelian investasi

awal materi/bahan ini idak dimasukkan dalam

pembiayaan operasional yang didapat dari biaya

peserta, namun dari Kemenristekdiki;

6) Perlu dicari format agar dapat menggabungkan penilaian uji teori dan uji prakik menjadi satu

kesatuan. Saat ini proses dilakukan secara

terpisah, arinya mahasiswa peserta ujian wajib

lulus keduanya apabila dinyatakan kompeten. Untuk meningkatkan pencapaian target persentase

Lulusan Berseriikat Kompetensi, diinisiasi kegiatan-

kegiatan sebagai berikut :

a. Uji Kompetensi Dokter

Dokter sebagai pelaku pelayanan kesehatan utama harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang

handal serta memiliki integritas eika/moral untuk

mendukung terwujudnya pelayanan kedokteran bermutu. Dalam rangka memenuhi kebutuhan dokter

yang profesional maka proses pendidikan menjadi faktor yang sangat menentukan. Untuk menjamin mutu lulusan program pendidikan dokter di Indonesia

harus sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter

Indonesia (SKDI) sebagaimana amanat UU RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Prakik Kedokteran dan UU RI No. 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran.

Insitusi pendidikan kedokteran patut menerapkan standar sesuai dengan standar pendidikan profesi

dokter Indonesia dalam menyelenggarakan

pendidikan kedokteran secara komprehensif melalui

berbagai proses. Proses tersebut antara lain proses seleksi mahasiswa, penyusunan kurikulum berbasis kompetensi, penentuan materi pembelajaran, desain proses dan metode pembelajaran, desain evaluasi pembelajaran, penyediaan dan pengelolaan sumber daya serta penjaminan mutu. Di akhir proses program pendidikan kedokteran dilakukan uji kompetensi

mahasiswa yang bersifat Nasional untuk memperoleh seriikat profesi dari insitusi pendidikan sesuai UU

Pendidikan Kedokteran sekaligus direkognisi sebagai

Uji Kompetensi Dokter Indonesia untuk memperoleh seriikat kompetensi dari organisasi profesi dalam hal ini Kolegium sesuai UU Prakik Kedokteran dan Perkonsil No.1 Tahun 2010. Peserta Uji Kompetensi Dokter pada tahun 2016 disajikan pada gambar

Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A

Tabel 20 Peserta Uji Kompetensi Dokter

Tabel 21 Peserta Uji Kompetensi Dokter Gigi

Dalam dokumen LAKIP KEMENRISTEK 2016 page (Halaman 50-57)