BAB IV PENUTUP
Graik 9 Perkembangan Peserta Uji Kompetensi Ners, Perawat, dan Bidan
Di samping upaya di atas, hal pening yang perlu
dilakukan adalah peningkatan mutu dan akreditasi prodi, utamanya prodi kebidanan, perawat, dan ners.
Hal itu dengan perimbangan bahwa terdapat korelasi yang signiikan antara peringkat akreditasi prodi dengan ingkat kelulusan peserta uji kompetensi.
Semakin baik peringkat akreditasi prodi, semakin
inggi ingkat kelulusan uji kompetensi pada prodi
tersebut. Tabel berikut contoh korelasi antara
Peringkat Akreditasi dan Tingkat Kelulusan peserta Uji Kompetensi Profesi Perawat.
Tabel 22 Peringkat Akreditasi dengan Tingkat Kelulusan Peserta Uji Komptensi Perawat
Akreditasi
NEGERI
SWASTA
Jumlah Prodi Jumlah Peserta % Lulus Jumlah Prodi Jumlah Peserta % Lulus
A 2 192 85% - - -
B 47 4.992 71% 108 9.398 64%
C 16 1.495 24% 240 18.053 39%
TT 4 388 22% 28 1.833 29%
Keterangan :
Skala Nilai Akhir Akreditasi: (0 – 400) A: (361 – 400)
B: (301 – 360) C: (201 – 300)
51
an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ AGlobal Compeiiveness Index (GCI) Indonesia salah satunya ditopang oleh faktor perbaikan sejumlah
indikator pendidikan, terutama keberhasilan dalam memperluas kesempatan pendidikan untuk memacu daya saing secara global, di antaranya dapat dengan cara memperbaiki sistem pelayanan pendidikan agar
semakin banyak perguruan inggi Indonesia yang masuk ke peringkat inggi di dunia. Untuk dapat masuk
ke peringkat dunia, salah satu indikatornya adalah
program studi (prodi) yang unggul.
Program studi merupakan kesatuan kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran tertentu dalam satu jenis pendidikan akademik, pendidikan
profesi, dana/atau pendidikan vokasi. Sebagai
kesatuan kegiatan pendidikan dan pembelajaran, UU
Diki mengamanatkan bahwa program studi dapat
diselenggarakan atas izin Menteri bila telah memenuhi persyaratan minimum akreditasi dan wajib diakreditasi ulang saat jangka waktu akreditasinya berakhir.
Salah satu penilaian mutu perguruan inggi adalah peringkat akreditasi seiap program studi
yang ada di PT bersangkutan. Dengan demikian, peringkat akreditasi program studi mencerminkan
kualitas sebuah perguruan inggi. Oleh karena itu,
menjadi kewajiban Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk mengawal peningkatan prodi menjadi unggul dan menjadikan peningkatan jumlah prodi unggul menjadi salah satu indikator sasaran strategisnya. Upaya berkelanjutan dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas dari program studi dan
perguruan inggi yang memegang peranan pening
sebagai komponen utama dalam sistem pembelajaran
pada suatu perguruan inggi.
Jumlah Prodi terakreditasi unggul merupakan
indikator untuk mengukur kinerja program studi yang
telah terakreditasi minimal B dan telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT dan
3. Jumlah Prodi Terakreditasi Unggul
Lembaga Akreditasi Mandiri lainnya dengan merujuk pada standar Nasional pendidikan inggi. Kriteria prodi
unggul adalah Prodi tersebut sudah mendapatkan
akreditasi “baik” dan “sangat baik” dari BAN-PT dan Lembaga Akreditasi Mandiri. Hal itu berari bahwa
Standar Mutu Perguruan Tinggi tersebut sudah dapat melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
Berkaitan dengan pelaksanaan akreditasi program studi, ada baiknya dicermai hasil studi banding pelaksanaan akreditasi perguruan inggi di Australia. Perizinan dan akreditasi perguruan inggi di Australia
dilakukan oleh lembaga independen TEQSA (Teriary
Educaion Quality and Standards Agency). Mekanisme
akreditasi ingkat perguruan inggi dan program studi dilakukan oleh perguruan inggi secara mandiri,
oleh professional body dan oleh TEQSA. TEQSA berindak sebagai koordinator untuk memasikan
bahwa terdapat standard penilaian yang serupa antar berbagai professional body yang melakukan akreditasi dan universitas yang self accredited. Perguruan inggi mematuhi apa yang menjadi standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh professional body (contohnya
nursing and midwifery board, medical council of Australia, and dental council of Australia) dan standard pendidikan dan akreditasi yang ditetapkan
oleh TEQSA.
Pada tahun 2016 capaian jumlah prodi terakreditasi
unggul masih belum memenuhi target yang ditetapkan. Dari target yang ditetapkan sebesar
12.000 berhasil terealisasi sebesar 11.190. Dengan demikian persentase capaian kinerja pada tahun 2016 ini sebesar 93,25%.
Jika dibandingkan dengan target pada periode sebelumnya, pada tahun 2016 capaian prodi
terakreditasi unggul mengalami peningkatan. Data
tahun 2015 capaian prodi unggul sebesar 9.325 dan tahun 2014 sebesar 7.389.
Tabel 23 Jumlah Prodi Terakreditasi Peringkat Unggul Tahun 2012 – 2016
Tahun
Akreditasi A
Akreditasi B
Total
2012 655 2.243 2.898
2013 1.042 4.081 5.123
2014 1.425 5.964 7.389
2015 1.845 7.480 9.325
Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A
Total capaian prodi unggul tahun 2016 sebanyak 11.190 dari target 12.000 atau 93,25%. Secara akumulasi jumlah prodi unggul meningkat seiap
tahun. Namun, jumlah Prodi terakreditasi unggul masih belum dapat mencapai target yang ditentukan
dalam Rencana Strategis Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Meskipun belum memenuhi
target, jika dibandingkan dengan tahun 2015, jumlah prodi terakreditasi unggul tahun 2016 mengalami
peningkatan.
Tabel 24 Total Prodi Berdasarkan Peringkat dan Jenjang
Jenjang
Akreditasi
Total
Terakreditasi
Total TT
(Tidak Terakreditasi)A
B
C
Vokasi 223 1.580 2.184 3.987 1.945 S1 (Sarjana) 1.434 5.766 5.154 12.354 4.459 S2 (Magister) 475 1.196 426 2.097 1.117 S3 (Doktor) 175 215 60 450 267 Profesi 49 77 33 159 405 Spesialis 0 0 0 0 292 Total 2.356 8.834 7.857 19.047 8.485Dalam rencana strategis 2015-2019, target yang ditetapkan pada akhir periode tahun 2019, untuk Program Studi Terakreditasi Unggul sebesar 15.000. Sampai dengan tahun 2016 jumlah Program Studi Terakreditasi unggul sebesar 11.190, atau persentase capaian tahun 2016 dibandingkan dengan target akhir periode Renstra sebesar 74, 6%.
Salah satu faktor yang menyebabkan belum
tercapainya target jumlah prodi terakreditasi unggul
pada tahun 2016 adalah proses akreditasi yang dilaksanakan oleh BAN PT sebagai lembaga mandiri dan independen. Jumlah prodi yang mengusulkan akreditasi seiap tahun idak seimbang dengan
kemampuan melaksanakan proses penilaian akreditasi.
Pada tahun 2016 jumlah prodi yang mengusulkan akreditasi sebesar 3.800, sementara proses akreditasi baru menjangkau sebesar 1.800 prodi. Oleh karena itu, rinisan pembentukan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) harus terus diupayakan, agar proses akreditasi
program studi dapat menjangkau jumlah yang lebih banyak dan merata secara Nasional.
Secara umum, permasalahan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan jumlah Prodi terakreditasi unggul, di antaranya:
a. jumlah prodi yang mengusulkan akreditasi seiap
tahun idak seimbang dengan kemampuan
melaksanakan proses penilaian akreditasi. Pada
tahun 2016 jumlah prodi yang mengusulkan akreditasi sebesar 3.800, sementara proses akreditasi baru menjangkau sebesar 1.800 prodi.
b. implementasi sistem penjaminan mutu internal di
perguruan inggi atau program studi yang belum opimal.
c. keterbatasan sumber dana dalam pemenuhan standar operasional penyelenggaraan prodi.
d. keterbatasan dalam implementasi Sistem
Penjaminan Mutu Internal di PT dan Prodi.
Untuk mengatasi permasalahan dalam upaya meningkatkan jumlah Prodi terakreditasi unggul, dilakukan upaya di antaranya:
a) rinisan pembentukan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) terus diupayakan, agar proses
akreditasi program studi dapat menjangkau jumlah yang lebih banyak dan merata secara Nasional.
b) meningkatkan program pembinaan bagi perguruan
inggi atau program studi yang diarahkan untuk
membangun dan mengimplementasikan sistem
penjaminan mutu internal di perguruan inggi
atau program studi
c) penyediaan bantuan/hibah Program Bantuan Operasional Proses Akreditasi (PBOPA) yang kompeiif dan airmaif.
d) mendorong, meningkatkan, dan mengembangkan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di
53
an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ Adalam bentuk sosialisasi, workshop, pelaihan,
bimbingan teknis, maupun bantuan dana,
sistem informasi, dan program pengembangan,
yang dilaksanakan secara terintegrasi, sistemik,
komprehensif, dan terus menerus.
Untuk meningkatkan jumlah prodi terakreditasi unggul, diselenggarakan kegiatan-kegiatan antara lain: a. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi.
Sasaran pemberian hibah pengembangan kurikulum ini adalah program studi di perguruan
inggi yang telah melakukan upaya dan indakan
nyata dalam merekonstruksi kurikulum program studinya namun masih memerlukan bantuan untuk penyempurnaan serta proses implementasinya.
b. Pelaihan Calon Pelaih SPMI. Pelaihan calon
pelaih SPMI perguruan inggi bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan tentang penerapan
SPMI. Selanjutnya untuk dapat diterapkan secara
menyeluruh sehingga dapat terwujud keluaran
yang maksimal untuk proses Akreditasi prodi
tersebut. Selain itu, menghasilkan dan memenuhi
kebutuhan Pelaih SPMI perguruan inggi khususnya pelaih untuk kegiatan diseminasi SPMI. Diharapkan agar tersedia sumber daya manusia, narasumber, atau pelaih SPMI yang berkedudukan di 14 wilayah Koperis dengan
maksud untuk memudahkan penyebaran dan pengawasan implementasi sistem penjaminan mutu internal di wilayah masing-masing.
c. Pelaihan Calon Pelaih Audit Internal. Audit
mutu internal merupakan salah satu cara atau metode untuk mendapatkan cara-cara peningkatan dengan mengevaluasi bagaimana dan sejauh mana pelaksanaan standar pendidikan
inggi sudah dilakukan secara efekif dan eisien. Audit mutu internal terhadap mutu pendidikan inggi menggunakan kriteria Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) yang terdiri atas Standar Peneliian dan Pengabdian Masyarakat dan Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP mencakup 8 (delapan) standar. Untuk semakin menjamin
mutu pelaksanaan audit internal di masing-
masing perguruan inggi, maka diperlukan adanya para auditor mutu internal yang bermutu. Audit mutu internal perguruan inggi juga digunakan untuk persiapan akreditasi atau seriikasi yang dilakukan oleh BAN-PT atau lembaga akreditasi
lain baik Nasional maupun internasional.
d. Pendampingan Audit Internal PTN Baru/PTS. Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan
kapabilitas PTN baru dan juga perguruan inggi swasta dalam menerapkan SPMI khususnya
kemampuan audit mutu maka diberikan
pendampingan/bimbingan pelaksanaan audit mutu kepada PTN baru dan perguruan inggi swasta. Pada tahun 2016, telah diberikan pendampingan audit mutu internal kepada 5 (lima) PTN Baru dan 2 (dua) perguruan inggi
swasta.
e. Klinik Layanan SPMI. Klinik SPMI ini merupakan
layanan untuk masyarakat (khususnya enitas perguruan inggi) agar lebih memahami SPMI dan SPM-Diki, serta yang lebih pening lagi adalah
meningkatkan kesadaran untuk membangun
budaya mutu. Klinik SPMI memberikan layanan
informasi berupa FAQ (Frequently Asked
Quesions) melalui sarana online maupun
oline dan interakif tentang bagaimana membangun budaya mutu di perguruan inggi, serta memberikan usulan solusi yang efekif
terhadap segala tantangan yang dihadapi dalam
mengakarkan budaya mutu pendidikan inggi.
4. Jumlah Mahasiswa Peraih
Medali Emas Tingkat Nasional
dan Internasional
Prestasi mahasiswa juga menjadi salah satu indikator penilaian dalam penentuan akreditasi
perguruan inggi. Jumlah prestasi yang diperoleh
mahasiswa menunjukkan kualitas suatu perguruan
inggi. Hal itulah yang mendasari dijadikannya jumlah mahasiswa peraih medali emas ingkat Nasional
dan internasional sebagai indikator kinerja sasaran stratgeis “Meningkatnya kualitas pembelajaran dan
kemahasiswaan di perguruan inggi”.
Jumlah mahasiswa peraih medali emas ingkat
Nasional dan internasional merupakan indikator untuk mengukur kualitas dan kiprah civitas akademika
atau sumber daya manusia perguruan inggi di kancah Nasional dan Internasional dalam bentuk prestasi baik
sains, olah raga dan seni. Dalam pengembangan minat,
bakat, penalaran dan kreaivitas serta organisasi kemahasiswaan tahun 2016 telah melakukan berbagai program/kegiatan antara lain pelaihan karakter kepemimpinan, kreaivitas, olah raga dan seni.
Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A
Tabel 25 Perolehan Medali Emas Nasional dan Internasional
No
Nama Kegiatan
Jumlah Medali
1
ASEAN University Game
33
2
Sukmalindo
3
3
Peksiminas
17
4
Pesparawi
41
5
NUDC
32
6
Mawapres
64
7
On MIPA
16
8
Kontes Robot
2
9
Pimnas
42
10
Mobil Hemat Energi
10
11
Gemasik
10
12
Kegiatan Lain yang Bersifat Nasional
dan Internasional di masing-masing
Perguruan Tinggi
250
Jumlah Total
530
2.356
Perolehan emas tahun 2016 ini, disamping kegiatan yang dilaksanakan oleh Kemenristekdiki juga kegiatan yang dilakukan oleh beberapa perguruan inggi dalam
berbagai event baik di ingkat Nasional maupun internasional. Jika dibandingkan dengan tahun 2015,
jumlah perolehan medali emas mengalami penuruan,
dari jumlah 720 menjadi 530. Penurunan jumlah ini dikarenakan belum semua PT di Indonesia melaporkan
medali emas yang diperoleh para mahasiswa yang
mengikui perlombaan atau kompeisi di ingkat Nasional maupun internasional dengan fasilitasi
dari PT masing-masing atau lembaga lain di luar
Kemenristekdiki. Data perolehan emas ini merupakan sebagian kecil dari akivitas kegiatan yang dilakukan oleh beberapa perguruan inggi, idak semua perguruan inggi memberikan data secara lengkap.
Dalam rencana strategis 2015-2019, target di akhir periode perencanaan jangka menengah untuk Jumlah
Mahasiswa Peraih Medali Emas Tingkat Nasional
dan Internasional sebesar 420 mahasiswa. Sampai dengan tahun 2016 jumlah Mahasiswa Peraih Medali Emas Tingkat Nasional dan Internasional sebesar 530, berari persentase capaian sebesar 126,19%.
Faktor yang mendukung keberhasilan pencapaian target tersebut antara lain adalah kemudahan akses
bagi mahasiswa dari seluruh PT di Indonesia untuk mengikui event-event lomba dan kompeisi ingkat Nasional maupun internasional. Adanya dukungan dari dunia usaha dan dunia industri dalam memfasilitasi hasil inovasi dan kreasi mahasiswa juga menjadi faktor
pendukung keberhasilan meningkatkan perolehan
medali emas di ingkat Nasional dan internasional.
Di samping itu, juga terus berupaya menyediakan sarana dan prasarana untuk mewadahi daya nalar dan
kreaivitas serta minat-bakat mahasiswa di berbagai
bidang.
Secara umum, permasalahan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan jumlah mahasiswa peraih medali
emas ingkat Nasional dan internasional, di antaranya:
a. Disparitas prestasi antara PT di wilayah barat dan
imur
b. Mahasiswa dari PT wilayah imur belum mampu
berkompeisi dengan mahasiswa dari PT di
wilayah barat
Pada tahun 2016 target jumlah Mahasiswa Peraih Medali Emas Tingkat Nasional dan Internasional sebesar 390, sementara realisasinya 530, berari persentase capaian sebesar 135,89%. Dengan demikian capaian 2016
55
an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ Ac. Jenis perlombaan/kompeisi lebih banyak
mengakomodasi bidang sains dan teknologi d. Kurangnya sinergi dengan dunia usaha dan dunia
industri dalam pemanfaatan hasil perlombaan/ kompeisi (temuan dan inovasi)
e. Keterbatasan untuk mengakses kegiatan/
perlombaan di ingkat internasional
f. Keterbatasan SDM di PT dalam pembinaan dan
pembimbingan mahasiswa untuk mengikui kompeisi (Nasional dan internasional)
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan upaya di antaranya:
a. Penyelenggaran event/perlombaan dengan memperimbangkan sebaran wilayah secara
proporsional
b. Penyelenggaraan kompeisi ingkat wilayah perlu
diperbanyak dan diperluas cakupannya
c. Jenis perlombaan/kompeisi bidang sosial
humaniora perlu diingkatkan
d. Sinergi dengan dunia usaha dan dunia industri
dalam pemanfaatan hasil perlombaan/kompeisi melalui indak lanjut hasil temuan/inovasi
e. Pemanfaatan jejaring dan teknologi untuk
meningkatkan akses mengikui perlombaan di
luar negeri
f. Melibatkan ahli dan prakisi dari dunia usaha
dan industri untuk membina dan membimbing
mahasiswa mengikui kompeisi
Untuk mendukung pencapaian target jumlah
perolehan medali emas di ingkat Nasional dan
internasional, telah diselenggarakan beberapa kegiatan sebagai berikut.
a. Peksiminas. Peksiminas bertujuan untuk meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler kemahasiswaan di Perguruan Tinggi melalui minat, bakat dan kemampuan para mahasiswa khususnya dibidang seni. Peksiminas dapat meningkatkan dan mengembangkan apresiasi seni di kalangan mahasiswa untuk memperkaya seni dan memperkuat daya saing bangsa. Melalui Peksiminas dapat menjalin kerjasama antarmahasiswa dari berbagai daerah untuk mempererat rasa persaudaraan dalam rangka
keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
b. Pekan Seni Gerejawi Krisiani (Pesparawi). Pesparawi diselenggarakan untuk mewadahi
akivitas kerohanian mahasiswa Krisiani. Hal itu dengan perimbangan bahwa paduan suara mempunyai peran pening dalam ritual gereja (Tata Ibadah Gereja). Di samping sebagai kegiatan kompeisi, Pesparawi menjadi bagian
dari pembinaan dan peningkatan keimanan para pemeluk agama Kristen. Kegiatan Pespawari dapat memancarkan nilai-nilai kebersamaan dan tali persaudaraan terhadap sesama umat manusia di tengah-tengah kebhinekaan dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan
bangsa Indonesia.
c. SUKMALINDO (Sukan Malaysia-Indonesia). Pertandingan persahabatan olahraga antara dua
negara, Indonesia dan Malaysia (SUKMALINDO)
untuk mempererat tali persaudaraan dan persahabatan mahasiswa antara dua negara
yang serumpun. Hal ini pening dilakukan sebagai bagian dari mewujudkan MEA. Kegiatan
Sukmalindo dapat meningkatkan pemahaman dan persepsi mahasiwa untuk menjadi generasi muda yang unggul demi kemajuan negara dan bangsanya masing-masing.
d. ASEAN University Games/ POM ASEAN. POM
ASEAN merupakan ajang kompeisi muli- event antar mahasiswa sebagai perwujudan semangat kebersamaan dan persahabatan
sesama mahasiswa di kawasan Asia Tenggara. Keikutertaan dalam POM ASEAN/AUG merupakan parisipasi Indonesia sebagai anggota dari AUSC. POM ASEAN/AUG diselenggarakan 2 (dua) tahun sekali dengan tuan rumah secara berganian.
e. Debat Bahasa Inggris (NUDC). Kegiatan Debat
Bahasa Inggris bertujuan untuk: (a) meningkatkan daya saing mahasiswa dan lulusan perguruan inggi melalui media debat ilmiah; (b) meningkatkan kemampuan bahasa Inggris lisan, dan menciptakan kompeisi yang sehat antar mahasiswa, (c)
meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk
berpikir kriis dan analiis, sehingga mahasiswa mampu bersaing di ingkat Nasional maupun internasional, (d) mengembangkan kemampuan
mahasiswa dalam menyampaikan pendapat
secara logis dan sistemais, dan (e) memperkuat
karakter mahasiswa melalui pemahaman akan permasalahan Nasional dan internasional beserta
alternaif pemecahannya melalui kompeisi
Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A
Gambar 9 Kegiatan NUDC Tahun 2016 di UMB Jakarta
Gambar 10 Kegiatan Mawapres Tahun 2016
f. Olimpiade Matemaika dan IPA (ON-MIPA).
Kegiatan Olimpiade Nasional MIPA-PT bertujuan untuk: a) mendorong peningkatan kemampuan
akademik dan memperluas wawasan
mahasiswa; b) mendorong mahasiswa untuk lebih mencintai bidang Matemaika, Fisika, Kimia, dan Biologi; c) mendorong peningkatan kualitas dan memperluas wawasan staf pengajar; d) memberikan masukan untuk perbaikan pembelajaran di perguruan inggi, khususnya dalam bidang Matemaika, Fisika, Kimia, dan Biologi; e) Menjadi sarana promosi dan meningkatkan daya tarik Matemaika, Fisika, Kimia, dan Biologi di tengah-tengah masyarakat.
g. Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres).
Kegiatan Mawapres bertujuan untuk: (a) memilih
dan memberikan penghargaan kepada mahasiswa
yang meraih prestasi inggi; (b) memberikan moivasi kepada mahasiswa untuk melaksanakan
kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler sebagai wahana menyinergikan hard skills dan sot skills mahasiswa; dan (c) mendorong
perguruan inggi untuk mengembangkan budaya akademik yang dapat memfasilitasi mahasiswa
mencapai prestasi yang membanggakan secara berkesinambungan.
57
an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ AGambar 11 Kegiatan PIMNAS 2016 di IPB
h. PKM dan PIMNAS. PIMNAS merupakan tahap terakhir dari pelaksanaan kegiatan PKM dan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk saling berkomunikasi melalui produk kreasi intelektual
berskala Nasional. Mahasiswa peserta PIMNAS diharapkan dapat memperoleh manfaat yang besar bagi peningkatan kreaivitas di dalam bidang ilmunya masing-masing. Oleh karena itu, selama PIMNAS berlangsung para mahasiswa
dituntut agar mampu menunjukkan level
teringgi kreaivitas dan kemanfaatan produk intelektualnya. Dengan demikian, kriik, saran dan
pujian yang diperoleh akan menjadi komponen
pening bagi mahasiswa dalam upayanya
meningkatkan kinerja akademik di kemudian hari.
Di samping kegiatan berskala Nasional yang
dilaksanakan oleh Kemenristekdiki dan oleh iap- iap PT, juga terus diupayakan penyertaan mahasiswa Indonesia mengikui kegiatan olahraga di luar negeri. Kompeisi antar mahasiswa melalui olahraga pada ingkat internasional merupakan bentuk akiitas
yang cukup strategis untuk meningkatkan daya saing bangsa, sekaligus untuk mempererat persahabatan sesama mahasiswa dalam rangka mewujudkan
perdamaian dunia. Penyertaan mahasiswa Indonesia dalam mengikui event internasional harus melalui
organisasi Bapomi (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia).
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menjadikan persentase lulusan yang langsung bekerja menjadi salah satu indikator sasaran strategis “Meningkatnya kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan di PT”. Persentase lulusan yang langsung bekerja merupakan indikator untuk
mengukur ingkat penyerapan dunia kerja terhadap lulusan perguruan inggi.
Merujuk data Badan Pusat Staisik (BPS) tahun 2015, postur tenaga kerja Indonesia, yakni: (a) pekerja lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah berjumlah sebesar 54 juta orang (47,1%) atau hampir setengah dari total pekerja sebesar 114,6 juta orang; (b) pekerja lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat sebesar 20,3 juta orang (17,7%); dan (c) pekerja lulusan
Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat sebesar 29,1 juta orang (25,4%). Jumlah paling rendah ditemui pada pekerja lulusan perguruan inggi, dengan rincian sejumlah 8,2 juta orang (7,1%) lulusan sarjana dan sejumlah 2,9 juta orang (2,5%) lulusan diploma. Data
ini menegaskan bahwa jumlah tenaga kerja lulusan
perguruan inggi masih relaif rendah. Kemampuan
PT menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi unggul merupakan salah satu ukuran keberhasilan PT.
Keberhasilan pendidikan inggi adalah aspek relevansi. Oleh karena itu, perguruan inggi dituntut
mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing dan siap berkiprah dalam pembangunan. Daya saing lulusan yang ditunjukkan melalui masa tunggu mendapatkan pekerjaan pertama, keberhasilan
5. Persentase Lulusan Yang Langsung Bekerja
Lapor an Kinerja 2016 K emen terian Rise t, T eknologi, dan P endidik an Ting gi RI B AB III AK UNT ABILIT AS KINERJ A
lulusan berkompeisi dalam seleksi, dan gaji yang diperoleh. Relevansi (kesesuaian) pendidikan lulusan ini ditunjukkan melalui proil pekerjaan (macam dan tempat pekerjaan), relevansi pekerjaan dengan latar belakang pendidikan, manfaat mata kuliah yang
diprogram dalam pekerjaan, saran lulusan untuk perbaikan kompetensi lulusan. Selain itu, relevansi pendidikan juga ditunjukkan melalui pendapat pengguna lulusan tentang kepuasan pengguna lulusan, kompetensi lulusan dan saran lulusan untuk perbaikan kompetensi lulusan.
Seberapa besar lulusan perguruan inggi mampu
berkiprah dalam pembangunan sesuai relevansi pendidikannya dapat dilakukan upaya penelusuran terhadap lulusannya (Tracer Study). Tracer Study merupakan pendekatan yang memungkinkan
insitusi pendidikan inggi memperoleh informasi
tentang kekurangan yang mungkin terjadi dalam proses pendidikan dan proses pembelajaran dan
dapat merupakan dasar untuk perencanaan akivitas untuk penyempurnaan di masa mendatang. Hasil Tracer Study dapat digunakan perguruan inggi untuk mengetahui keberhasilan proses pendidikan yang
telah dilakukan terhadap anak didiknya. Bahkan dalam program hibah kompeisi maupun akreditasi selalu
mempersyaratkan adanya data hasil Tracer Study tersebut melalui parameter masa tunggu lulusan, persen lulusan yang sudah bekerja, dan penghasilan