LANDASAN TEOR
A. K.H Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
Aa Gym adalah ustadz yang terkenal dengan pendidikan Manajemen Qolbu dan mendirikan pondok pesantren Daarut Tauhiid. Aa Gym lahir pada hari senin tanggal 29 Januari 1962 dengan nama lengkap Yan Gymnastiar. Beliau adalah putera sulung dari empat bersaudara pasangan Letnan Kolonel H. Engkus Kuswara dan Ny. Hj. Yeti Rohayati. Saudara-saudara kandungnya: Abdurrahman Yuri, Agung Gunmartin, dan Fathimah Genstreed.
Aa Gym lahir dari keluarga yang dikenal religius dan disiplin. Meskipun religius tetapi pendidikan agama yang ditanamkan oleh orang tuanya sebenarnya sama dengan keluarga lain pada umumnya. Kedisiplinan ketat namun demokratis telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pola hidupnya sejak kecil, karena ayahnya adalah seorang perwira angkatan darat. Sebagai putera seorang tentara, beliau bahkan pernah diamanahkan menjadi komandan resimen mahasiswa (menwa) Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani, Bandung. “Di sini kepanduan namanya,
disiplin tidak selalu berbentuk militerisasi, kami di sini menegakkan disiplin tanpa kekerasan dan kekasaran, tidak ada kekuatan tanpa disipin” ujarnya seperti dikutip harian Kompas (22/06/2000). Dan ternyata kekuatan yang semacam inilah yang justru membuat dirinya dan dua orang adiknya memiliki rasa percaya diri, mampu hidup prihatin, pantang menyerah, dan kental dengan rasa kesetiakawanan.
Dimata Aa Gym sosok sang adik (Agung Gunmartin) ternyata sangat berpengaruh. “Saya dapat pelajaran membuka mata hati saya dari adik laki-laki saya yang lumpuh seluruh tubuhnya dalam menghadapi maut” sebagaimana yang dikutip harian Republika (07/05/2000). Dia tidak bisa melupakan saat-saat bersama adiknya yang mengalami kelumpuhan total. “Kalau kuliah saya menggendongnya” ungkapnya mengenang. Pernah suatu ketika Aa Gym menanyakan kepada sang adiknya, “Mengapa sudah tidak berdaya masih terus kuliah?” Adiknya menjawab, “Kalau orang lain ibadahnya dengan berjuang, mudah-mudahan keinginan saya untuk terus kuliah bernilai ibadah”. Pelajaran lain yang diperoleh dari sang adik adalah dia tidak pernah mengeluh. Aa Gym masih ingat sewaktu adiknya berkata, “Kalau orang lain
punya bekal untuk pulang dengan berbuat sesuatu, saya ingin mengumpulkan bekal pulang dengan bersabar”.
Aa Gym mengaku bahwa guru pertamanya adalah adiknya sendiri yang biasa dipanggil Agung. “Saya bersyukur memperoleh guru yang sosoknya seperti adik saya, guru saya adalah seorang yang lemah fisiknya. Saya diajari bahwa saya harus menghargai dan memperhatikan orang-orang yang lemah di sekeliling saya”. Adik Aa Gym yang meninggal dipangkuannya inilah yang membuat perubahan-perubahan yang sangat berarti dalam diri Aa Gym selanjutnya.
Pada masa mudanya, selain menuntut ilmu dan aktif berorganisasi, Aa Gym juga
memiliki kegemaran berdagang. Dialah yang memelopori pembuatan stiker-stiker barsablon yang menunjukkan kekuatan dan keindahan Islam, dia juga pernah berjualan minyak wangi. Seraya tertawa dia bercerita, pernah seharian suntuk ia membersihkan botol-botol minyak gosok PPO untuk diisi minyak wangi hasil racikannya. Seluruh hasil kerja Aa Gym akhirnya membuahkan hasil, dia kemudian dapat membeli 1 unit mobil angkutan kota (angkot) dan kadang-kadang dia yang menjadi supirnya. Jika ada acara wisuda, dia menjual baterai dan film, selain itu juga kadang-kadang dia mengamen dari satu rumah
makan ke rumah makan lainnya. “Sebenarnya tujuan saya mengamen ini bukan untuk mencari uang, melainkan ingin berlatih dalam berhadapan dengan orang lain, tapi ya lumayan juga dapat uang” ujarnya.
Abdullah Gymnastiar memang lebih populer dipanggil Aa Gym, karena sebagian
besar jama’ahnya adalah para pemuda. Aa dalam bahasa sunda berarti kakak. Dari pernikahannya dengan Ninih Muthmainnah Muhsin (cucu dari KH. Moh Tasdiqin, pengasuh pondok pesantren Kalangsari, Cijulang, Ciamis Selatan), Allah mengaruniakan enam orang anak yakni; Ghaida Tsuraya, Muhammad Ghazi Al-Ghifari, Ghina Raudhatul Jannah, Ghaitsa Zahira Shofa, Ghefira Nur Fathimah, dan Ghaza Muhammad Al-Ghazali. Anak-anaknya tersebut dididik dengan penuh disiplin dan religius, tetapi tetap dalam suasana demokratis.
Dalam lingkungan keluarganya, Aa Gym tampaknya berusaha menciptakan suasana yang enak dan egaliter agar istri dan anak-anaknya dapat mengoreksi dirinya secara terbuka dan ikhlas. Seperti yang dituturkan oleh Aa Gym sendiri bahwa seminggu sekali biasanya dia mengumpulkan seluruh anggota keluarganya dan meminta mereka supaya menilai dirinya. Rupanya bagi Aa Gym sendiri, kebiasaan positif semacam ini harus dipupuk agar
dapat membuat dirinya tidak anti kritik. “Saya mencoba membuat diri saya terbuka dan dapat disoroti dari sudut manapun, dan saya juga membutuhkan kritik untuk memperbaiki diri saya” ungkapnya dalam salah satu wawancara. Aa Gym kemudian berusaha melebarkan proses penilaian diri kepada kalangan santri, orang-orang yang ada di sekelilingnya dan para tetangga yang sehari- hari amat dekat dengannya. Mereka diminta agar terus- menerus mengoreksi dirinya agar supaya tetap berada di jalur yang benar dengan cara apapun. Aa Gym yakin bahwa semakin dirinya dapat dibuat terbuka dan dapat menerima kritikan orang lain tanpa kedongkolan atau kejengkelan, maka kemampuan dirinya akan semakin membaik dari hari ke hari. Inilah barangkali akar-akar kultural yang memberikan pengaruh fundamental yang cukup signifikan dalam diri Aa Gym, sehingga ia bisa tampil menjadi sosok Kyai masa depan ummat yang bersifat terbuka dan moderat seperti sekarang ini.
Latar belakang pendidikan formal Aa Gym, apalagi bila dikaitkan dengan posisi dirinya sekarang ini tampak cukup unik. Diawali dari Sekolah Dasar (SD) Sukarasa III Bandung, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 12 Bandung, Sekolah Menegah Atas (SMA) 5 Bandung, kemudian
dilanjutkan dengan kuliah selama satu tahun di Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Universitas Padjadjaran, Bandung, terakhir di Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani, kini Universitas Ahmad Yani (Unjani) hingga sarjana muda, waktu itu Aa Gym meraih gelar Bachelor of Electrical Engineering.
Sebenarnya Aa Gym ingin meneruskan kuliahnya hingga S1, namun waktu itu ia
sudah jarang kuliah dan dia tidak enak karena tidak mengikuti prosedur yang semestinya.
Dari prestasi akademik beliau juga masuk peringkat yang lumayan, misalnya waktu SD ia menjadi siswa berprestasi kedua dengan selisih hanya satu angka dari sang juara. Dan sewaktu kuliah pun nilai-nilai akademik Aa Gym tetap terjaga dengan baik sehingga beliau sempat terpilih untuk mewakili kampusnya dalam pemilihan mahasiswa teladan. Dengan kata lain, banyak prestasi yang diperoleh pada waktu remaja dan beranjak sebagai pemuda. Di rumah Aa Gym berjejer rapi piala dan penghargaan lain dari prestasi Aa Gym tersebut.
Pada tahun 1990, Aa Gym telah diberi amanah oleh jama’ahnya untuk menjadi ketua Yayasan Darut Tauhid, Bandung. Dari sini terlihat bahwa secara formal Aa Gym sebenarnya tidak dibesarkan atau dididik di lingkungan
pesantren yang ketat (terutama pesantren dalam pengertian tradisional). Dalam kaitan ini Aa Gym mengakui ada hal-hal yag tidak biasa dalam perjalanan hidupnya. “Secara syari’at memang sulit diukur bagaimana saya bisa menjadi Aa yang seperti sekarang ini” ujarnya. “Akan tetapi, lanjutnya, saya merasakan sendiri bagaimana Allah seolah-olah telah mempersiapkan diri saya untuk menjadi pejuang di jalan-Nya”. Dengan hati-hati dan tawadhu’ beliau menuturkan pencarian jati dirinya yang diwarnai beberapa peristiwa aneh yang mungkin hanya bisa disimak lewat pendekatan imani.
Aa Gym bermimpi bertemu Rasulullah dan sahabat. Bermula dari sebuah pengalaman langka, nyaris sekeluarga (ibu, adik dan dirinya sendiri) pada suatu ketika dalam tidur mereka secara bergiliran bertemu dengan Rasulullah SAW. Sang ibu bermimpi mendapati Rasulullah sedang mencari-cari seseorang. Pada malam yang lain giliran salah seorang adiknya bermimpi Rasulullah mendatangi rumah mereka. Ketika itu ayahnya langsung menyuruh Gymnastiar, “Gym, ayolah temani Rasul”. Ketika ditemui ternyata Rasul menyuruh Gymnastiar untuk menyeru orang-orang agar mendirikan shalat. Beberapa malam setelah itu, Aa memimpikan hal yang sama. Dalam
mimpinya, dia sempat ikut shalat berjama’ah dengan Rasulullah dan keempat sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Pada saat itu Aa Gym berdiri di samping Ali, sementara Rasulullah bertindak sebagai imam. Namun sebelum mimpi ini, terlebih dahulu ia bermimpi didatangi oleh seorang tua yang berjubah putih bersih dan kemudian mencuci mukanya dengan ekor bulu merak yang disaputi madu. Setelah itu, orang tua tersebut berkata, “Insya Allah kelak ia akan menjadi orang yang mulia”. Aa Gym mengaku sulit melupakan mimpi yang ini.
Setelah peristiwa mimpi itu, Aa Gym merasa mengalami guncangan batin, rasa takutnya akan perbuatan dosa membuat dia berperilaku aneh di mata orang lain, misalnya sering Aa Gym menangis ketika ada orang yang menyebut nama Allah, atau hatinya jengkel bila pagi tiba karena sedang asyik bertahajjud. Melihat tingkah lakunya ini, orang tuanya bahkan sempat menyarankan dirinya agar mengunjungi psikiater. Salah satu pengalaman menarik yang diungkapkannya belakangan ini berkaitan dengan masa-masa menjalani pengalaman spiritual dulu adalah tentang kata “Allah” yang senantiasa tidak pernah lepas dari bibirnya. Kata Aa Gym pula, sang istri dulu tertarik pada dirinya lantaran dia sering mengucapkan
“Bismillah” dan “Alhamdulillah”. Dengan kata lain, pada masa-masa itu Aa Gym telah mengalami mabuk kepayang kepada Allah SWT.
Sebagaimana dituturkan Aa Gym, setelah melalui proses pencarian itu, dia bertemu dengan empat orang ulama yang sangat memahami keadaannya. Seorang ulama sepuh yang pertama kali ditemuinya itu mengatakan bahwa dia telah diberi karunia tanazzul oleh Allah, yakni proses secara langsung dibukakan hatinya untuk mengenal-Nya tanpa proses riyadhoh. Sementara K.H. Khoer Affandi, seorang ulama tasawwuf terkenal dan juga pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya, yang ditemuinya berdasarkan saran ulama sepuh yang pertama kali ditemuinya tersebut mengatakan bahwa dirinya telah dikaruniai ma’rifatullah. Dua ulama lain juga mengatakan hal yang serupa dengan ulama tasawwuf tersebut, keduanya adalah ayah dan kakek seorang wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya. Keempat ulama ini bagi Aa Gym, jasanya jelas tidak dapat dilupakan karena telah memberi les kepadanya tanpa harus nyantri bertahun-tahun lamanya. “Mungkin berkat ilmu tersebut, lidah dan pikiran saya dimudahkan oleh-Nya untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat” ujarnya.
Memang diakui oleh Aa Gym sendiri, hampir setiap hari dia dapat mengajar sekaligus belajar kepada banyak orang. Dia lebih sering menimba ilmu dari lingkungan sekitarnya, terutama kepada orang-orang yang dijumpainya. Dengan cara seperti itulah materi-materi yang disampaikan oleh Aa Gym bisa sesuai dengan kehidupan dan perkembangan masyarakat pada saat itu.
Di antara tulisan lepas beliau adalah “Getaran Allah di Padang Arafah”, “Indahnya Hidup Bersama Rasulullah”, “Nilai Hakiki Do’a”, “Seni Menata Hati dalam Bergaul”, “Membangun Kredibilitas: Kiat Praktis”, “Menjadi Orang Terpercaya”, “Seni Mengkritik dan Menerima Kritik”, “Mengatasi Minder”, “Ma’rifatullah”, “Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup”, “Bersikap Ramah Itu Indah dan Mulia”, “Menuju Keluarga Sakinah”, dan lain-lain.
Seiring waktu Daarut Tauhiid mengalami pertumbuhan yang pesat. Dengan perjuangan umat Islam yang ikhlas, Daarut Tauhiid kemudian didirikan di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, dan dakwah tersiarkan media radio, radio internet, video streaming, twitter, facebook, youtube, sms Tauhiid dan media lainnya. Tentu dengan adanya sarana ini dakwah Aa Gym bisa melintasi batas negara dan mencapai Jerman, Kanada, Malaysia,
Jepang, dan China (http://bio.or.id/biografi-aa-gym- abdullah-gymnastiar, diakses pada 12 September 2015). B. K.H. Muhammad Arifin Ilham
K.H. Muhammad Arifin Ilham atau dikenal sebagai ustadz Arifin Ilham lahir di Banjarmasin, 8 Juni 1969. Arifin Ilham adalah anak kedua dari lima bersaudara, dan beliau satu-satunya anak lelaki dalam keluarga tersebut. Ayah Arifin Ilham masih keturunan ketujuh Syeh Al-Banjar, ulama besar di Kalimantan, sementara ibunya, Hj. Nurhayati, kelahiran Haruyan, Barabay, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Setahun setelah menikah, pasangan ini melahirkan putri pertama mereka tahun 1967. Karena anak pertama mereka perempuan, betapa bahagianya mereka ketika anak keduanya adalah laki-laki.
Ibunya mengatakan bahwa saat hamil anak keduanya itu, ia merasa biasa-biasa saja, tidak ada tanda- tanda khusus. Hanya, berbeda dengan keempat putrinya, saat dalam kandungan, bayi yang satu ini sangat aktif. Tendangan kakinya pun sangat kuat, sehingga sang ibu acapkali meringis menahan rasa sakit. Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1969 itu kemudian diberi nama Muhammad Arifin Ilham. Berbeda dengan keempat saudaranya yang lain, yang saat lahir berat mereka rata-rata 3 kilogram
lebih, bayi yang satu ini beratnya 4,3 kilogram dengan panjang 50 sentimeter. “Anehnya, bayi itu sejak lahir sudah bergigi, yaitu di rahang bagian atasnya,” kenang Nurhayati.
Bayi itu selanjutnya tumbuh sehat. Usia setahun sudah bisa berjalan dan tak lama setelah itu ia mulai bisa berbicara. Setelah Siti Hajar, satu demi satu adik Arifin Ilham pun lahir. Yaitu, Qomariah yang lahir tanggal 17 Mei 1972 dan si bungsu Fitriani yang lahir tanggal 24 Oktober 1973. Saat berusia lima tahun, Arifin Ilham dimasukkan oleh ibunya ke TK Aisyiah dan setelah itu langsung ke SD Muhammadiyah tidak jauh dari rumahnya di Banjarmasin. Arifin Ilham mengaku, saat masih di SD itu ia tergolong pemalas dan bodoh. “Kata orang Banjarmasin, Arifin Ilham itu babal. Arifin Ilham baru bisa baca-tulis huruf Latin setelah kelas 3,” kenang Arifin Ilham.
Di SD Muhammadiyah ini Arifin Ilham hanya sampai kelas 3, karena berkelahi melawan teman sekelasnya. Masalahnya, dia tidak rela ada salah seorang temannya yang berbadan kecil diganggu oleh teman sekelasnya yang berbadan cukup besar. Arifin Ilham kalah berkelahi karena lawannya jagoan karate. Wajahnya babak belur dan
bibirnya sobek. Agar tidak berkelahi lagi, oleh ayahnya Arifin Ilham kemudian dipindahkan ke SD Rajawali.
Rumah tempat tinggal orang tua Arifin Ilham terletak di Simpang Kertak Baru RT 7/RW 9, kota Banjarmasin, tepat di sebelah rumah neneknya, ibu dari ibunda Arifin Ilham. Sebagai pegawai Bank BNI 46, ayahnya sering kali bertugas ke luar kota Banjarmasin, kadang-kadang sampai dua-tiga bulan. Ayah Arifin Ilham mengakui bahwa ia tidak banyak berperan mendidik kelima anaknya, sehingga akhirnya yang banyak berperan mendidik Arifin Ilham adalah istri dan ibu mertuanya. Arifin Ilham mengungkapkan bahwa cara mendidik kedua orang tua itu keras sekali. “Baik Mama maupun Nenek kalau menghukum sukanya mencubit atau memukul. Dua- duanya turunan, kalau nyubit maupun memukul keras dan sakit sekali,” canda ustadz muda itu. Ustadz Arifin Ilham termasuk seorang penyayang binatang. Di rumah ibu angkatnya di Jakarta, ia banyak memelihara binatamg, antara lain burung hantu, kera, dan ayam kate. Awal April 1997, ia diberi seekor ular hasil tangkapan warga kampung yang ditemukan di semak belukar. Karena kurang hati-hati Arifin Ilham digigit binatang melata ini. Namun, ia tidak menyadari kalau
dirinya keracunan. Sewaktu dalam perjalanan dengan mengendari mobil, ia pun merasakan sesuatu yang tidak biasa, tubuhnya terasa panas, meradang, dan membiru.
Melihat keadaan Arifin Ilham yang demikian, ibu angkatnya Ny. Cut mengambil alih kemudi, menuju rumah sakit terdekat. Namun, beberapa rumah sakit menolak dengan alasan peralatan medis yang tidak memadai. Bahkan sejumlah dokter di beberapa rumah sakit tersebut memvonis, umur Arifin Ilham tinggal satu persen. Karena sulitnya mendapatkan pertolongan selama 11 jam, keadaan Arifin Ilham makin gawat. Detak jantungnya melemah. Melihat kondisi anak angkatnya yang makin parah, Ny. Cut mencoba mendatangi rumah sakit Saint Carolus (Jakarta Pusat). Alhmadulilah, pihak rumah sakit menerimanya. Arifin Ilham langsung ditempatkan di ruang ICU. Infus pun dipasang di tubuhnya. Untuk membantu tugas paru-paru, jantung, dan hatinya yang telah sangat lemah, dokter memasukkan beberapa batang selang ke mulutnya.
Dengan pertolongan Allah, setelah satu bulan lima hari pihak rumah sakit menyatakan ia telah melewati masa kritis dan memasuki masa penyembuhan. Walaupun kondisinya telah jauh lebih baik, Arifin Ilham mengalami
perubahan pada suaranya. Menurut analisis dokter, hal ini disebabkan oleh pemasangan beberapa selang sekaligus dalam mulutnya untuk waktu yang cukup lama. Tetapi tidak ada yang mengetahui rencana Allah, justru dengan suaranya itu, Arifin Ilham menjadi lebih mudah dikenal para jamaah hanya dengan mendengar suaranya. Seperti diceritakan Arifin Ilham, selama masa kritis, ia mendapatkan pengalaman spiritual yang sangat luar biasa. Di alam bawah sadarnya ia merasa berada di sebuah kampung yang sangat sunyi dan sepi. Setelah berjalan- jalan sekeliling kampung, ditemuinya sebuah masjid, yang kemudian dimasukinya. Di dalam masjid ternyata sudah menunggu tiga shaf jamaah dengan mengenakan pakaian putih. Salah satu jamaah kemudian memintanya memimpin mereka berzikir, mengingat Allah SWT.
Keesokan harinya, ia kembali bermimpi. Hanya saja sedikit berbeda. Kali ini ia merasa berada di tengah kampung yang penduduknya berlarian ketakutan karena kedatangan beberapa orang yang dianggap sebagai jelmaan setan. Melihat kehadirannya, para penduduk pun berteriak dan meminta dirinya menjadi penolong mereka mengusir setan-setan tersebut. Hari berikutnya ia kembali bermimpi. Kali ini ia diminta oleh seorang bapak untuk
mengobati istrinya yang sedang kesurupan. Mendengar permintaan bapak tersebut, Arifin Ilham bergegas. Tetapi Allah berkehendak lain. Istrinya telah meninggal sebelum didatangi Arifin Ilham. Berbekal pengalaman-pengalam ghaib yang ia alami, Arifin Ilham pun memantapkan hatinya untuk menjadi pengingat manusia agar tidak lupa berdzikir.
Banyak kegiatan yang dilakukannya. Salah satu yang paling berkesan adalah memimpin dzikir untuk para narapidana di Cipinang. Menurut Arifin Ilham kegiatan ini memberikan dampak yang sangat dalam sehingga banyak di antara narapidana tidak sanggup membendung airmatanya. Meskipun banyak hujatan, Arifin Ilham juga telah melakukan dzikir di LP Nusakambangan yang antara lain juga diikuti oleh Tommy Suharto. Tahun 1998, Arifin Ilham mengisi ceramah di sebuah rumah kawasan Condet, Jakarta Timur. Di sinilah ia bertemu dengan Wahyuniati (Yuni), seorang muslimah yang taat yang kemudian menjadi pendampingnya. Tidak beberapa lama setelah pertemuan itu, beliau bermimpi di depan Ka’bah dengan Yuni berdiri di sampingnya dengan menggunakan baju putih bersih. Dengan penasaran, pagi harinya beliau menelpon Abah, menanyakan perihal mimpinya. Abah
mengartikan bahwa Yuni adalah jodoh yang di berikan Allah kepadanya. Maka keduanya pun naik ke pelaminan pada 28 April 1998. Yuni ternyata adik kelasnya di Fisipol, Unas. Kemudian tahun 2010 beliau menikah lagi dengan wanita bernama Rania Bawzier.
Ketika ditanya jadwal acaranya yang demikian padat, Arifin Ilham dengan merendah menyatakan, Alhamdulillah bahwa kini ia masih diberikan kesempatan untuk selalu shalat tahajud tiap pukul tiga pagi hingga shubuh. Sekalipun ia tidur hanya tiga jam, tetapi saat berada di kendaraan menuju tempat acara dzikir ia menyempatkan untuk tidur di mobil. Ada satu hal yang dipegang oleh da’i kelahiran Banjarmasin ini, yakni memegang janji. Oleh karenanya, tiga kali ia terpaksa menolak permintaan Sekretariat Negara agar berdakwah bersama Presiden Megawati Soekarno Putri. “Saya tidak mau kecewakan masyarakat yang telah jauh hari menunggu-nunggu kedatangan saya,” ujarnya. Arifin Ilham mengaku, menjelang pemilu 2004 yang lalu sudah ada parpol yang memintanya agar ia berkampanye untuk partai tersebut. Bahkan ada dari partai besar yang menjamin bahwa ia nantinya paling sedikit akan menjadi anggota DPR. “Tetapi, saya ingin sebagi rantai (tali) tasbih yang dapat
menampung semua umat,” ujar da’i yang tinggal di Depok sejak 1999 ini.
Siakapnya untuk selalu menjadi rantai tasbih itu ternyata berbuah manis. Setiap acara dzikir yang dipimpinnya selalu dipadati jama’ah dari berbagai kalangan dan status. Minimal, pemandanagan ini tampak ketika ia memimpin dzikir di Masjid Al Amr di perumahan Mampang Indah II Depok. Sejak pukul 06.00 pagi, masjid yang hanya bisa menampung 500 orang itu sudah dipadati jamaah. Mereka yang hadir belakangan, lalu ditampung di tenda-tenda sekitar masjid. Menjelang pukul 08.00, yang tampak adalah lautan manusia berwarna putih, warna kopiah dan busana sebagian besar jamaah. Tepat pukul delapan, Arifin Ilham datang dan langsung menuju panggung di depan masjid. Ia didampingi Presiden Partai Keadilan, Dr. Hidayat Nur Wahid, Habib Abdurrahman Semith yang datang bersama belasan kyai dari Semarang, ketua Jamiatul Muslimin Indonesia Habib Husein Al-Habsyi, dan sejumlah ulama lainnya. Berikutnya selama dua jam ribuan jamaah Majelis Dzikir Adz-DZikra, nama yang diberikan Arifin Ilham untuk majelisnya, hanyut dan histeris dalam ritual dzikir.
Begitu syahdunya acara dzikir ini. Tidak peduli pengusaha, artis, sutradara, dan berbagi profesi yang datang ke acara itu dari berbagai tempat di tanah air