BOGOR
2009
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Distribusi Sel Insulin Pankreas pada Tikus Hiperglikemia yang Diberi Diet Tempe adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau kutipan dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Agustus 2009 Eka Denik Indah Fuspita Runiana NRP B04052558
EKA DENIK INDAH FUSPITA RUNIANA. Distribution of Pancreatic Endokrine Cells on Hypperglychaemic Rat After Treatment of Tempe Diet. Under direction of EKOWATI HANDHARYANI and ADI WINARTO
The objective of this research is to understand the curative potential of tempe diet on distribution of pancreatic endocrine cells on hypperglichaemic rat after of streptozotocin (STZ). There were 12 male Sprague-Dawley rats which were used in this study. The rats were divided into 4 groups that K1 (control group); K2 (untreated diabetic group); T1 (diabetic tempe 1 treated group); T2 (diabetic tempe 2 treated group). On the day 7 after inducing STZ, tempe diet were given to the treated diabetic groups up to day 21st. At the end of this research all rats were sacrificed and pancreatic tissues were histopathologically processed. In this research Hematoxylin and Eosin staining was used to evaluate the pancreatic endocrine cell change and insulin cell population was studied by immunostaining using antibody anti insulin. The results indicate that the pancreatic endocrine cell degeneration and insulin cell population of tempe treated groups were improved after tempe consumption.
EKA DENIK INDAH FUSPITA RUNIANA. Distribusi Sel Insulin Pankreas pada Tikus Hiperglikemia yang Diberi Diet Tempe. Dibimbing oleh EKOWATI HANDHARYANI and ADI WINARTO
Menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia. Pada tahun 2000 terdapat sekitar 5.6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Namun pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur. Komplikasi diabetes melitus terjadi pada semua organ dalam tubuh yang dialiri pembuluh darah kecil dan besar dengan penyebab kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat gagal ginjal. Selain kematian, diabetes melitus juga menyebabkan kecacatan. Sebanyak 30% penderita diabetes melitus mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati dan 10% harus menjalani amputasi tungkai kaki.
Pola hidup yang sehat dengan makanan yang terkontrol dapat menekan munculnya penyakit diabetes melitus. Selain sayuran dan buah, tempe juga merupakan makanan sumber protein nabati yang memiliki komposisi asam amino yang tinggi. Badan kesehatan dunia (WHO) bahkan mengakui bahwa tempe sebagai makanan berkhasiat yang dapat mencegah dan mengatasi berbagai penyakit. Hal inilah yang menjadi dasar peneliti untuk mengetahui tentang pengaruh diet tempe terhadap distribusi sel insulin pankreas pada tikus yang menderita diabetes melitus setelah diinduksi dengan steptozotocin (STZ).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian diet tempe terhadap distribusi sel insulin pankreas pada keadaan hiperglikemia dari tikus model diabetes dengan induksi streptozotocin (STZ). Sebanyak 12 ekor tikus jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague-Dawley berumur 8 minggu digunakan pada penelitian ini. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu K1 (kontrol), K2 (diinduksi STZ), T1 (diinduksi STZ dan diberi diet tempe mengandung arginin 1.4%) dan T2 (diinduksi STZ dan diberi diet tempe mengandung arginin 1.6%). Pada hari ke-7 pasca induksi STZ dilakukan pemberian diet tempe setiap hari sampai hari ke-21. Pada hari ke 21 pasca pemberian STZ dilakukan nekropsi, dilanjutkan dengan pembuatan preparat histopatatologi.
Evaluasi histopatologi dilakukan terhadap perubahan dan populasi sel endokrin pankreas di dalam pulau Langerhans menggunakan pewarnaan hematoksilin dan eosin (HE) serta pewarnaan imunohistokimia dengan antibodi anti insulin. Hasil pengamatan histopatologis pada K1 terlihat adanya keteraturan susunan sel endokrin yang menyebar memenuhi pulau Langerhans dengan ukuran sel yang seragam dan bentuk sitoplasma terlihat proporsional terhadap besar inti serta tidak mengalami perubahan (normal). Sedangkan pada K2 menunjukkan adanya lesio pada pulau Langerhans berupa degenerasi sel-sel endokrin, dan beberapa sel menunjukkan nekrosa.
Gambaran histopatologis menunjukkan perubahan morfologi pankreas pada T1 yang tidak berbeda nyata dengan K1. Perbedaan yang nyata terjadi pada
endokrin khususnya sel beta akibat induksi STZ, sehingga sekresi insulin dapat ditingkatkan.
Pengamatan dengan imunohistokimia dilakukan secara deskriptif dengan melihat populasi dan tampilan kadar reaksi Ag dan Ab sel beta yang mengalami perubahan. Reaksi positif keberadaan insulin pada sel-sel beta ditunjukkan dengan perubahan yang berwarna coklat pada sel-sel tersebut. Distribusi sel beta pada K2 lebih sedikit jika dibandingkan dengan K1, sesuai dengan hasil pewarnaan HE bahwa sebagian besar sel-sel beta mengalami degenerasi-nekrosa setelah pemberian STZ. Perusakan STZ terhadap sel beta mengakibatkan sel mengalami apoptosis bahkan sampai nekrosis, sehingga proses biosintesis dan sekresi insulin terhambat.
Pemberian diet tempe T1 mampu meningkatkan persentase distribusi sel beta yang aktif menghasilkan insulin. Jumlah sel beta yang menunjukkan reaksi positif merupakan indikasi aktifitas sekresi insulin yang dihasilkan. Sekresi insulin pada T1 meningkat mendekati K1, sedangkan pada T2 meningkat mendekati K2. Penurunan jumlah sekresi insulin oleh sel beta bisa disebabkan oleh degenerasi sel beta sehingga mengakibatkan penurunan fungsi dari sel beta yang akan mempengaruhi produksi sekresi insulin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diet tempe dapat memperbaiki degenerasi dan nekrosa sel endokrin pankreas yang terjadi pada tikus model diabetes. Evaluasi dengan metode imunohistokimia menunjukkan bahwa pemberian diet tempe dapat meningkatkan populasi sel insulin pankreas. Kata kunci : pankreas, insulin, hiperglikemia, tempe.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB