Nama I Limbak telah disebut-sebut dalam buku Dance and Drama in Bali yang terbit pertama kali pada tahun 1938. Oleh penulisnya, Beryl de Zorte dan Walter Spies, diungkapkan bahwa terciptanya tari kecak atau cak (selanjutnya disebut cak) tak akan muncul tanpa keterlibatan I
Limbak, seorang penari baris Desa Bedulu. Limbak menjadi figur utama
tokoh Kumbakarna dalam pertunjukan cak yang saat itu sering disajikan di halaman Pura Goa Gajah sangat dikagumi oleh wisatawan yang dikoordinir Walter Spies. Ekspresi wajahnya yang kuat dan tubuhnya yang kekar begitu mengesankan dalam membawakan tokoh heroik Negeri Alengka dari cerita Ramayana. Figur I Limbak identik dengan lakon “Karebut Kumbakarna”, karya pentas cak pertama Bali.
Berkat raga tari I Limbak pula, cak sebagai seni pertunjukan unik
dari Bali semakin dikenal dunia. Simaklah sebuah film hitam putih yang
mengangkat eksotisme Bali, Die Insel der Damonen (1935), karya seorang sutradara Jerman, Baron von Plessen, menampilkan sebuah adegan seni pertunjukan. Tampak puluhan laki-laki bertelanjang dada, duduk melingkar sembari berceloteh cak cak cak. Nuansa magis api obor menerangi drama tari epos Ramayana yang dimainkan di tengah lingkaran sempit itu. Pemeran tokoh Kumbakarna-nya, terlihat sangat menonjol. Limbak yang
masih berusia belasan tahun menjadi daya tarik tersendiri film tersebut. Dalam film itu, penampilan I Limbak sangat bersahaja. Ia tak
memakai atribut atau busana yang agung layaknya visualisasi rupa Kumbakarna dalam wayang kulit. Limbak hanya memakai selembar kain yang dicawatkan. Mukanya dihias dengan tiga titik kapur putih di bagian keningnya. Sekuntum bunga sepatu merah bertengger di telinga kirinya. Tapi, dengan badan yang berotot, gerakan yang lugas, dan ekspresi yang tajam, remaja desa Bedulu, Gianyar, ini seakan mampu menghadirkan karakter teguh dan perkasa adik Rahwana, Kumbakarna sang patriot..
Cak garapan Limbak di era kolonial itu bertutur tentang tokoh Kumbakarna yang sangat benci dengan perbuatan kakaknya, Rahwana, yang menculik Sita, istri Rama. Ketika negerinya, Alengka, diperangi oleh Rama dengan bala tentara keranya, Kumbakarna maju ke medan laga namun bukan untuk membela kezaliman Rahwana melainkan demi rakyat dan tanah airnya. Dalam adegan ketika Kumbakarna gugur dikeroyok oleh pasukan kera Rama itulah, Limbak menunjukkan totalitasnya sebagai penari yang hebat.
I Wayan Limbak Sang Legenda Cak
Kiprah I Wayan Limbak melahirkan tari cak terkait erat dengan seorang pelukis Jerman, Walter Spies, yang tinggal di Campuan, Ubud, Kabupaten Gianyar. Speis yang juga seorang musikolog sering berkeliling Bali untuk melukis kehidupan masyarakat dan pemandangan indah pulau ini. Suatu hari, dalam sebuah perjalanannya, ia menyaksikan sesuatu yang unik. Puluhan pria warga Bedulu, Gianyar, disaksikannya sedang duduk
membuat suatu lingkaran di Pura Goa Gajah. Pada tahun 1930-an itu masyarakat Bedulu sangat aktif mementaskan tari Sanghyang Jaran yang merupakan ritual keagamaan demi keselamatan segenap warga setempat.
Dari mulut orang-orang Desa Bedulu itu terdengar lantunan dan suara cak, cak, cak, mengiringi tari Sanghyang Jaran yang sedang dipentaskan masyarakat setempat. Ritual tari tolak bala itu rupanya sangat mengesankan Spies. Sejak itu Walter Spies yang kadang-kadang disertai teman-teman asingnya sering-sering menonton persembahan religius magis Sanghyang. Jarak Bedulu dari tempat tinggalnya di Campuan, Ubud, hanya berjarak sekitar 5 (lima) kilometer. Walter Spies rupanya tidak sekadar menonton namun sungguh-sungguh mencermati detail-detail estetik tari penolak bala itu.
Sebagai seorang musikus Walter Spies terpesona dengan orkestrasi cak, musik vokal yang dikumandangkan pengiring utama tari Sanghyang Jaran itu. Adalah seorang penari, I Wayan Limbak, yang memimpin koor cak itu (Bandem, 2004: 221). Penampilan ekspresif I Limbak yang memimpin cak menarik perhatian Spies. Keesokan harinya Walter Spies membicarakan gagasannya tersebut dengan anggota sekaa cak dimana I Limbak yang menjadi dedengkotnya. Spies menyampaikan ide gagasannya menciptakan seni pertunjukan non ritual yang menggunakan koor cak. Gagasan kreatif yang diusulkan Walter Spies berjalan dengan mulus. Semua pemain cak seperti Wayan Limbak, Mangku Dados dan Gusti Geledag menyambut dengan semangat ide Spies yang sudah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai pelukis yang akrab dengan tukang gambar setempat. Lebih-lebih Walter Spies sangat memahami budaya masyarakat Bali. Ia tidak canggung-canggung datang tanpa diundang dalam upacara-upacara adat atau agama yang diselenggarakan warga desa Bedulu.
Kendatipun anjuran menanggalkan cak menjadi pertunjukan yang tak terkait dengan tari Sanghyang Jaran datang dari Spies, namun proses kreatif untuk mewujudkan ide tersebut berlangsung secara kolektif di bawah komando I Limbak. Misalnya mengenai lakon yang akan dipakai bukan datang dari Walter Spies tapi diusulkan dan disepakati secara aklamasi oleh para pemain cak. Secara aklamasi Limbak didaulat memerankan tokoh gagah berani dari cerita Ramayana itu. Limbak juga dipercaya
membuat koreografi dan aspek musikal koor vokal cak-nya. Namun saat proses sedang berjalan Walter Spies dengan tekun memberikan masukan dan koreksi sesuai dengan konsep estetika yang mengetuk imajinasinya. Sentuhan estetika Spies hadir dalam kerja kreatif itu. Misalnya, dengan jeli
Spies mengusulkan agar semua pemain mabulet kain sarung yang dililitkan di pinggang dan memakai topi klangsah (daun kelapa yang dianyam). Spies, menurut Anak Agung Mande Djelantik (wawancara pada tanggal 6 Juni tahun 2000) hanya memberikan gagasan umum sedangkan penggarapan elemen-elemen tan dan musik vokal cak-nya dibuat oleh Limbak dan kawan-kawan. I Wayan Limbak juga bebas menginterpretasikan gerak-gerik karakterisasi tokoh Kumbakarna yang dibawakannya.
Pementasan pertama seni pertunjukan cak yang digarap Walter Spies bersama Limbak dan kawan-kawan ini ditampilkan di halaman Pura Goa Gajah yang disaksikan sekitar 20 orang turis. Karena waktu yang dibatasi, tari cak yang menggunakan seorang dalang (I Geledag) ini, menyajikan bagian cerita perang Kumbakarna yang dikeroyok ribuan kera yang dikomandoi oleh Sugriwa. Pemeran Kumbakarna, I Wayan Limbak, yang dikisahkan dikeroyok ribuan kera tampil dengan selembar kain dan tanpa tata rias muka.
Sebagai perintis seni pentas turistik di Bali, kelompok tari caknya Limbak juga mandiri dalam mempersiapkan pertunjukan. Sebelum menjadi Kumbakarna di panggung, misalnya, Limbak bertugas merobek karcis di pintu masuk. Sedangkan penari lain menyiapkan kursi penonton atau membersihkan halaman Goa Gajah yang akan berfungsi sebagai panggung. Limbak sendiri mengakui bayaran dari turis asinglah yang mendorong perkembangan tari cak di wilayah Gianyar. “Waktu itu kami memang perlu uang,“ kenang Limbak (Tempo, 1993:60).
Walter Spies dengan bangga mengajak tamu-tamunya menonton cak garapan Limbak. Turis-turis pun semakin sering menonton pertujukan cak di Bedulu. Raja Gianyar saat itu dengan antusias mengundang grup Cak Limbak untuk menunjukkan kebolehannya di Puri Gianyar. Raja Karangasem yang ikut diundang untuk menonton pementasan cak lakon “Karebut Kumbakarna“ itu kurang bisa menerima penari yang hanya memakai secarik kain mabulet saja (wawancara dengan putra Raja Karangasem, A. A. Made Djelantik. 4 Desember 2000). Namun demikian, sejarah seni pertunjukan Bali mencatat, Limbak selain dikenal sebagai penari bintang telah menjadi legenda kelahiran tari cak itu sendiri. Kelahiran seni pentas yang kini di kalangan wisatawan dikenal dengan sebutan “Monkey Dance”, ditegaskan oleh Zoete dan Spies adalah berkat kontribusi Limbak. Karena itu kiranya tak berlebihan bila dikatakan bahwasannya I Wayan Limbak adalah sang legenda cak.
I Wayan Limbak Figur Pengabdi
I Wayan Limbak dilahirkan dari keluarga petani di Banjar Marga Bingung, Bedulu. Bakat seninya terasah oleh lingkungannya khususnya pementasan-pementasan seni persembahan di Pura Samuan Tiga yang hanya beberapa langkah dari rumahnya. Tari baris dipelajarinya di Desa Batubulan dan Singapadu. Sebagai pemuda yang masyur membawakan tari baris, Limbak banyak menarik perhatian gadis-gadis di desanya. Tercatat, Limbak yang hanya tamat sekolah dasar zaman Belanda memiliki tiga istri. Dari ketiga istrinya ia dikaruniai empat orang keturunan. Hanya, tak ada satu pun anaknya yang berkecimpung di bidang seni (Wawancara dengan I Wayan Patra, 63 tahun, putra bungsu I Wayan Limbak, 5 Juli 2014).
Kendati tak mengikuti jejak ayahnya, Patra sangat bangga dengan dedikasi ayahnya. Bung Karno, ungkapnya, sering mengundang Limbak membawakan tari baris di Istana Tampak Siring. Sebagai penari cak, pada tahun 1955, Limbak telah menunjukkan kebolehannya di Cekoslowakia dan India. Ketulusan dan reputasinya sebagai penari yang sangat dikagumi oleh pelukis asal Belanda, Bonnet, juga menjadi kebanggaan masyarakat sedesanya. Penampilan Limbak membawakan tari baris seperti tak pernah bosan dielu-elukan oleh penonton. Syukur, di usia senjanya, pemerintah juga mengapresiasi kesenimanan I Wayan Limbak. Ia telah memperoleh anugrah seni tingkat kabupaten (Wija Kusuma) dan penghargaan seni tingkat propinsi (Dharma Kusuma).
I Wayan Limbak dikaruniai umur panjang. Pria yang sebagian besar hidupnya diabdikan pada jagat seni dan bidang keagamaan di Pura Samuan Tiga ini sempat menyaksikan hasil kreativitasnya menjadi maskot kepariwisataan Bali. Ia juga melihat bagaimana Sardono W. Kusumo mereinterpretasikan cak hasil karyanya di Peliatan (1970-an), desa tetangganya. Baru ketika usianya menginjak seabad lima tahun, 2003, I Wayan “Kumbakarna” Limbak dipanggil Tuhan. Sebuah wadah menara mayat yang sederhana, menyangga jasadnya ke kuburan setempat untuk diaben.
Menguaknya Cak Limbak pada era kolonial itu adalah sebuah peristiwa budaya yang sangat fenomenal. Sedangkan dari sisi berkesenian, bagaimanapun garapan seni pertunjukan yang diimplementasiestetiskan Limbak merupakan lompatan monumental dan tonggak penting dalam seni pertunjukan tradisi kita, khususnya bagi seni pentas cak yang kini bagaikan menjadi identitas Bali, baik dalam pluralitas seni budaya nasional maupun dalam konteks multikulturalisme nilai-nilai estetik dunia.
Kesungguhan berkesenian. Ya, kiranya, kesungguhan berkesenianlah yang menggelorakan Limbak melahirkan tari cak bukan egosentrisme individu. Agaknya juga, penyerahan diri secara totallah yang membius Limbak tampil hebat saat memerankan tokoh Kumbakarna atau saat menyajikan tari baris. Mungkin pula, karena kecintaannya yang menyala-nyala dengan jagat senilah yang memberikannya energi dan gairah hidup panjang, menyaksikan tari cak hasil garapannya dilestarikan dan dikembangkan generasi masa kini.
Referensi
Bandem, I Made & Fredrik Eugene deBoer. (2004), Kaja dan Kelod: Tarian Bali dalam Transisi. (Terjemahan : I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem), Badan Penerbit Insitiut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Yogyakarta.
Soedarsono, RM.. (1999), Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), Bandung.
Zoete, Beryl de & Walter Spies. (1973), Dance and Drama in Bali. Oxford University Press, Kuala Lumpur .
Nara Sumber
1. I Wayan Patra (63 tahun), putra bungsu I Wayan Limbak 2. Anak Agung Made Djelantik, (hasil wawancara tahun 2000).