• Tidak ada hasil yang ditemukan

I Nyoman Rudana lahir di Banjar Gelogor, Lod Tunduh, Ubud, Gianyar pada 17 September 1948. Terlahir dari ayahyang seorang petani yang juga mahir gamelan Bali dan ibunya adalah ibu rumah tangga yang pandai mengatue waktu antara mendidik anak dan pekerjaan tradisional membuat banten.

Masa kecil seorang Rudana dihabiskan di kampunya dengan suasana keagamaan serta berkesenian imbas dari pengaruh keluarga dan lingkunganya. Ia juga senang mengunjungi Museum Puri Lukisan yang merupakan meseum seni lukis yang terkenal di Bali. Selain senang berkunjung ke Museum Puri Lukisan juga berkesempatan mengunjungi para pelukis di daerah Ubud saat pulang dari sekolah.

Selesai pada pendidikan SMA di Denpasar tahun 1968, Rudana melamar masuk AKABRI Darat di Lembang Jawa Barat, namun gagal dalam tes sebagai penerbang, lalu ia memutuskan untuk mengambil sekolah guru PGSLP Negeri di Madiun Jawa Timur pada 1970. Setelah lulus ia kembali ke Bali dan bekerja sebagai guru magang disebuah SMP selama setahun dan akhirnya beralih menjadi pemandu wisata tahun 1973.

Rudana Fine Art Gallery

Rudana Fine Art Gallery berdiri di kawasan seni Ubud. Pada awalnya Nyoman Rudana merintis usaha tahun 1974 di Sanur dengan membuka studio lukis Rudana Painters Community sebagai sanggar untuk membina dan mengembangkan kreativitas seni lukis. Karya-karya seni yang dikembangkan pertama kali di Sanur adalah karya pelukis I Gusti Ketut Kobot, I Gusti Made Baret, I Wayan Djudjul, I Ketut Kasta, Ida Bagus Sugata, I Wayan Lantir, I Made Madra, I Ketut Soki, I Wayan Kembang dan pelukis-pelukis muda lainnya.

Tahun 1978 Pengelolaan Rudana Painters Community mulai dikembangkan di kawasan seni Ubud dengan nama Rudana Fine Art Gallery. Selain karya-karya seni lukis tradisional Bali, Rudana Fine Art Gallery memperkenalkan seniman-seniman Indonesia ke luar negeri dengan mengadakan pameran pertama di Jerman Barat tahun 1978, Jepang, Italy, America, Belanda, Singapore, dan Kuwait.

Pertumbuhan dan perkembangan galeri di Bali nampak semakin pesat pada pertengahan tahun 1980-an, bersamaan dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dan terjadinya boom seni lukis internasional yang digemakan lewat lelang-lelang lukisan.

Sejalan dengan kemajuan zaman dan perkembangan seni lukis, banyak persaingan-persaingan yang tumbuh khususnya dalam persaingan bisnis galeri. Ini merupakan suatu barisan galeri untuk berperan menggelar serta memasarkan karya-karya seni di kawasan nasional maupun internasional dalam menyongsong era globalisasi. Galeri pada awalnya dianggap sebagai bisnis “sekedar bisnis”, akhirnya tidak lagi sekedar bisnis namun menjadi “bisnis utama”. Pengelolaannyapun secara professional,

artinya mengikuti prinsip-prinsip ekonomis. Dalam perkembangan dan perjalanannya Rudana Fine Art Gallery telah mengoleksi ribuan buah lukisan dengan berbagai macam corak, gaya serta aliran dari seniman-seniman ternama Bali, Indonesia, dan mancanegara.

Museum Rudana

Tanggal 26 Desember 2015 Museum Rudana merayakan ulang tahunnya yang XX. Usia yang masih muda, namun telah memposisikan diri dalam menggeliatkan kehidupan berkesenian yang makin bergairah.

Nyoman Rudana mewujudkan meseumnya juga untuk meningkatkan wawasan kebangsaan dalam mengisi pembangunan, sebagai penghormatan dan penghargaan kepada para seniman dan pahlawan pejuang. Para pejuang dan seniman tersebut ibarat telah menanam pohon dan generasi sekarang telah memetik buahnya sambil terus memelihara, merawat serta memberikan pupuk yang subur hingga tetap hidup dan berbuah

Museum Rudana adalah bagian dari perjuangan dan idealisme. Suatu pengorbanan yang luar biasa. Demi itu ia harus menyisihkan laba yang didapatnya dari usaha kecil-kecilan di Sanur (1974), hingga mampu mewujudkan sebuah galeri di kawasan Peliatan. Dari laba itu terkumpul karya-karya khusus guna digantung sebagai materi museum. Karya-karya

yang menggetarkan merefleksikan ke dalaman penalaran sang seniman.

Sambil terus memburu karya-karya berkualitas, maka setibanya di tanah air dari mengikuti kegiatan Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) tahun 1991. Nyoman Rudana mewujudkan angan-angannya untuk membangun gedung megah non komersial berupa museum. Dan tanggal 11 agustus 1995 (bertepatan dengan bulan purnamaning sasih karo) bangunan Museum Rudana dipelaspas oleh Ida Pedanda Putra dari Griya Gede Kemenuh, Gianyar. Acara melaspas yang dihadiri Gubernur Bali, Bupati Gianyar, para pejabat, seniman dan pecinta seni diisi dengan tari Topeng Pajegan, tari Baris Gede, tari Rejang, dan Wayang Lemah sebagai rangkaian dari ritual melaspas.

Bangunan yang berdiri seluas 500 M2 tetap memegang teguh nilai-nilai arsitektur Bali. Ruangan Museum di bangun berlantai 3 (tiga), dimana

hal ini disesuaikan dengan konsepsi filosofis orang Bali yang disebut Tri Angga yakni kaki, badan, dan kepala; Tri Mandala yakni halaman dalam,

halaman tengah, halaman luar. Konsep filosofis ini jika di kaitkan dengan

perkembangan seni rupa, akan memncerminkan regenerasi seniman itu sendiri, dari zaman dulu sampai sekarang, bagaikan kaitan benang emas yang tak terputus. Akhirnya setelah semua persyaratan terpenuhi maka

tanggal 26 Desember 1995 Museum Rudana dikukuhkan lagi dengan peresmian oleh Presiden RI Soeharto. Sebuah Museum sebagai basis ilmu pengetahuan, suatu cahaya yang memberikan penerangan dan kekayaan kepada kehidupan.

Namun yang paling menarik tentu bukan semangat dari Rudana dan gedung yang megah, sebab yang paling depan dari semuanya adalah karya-karya yang terpajang yang mencerminkan kosmologi seni lukis Indonesia.

Begitu memasuki museum langsung terlihat karya seni lukis klasik Bali yang dipajang di lantai atas. Disusul kemudian dengan lukisan tradisional Bali yang meliputi gaya Ubud dan gaya Batuan seperti karya I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Ketut Kobot, Ida Bagus Made, Ida Bagus Made Nadera, I Gusti Made Baret, Ida Bagus Made Wija, Wayan Taweng, Wayan Bendi, Wayan Djudjul, Ketut Kasta, Ida Bagus Sugata.

Di lantai tengah dan lantai bawah dipajang karya-karya seni lukis modern Indonesia dan karya-karya seniman mancanegara. Karya Affandi, Basuki Abdulla, Roedyat Martadiraja, Ida Bagus Kalam, Nyoman Gunarsa, Kartika Affandi, Suwaji, Made Djirna, Nyoman Marsa, N.A. Arnawa, Wayan Darmika dan karya seniman lainnya yang menggetarkan.

Dari mancanegara terpajang karya-karya: Jafar Islah (Kuwait), Yuri Gorbachev (Rusia), Iyama Tadayuki (Japan), Paul Husner (Netherland) dan yang lainnya. Koleksi museum untuk kedepan diharapkan terus berkembang sehingga museum tetap hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas sebagai sarana edukatif cultural.

Kegiatan museum yang berorientasi kepada masyarakat telah diusahakan untuk menelusuri harapan yang hidup ditengah-tengah mereka dari lingkungan sosial bawah sampai lingkungan sosial atas agar tidak terjadi disonasi kognitif (penalaran yang sumbang) sehingga museum mampu merangsang minat pengunjung. Lebih diharapkan mereka berniat untuk datang kembali. Upaya menggelar pameran yang di koordinasi, lomba lukis anak-anak, seminar, work shop, penerbitan buku-buku, pameran ke luar negeri dan culture evant telah dan akan tetap diselenggarakan sesuai dengan Calendar of Evant Museum Rudana.

Untuk mendanai agar museum tetap berdenyut, ada dua sisi yang menarik yang dikerjakan Nyoman Rudana. Satu sisi ia terus menerus mengembangkan galerinya sebagai “perut” untuk menghidupi museum dan para pelukis disisi lainnya.

Misi galeri yang didirikan tahun 1978 disamping memajang lukisan-lukisan bermutu secara permanen juga tempat digelarnya

pameran-pameran yang bersifat temporer. Galerinya dan para pelukis berjalan beriringan menjadi barisan yang kuat untuk memajukan khasanah seni rupa Indonesia.

Museum Rudana telah hadir yang merupakan pembangkitan kembali kerja bersejarah, ia adalah kesadaran, sebagai persembahan bagi para leluhur dan masyarakat di jagad ini yang juga merupakan tempat mempelajari apa-apa yang sudah dicapai para leluhurnya. Museumnya

adalah mereflesikan karakter dirinya. Siapapun yang melihat nanti dapat