• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ni Made Ruastiti

Tjokorda Oka Tublen adalah seniman yang menguasai berbagai jenis seni pertunjukan. Selain sebagai pragina (penari) Tjokorda Oka Tublen juga merupakan seorang seniman andal dalam aktivitas seni pahat (sangging), khususnya sebagai pembuat tapel barong. Kepintaran beliau di bidang seni tari menyebabkan beliau mampu untuk menarikan beberapa tarian tradisional Bali antara lain sebagai penari arja (drama tari). Dari

drama tari Arja selanjutnya lebih banyak mendalami seni Patopengan dan

pacalonarangan. Jika dalam pertunjukan dramatari topeng, Tjokorda Oka Tublen biasanya memerankan topeng tua dan topeng dalem (Arsawijaya); dalam calonarang, pernah yang biasa dibawakannya adalah matah gede

dan rangda (Dibia, 2004).

Tjokorda Oka Tublen lahir pada tahun 1901, di banjar Sengguan-Gianyar, dari pasangan Ida Tjokorda Gede Alit (ayah) dan Ida Tjokorda Istri Agung (ibu).

Oleh warga masyarakat Singapadu dan sekitarnya beliau lebih akrab dipanggil “dewa agung”.

Desa kelahirannya, Singapadu, dan Desa Peliatan tempat Tjokorda Oka banyak melewati masa kecilnya merupakan dua desa di Kabupaten Gianyar yang memiliki berbagai jenis seni pertunjukan. Tjokorda Oka mulai terjun ke dalam bidang seni sejak usia remaja secara otodidak karena tidak memiliki pelatih yang membinanya secara khusus. Kegemaran beliau menonton orang latihan menari Arja di desanya, menyebabkan Tjokorda Oka Tublen yang masih remaja dengan cepat bisa memainkan beberapa peran penting dalam dramatari Arja, seperti; liku, limbur, dan mantri buduh, serta memainkan tetabuhannya. Setelah menginjak dewasa, Tjokorda Oka Tublen bergabung dengan Sekaa Barong Banjar Sengguan-Singapadu dan Sekaa Topeng Panca Singapadu.

Tjokorda Oka Tublen mewarisi darah sangging dari kakeknya yang bernama Ida Tjokorda Api yang juga seorang pemahat topeng terkenal. Tjokorda Oka Tublen belajar memahat topeng dengan cara mencontoh hasil karya leluhur ayahnya yang juga seorang seniman terkenal dengan modal keberanian. Secara perlahan, Tjokorda Oka Tublen dapat menghasilkan sejumlah topeng patupengan,rangda, dan sejumlah barong (barong ketet, barong bangkal, barong landung,baron macan, dan lain-lainnya). Hasil karya Tjokorda Oka Tublen yang berupa berbagai jenis barong dan rangda

kini tersebar di berbagai desa di Kabupaten Gianyar, Badung, Tabanan, Klungkung, Bangli, dan Denpasar.

Suami dari Ida Tjokorda Istri Oka dan Ni Jero Sebita itu pernah berguru kepada Anak Agung Gede Raka, alias Anak Agung Aji Pajengan, dari Puri Sukawati, untuk memperdalam tari-tarian klasik Bali. Kematangannya dalam menari dan memainkan topeng, dengan postur tubuhnya yang agak tinggi dan besar, membuat topeng tua dan topeng dalem Arsawijaya yang dibawakannya dalam drama tari topeng menjadi hidup dan berjiwa serta penuh wibawa. Para penonton, yang pernah menyaksikan Tjokorda Oka dalam menarikan topeng tua dan topeng dalem, selalu terpesona oleh

keagungan dari kedua peran yang dibawakan itu. “topeng tua atau topeng dalem yang agung,” demikian ungkapan penonton yang sering terdengar. Komentar yang sama juga muncul tatkala Tjokorda Oka Tublen menarikan

rangda. Diyakini oleh para penonton dan para seniman yang pernah bergaul dekat dengan Tjokorda Oka Tublen bahwa yang membuat penampilannya menjadi demikian berwibawa di atas pentas adalah karisma pribadinya sebagai seniman yang berasal dari keluarga puri.

Di kalangan masyarakat Singapadu dan Gianyar pada umumnya, Tjokorda Oka Tublen dipandang sebagai seorang pembina yang memiliki

rasa pengabdian yang tinggi dan merupakan figur yang amat disegani

oleh seniman-seniman di daerah tersebut karena kemampuannya dalam memberikan kritik terhadap penampilan rekan-rekan seprofesinya. Seniman ini sangat tidak suka dengan pragina-pragina yang tampil sebisanya di atas pentas, dan untuk itu, Tjokorda Oka Tublen tidak sungkan-sungkan mencaci bahkan jika perlu “memisuh” (memaki) mereka. Dengan pelatihan keras seperti ini, Tjokorda Oka Tublen berhasil menjadikan tiga dari tujuh orang putra putrinya (Tjokorda Istri Rai Partini, Tjokorda Raka Tisnu, dan Tjokorda Istri Agung) menjadi penari-penari andal yang telah banyak melintang di panggung-panggung kesenian, baik di Bali maupun luar daerah dan luar negeri. Dalam seni pahat untuk membuat tapel topeng

dan barong, Tjokorda Oka Tublen telah berhasil membentuk I Wayan Tangguh, I Gusti Putu Beratha, dan Tjokorda Raka Tisnu menjadi pembuat topeng dan barong ternama, dan sejumlah lainnya seperti: I Nyoman Juala, Ida Bagus Nyoman Rai, I Nyoman Cetug, dan I Nyoman Riyok menjadi

sangging-sangging penatah kulit dan juru pulas (pewarna).

Pada sekitar tahun 1930-an, bersama-sama dengan I Wayan Geria, I Made Kredek, I Made Kengguh, I Monolan, I Wayan Serog, I Tekek, dan lain-lain, Tjokorda Oka ikut membentuk dramatari Barong Calonarang

sebagai kemasan kesenian wisata yang pertunjukannya pernah direkam ke

dalam sebuah film dokumentasi bertitle The Gods of Bali yang dibuat pada tahun 1938 oleh Fuller Film Company, dari New Yok, Amerika Serikat. Pada sekitar tahun 1940-an, Tjokorda Oka Tublen, bersama I Wayan Geria dan I Made Kredek, menciptakan dramatari Barong Kunti Sraya yang sampai saat ini masih tetap dipertunjukan sebagai sajian wisata unggulan di beberapa tempat seperti: Singapadu sendiri, Tegaltamu, Batubulan, Pejeng, Kesiman. Suwung Kangin, dan sebagainya. Sebagai seorang seniman, ayah berputra tujuh orang itu, memiliki pergaulan yang sangat luas dan sering bergabung dengan grup-grup kesenian lain di luar desa kelahirannya.

Setelah topeng Panca Singapadu terhenti kegiatannya, pada tahun 1970-an, Tjokorda Oka pernah bergabung dengan grup Topeng Blahbatuh bersama I Ketut Rinda dan Topeng Batuan bersama I Nyoman Kakul, sebagai penari topeng tua dan dalem Arsawijaya. Pada tahun-tahun itu pula, Tjokorda Oka Tublen bergabung dengan Arja Candra Metu RRI Denpasar sebagai pemain rangda.

Tjokorda Oka Tublen berhasil menbentuk sekaa arja Singapadu bersama dengan I Made Kredek, I Wayan Griya, I Made Kengguh, dan kawan-kawan. Dari sekaa inilah nama Singapadu semakin dikenal di seluruh Bali sehingga memberi inspirasi kelahiran sekaa-sekaa arja di beberapa desa di Bali. “Dwagung” (sebutan Tjokorda Oka Tublen) tidak hanya mengajar seni tabuh dan tari di kabupaten Gianyar saja, melainkan meluas hingga ke Denpasar, Badung, Klungkung, dan Bangli. Saat ini

sekaa arja di Singapadu sudah tidak ada, namun generasi penerus arja

masih bisa diketemukan seperti I Wayan Dibia, I Ketut Kodi, Tjokorda Raka Tisnu, I Nyoman Candri, Tjokorda Rai Partini, Tjokorda Istri Agung yang sudah berhasil melestarikan dan mengembangkan drama tari arja.

Tjokorda Oka Tublen selain piawai membuat konsep dan menciptakan berbagai bentuk kesenian di lingkungan tempat tinggalnya (Singapadu), beliau juga mempunyai pergaulan yang luas dan mempunyai banyak sahabat yang mempunyai keahlian di bidang kesenian seperti A.A.Gede Mandra dari puri Kawan Peliatan. Sebagai seniman yang serba bisa (menari, menabuh, memahat/mengukir) mendapat kesempatan untuk ikut dengan rombongan sekaa gong Kebyar Peliatan melawat ke Prancis dan Belanda pada tahun 1931 dan selanjutnya tahun 1952 berangkat lagi ke Eropa dan Amerika untuk memperkuat rombongan Legong Peliatan

bersama dengan I Ketut Rinda, I Nyoman Kakul dan I Wayan Serog (Tisnu, 2008: 5)

Atas jasa dan pengabdiannya yang tanpa pamrih di bidang kesenian, Tjokorda Oka telah memperoleh beberapa penghargaan dari pemerintah seperti: Wija Kusuma dari Pemerintah Daerah Tingkat II Gianyar pada tahun 1976; Wijaya Kusuma dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 1977; dan Dharma Kusuma dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Bali pada tahun 1983; dan Adhikarya seni dari Gubernur Daerah rovinsi Bali pada tahun 1998.

Selain berjasa di bidang seni pertunjukan yang telah mampu mengangkat dan mengharumkan nama desa Singapadu ke Mancanegara, Tjokorda Oka Tublen juga telah berhasil membuat karya-karya seni

sungsungan (sakral). Beberapa desa di Bali telah mendapat karya seni

sungsungan dari Tjokorda Oka Tublen antra lain barong sungsungan di Pura Dalem Celuk, Kabupaten Gianyar, Barong sungsungan di Pura Antapan Baturiti Tabanan; barong sungsungan di Banjar Sengguan Singapadu, Gianyar; barong sungsungan di Bongkasa Badung; barong sungsungan

di Pau Klungkung; rangda sungsungan di pura Dalem Guwang Sukawati, Gianyar;barong landung di Banjar Kebon Singapadu, Gianyar.

Hasil karya seni yang dibuat oleh Tjokorda Oka Tublen setelah melalui proses upacara ritual yang sakral menjadi sungsungan yang diyakini mampu melindungi masyarakat dari segala macam gangguan

niskala (tidak nyata). Keyakinan masyarakat tentang kekuatan yang tersimpan di dalam karya seni sungsungan tersebut selanjutnya dilestarikan dan dirawat oleh desa masing-masing. Hubungan sosial yang sakral telah terjalin antara desa yang memiliki karya seni sungsungan hasil karya Tjokorda Oka Tublen dengan Mrajan Agung Singapadu. Prilaku religius masyarakat penyungsung (pendukung) karya-karya Tjokorda Raka Tublen telah berlangsung sejak awal dari proses pembuatan sampai kini.

Kontribusi Tjokorda Oka Tublen di bidang seni religi yang bersifat monumental dalam bentuk barong dan rangda tergolong cukup banyak. Karya-karya beliau sampai sekarang masih dikeramatkan di beberapa pura kahyangan jagat, baik yang berada di sekitar daerah Gianyar mupun di luar Gianyar. Tjokorda Oka Tublen sebagai keturunan langsung dari Tjokorda Api diyakini memiliki kekuatan supranatural yang mampu memanggil dan mentransformasikan kekuatan magis raja hutan banas pati raja ke dalam

barong ket yang disakralkan. Dengan kekuatan magis tersebut masyarakat meyakini bahwa barong sungsungan bisa menolak bala dan berbagai jenis penyakit yang sering menganggu masyarakat.

Tjokorda Oka Tublen meninggal akhir Desember 1983, dalam usia 82 tahun, hanya beberapa bulan setelah penampilannya sebagai pengendang dalam pagelaran Arja “Old Star” Kabupaten Gianyar, atas prakarsa Tjokorda Drana, SH Bupati Gianyar ketika itu, di Balai Budaya Gianyar.

Zaman boleh berubah tetapi kenangan atas jasa dan karya Tjokorda Oka Tublen tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat Bali, khususnya masyarakat yang menggeluti bidang kesenian. Meskipun era global telah banyak mempengaruhi masyarakat Bali namun kesenian tradisional Bali tetap eksis terutama kesenian yang diciptakan oleh seniman profesional yang mampu menghasilkan karya-karya seni yang berkualitas internasional

seperti Tjokorda Oka Tublen. Semoga mental karismatik di bidang seni yang dimiliki oleh Tjokorda Oka Tublen dapat terus mengalir pada generasi-generasi baru yang lebih kreatif dan lebih unggul.

Pulau Bali merupakan Pulau Surga atau Pulau Dewata, demikian kurang lebih pujian wisatawan mancanegara, sehingga setiap akhir tahun sejumlah media dan televisi akan melaporan bahwa Bali menjadi destinasi ranking pertama bagi kunjungan wisatawan dunia. Bali menjadi kebanggaan Negara Indonesia pada umumnya dan masyarakat Bali khususnya. Memang terkesan berlebihan, tetapi nyatanya setelah terjadi