• Tidak ada hasil yang ditemukan

I Made Monog adalah seorang tokoh seni pertunjukan klasik Bali dari Banjar Kedaton Sumerta (Denpasar) yang sudah berkiprah di bidang tersebut sejak sebelum Indonesia merdeka. Perjalanan karier I Made Monog sebagai seniman tari diawalinya dengan ikut sebagai penari Kecak

dalam Tari Janger di Kedaton di bawah pimpinan ayahnya sendiri. Tari Janger tersebut dipentaskan secara rutin untuk keperluan pariwisata waktu itu dan yang dipentaskan adalah seni berlakon.

Karena keterbatasan jumlah seniman yang ada di desa setempat, sekaa

tersebut pada awalnya memanfaatkan dukungan seniman dari Singapadu, yaitu Pak Kredek (ayah Prof. Bandem), Pak Griya (ayah Prof. Wayan Dibia), Pak Kengguh, dan lainnya. Karena para penari dari Singapadu tidak selalu bisa ikut pentas, sementara pertunjukan harus jalan terus, kemudian I Made Monog merasa terpanggil untuk bisa berperan lebih besar dalam kegiatan-kegiatan pentas. Karena itu, di samping melakoni aktivitas rutin sebagai penari kecak dalam tari Janger Kedaton, dia juga terus berupaya meningkatkan kemampuan seninya dengan terus-menerus belajar tari Bali dari para seniornya.

Kemampuan menari Bali ditingkatkannya mulai dari penguasaan terhadap tari Baris dan tari Penasar (untuk tokoh Arja) yang dipelajarinya sejak tahun 1940 di bawah asuhan seniman tari terkenal, I Made Kredek (ayahnya Prof. Made Bandem) dari Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar.

Setelah berhasil menguasai kedua tarian tersebut, selanjutnya pada tahun 1942 dia mulai belajar tari Topeng dari Made Sriada, seorang seniman tari Topeng dari Desa Gemeh, Denpasar. Rupanya dia merasa sangat cocok dengan tari Topeng tersebut sehingga dia semakin serius menekuninya sampai membuat gurunya merasa sangat puas dengan hasil belajarnya itu. Atas prestasinya itu, gurunya kemudian menurunkan semua kepandaian seni yang dimilikinya kepada muridnya itu.

I Made Monog tidak berhenti hanya sampai disitu. Dia terus belajar dan belajar. Pada tahun 1946 dia juga pernah belajar tari Pandung, yaitu sebuah tari untuk karakter Pandung dalam dramatari Calonarang. Dia belajar tarian ini dari guru Made Kengguh di Singapadu Gianyar.

Setelah kemampuan seni yang diperolehnya sudah dianggapnya memadai, maka sambil tetap melakukan pementasan seni sesuai pesanan masyarakat, sejak tahun 1950 I Made Monog mulai meningkatkan kiprahnya di bidang seni tari dengan melatih tari Arja di Desa Tanjung Bungkak dan Desa Abiankapas Denpasar. Berkat usahanya melatih calon-calon penari di kedua desa tersebut, kemudian terbentuklah sekaa tari Arja Abiankapas dibawah pimpinan Mangku Renda dan Made Bandem.

Atas kecakapan dan keahliannya serta keberhasilannya melatih tari Arja di kedua desa tersebut, mulailah datang permintaan dari sejumlah kelompok kesenian agar bersedia mengajar dan membina untuk kelompok

mereka. I Made Monog kemudian mengajar tari untuk sekaa kesenian yang ada di beberapa desa, antara lain di Desa Kedonganan, kemudian Desa Tanjung dan beberapa desa di semenanjung selatan pulau Bali. Banyak sekaa Arja yang sudah dibinanya secara bergiliran. Mengingat-ngingat sekaa-sekaa yang telah dibinanya tidaklah begitu penting baginya, yang penting baginya adalah memberikan seluruh kemampuannya kepada generasi muda untuk dapat mengembangkan dan kalau mungkin meningkatkan lagi kreativitas kesenian Bali di masa-masa yang akan datang. Bahkan dia juga mendapat permintaan untuk mengajar di KOKAR/ SMKI Bali (sekarang, SMK-3 Sukawati, Gianyar) untuk menjadi tenaga pengajar secara honorer.

Kegiatan lain yang pernah ditekuninya adalah membentuk Grup Vokal “Trama Murni” yang bertemakan pengarjaan. Grup Vokal Trama Murni tersebut disiarkan secara rutin di RRI Denpasar sampai akhirnya dia diangkat menjadi karyawan Keluarga Kesenian Bali di Studio RRI Denpasar hingga masa pensiunnya sejak tanggal 5 Februari 1999.

I Made Monog yang tinggal di Jalan Drupadi No.1 Denpasar lahir tahun 1920 di Banjar Kedaton Sumerta Denpasar. Dia adalah putra I Made Tambun (ayah) dengan Ni Luh Djembung (ibu). Ayahnya sendiri adalah seorang tokoh seni yang banyak berperan sebagai pengurus Sekaa Janger Kedaton. Di bawah kepengurusan ayahnya tersebut, Janger Kedaton pernah mendapat kesempatan pentas di Batavia (sekarang, Jakarta) pada tahun 1929 yang anggotanya diantaranya adalah Ibu Ketut Reneng. Sementara ibunya, Ni Luh Djembung, pada masa mudanya adalah seorang penari Arja dari Sekaa Arja Tanjungbungkak.

Pada tahun 1943 kakak laki-laki dari Made Ronong ini kemudian menikah dengan seorang penari legong Kelandis yang cukup legendaris, bernama Ni Nyoman Sadri. Kelegendarisannya dapat dicermati dari bukti bahwa gelungan penari legong yang biasa dikenakan oleh legong Ni Nyoman Sadri sampai saat ini masih tetap disakralkan dan disimpan di Pura Jurit Desa Kelandis yang terletak di Jalan Plawa Denpasar.

Dari perkawinannya dengan penari legong itu I Made Monog mendapatkan enam (6) putra/putri, yaitu: I Gde Sukraka (laki-laki, lahir 1948), Made Budiani (perempuan, lahir tahun 1951), Nyoman Beguh (laki-laki, lahir tahun 1953), Ketut Cemeng (laki-laki, lahir tahun 1957), Gde Sumadi (laki-laki, lahir tahun 1961) dan Made Anggari (perempuan, lahir tahun 1964).

Salah seorang putranya, yaitu I Gde Sukraka, adalah juga seorang seniman tari dan sekaligus seniman akademisi alumnus ISI Denpasar (dulu, ASTI Denpasar) dan Program Pascasarjana UGM. I Gde Sukraka berprofesi sebagai dosen pengajar tari di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Kini suami Ni Ketut Yuliasih ini (Yuliasih juga seorang dosen tari pada Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar) telah memasuki masa pensiun sejak akhir tahun 2013.

Sebagai seniman yang cukup mumpuni, I Made Monog sering mendapat penghargaan atas jasa-jasanya di bidang seni. Beberapa dari penghargaan itu adalah sebagai berikut.

1. Piagam Penghargaan dari Menteri Penerangan Republik Indonesia atas partisipasinya dalam Pekan Olahraga dan Seni “Sabang Merauke” tahun 1981 yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 22 - 28 Juni 1981.

2. Piagam Penghargaan Dharma Kusuma Madya dalam Bidang Seni Tari dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Tahun 1987 karena telah membaktikan seni dan pribadinya kepada Bali, masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia.

3. Piagam Penghargaan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali tertenggal 13 Juli 1991 atas partisipasinya dalam acara “Penampilan Wajah Seniman Tua Bidang Seni Tari” dalam Pesta Kesenian Bali ke-XIII tahun 1991.

4. Piagam Penghargaan Kerti Budaya, Penghargaan dalam Bidang Seni Tari dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Badung tertanggal 20 September 1990, karena telah membaktikan seni dan pribadinya kepada Kabupaten Badung, bangsa dan Negara Indonesia.

Referensi

Proyek Penggalian/Pemantapan Seni Budaya Klasik Tradisional dan Baru. (1986/1987), Riwayat Hidup Para Seniman Penerima Penghargaan Seni Dharma Kusuma dan Dharma Kusuma Madya Tahun 1986/1987. (Halaman 56-57).

Dinas Kebudayaan Propinsi Baerah Tingkat I Bali. (1999), “Penerima Penghargaan Adhikarya Perintis Kesenian Pertunjukan Wisata Propinsi Daerah Tingkat I Bali Tahun 1999” (halaman 10-11).

Yuliasih, Ni Ketut. (2003), I Gusti Gede Raka: Maestro Tari Legong di Saba (thesis). Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Jurusan Ilmu-Ilmu Humaniora, Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.