• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bom Bali I barulah seluruh Indonesia, terutama para pejabat pusat,

benar-benar merasakan dampak perubahan ekonomi yang begitu signifikan dari

Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa Bali menjadi priotas kunjungan wisata karena seni dan kebudayaannya. Di satu sisi kita patut berbangga hati, namun di sisi lain semakin meningkatnya dan cemerlangnya pariwisata di Bali serta semakin antusiasnya para wisatawan yang mempelajari seni budaya Bali dan adanya akulturasi budaya luar yang berpengaruh langsung terhadap budaya lokal, tentu akan menimbulkan kebanggaan sekaligus kekhawatiran bagi masyarakat Bali, akibat dari arus budaya yang dapat mengancam kebudayaan lokal di Bali.

Salah seorang seniman Bali, Jro Mangku Dalang I Nyoman Rugada, termasuk anggota masyarakat yang ikut khawatir akan ancaman pengaruh kapitaliseme global di Bali, karena yang bersangkutan sangat loyal dengan budaya Bali, walaupun beliau hidup di tengah keluarga yang sederhana, pendidikan setingkat Pendidikan Guru Agama (PGA) serta tidak memiliki pendidikan khusus di bidang seni dan juga tidak ada darah keturunan seniman dari leluhurnya. Namun karena memiliki tekad yang kuat untuk berbakti kepada orang tua dan bertujuan untuk melestarikan seni budaya leluhur agar ajeg maka mulai bulan Juni 1993 beliau terjun ke dunia seni Pedalangan Wayang Kulit.

Proses pembelajaran seni pedalangan beliau tekuni selama 18 hari dengan sarana belum lengkap dengan cara membeli sarana wayang kulit secara bertahap dan juga atas dorongan kuat dari orang tuanya, terutama anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Akhirnya dengan berbekal keyakinan serta doa orang tua, istri, dan ketiga anaknya maka pada bulan Agustus 1993 beliau sudah melayani permintaan masyarakat Buleleng untuk mengadakan pagelaran wayang kulit. Sekaligus mulai saat itu di wilayah Br. Penataran, Kabupaten Buleleng muncul seorang Jro Mangku Dalang yang lahir 59 tahun yang lalu. Beliau sangat dikenal oleh masyarakat Buleleng dengan sebutan Jero Mangku Dalang I Nyoman Rugada atau Jro Mangku Dalang Penataran.

Selama melakoni dunia seni pedalangan wayang kulit, Jero Mangku Dalang I Nyoman Rugada mengemban misi khusus dalam pelestarian seni pewayangan sebagai sarana penting dalam kegiatan upacara yadnya. Beliau memiliki komitmen penuh dalam mengkombinasikan seni pewayangan serta upacara yadnya. Lakon atau cerita pewayangan yang dipentaskan diperoleh dari orang tua dan beberapa lontar misalnya lakon/

cerita Sudamala, Bima Swarga, Nyapu Leger, Kantong Bolong, Bima Tapa, Sang Kala, Raden Jaya Wijaya, Dewi Walabawati, Raden Semaraja dan sebagainya.

Selama perjalanan beliau sebagai seniman Jro Mangku Dalang banyak tantangan yang pernah Beliau alami. Salah satunya yaitu pada tanggal 22 Nopember 1998 terjadi musibah kebakaran mobil disaat beliau akan melakukan pementasan wayang di Jalan Singaraja Bedugul Km 17, akibatnya seluruh sarana wayang miliknya terbakar habis, namun Beliau dengan tabah serta sabar untuk memulai lagi dengan membeli dan mempersiapkan sarana wayang yang baru. Melalui bantuan dari pemerintah daerah Provinsi dan Kabupaten pada tanggal 16 Desember 1998 sarana wayang kulit sudah lengkap kembali dan beliau sudah siap kembali melayani masyarakat sampai sekarang.

Banyak orang tidak meyangka beliau adalah seorang seniman dalang wayang kulit jika kita lihat dari kesehariannya, tetapi persepsi akan berbeda kalau sudah mendengar suaranya. Beliau berbicara tegas lugas dan humoris, apalagi selalu didampingi oleh seorang istri yang penuh pengertian yang bernama Putu Sukiani S.Pd dan dikaruniai tiga orang anak yaitu Luh Putu Evi Sri Kusuma Dewi, A.Md; Kadek Yati Fitria Dewi, S.P.d.,M.Pd dan Komang Agus Rudi Indra Laksmana, S.E.,M.M.

Jro Mangku Dalang Penataran juga mengabdi selama 32 sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan profesi Guru Agama di SMP 1 Sukasada. Setiap pementasan wayang kulit, beliau sangat vocal menyuarakan program pemerintahan dan juga peduli terhadap perkembangan situasi di Buleleng baik di bidang seni, budaya, politik, etika, pendidikan dan tidak mau terlalu terpengaruh oleh godaan globalisasi. Beliau tetap kosisten agar tetap ajeg dengan Dresta Kuna. Beliau patut diancungi jempol, karena selalu rendah hati tetapi selalu siap mengemban tugas jika diperlukan baik pemerintah daerah maupun masyarakat. Beliau tidak pernah pilih kasih serta tidak pandang kaya miskin, apakah pejabat ataupun buruh. Dengan kondisi itulah maka beliau dikenal oleh mayoritas masyarakat Buleleng. Beliau memilki kreativitas untuk mengadakan Pagelaran Wayang secara spontanitas guna memberikan pencerahan rohani dan sekaligus menghibur seperti yang dilakukan misalnya di Desa Sumber Kelampok pada warga ekstransmigran Timtim, Panti Werda Kaliasem, Lembaga Permasyarakatan Singaraja, Polres Buleleng dan Polsek Sukasada.

Dalam konteks desa Adat Pakraman, kreativitas beliau lebih mengagumkan; di samping sebagai pendidik dan dalang, beliau juga aktif di masyarakat misalnya sebagai Kelian Krama di Pura Dalem Desa Adat

Buleleng, sebagai Klian Banjar Adat Penataran, Klian Pesaren Pura Dalem Buleleng, Petajuh Desa Pakraman Buleleng dan sebagai Manggala Upacara Agama dan juga sebagai pencipta lagu Pop Bali. Salah satu lagunya adalah berjudul “Ki Barak Panji Sakti” yang sering berkumandang di Singaraja FM. Pada tahun 1998 beliau mendapat penghargaan di Propinsi Bali sebagai pemenang Harapan I Penulis Lagu Pop Bali. Pada tahun 2004 beliau memperoleh penghargaan Wijaya Kusuma Tingkat Kabupaten Buleleng.

Beliau sering ikut kontingen kesenian Buleleng pada Pesta Kesenian Bali dan promosi pariwisata ke Jakarta sebagai Dalang Sendratari. Beliau juga pernah menyumbangkan pemikiran melalui buku yang berjudul “Makna Hari Raya Hindu” dan juga keberadaan Pura Bedugul Buleleng. Beliau juga berkontribusi dalam penentuan tema relief Ramayana yang tertera pada tembok rumah jabatan Bupati Buleleng.

Demikianlah sekelumit perjalanan, kreativitas dari seorang seniman

autodidak yaitu Jro Mangku Dalang I Nyoman Rugada. Semoga kepedulian serta semangatnya menjadi tauladan bagi masyarakat Buleleng khususnya dan Bali umunya dan sekecil apapun kontribusi yang disumbangkan sangat dan akan semakin banyak masyarakat yang mau berbuat demi tercapainya Ajeg Bali dan Ajeg Buleleng.

“Lihat dan kenanglah riwayat masa hidupku, jangan dibaca riwayatku setelah aku terbujur kaku” (Jro Mangku Dalang I Nyoman Rugada)