• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2.2. Kajian Penelitian Terdahulu

Berbagai program dan kegiatan yang berkaitan dengan upaya peningkatan akuntabilitas dan transparansi LSM di beberapa kota telah memicu kesadaran para aktivis LSM lokal bahwa salah satu problem terbesar yang dihadapi mereka saat ini adalah minimnya akuntabilitas dan transparansi. Mereka mulai menyadari bahwa problem akuntabilitas LSM ini telah menjadi sorotan mayarakat dan harus segera mendapatkan perhatian jika mereka ingin tetap eksis dalam perjuangannya dan mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Menurut Kas (2005), berbagai survei dan analisis dilakukan berbagai pihak sebagai upaya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan transparansi dan akuntabilitas organisasi masyarakat sipil (OMS) untuk meningkatkan kinerja dan tanggung jawabnya kepada publik.

Menurut Baswir (2004), persoalan-persoalan yang dihadapi LSM diantaranya adalah terlihat banyak yang tidak mengerti akar persoalan yang ditangani, belum benar-benar sesuai dengan prioritas aspirasi masyarakat, dan

masih bersifat funding-driven. Hal ini sejalan dengan Saidi (2004) bahwa LSM saat ini tengah menghadapi lima persoalan mendasar, yakni legitimasi politis, akuntabilitas legal, keberlanjutan finansial, kompetensi profesionalitas, dan kredibilitas sosial.

Hasil assessment yang dilakukan oleh Mercy Corps (Ibrahim, 2004), sebuah lembaga donor untuk program keuangan mikro, mengenai sejauh mana prinsip- prinsip partisipasi, transparansi dan akuntabilitas di kalangan LSM yang menjadi mitranya menemukan beberapa hal:

1. Struktur organisasi dan kepemimpinan. Di beberapa LSM ternyata tidak ada pemisahan antara board dan eksekutif. Beberapa organisasi menunjukkan bahwa kepemimpinan organisasi didominasi oleh satu orang yang biasanya menjadi pendiri dari LSM tersebut. Ia biasanya menduduki jabatan sebagai ketua pengurus juga sebagai direktur pelaksana. Kalaupun ada anggota pengurus yang lain, maka biasanya juga mereka terlibat sebagai pelaksana program, sementara staf kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan di dalam organisasi.

2. Partisipasi masyarakat. Beberapa LSM ternyata tidak pernah meminta masukan dari kalangan intended benefeciaries-nya. Sebagian lagi tidak melibatkan masyarakat secara intensif dalam seleksi dan merancang kegiatan. Beberapa LSM hanya meminta pendapat dari tokoh-tokoh masyarakat secara informal ketika akan merencanakan suatu proyek dan hal ini membuat masyarakat tidak cukup dilibatkan secara luas. Seringkali LSM merancang dan kegiatan mereka hanya berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki tentang daerah tertentu atau yang menurut mereka paling baik untuk masyarakat. Kegiatan ini akhirnya akan merupakan campur-tangan yang bersifat top-down.

3. Akuntabilitas dan transparansi. Sebagian besar LSM masih banyak mempunyai kelemahan dalam akuntabilitas dalam arti mekanisme, prosedur dan kemampuan untuk mempertanggungjawabkan program dan kegiatan serta dana yang diperolehnya kepada publik yang lebih luas. Sebagian LSM tidak mempunyai sistem dokumentasi dan informasi yang jelas mengenai program yang dilaksanakan. Sebagian

tidak mempunyai prosedur-prosedur keuangan yang transparan mengenai penerimaan dan pengeluaran dana serta sistem akuntansi. Sebagian besar LSM tidak pernah membuat laporan program dan laporan keuangan tahunan untuk dapat diketahui oleh publik yang lebih luas.

4. Ukuran keberhasilan. Beberapa LSM ternyata tidak mempunyai ukuran-ukuran dan kriteria mengenai keberhasilan program yang dilakukannya.

Berdasarkan penelitian National Democratic Institute (NDI) dalam Kas (2005) mengenai Persepsi Masyarakat terhadap Ornop, menghasilkan penemuan penting. Pertama, meskipun LSM seringkali dipersepsikan sebagai organisasi non profit yang berkiprah dalam bidang sosial kemasyarakatan namun sebagian besar responden yang diwawancarai beranggapan bahwa LSM-LSM saat ini lebih berfungsi sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah untuk meligitimasi program-program pemerintah dalam rangka mendapatkan bantuan dari luar negeri. Kedua, masyarakat seringkali justru merasa skeptis terhadap program- program yang dilakukan oleh LSM. Beberapa jenis LSM seperti LSM politik cenderung mendapatkan apresiasi yang sangat rendah. Mereka bahkan berpendapat bahwa jenis LSM ini sepertinya tidak diperlukan mengingat fungsi pendidikan politik (political education) dapat dilakukan oleh media massa. Masyarakat memiliki kekhawatiran bahwa keberadaan LSM politik justru dapat mempertajam konflik yang terjadi di masyarakat karena dapat dipergunakan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.

Lembaga Demos, dalam sebuah penelitiannya yang dipublikasikan pada Majalah Tempo edisi 13 Desember 2004, memaparkan sebuah fakta menarik. Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 363 responden di 29 propinsi, dari Aceh hingga Papua, terungkap fakta bahwa meskipun partisispasi warga negara dalam organisasi independen, kelompok kewargaan dan gerakan sosial menjadi lebih baik (72%) namun hanya sekitar 58% responden yang menyatakan bahwa transparansi, akuntabilitas dan demokrasi-tidaknya OMS menjadi lebih baik pascapemilu 1999.

Lebih lanjut ditemukan fakta bahwa apabila sikap responden tersebut kita bandingkan dengan item pertanyaan lain yang dikelompokkan sebagai sub-bagian hak dan institusi demokrasi seperti: kebebasan berbicara, berserikat dan berorganisasi (79%), kebebasan mendirikan serikat buruh (70%), kesetaraan serta emansipasi gender (63%), maka permasalahan transparansi dan akuntabilitas OMS tersebut mendapatkan tingkat kepercayaan yang lebih rendah.

Survei ini menjadi semakin menarik apabila kita memperhatikan latar belakang para responden sebagai aktivis Ornop yang bekerja dalam gerakan- gerakan advokasi masyarakat. Sekilas hasil survei tersebut telah menunjukkan munculnya kesadaran dari kalangan LSM sendiri mengenai perlunya self-critism terhadap kinerja mereka selama ini.

Survei yang dilakukan oleh PIRAC pada tahun 2004 dengan responden sebanyak 2.500 orang dalam Prihatna (2005), diantaranya menemukan beberapa hal. LSM belum mendapatkan dukungan yang cukup besar dari masyarakat dalam hal pendanaan, meskipun sebanyak 75% responden mengaku pernah mendengar kata LSM. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh masyarakat adalah mengapa tidak mau menyumbang ke LSM diantaranya adalah karena tidak tertarik pada program yang dijalankan (13%), tidak merasakan manfaat dari program yang dijalankan oleh LSM (22%), dan sebagian besar lagi mengatakan karena LSM tidak pernah meminta dana dari masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh Bayunanda (2008) tentang kinerja Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan, dengan menggunakan ukuran kinerja balanced score card (BSC) menemukan bahwa hasil pembobotan perspektif pelanggan mendapat bobot 27%, pembelajaran dan pertumbuhan 26%, finansial 25% dan proses internal 22%. Dari pengukuran indeks rata-rata kinerja organisasi mendapatkan angka 96.1% atau masuk ke dalam performance range yang tidak baik. Diantara keempat perspektif balanced scorecard, LEI perlu memperbaiki kinerjanya pada perspektif finansial, pertumbuhan dan pembelajaran, dan pelanggan. Untuk perspektif proses internal kinerja lembaga paling baik di bandingkan 3 aspek yang lain hal ini merupakan modal.

Berdasarkan Alimaturahim (2002), suatu kegiatan pembangunan yang dikelola oleh Ornop maupun OMS pada hakekatnya dituntut agar dapat memberikan kepuasan politik (political satisfaction) kepada empat kelompok utama yang terkait, yaitu: (1) masyarakat yang menerima manfaat (beneficiaries) atau kelompok sasaran (target groups) serta pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders); (2) pihak penyandang dana atau lembaga donor; (3) pemerintah selaku administratur pembangunan; dan (4) para pengelola pembangunan itu sendiri (Ornop/OMS).

BAB III

METODE PENELITIAN