HASIL PENELITIAN
4. Kalimat Imperatif Larangan
4.3.1 Jenis-jenis Kalimat Berdasarkan Makna Pada Karangan Narasi Siswa SDK Toe Loha
4.3.1.1 Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif, yang juga dikenal dengan nama kalimat berita dalam buku tata bahasa Indonesia, secara formal jika di bandingkan dengan ketiga jenis kalimat lainnya tidak bermarkah khusus. Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara atau penulis untuk membuat
pernyataannya sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Jika pada suatu saat kita mengetahui ada kecelakaan dan kemudian kita meyampaikan peristiwa itu kepada orang lain, maka kita dapat memberitakan kejadian itu dengan dengan menggunakan berbagai macam bentuk kalimat deklaratif, dapat dilihat pada hasil karangan narasi siswa.
15. Ardo tidak hadir karena kakinya luka ketika pulang menimba air dari sungai. (2b)
16. Dia dipukul oleh ayahnya karena malas belajar dan pergi ke sekolah. (3a) 17. Salah satu teman saya jatuh karena mengejar bola dan kakinya terluka hingga
mengeluarkan banyak darah. (3c)
Kalimat yang dihasilkan oleh siswa nomor urut (2) pada karangan yang ke dua (b) ini tergolong kalimat deklaratif karena memuat sebuah peristiwa yang dialami oleh oleh orang lain dan disampaikan kepada orang lain pula. Kalimat ini juga secara tidak lansung pembicara menyampaikan sebuah kejadian/peristiwa yang dialami oleh korban yakni Ardo. Kalimat yang dihasilkan oleh siswa nomor urut (3) dalam karangan narasi yang pertama (a) ini juga tergolong dalam jenis kalimat deklaratif. Dalam kalimat ini memuat sebuah berita yang disampaikan oleh pembicara kepada pembicara lain sehingga memeroleh sebuah informasi. Pada kalimat yang dihasilkan oleh siswa nomor urut tiga (3) juga pada karangannya yang ke tiga (c) ini tergolong ke dalam jenis kalimat deklaratif. Seoranng pembicara menyampaikan sebuah kejadian yang belum diketahui oleh orang lain dan dijadikan sebuah berita karena kalimat ini menyampaikan sebuah informasi.
Sekelompok kalimat ini yang paling dominan ditemukan pada karangan narasi siswa. Karangan narasi berisi tentang peristiwa (kejadian) yang merupakan informasi-informasi bagi pembaca ataupun pendengar serta berisi pernyataan dan berfungsi untuk memberikan informasi tanpa meminta balasan ataupun timbal balik dari orang lain. Sehingga banyak ditemukan jenis kalimat bermakna deklaratif (berita) pada karangan narasi siswa tersebut. Di dukung oleh jenis karangan yang siswa tulis adalah karangan narasi, diketahui bersama bahwa karangan narasi memuat cerita tentang kejadian atau peristiwa yang dialami oleh seseorang sehingga banyak memunculkan kalimat-kalimat deklaratif (berita). 4.3.1.2 Kalimat Pertanyaan (Interogratif)
Kalimat pertanyaan atau interogratif dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban yang diharapkan).Pertan yaan sering menggunakan kata tanya seperti siapa, mengapa,bagaimana,di mana,dan kapan. Dalam karangan narasi siswa SDK To’e/Loha terdapat beberapa kalimat yang tergolong ke dalam kalimat pertanyaan di antaranya.
18. Siapa yang merobek kertas ini? (8a) 19. Apakah kamu capek? (10a)
secara formal kalimat interogatif ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti
apa, siapa, berapa, kapan, bagaimana, di mana dengan atau tanpa partikel kah
sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan adanya suara naik, terutama tidak ada kata tanya atau suara turun (Tata Bahasa Baku, 2000:366).
Sekelompok kalimat yang dihasilkan oleh siswa SDK To’e/Loha dalam karangan narasi tergolong ke dalam kalimat interogratif. Setiap isi kalimat memuat pernyataan yang membutuhkan reaksi atau jawaban yang diharapkan sesuai dengan apa yang ditanyakan. Sesuai dengan teori yang dipaparkan sebelumnya maka kalimat-kalimat ini tergolong ke dalam kalimat interogatif. Kalimat ini juga jarang ditemukan dalam karangan narasi siswa, ini disebabkan karena siswa terpaku untuk menceritakan (menarasikan) setiap kejadian yang mereka alami dan siswa kurang menceritakan kejadian tersebut dalam bentuk dialog kecil sehingga tidak menghadirkan tanda baca misalnya tanda baca tanya kalimat (?) dalam karangan tersebut. Beberapa siswa memang sudah menggunakan tanda baca, tetapi lebih banyak siswa yang kurang menggunakan tanda baca tersebut.
4.3.2.3 Kalimat perintah/imperatif
Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan sesuatu hal. Berdasarkan isinya kalimat imperatif terbagi menjadi beberapa bagian.
1. Kalimat Imperatif Perintah Halus
Bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang dipakai untuk menghaluskan isi kalimat imperatif. Kata seperti tolong, coba, silahkan, sudilah dan kiranya sering dipakai untuk maksud itu. Ada beberapa kategori kata di atas yang terdapat dalam karangan narasi siswa SDK To’e kampung Loha, seperti berikut ini.
21. Tolong buanglah sampah itu di tempat sampah. (5c)
Kalimat ini bermakna kalimat perintah/suruhan. Jika ditinjau dari isinya kalimat ini tergolong ke dalam kalimat perintah halus karena menggunakan kata
tolong untuk menghaluskan isi kalimat perintah/imperatif halus. Ada salah dua
kalimat yang memuat 2 unsur jenis kalimat seperti kalimat pada (8b dan 16c) 22. Tolong, kalian jangan rebut. (8b)
23. Tolong, kamu jangan menangis. (16c)
Ada dua kalimat yang merupakan kategori kalimat imperatif pada kalimat ini yakni kata tolong dan jangan. Kata tolong tergolong ke dalam kalimat imperatif halus sedangkan kata jangan tergolong ke dalam kalimat imperatif larangan. Maka kedua kalimat ini tergolong ke dalam dua jenis kalimat imperatif halus dan larangan.
2. Kalimat Imperatif permintaan
Di dalam kalimat permintaan digunakan untuk mengungkapkan permintaan. Kalimat seperti itu ditandai oleh kata minta atau mohon. Subjek pelaku kalimat imperatif permintaan adalah pembicara yang sering tidak dimunculkan. Perhatikan kalimat berikut ini yang terdapat dalam karangan narasi siswa kelas V SDK Toe kampung Loha yakni seperti kalimat berikut ini.
24. saya mohon kesedian Ical memimpin doa. (20b)
25. saya minta teman-teman segera mengumpulkan tugas. (20c)
Dari kedua kalimat (20b) dan (20c), masing-masing kalimat memuat makna kalimat imperatif permintaan. Setiap kalimat mengungkapkan permintaan ditandai dengan adanya kata mohon dan minta.
3. Kalimat Imperatif Ajakan atau Harapan
Di dalam kalimat imperatif, ajakan dan harapan tergolong kalimat yang biasanya di dahului kata ayo (lah), mari (lah), harap dan hendaknya. Pada karangan siswa kelas V SDK To’e kampong Loha terdapat beberapa kalimat yang tergolong ke dalam jenis kalimat imperatif ajakan/harapan.
26. Ayo teman teman kita harus mengerjakan tugas yang diberikan Bapak guru. (20b)
27. Teman teman sudah sore, mari kita pulang. (20c) 28. Ibu, Ayah, dan Adik mari makan. (20c)
Setiap kalimat di atas menggunakan kata ajakan yakni ayo dan mari. Diketahui bahwa kedua kata tersebut tergolong ke dalam kalimat imperatif. Ketiga kalimat tergolong ke dalam kalimat imperatif ajakan atau harapan dan biasanya didahului kata kerja dan ditambah dengan kata (lah) ataupun tidak. Sehingga ketiga kalimat di atas memuat makna kalimat imperatif ajakan atau harapan ajakan/harapan. Maka kalimat di atas tergolong ke dalam kalimat imperatif ajakan/harapan.
4. Kalimat Imperatif Larangan
Kalimat imperatif larangan dengan adanya kata jangan (lah). Perhatikan kalimat berikut ini.
29. Jangan menunda nunda-nunda pekerjaan kamu! (3c) 30. Jangan ribut! (5c)
31. Jangan merusak tanaman ini! (7c) 32. Jangan menagis ibu tidak lama! (12b)
33. Jangan berbohong kepada saya ! (17b) 34. Jangan makan permen! (18c)
Keberadaan jenis kalimat kalimat imperatif ini dalam karangan narasi siswa kurang tampak, hal ini disebabkan karena jenis kalimat ini menggunakan beberapa kategori kata yakni kata tolong, mohon, mari dan kata jangan. Walaupun ditemukan beberapa kalimat yang ada dalam karangan narasi siswa yang tegolong dalam kalimat imperatif baik imperatif halus, permintaan, dan juga larangan.
Anjarsari, dkk (2013) juga menunjukkan bahwa penyebab penggunaan bahasa yang belum sesuai dengan kaidah dibagi menjadi dua macam, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari kurangnya motivasi, potensi, dan latar belakang bahasa. Sementara, faktor eksternal terdiri dari pembelajaran yang belum sempurna dan masa belajar yang tidak lama, sehingga beberapa siswa cendrung kurang mengasilkan kalimat yang efektif. Hal ini terbukti siswa kelas V SDK To’e kampung Loha kurang menghasilkan kalimat-kalimat perintah. Alasan lain juga dikarenakan siswa selalu terpaku menceritakan (menarasikan) setiap kejadian yang mereka alami dan siswa kurang menceritakan kejadian tersebut dalam bentuk dialog kecil sehingga tidak menghadirkan tanda baca misalnya tanda baca kalimat seruan (!) dalam karangan tersebut. Beberapa siswa memang sudah menggunakan beberapa tanda baca, tetapi lebih banyak siswa yang kurang menggunakan tanda baca.
82 BAB V KESIMPULAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan sebagai berikut ini.
1. Siswa kelas V sudah dapat menghasilkan kalimat tunggal ekatransitif, kalimat taktransitif, dan kalimat dwitransitif. Selain itu siswa kelas V SDK To’e kampung Loha Manggarai Barat NTT sudah dapat menghasilkan kalimat majemuk setara dan majemuk tak setara.
2. Siswa kelas V sudah dapat menghasilkan jenis kalimat berdasarkan makna yakni kalimat deklaratif, kalimat interogratif, dan kalimat perintah yang bagi menjadi 3 bagian (kalimat perintah halus, permohonan, larangan).
5.2 SARAN
Ada beberapa saran dari penulis yang ingin disampaikan kepada para siswa dan juga pihak sekolah yakni sebagai berikut. Penelitian mengenai analisis sintaksis bahasa Indonesia tentu belum berakhir hanya dengan hasil penelitian ini. Masih banyak hal lain yang perlu diteliti mengenaianalisis sintaksis bahasa Indonesia. Berikut hasil penelitian ini disarankan kepada warga sekolah.
a) Siswa hendaknya memperluas pengetahuan tentang kaidah bahasanya, aktif bertanya kepada guru jika belum memahami penggunaan bahasa yang baik dan benar, dan sering berlatih menulis.
b) Guru hendaknya memberikan contoh langsung dengan menggunakaan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada setiap pembelajaran, memberikan pengetahuan tentang kaidah bahasa kepada siswa di setiap proses pembelajaran menulis, memotivasi siswa untuk mengarang, dan menganjurkan siswa membaca buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Indonesia serta latihan menulis dengan baik sesuai dengan tata kalimat dan ejaan bahasa Indonesia.
c) Pihak sekolah hendaknya berkenan melengkapi sumber pustaka terkait yang memadai seperti buku-buku seputar karang-mengarang, tata bahasa, penggunaan kata, dan sekolah mengadakan kegiatan lomba menulis . d) Siswa, guru, kepala sekolah, dan perangkat sekolah hendaknya senantiasa
memperluas kosa kata dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benarbaik secara lisan maupun tertulis,
e) Peneliti selajutnya agar lebih melakukan penelitian secara terperinci mengenai jenis-jenis kalimat terlebih khusus sekolah-sekolah di daerah pedalaman seperti di Manggarai Barat Flores NTT. .
84 Daftar Pustaka
Anjarsani. 2013. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Pada Karangan
Mahasiswa Asing di Universitas Sebelas Maret. Tersedia pada:
ejournal.unp.ac.id/index.php/linguadidaktika/article/download/7406/pdf. (diakses pada tanggal 15 juli 2018)
Ariningsih, dkk (2012). Faktor-Faktor Penyebab Penggunaan Bahasa
Indonesia Pada Karangan Siswa Yang Belum Sesuai Dengan Kaidah Sintaksis.
http://repository.ump.ac.id/1126/3/BAB%20II.pdf (diakses pada tanggal 15 juli 2018).
Bahtiar Ahmad & Fatimah. 2014. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: IN MEDIA.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur. 2014. Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Gunawan. 2010. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. PT. Bumi Aksara
Kunandar. 2013. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi
Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Khairah Miftahul & Ridwan Sakura. 2014. SINTAKSIS Memahami Satuan
Kalimat PersPektif Fungsi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mulyati.2016. Terampil Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT Kharisma Putra Utama.
Murni, Sri. 2008. Bahasa Indonesia 5: untuk Sekolah Dasar & Madrasah kelas V. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta.
Nugrehi, Aninditya Sri. 2017. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi
Berbasis Pembelajaran Aktif. Jakarta:PT Kharisma Putra Utama.
Pranowo. 2009. Kesantunan Berbahasa Tokoh Masyarakat Ditinjau dari Aspek
Pragmatik. Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma.
Rahmatika, Fella. 2016. Analisis Sintaksis Bahasa Indonesia Pada Karangan
Narasi Siswa Sekolah Dasar Se-Kecamatan Candisari KotaSemarang.
Tersedia pada: lib.unnes.ac.id/24455/1/1401412378.pdf. (diakses pada tanggal 10 mei 2018)
Rulam, Ahmadi. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar
Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Sanata
Dharma University Press.
Wikanrari, Maria Riska. 2009. Kesalahan Struktur Kalimat dalam Karangan
Narasi Ekspositois Siswa Kelas VII SMP Pangudi Luhur Srumbung.
https://core.ac.uk/download/pdf/153440224.pdf. (diakses pada tanggal 17 mei
2018)http://research.unissula.ac.id/file/publikasi/211315023/3959t__PEMER OLEHA N_BAHASA_PADA_ANAK.pdf.
Yule, George. 2015. Kajian Bahasa. Penerbit: Pustaka Pelajar. Zaenal Arifin & Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: PT Grasindo.