• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kandungan Nilai Pendidikan WB di Majalah PS dan DL

Kelas VII semester 1 sebagai berikut

2. Kandungan Nilai Pendidikan WB di Majalah PS dan DL

Berdasarkan teori yang digunakan mengenai nilai-nilai pendidikan, hasil menunjukan bahwa teori mengenai nilai-nilai pendidikan yang dijelaskan pada

landasan teori semua terkandung dalam WB. Hal itu menunjukkan teori yang digunakan sudah tepat guna, selain itu juga menunjukkan bahwa WB banyak mengandung nilai pendidikan baik yang secara tersurat maupun tersirat, sehingga WB layak untuk diajarkan di sekolah dan layak menjadi materi ajar di sekolah.

Berdasar hasil penelitian mengenai nilai-nilai pendidikan yang telah dianalisis, penelitian ini mempunyai persamaan dan perbedaan serta mampu menyempurnakan penelitian sebelumnya yaitu penelitian tesis Pebryawan (2012), Wijaya (2013), Riyanton (2013), Suryani (2013), dan Suwarmo (2013).

Pada penelitian terdahulu oleh: 1) Pebryawan (2012) menemukan nilai pendidikan agama, karakter, dan sosial budaya pada novel Suparto Brata‟s Omnibus. Pada penelitian 2) Wijaya dan 3) Riyanton (2013) menemukan nilai pendidikan agama, moral, sosial, budaya, dan historis. 4) Suwarmo (2013) dalam penelitiannya pada novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Sinden ditemukan nilai pendidikan agama, budaya (melestarikan tradisi, sapa temen bakal tinemu, eling lan waspada, aja seneng raben, aja seneng royal) nilai pendidikan sosial (kerukunan), dan nilai moral. 5) Suryani (2013) ditemukan nilai pendidikan agama, moral, budaya dan sosial.

Pada penelitian ini banyak menjabarkan mengenai nilai pendidikan agama seperti keimanan, mawas diri, kejujuran, nilai kehati-hatian, bersyukur, istiqomah, larangan suudhon. Pada nilai moral: berbakti pada orang tua, nilai/perbuatan yang harus dihindari: serakah, julig/licik, dendam. Nilai sosial: peduli, tolong-menolong, gotong-royong, dan bijaksana. Nilai budaya: sopan santun, tatakrama,

berunggah-ungguh. Nilai pendidikan historis berupa kisah perjuangan pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekan Republik Indonseia, yang mengandung nilai nasionalisme, bela tanah air (patriotisme), rela berkorban untuk negara Indonesia, dan pesan kepada generasi penerus bangsa untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan hal-hal yang positif dan prestasi-prestasi yang membangakan bangsa Indonesia dan dapat mengangkat maratabat bangsa Indonesia di kancah internasional.

Nilai pendidikan religius yang terkandung dalam WB dalam penelitian ini mencerminkan nilai keimanan, mawas diri, hati-hati dalam tingkah laku dan bertutur kata, istiqomah, jujur, bersyukur, dan larangan berburuk sangka. Nilai pendidikan religius yang terkandung dalam WB tersebut baik secara tersurat maupun tersirat kemudian diharapkan dapat direnungkan selanjutnya direalisasikan/ dimplementasikan dalam kehidupan nyata untuk mendekatkan diri pada Tuhan, mengharap ridho dan pahala dari Tuhan untuk mencapai kehidupan yang membahagiakan di akhirat kelak.

Dari hasil analisis mengenai nilai pendidikan religius dalam WB di atas diharapkan nilai-nilai mengenai pendidikan religius tersebut mampu diinternalisasikan dalam diri pembaca dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Selanjutnya dapat membentuk manuasia yang beragama, beriman, dan bertakwa atau menjadi pribadi yang religius. Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan.

Nilai pendidikan moral adalah suatu pedoman dalam melakukan sesuatu guna membedakan akhlak yang baik maupun yang tidak baik dalam menjalani kehidupan sehingga tercapai kesuksesan hidup dan kerukunan antarsesama. Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika, yaitu mengenai nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang harmonis dan bermanfaat bagi orang lain, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai pendidikan moral yang terkandung dalam WB yang telah dianalisis di antaranya nilai ketekunan dan dan keteguhan, budi pekerti luhur, berbakti pada orang tua, mandiri, larangan berbuat julig, dan larangan bersifat pendendam, larangan bersikap sombong dan serakah. Semua nilai-nilai pendidikan moral tersebut dapat diinternalisasikan dalam diri guna membentuk karakter dan kepribadian yang baik pada pembaca.

Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan kelompok dalam ikatan kekeluargaan antarindividu satu dengan lainnya. Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Interaksi sosial (yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis

menyangkut hubungan antarperorangan, antarkelompok manusia, maupun antara perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok manusia terjadi antara kelompok tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.

Nilai sosial mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial. Nilai sosial sebagai nilai yang membangun rasa kebersamaan, saling membantu, menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain sehingga mewujudkan kerukunan antarsesama manuasia. Jadi nilai sosial merupakan kumpulan sikap dan perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam hidup bermasyarakat/sosial. Nilai sosial yang terkandung dalam WB yang telah dianalisis yakni sikap saling menasihati, sikap peduli dan tolong menolong, adil serta bijaksana dalam memberi keputusan.

Nilai budaya merupakan nilai-nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan, simbol-simbol dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan perilaku dan tanggapan atas apa yang terjadi. Nilai budaya yang terkandung dalam WB yaitu nilai sopan santun (menggunakan unggah-ungguh), karena unggah-ungguh merupakan bagian daripada budaya Jawa sabagai kekayaan budaya yang harus tetap dilestarikan.

Nilai historis dapat membentuk sikap terhadap permasalahan yang dihadapi sekarang dengan bercermin dari peristiwa-peristiwa pada masa lampau yang dapat dijadikan sebagai pelajaran. Nilai pendidikan historis yang dapat diambil melalui pengalaman-pengalaman atau peristiwa-peristiwa yang diceritakan pada karya sastra, dapat dijadikan suatu pelajaran agar dikehidupan mendatang dapat menjadi lebih baik. Seperti pada kisah Dongenge Simbah, yang telah dipaparkan pada hasil penelitian di atas. Hal tersebut memberikan sebuah pernungan sekaligus nasihat kepada kita sebagai generasi penerus agar tetap mengahargai perjuangan para pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangasa Ini, Bangsa Inonesia tercinta.

Perenungan mengenai betapa berat dan gigihnya perjuangan para pahlawan dalam melawan penjajah hingga darah, nyawa, dan harta rela dikorbankan, demi Indonesia merdeka. Kemudian nasihat dari cerita tersebut, menyiratkan kepada pembaca sebagai generasi penerus bangsa untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini melaui prestasi-prestasi yang membangakan bangsa ini dan mengakat martabat bangsa ini setinggi-tingginya dikancah internasional. Mari berkarya dan berprestasi! 3. Relevansi WB dengan Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah

WB mempunyai relevansi dengan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah. Hal ini dibuktikan dengan standar isi mata pelajaran muatan lokal bahasa Jawa yang ada pada kurikulum KTSP yang ditetapkan berdasarkan SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 423.5/5/2010 untuk SD dan SMP, serta SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 423/5/27/2011 untuk SMA, dan materi ajar yang digunakan guru untuk mengajarkan

BJ di kelas, serta diperkuat dengan hasil wawancara langsung dengan guru pengajar BJ SD, SMP, dan SMA melalui kuesioner terbuka. Berikut ini pembahasan mengenai bukti adanya relevansi WB dengan pembelajaran BJ di sekolah.

a. Berdasar kurikulum KTSP untuk SD dan SMP sesuai SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 423.5/5/2010, dan SK Gubernur Tawa Tengah Nomor 423/5/27/2011 untuk SMA.

1) Kurikulum BJ untuk SD

Kelas I semester 2,: SK mendengarkan, KD mendengarkan dongeng binatang. Kelas III semeter 2: SK membaca, KD membaca dongeng atau cerita.

Kelas V semester 2: SK mendengarkan, KD mendengarkan cerita rakyat, SK membaca, KD membaca cerita anak.

Kelas VI semester 1: SK mendengarkan, KD mendengarkan cerita anak.

Berdasarkan kurikulum (2010) BJ untuk SD di atas menunjukan bahwa WB mempunyai relevansi dengan pelajaran BJ di SD, yang dibuktikan melalui SK dan KD yang dijabarkan di atas.

2) Kurikulum BJ untuk SMP

Kelas VII semester 1: SK mendengarkan, KD mendengarkan cerita teman tentang budi pekerti.

Kelas VII semester 2: SK membaca, KD membaca bacaan sastra dengan tema tertentu.

Kelas VIII semester 1: SK mendengarkan, KD mendengarkan legenda. SK membaca membaca bacaan sastra dengan tema tertentu.

Berdasarkan kurikulum (2010) BJ untuk SMP di atas menunjukan bahwa WB mempunyai relevansi dengan pelajaran BJ di SMP khususnya pada kelas VII dan VIII, yang dibuktikan melalui SK dan KD yang dijabarkan di atas.

3) Kurikulum BJ untuk SMA

Kelas X semester 2: SK mendengarkan, KD mendengarkan pembacaan cerkak yang disampaikan secara langsung atau melalui rekaman.

SK membaca, KD membaca nyaring cerkak.

b. Berdasar materi ajar WB Relevan dengan pembelajaran di Sekolah. 1) Materi WB dalam Materi Ajar BJ SD (Wasita Utama Basa Jawa )

Kelas 1 semester 2

Dokumen terkait