Untuk dapat menelaah isi kandungan nilai-nilai pendidikan yang terkadung dalam WB perlu dilakukan dua teknik membaca, yaitu pertama melakukan pembacaan teks secara heuristik, kemudian yang kedua melakukan pembacaan secara hermeneutik. Pembacaan heuristik dilakukan berdasarkan struktur bahasanya, sedangkan pembacaan hermeneutic adalah pembacaan ulang setelah pembacaan heuristik. Dalam pembacaan hermeneutik ini akan dilakukan pembacaan ulang terhadap teks, kemudian pembacaan teks, dan kontekstualitas teks yang diteliti.
a. Nilai Pendidikan Religius/Agama
Nilai religius merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama.
Tujuan pendidikan agama/religi adalah membentuk manuasia yang beragama, beriman, dan bertakwa atau menjadi pribadi yang religius. Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan.
1) Keimanan
Keimanan merupakan unsur fundamental atau hal terpenting dalam agama. Keimanan berkaitan dengan akidah yaitu suatu keyakinan atau kepercayaan tentang adanya Tuhan. Iman berarti percaya dan membenarkan akan adanya Tuhan serta menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Nilai keimanan merupakan nilai yang memiliki dasar kebenaran paling tinggi karena nilai keimanan bersumber langsung dari Tuhan. Nilai pendidikan religi yang menyiratkan mengenai keimanan kepada Tuhan terlihat pada cerita Piwulang saka Potelot berikut ini.
“Piwulang saka potelot sing kapisan yaiku potelot iku bisa ngelingake kowe, yen kowe bisa nindakake samubarang sing gedhe paedahe ing urip iki. Kaya potelot nalika dienggo nulis, aja lali yen ana tangan sing tansah nuntun
langkahmu. Awake dhewe nyebut iku minangka Astane Gusti Allah. Panjenengane sing tansah nuntun awake dhewe miturut kekarepanE.” [PS/PSP]
„Piwulang dari pensil, yang pertama yaitu pensil itu bisa mengingatkan kamu, kalau kamu bisa mengerjakan sesuatu yang besar manfaatnya dalam hidupmu ini. Seperti pensil ketika dipakai untuk menulis, jangan samapai lupa bahwa ada tangan yang senantiasa menuntun langkahmu. Kita menyebutnya sebagai Tangannya Gusti Allah. Dia yang senantiasa menunjukkan kita menurut kehendak-Nya.‟
Pada kutipan di atas terdapat nilai keimanan yaitu melalui keyakinan akan keberadaan Tuhan, Tuhan Maha Berkuasa atas segala urusan makhluk-Nya, seperti terlihat pada kutipan di atas kita harus percaya bahwa semua yang terjadi di kehidupan ini semua atas kehendak Tuhan atau takdir Allah (…aja lali yen ana tangan sing tansah nuntun langkahmu. Awake dhewe nyebut iku minangka Astane Gusti Allah. Panjenengane sing tansah nuntun awake dhewe miturut kekarepanE).
Keyakinan merupakan kunci keimanan, tanpa dilandasi keyakinan maka tak mungkin ada keimanan. Iman mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, iman merupakan manifestasi dari kepercayaan seseorang terhadap Tuhannya. Tanpa didasari iman manusia akan menjadi atheis, dia akan bertidak seenaknya saja tanpa aturan karena hidupnya akan terombang ambing tidak ada tujuan hidup (kemana dia akan kembali). Keimanan membuat kehidupan di dunia ini bisa tertata, karena adanya syariat agama yang diajarkan Tuhan melalui utusan-Nya. Dengan keimanan pula, seseorang akan tahu dari mana dia hidup, untuk apa dia hidup, dan akan kemana setelah matinya. Semua itu karena seseorang mempunyai keimanan atau keyakinan dalam beragama.
Jadi, melalui pembelajaran sastra tersiratkan nilai pendidikan agama sehingga dapat meningkatkan keimanan bagi pembacanya khususnya para siswa.
2) Mawas diri
Mawas diri adalah suatu sikap yang penuh kehati-hatian dalam melakukan segala aktifitas baik bertutur kata maupun bertingkah laku agar tidak menyakiti perasaan atau fisik orang lain. Mawas diri juga dapat dilakukan dengan
mengintrospeksi diri, mengenai apa saja yang telah diperbuatnya, mengintrospeksi diri tentang kesalahan-kesalahan kemudian berusaha untuk tidak melakukannya lagi dan berusaha berlaku yang lebih baik. Di bawah ini terdapat pelajaran mengenai sikap mawas diri, yang dikutipkan dari WB yang berjudul Piwulang saka Potelot „pelajaran yang bisa diambil dari pensil‟.
“Banjur, piwulang kapapat, kowe dhewe lak ngerti ta yen perangan sing paling penting saka potelot kuwi dudu njabane sing saka kayu, nanging perangan sing ireng sing digawe saka areng ing njerone?” simbah putri takon.
“Mula saka iku, tansah mangertenana apa wae sing ana sajroning awakmu. Wawasen, delengen lan dandanana awakmu dhisik, sadurunge kowe nyalahake wong liya. Aja gampang nyalahake, kuwi ngono gampang nuwuhake padudon sing suwe marine.” [PS/PSP]
„Kemudian, piwulang yang keempat, kamu sendiri sudah tahukan, kalau bagian yang paling penting dari pensil itu bukan bagian luarnya yang dari kayu, tetapi yang hitam yang dibuat dari arang di dalamnya?” neneknya bertanya.
“Maka dari itu, senantiasa pahamilah apa saja yang ada di dalam dirimu. Perhatikan, lihatlah dan perbaiki dirimu dahulu, sebelum kamu menyalahkan orang lain. Jangan mudah meyalahkan, itu mudah untuk menimbulkan pertengkaran yang lama sembuhnya.‟
Pada kutipan cerita di atas menyiratkan mengenai nasihat mengenai nilai mawas diri yang disampaikan oleh nenek kepada kepada cucunya melalui penggambaran yang terdapat pada sebuah pensil. Nenek tersebut menjelaskan pada cucunya, bahwa bagian pensil yang paling vital adalah bagian yang terdapat di dalam pensil yaitu bagian hitam yang terbuat dari arang yang bisa digunakan untuk menulis. Penggambaran tersebut, diasosiasikan dengan nilai-nilai kehidupan, bahwa dalam hidup ini seseorang harus paham mengenai apa yang ada dalam diri dirinya, untuk itu seseorang perlu mawas diri dan mengintrospeksi diri tentang kekurangan apa saja yang ada pada diri kita, kesalahan-keslahan apa yang sudah kita perbuat, jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama, setelah itu kita dapat menutup kesalahan-kesalah tersebut dengan perilakau baik.
Disamping itu juga dijelaskan, bahwa sebagai makhluk sosial yang hidup bersama, kita jangan sampai mencari-cari kesalahan orang lain, karena hanya akan menimbulkan permusuhan dan hidup menjadi tidak rukun. Akan tetapi, carilah kesalahan kesalahan diri sendiri, kemudian mengubahnya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.
3) Hati-hati dalam bertingkah laku dan bertutur kata
Hati-hati dalam bertingkah laku dan bertutur kata perlu dilakukan agar tidak menyinggung atu menyakiti perasaan orang lain. Sikap tersebut diterapkan kapan saja dan di mana saja kita berada. Berikut ini terdapat nilai pelajaran kehati-hatian yang dikutipkan pada WB yang berjudul Piwulang saka Potelot.
Saben potelot mesthi ninggalake tandha utawa tilas, ing kertas sing dienggo nulis. Semono uga kowe, kudu sadhar yen apa wae sing koktindakake lan kokucapake mesthi nuwuhake anggepan saka wong liya, embuh kuwi apik apa ala. Dadi sing ngati-ati lan waspada, aja nganti pocapan lan tumindakmu nglarani wong liyane. [PS/PSP]
„Setiap pensil pasti meninggalkan tanda atau bekas pada kerta yang dipakai untuk menulis. Begitu juga kamu, harus sadar kalau apa saja yang kamu kerjakan dan kamu ucapkan pasti prasangka dari orang lain, entah itu baik atau buruk. Jadi berhati-hatilah dan waspada, jangan sampai ucapan dan perilakumu menyakiti orang lain.‟
Pada kutipan data di atas ditanamkan mengenai pentingnya sikap berhati-hati dalam bertingkah laku dan bertutur kata, karena apa ayang kita lakukan pasti akan ada yang suka dan tidak suka atau menimbulkan dampak positif atau negatif. Untuk itu pesan yang bisa diambil dari pelajaran tersebut ialah kita harus berhati-hati agar apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan tidak menyakiti atau merugikan orang lain.
4) Larangan berprasangka buruk
Setiap orang mempunyai karakter berbeda-beda serta kekurangan dan kelebihan masing-masing, terlebih lagi di mata Tuhan semua manusia itu sama yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Untuk itu kita tidak boleh menganggap remeh orang lain, karena belum tentu kita lebih baik daripada yang kita remehkan. Kita juga
tidak boleh membeda-bedakan sesama teman, kita harus berbuat adil. Berikut ini terdapat kutipan yang mengajarkan agar kita tidak menilai sesuatu dari sisi luarnya saja, karena bisa jadi hal tidak mengenakan untuk diri kita itu adalah sesuatu yang baik untuk kita.
Wit kasebut kandha, “Sing nembang lan menehi pepuji durung mesthi dadi kanca, nanging sing gelem nuduhake kakurangan lan gelem ngrewangi ngluwari masalahku, yakuwi kanca sejati.” Mangkono tembange wit ksb. „Pohon tersebut berkata, “Yang menyanyikan dan memberi pujian belum pasti sahabat, akan tetapi yang mau menunjukan kekurangan dan mau membantu memecahkan masalahku, itulah sahabat sejati.” Begitu nyanyian pohon tersebut.‟
Digambarkan oleh burung pelatuk terhadap pohon, burung pelatuk yang suka mematuki batang pohon untuk mencari ulat yang menggerogoti tubuh pohon, justru dipandang jahat oleh pohon, sehingga dia mengusir burung pelatuk tersebut. Padahal sesungguhnya niat burung pelatuk baik, yaitu ingin menyelamatkan pohon agar tidak mati dimakan ulat. Setelah beberapa waktu pohon itu benar-benar akan mati karena tubuhnya digerogoti oleh ulat. Pohon pun pasrah menerima keadaannya, akhirnya pohon baru tersadar kalau sesungguhnya burung pelatuk adalah sahabat yang baik yang ingin membantu menolongnya memakani ulat agar ulat tidak menggerogoti tubuh pohon, sehingga pohon tidak jatuh sakit seperti sekarang. Kemudian burung pelatuk datang kembali ke pohon tersebut untuk menolong pohon dengan memakan ulat-ulat yang menggerogoti pohon tersebut. Akhirnya pohon dapat kembali sehat dan bersemi. Pohon pun mengucapkan terima kasih kepada burung pelatuk, dan berkata sahabat sejati adalah yang mau mengingatkan apabila kita berbuat salah dan mau bersama-sama dalam susah dan senang.
Pelajaran yang bisa diambil dari kutipan data di atas adalah kita berprasangka buruk kepada Tuhan atas takdir yang sudah ditetapkan kepada kita, boleh jadi yang tidak mengenakan pada diri sekarang ini, akan menjadi membahagiakan dimasa mendatang, karena apa yang sudah ditakdirkan Tuhan adalah yang terbaik untuk makhluknya.
5) Istiqomah
Istiqomah adalah ketekunan, keajegan, dan kesabaran. Amalan yang dilakukan secara istiqomah dan bersungguh sungguh dapat membuahkan suatu kebahagiaan. Nilai pendidikan istiqomah dapat dipetik dari WB yang berjudul Tukang Angon Wedhus „Penggembala Kambing‟ berikut ini.
Jaman mbiyen ing kutha Bagdad ana tukang angon wedhus jenenge pak Abu. Dheweke iku saben dinane mung angon wedhus bae. Kaya padatane wiwit esuk umun-umun, pak Abu wis budhal menyang ara-ara ing pinggir kutha Bagdad lan lagi mulih nalika srengenge angslup. Mula wedhuse lemu-lemu lan saya suwe saya tambah akeh. Kanthi sabar pak Abu tlaten nunggoni wedhus kang dingon ana ing ara-ara mau sinambi tetembangan.[PS/TAW] „Zaman dahulu di kota Bagdad ada penggembala kambing bernama Pak Abu. Dia setiap harinya hanya menggembalakan kambing saja. Seperti biasa mulai pagi-pagi, Pak Abu sudah berangkat ke padang ilalang di pinggir kota Bagdad dan baru kembali ketika matahari terbenam. Maka kambingnya gemuk-gemuk dan bertambah banyak. Dengan sabar Pak Abu menunggu kambing yang digembalakan di padang ilalang tadi sambil bernyanyi.‟
Pada data di atas dikutipkan mengenai nilai keistiqomahan, yaitu yang terdapat pada sifat Pak Abu penggembala kambing di Kota Bagdad, ia mempunyai sifat yang tekun, sabar dan jujur, terbukti pada kutipan Kaya padatane wiwit esuk umun-umun, pak Abu wis budhal menyang ara-ara ing pinggir kutha Bagdad lan lagi mulih nalika srengenge angslup. Mula wedhuse lemu-lemu lan saya suwe saya tambah akeh. Kanthi sabar pak Abu tlaten nunggoni wedhus kang dingon ana ing ara-ara mau „Seperti biasa mulai pagi-pagi, Pak Abu sudah berangkat ke padang ilalang di pinggir kota Bagdad dan baru kembali ketika matahari terbenam. Maka kambingnya gemuk-gemuk dan bertambah banyak. Dengan sabar Pak Abu menunggu kambing yang digembalakan di padang ilalang tadi‟, hal itu membuktikan keistiqomahan (ketekunan dan kesabaran) yang terdapat diri Pak Abu. Sikap jujur, tekun dan sabar terbut yang pada akhirnya mengantarkan Pak Abu menjadi seorang kepercayaan Raja di Bagdad. Jadi, Sikap tekun, jujur, dan sabar itulah yang harus diinternalisasi ke dalam diri kita.
6) Jujur dan Beriman pada Allah
Kejujuran merupakan bagian dari iman. Seseorang yang benar-benar beriman kepada Tuhan dalam kehidupannya akan selalu jujur, walaupun itu akan menyakitkannya sekalipun. Seseorang yang beriman tidak akan mau berbohong atau menipu apalagi melakukan tindak korupsi atau hal-hal lain yang dilarang oleh syariat agama, karena dia percaya bahwa semua perbuatannya di dunia ini kan mendapat balasannya di akhirat. Oleh karena itu, orang yang beriman akan takut melanggar larangan Allah atau melakukan perbuatan dosa, karena dia percaya bahwa di akhratnya nanti akan mendapatkan balasan berupa siksaan Tuhan. Jadi, kejujuran sangat ditentukan oleh keimanan seseorang kepada Tuhan dan hari akhir atau pembalasan. Berikut ini ada penggalan kutipan yang dapat diambil nilai-nilai kejujuran dan keimanan yang terdapat pada sebuah cerita pendek yang berjudul Tukang Angon Wedhus.
Sang raja, kula mboten wantun nyade menda punika dhumateng panjenengan, ingkang sepindhah amargi menda punika sanes gadhahan kula. Kaping kalih senaosa bendara kula mboten mangertosi nanging Gusti Allah ingkang mangertosi amargi Maha Mirsani lan Maha Mirengaken. Dados nuwun sewu sang raja, kula langkung ajrih paukumanipun Gusti Allah ing akhirat tinimbang paukuman panjenengan ingkang wonten ing ndonya punika,” jlentrehe pak Abu.
Sang raja kang midhanget wangsulane pak Abu katon kaget lan gumun amarga dheweke ora ngira yen ing jaman saiki isih ana pawongan kang temen-temen jujur kaya ngono.[PS/ TAW]
„Sang raja, saya tidak berani menjual kambing ini kepada baginda, yang pertama karena kambing ini bukan milik saya. Kedua, walaupun juragan saya tidak mengetahui akan tetapi Allah yang mengetahui karena Maha Melihat dan Maha Mendengarkan. Jadi mohon maaf sang raja, kula lebih takut pada hukuman Allah di akhirat daripada hukuman baginda di dunia ini,” kata Pak Abu.
Sang raja yang mendengar jawaban Pak Abu terlihat terkejut dan terheran karena dia tidak mengira kalau dizaman sekarang masih ada orang yang benar-benar jujur seperti itu.‟
Pak Abu merupakan seorang tokoh yang patut diteladani. Dia mempunya sifat jujur dan keimanan yang kuat kepada Tuhan. Pak Abu walaupun hanya seorang yang
disuruh menggembalakan kambing juragannya, tetapi Pak Abu adalah sosok orang yang jujur. Hal itu terbukti ketika sang raja ingin menguji kejujuran Pak Abu dengan berpura-pura ingin membeli kambing yang digembalakan Pak Abu, tetapi Pak Abu tidak mau menjual kambing itu tanpa seizin dari juragannya. Hal itu menunjukan sifat jujur Pak Abu. Kalau saja Pak Abu bukan orang yang jujur, Pak Abu bisa saja menjual kambing milik juragannya itu dan mengambil semua uang hasil jual kambuing tersebut.
Keimanan yang kuat kepada Tuhan juga dicontohkan oleh tokoh Pak Abu. Ketika Pak Abu menolak permintaan sang Raja yang ingin membeli kambing yang digembalakan Pak Abu. Sang raja mengancam akan menghukum Pak Abu apabila dia tidak mau menjual kambing kepadanya. Namun Pak Abu tetap pada pendiriannya, yaitu tidak mau menjual kambing milik juragannya kepada sang Raja tanpa sepengetahuan/persetujuan pemiliknya, walaupun Pak Abu diancam akan dihukum. Pak Abu berkata kepada sang Raja, “Sang raja, saya tidak berani menjual kambing ini kepada baginda, yang pertama karena kambing ini bukan milik saya. Kedua, walaupun juragan saya tidak mengetahui akan tetapi Allah yang mengetahui karena Maha Melihat dan Maha Mendengarkan. Jadi mohon maaf sang raja, kula lebih takut pada hukuman Allah di akhirat daripada hukuman baginda di dunia ini”. Hal tersebut merupakan bukti keimanan yang teguh kepada Tuhan yang terdapat pada diri Pak Abu. Mengetahui sifat jujur dan iman yang kuat pada diri Pak Abu, sang raja justru akan memberikan penghargaan kepada Pak Abu. Begitulah buah daripada kejujuran dan keimanan yang kuat.
Kejujuran sangat didukung oleh keimanan seseorang. Iman yang kuat dan kejujuran akan dapat menumpas KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) yang merajalela di negeri ini.
7) Bersyukur
Bersyukur merupakan salah satu tanda keiman seseorang kepada Tuhan. Bersyukur atas apa saja yang dianugrahkan Tuhan kepada kita akan menjadikan
hidup ini terasa indah dan menyenangkan, tidak ada perasaan iri dan buruk sangka pada sesama dan Tuhan. Dalam ajaran Islam juga dijelaskan, “Sesungguhnya jika kamu (manusia) mau bersyukur, niscaya Aku (Allah) akan menambahkan nikmat kepada manusia, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku (nikmat Allah), maka pasti azab-Ku (Allah) sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).
Berikut ini dikutipkan nilai pendidikan religius mengenai sikap bersyukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan kepada hamba-Nya, yang terdapat dalam WB yang berjudul Waluyo sing Loma.
Mbok Darso senajan klebu uwong sekeng, nanging uripe ora nggrangsang. Entuk asil sethithik utawa akeh tetep disyukuri. Ora jeleh-jeleh Mbok Darso tansah mituturi anak ragile mau amrih bisa dadi bocah utama. Becik kelakuane. Seneng tetulung marang wong liya. Seneng “berbagi” utawa loma marang pepadha.[DL/WSL]
„Bu Darso walaupun tergolong orang yang tidak mampu, akan tetapi hidupnya tidak suka meminta-minta. Mendapat penghasilan sedikit atau pun banyak tetap disyukuri. Tidak bosan-bosan Bu Darso selalu menasihati anak bungsunya supaya bisa jadi anak yang (berakhlak) mulia. Baik perilakunya. Suka menolong orange lain. Suka berbagi kepada sesama.‟
Bersyukur dalam BJ dapat dimaknai dengan narima ing pandum „menerima apa yang sudah ditentukan Tuhan‟. Apa saja yang dianugerahkan oleh Tuhan sudah sepantasnya kita terima dengan ikhlas, jangan sampai timbul perasaan suudhon atau menggerutu pada Tuhan. Sikap bersyukur juga dapat dilakukan dengan menggunakan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita untuk hal-hal kebaikan. Pada kutipan data di atas rasa bersyukur ditunjukan oleh nasihat Bu Darso kepada putranya (Waluyo), bahwa dalam segala hal yang telah dianugrahkan Tuhan dalam kehidupan ini perlu disyukuri dan selalu menasihatkan kebaikan kepada putranya.
b. Nilai Pendidikan Moral/Budi Pekerti
Nilai pendidikan moral adalah suatu pedoman dalam melakukan sesuatu guna membedakan akhlak yang baik maupun yang tidak baik dalam menjalani kehidupan sehingga tercapai kesuksesan hidup dan kerukunan antarsesama. Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar
mengenal nilai-nilai etika, yaitu mengenai nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang harmonis dan bermanfaat bagi orang lain, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Berikut ini dikutipkan data WB yang mengandung nilai pendidikan moral.
1) Ketekunan dan keteguhan
Sikap tekun dan teguh merupakan nilai-nilai pendidikan budi pekerti. Sikap tekun dan teguh akan menjadikan seseorang yang tangguh dan sukses dalam mewujudkan harapan dan cita-citanya. Berikut ini dicuplikkan menganai nilai-nilai moral yang mengasung pelajaran sikap tekun, teguh dan berbudi luhur yang terdpat dalam WB “Piwulang Saka Potelot”.
“Piwulang kapindho, nalika potelot iku digunakake kanggo nulis, kadhangkala kudu kaendheg, amarga kudu ngongoti dhisik supaya landhep. Ongotan potelot mesthi wae ndadekake potelot ketaton lan lara. Nanging sawise diongoti, potelot bisa dadi landhep maneh lan kena kanggo nulis maneh. Semono uga kowe, sajroning urip iki aja wedi ketaton, aja wedi lara nalika nindakake samubarang sing apik lan migunani. Tampanana tatu lan lara kuwi minangka ujian sing ndadekake kowe luwih apik.”[PS/PSP]
„Piwulang yang kedua, ketika pensil itu dugunakan untuk menulis, kadang kala harus berhenti, karena harus meraut dahulu supaya lancip. Rautan pensil pasti membuat pensil terluka dan sakit. Akan tetapi, sesudah dirauti, pensil bisa menjadi lancip lagi dan bisa untuk menulis lagi. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini jangan takut terluka, jangan takut sakit ketika mengerjakan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Terimalah luka dan sakit itu sebagai ujian yang membuat kamu lebih baik.‟
Nilai ketekunan dan keteguhan diasosiasikan dengan gambaran sebuah pensil yang harus dirauti (diongoti atau dilancipi pakai silet) walaupun awalnya menyakitkan atau melukainya namun sesungguhnya pada akhirnya akan membuat pensil itu menjadi runcing sehingga dapat dipakai/nyaman digunkan untuk menulis. Apabila pensil itu tumpul dan dibiarkan saja (tidak dirauti) akibatnya tuliusan menjadi jelek bahkan tidak bisa dipaki untuk menulis. Begitu pula dengan seorang pelajar yang mempunyai kewajiban untuk tekun belajar agar dapat menjadi siswa