Kelas VII semester 1 sebagai berikut
1. Pemanfaatan Kohesi Wacana dalam WB di Majalah PS dan DL
WB merupakan sebuah wacana cerita pendek berbahasa Jawa yang disesuai kebutuhan bacaan (tema) untuk anak-anak, dengan bahsa yang mudah dipahami oleh anak, yang banyak mengandung nilai edukatif/pendidikan. WB mempunyai ciri-ciri penulisan yang cenderung didominasi oleh dialog-dialog singkat, hal tersebut justeru membuat wacana ini mudah untuk dipahami pembaca/khususnya anak-anak. Penggunaan piranti-piranti kohesi ini menjadikan WB tersebut mudah dipahami dan tidak rancu, menghindari penggunaan bahasa yang monoton dengan kata lain, adanya variasi penggunaan bahasa yang membuat wacana lebih menarik,.
Sejalan dengan pendapat para pakar analisis wacana, yang menjelaskan bahwa wacana yang utuh atau padu adalah wacana yang mengandung gagasan yang lengkap, artinya wacana yang lengkap tersebut apabila dilihat dari segi hubungan bentuk atau struktur lahir bersifat kohesif dan dilihat dari hubungan makna atau konteksnya bersifat koheren (Sumarlam, 2009: 23). Jadi sebuah wacana yang kohesif apabila hubungan antarklausa dalam kalimat, antarkalimat dalam paragraf, dan hubungan antarparagraf/alenia dalam suatu teks/wacana dapat salig bertalian/berkait baik dalam
aspek gramtikal maupun leksikalnya. Begitu pun, wacana yang koheren adalah suatu wacana yang mempunyai kesatuan gagasan, atau kesatuan makna, artinya hubungan antarmakna dalam ujaran atau teks bersifat padu (Suwandi, 2008: 120). Dengan demikian, secara komprehensif dapat dikatakan keutuhan wacana dapat terjadi dari adanya saling keterkaitan antara dua aspek yaitu struktur teks bersifat kohesif dan hubungan makna/konteksnya bersifat padu koheren (Mulyana, 2010: 26).
Merujuk pada teori yang diungkapkan baik oleh Sumarlam (2009) maupun Mulyana (2010) membagi kohesi ke dalam dua aspek yaitu aspek atau peranti kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Peranti kohesi gramatikal adalah suatu peranti yang digunakan untuk menganalisis wacana dari segi bentuk atau struktur lahirnya, sedangkan peranti kohesi leksikal adalah peranti wacana yang digunakan untuk menganalisis wacana dari segi makna atau struktur semantic dalam wacana (Sumarlam, 2009: 23).
Secara lebih rinci, Halliday dan Hasan (dalam Sumarlam, 2009: 23, dan Mulyana, 2010: 29) mengemukakan bahwa peranti gramtikal wacana terdiri dari 1) reference „pengacuan‟ , 2) substitution „penyulihan‟, 3) ellipsis „pelesapan‟, dan 4) conjunction „perangkaian‟, sedangakan kohesi leksikal terdiri atas 1) repetisi (pengulangan), 2) sinonimi, 3) antonimi (lawan kata), 4) hiponimi, 5) kolokasi (sanding kata), dan 6) ekuivalesi. Semua aspek kohesi wacana baik kohesi gramatikal maupun leksikal yang diungkapkan di atas, semua digunakan sebagai peranti untuk menganailis wacana WB dari segi kebahasaan. Pengklasifikasian kohesi yang sedikit
diungkapkan oleh Suwandi (2008: 126), yang membagi jenis peranti kohesi menjadi tiga yaitu (1) kohesi gramatikal, yang terdiri dari pronomina, penyulihan, dan pelesapan; (2) kohesi leksikal yang terdiri dari pengulangan sinonimi, hiponimi, bagian-keseluruhan, kolokasi; dan (3) konjungsi. Perbedaan perincian pembagian/klasifikasi kohesi di atas terletak pada salah satu peranti kohesi wacana yaitu peranti konjungsi. Suwandi (2008) menyatakan bahwa peranti konjungsi berada di garis batas antara kohesi gramatikal dan leksikal, dengan argumen bahwa konjungsi bukan merupakan peranti untuk mengingatkan pembaca atas maujud, tindakan, atau keadaanya yang telah dinyatakan, akan tetapi konjungsi yang menandai hubungan-hubungan yang hanya dapat dipahami secara penuh melalui pengacuan pada bagian-bagian lain dari teks, atau dengan kata lain menandai hubungan antarbagian dari sebuah wacana. Sedangkan Sumarlam (2009: 32) dan Mulyana (2010: 29) menganut pendapat dari Halliday dan dan Hasan, yang menyatakan konjungsi termasuk ke dalam salah satu jenis kohesi gramatikal, dengan alasan bahwa konjungsi merupakan sarana penghubung/perangkaian unsur-unsur kewacananan, baik antarkata, antarfrasa, atau antarklausa dalam kalimat, antarkalimat dalam paragraf, maupun antarparagraf dalam kesatuan teks wacana yang membentuk kepaduan wacana dari segi gramatikal. Berdasar komparasi mengenai kohesi wacana di atas peneliti lebih cenderung pada pendapat kedua, dengan argumen bahwa konjungsi merupakan alat pendukung kegramatikalan struktur wacana, sehingga
menjadikan wacana menjadi padu. Adapun temuan dalam penelitian analisis wacana pada WB dijelaskan berikut ini.
Semua data yang diteliti mampu dituntaskan dan dianlisis menggunakan teori-teori analisis wacana yang dipaparkan pada landasan teori-teori (peranti kohesi wacana tersebut terdiri dari pengacuan, subtitusi, elipsis, dan konjungsi untuk peranti kohesi gramatikal, serta peranti kohesi leksikal berupa repetisi, sinonimi, antonimi, kolokasi, hiponimi, dan ekuivalensi).
Berdasarkan terpenuhinya syarat-syarat tersebut maka WB layak disebut sebagai sebuah wacana. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tarigan (dalam Sumarlam, 2008: 7), bahwa ”wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa, dengan koherensi dan kohesi yang tinggi dan berkesinambungan, mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tulis.” Selanjutnya, masing-masing aspek dari kohesi, baik kohesi gramatikal maupun kohesi leksikal, memiliki peran dalam pembentukan sebuah teks dalam wacana, sehingga wacana dapat tersusun secara koheren. WB adalah wacana yang mempertimbangkan aspek keterpaduan wacana, sehingga meskipun berciri minimalisme tetapi maksud dan tujuan yang terkandung dalam WB tetap tersampaikan secara jelas. Hal ini kembali membuktikan pendapat Halliday dan Hasan (1976:5) yang menyatakan bahwa kohesi merupakan satu set kemungkinan yang terdapat dalam bahasa untuk menjadikan suatu 'teks' itu memiliki kesatuan.
a. Kohesi gramatikal pada WB
Kohesi gramatikal dalam wacana WB direalisasikan dalam keempat jenis peranti aspek gramatikal, yaitu pengacuan atau referensi, penyulihan atau substitusi, pelesapan atau elipsis, dan perangkaian atau konjungsi. Aspek kohesi gramatikal pada WB didominasi oleh peranti pengacuan/referensi. Referensi yang paling dominan adalah berupa pengacuan persona I, sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2. Persentase kemunculan Aspek Graatikal pada Rubrik WB pada
Majalah PS dan DL
No. Peranti Kohesi Gramatikal WB Jumlah Persentase (%) 1 Pengacuan/referensi
a. Referensi pronominal persona
(1) Pronominal persona I 61 24%
(2) Pronominal persona II 53 21%
(3) Pronominal persona III 41 16%
b. Referensi Demonstratif (1) Demonstratif waktu
Waktu kini 22 9%
Waktu lampau 5 2%
Waktu yang akan datang 1 0
Waktu netral 4 2%
(2) Demonstratif tempat
Dekat dengan penutur 3 1%
Agak jauh dengan penutur 1 0
Jauh dengan penutur 1 0
Menunjuk secara eksplisit 5 2%
(3) Demonstratif ikwal/ ekspansif 5 2%
c. Referensi komparatif - 2. Subtitusi 5 2% 3. Elipsis 12 5% 4. Konjungsi a. Konjungsi koordinatif Aditif 3 1% Pertentangan 2 1%
Alternative 2 1% b. Konjungsi subordinatif Waktu 2 1% Syarat 1 0 Pengandaian 5 2% Eksesif 1 0 Menyatakan sebab 1 0 Menyatakan akibat 3 1% Tujuan 4 2% Cara 1 0 Konsesif 2 1% Perbandingan 1 0 Optatif 1 0 c. Konjungsi antarkalimat 7 2% d. Konjungsi antaralinea 1 0 JUMLAH 256 100%
Berdasar tabel di atas terlihat jelas bahwa peranti pengacuan mendominasi kemunculan pada rubrik WB, terutama pada referensi persona. Pada peranti pengacuan/referensi didominasi oleh bentuk pengacuan persona 1 (yaitu sejumlah 61 data) dan pengacuan persona II tunggal (sejumlah 53 data). Hal tersebut mengindikasikan bahwa WB merupakan bentuk wacana yang banyak menggunakan kalimat langsung yang berupa percakapan antartokoh dalam suatu cerita. Lebih fokus lagi peranti referensi pronomina persona yang terlihat paling dominan adalah pengacuan persona I. Peranti pengacuan persona I dalam cerita WB paling dominan, hal itu dikarenakan WB merupakan cerita naratif yang berbentuk prosa dengan gaya penceritaan yang didominasi oleh dialog-dialog pendek, selain itu WB juga menggunakan gaya penceritaan dengan penggunakan sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama maupun sebagai tokoh tambahan. Penggunaan sudut pandang/ point of view dalam WB adalah untuk memerankan dan menyampaikan berbagai hal
yang dimaksudkan oleh pengarang. Dalam buku Nurgiyantoro, 2005: 262, penggunaan sudut pandang orang pertama (aku) narrator dimaksudkan oleh pengarang untuk melukiskan segi kehidupan batin tokoh dalam cerita yang paling dalam dan rahasia, sehingga seolah-olah pemabaca ikut melihat, merasakan, terlibat dan dialami oleh tokoh „aku dalam cerita. Selain itu WB juga direkatkan oleh peranti konjungsi, yang menghubungkan antara preposisi yang satu dengan preposisi yang lain, sehingga menjadikan WB sebagai wacana yang padu atau kohesif.
b. Kohesi leksikal pada WB
WB memanfaatkan kohesi leksikal sebagai pendukung kepaduan makna/semantis. Semua peranti kohesi leksikal yang digunakan sebagai landasan teori, secara garis besar terpakai/mendukung kepaduan wacan rubrik WB. Persentase kemunculan kohesi leksial pada wacan bocah dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 3. Persentase kemunculan Aspek Leksikal pada Rubrik WB pada Majalah
PS dan DL
No. Peranti Kohesi Gramatikal WB Jumlah Persentase (%) 1. Repetisi a. Repetisi epizeuksis 2 5% b. Repetisi tautotes 4 10% c. Repetisi anafora 2 5% d. Repetisi epistrofa 1 3% e. Repetisi mesodiplosis - f. Repetisi epanalepsis 1 3% g. Repetisi anadiplosis - 0 h. Repetisi simploke - 0 2. Sinonimi
a. Sinonimi morfem (terikat) dengan morfem (bebas)
b. Sinonimi kata dengan kata 5 13%
c. Sinonimi kata dengan frasa 1 3%
d. Sinonimi frasa dengan frasa - 0
e. Sinonimi klausa-klausa 1 3%
3. Antonimi
a. Antonimi oposisi mutlak 4 10%
b. Antonimi oposisi kutub 2 5%
c. Antonimi oposisi hubungan - 0
d. Antonimi oposisi hirarkial - 0
e. Antonimi oposisi majemuk - 0
4. Kolokasi 7 18%
5. Hiponimi 3 8%
6. Ekuivalensi 2 5%
JUMLAH 38 100%
Berdasar tabel di atas, kohesi leksikal secara global didominasi oleh peranti reptisi dan sinonimi yaitu masing-masing sepuluh kali atau intensitas kemunculannya sebesar 26% secara total, lebih fokus lagi unsur yang paling dominan adalah sinonimi kata. Hal tersebut mengindikasikan penggunaan kata-kata yang bervariatif pada WB agar cerita tidak monoton.
Pada peranti kolokasi juga sangat berperan pada wacana WB, hal tersebut mempunyai maksud membuat wacana menjadi padu dan logis, karena didukung oleh kata-kata yang mempunyai asosiasi berdampingan/sebidang/ satu domain.
c. Perbandingan hasil analisis wacana WB dengan hasil kajian analisis wacana yang relevan
Disini akan dibandingkan antara hasil penelitian ini dengan dengan hasil peneltian analisis wacana terdahulu yang dilakukan oleh Nita Rohmayani (2012) “Analisis Tekstual Rubrik “Jagad Sastra” pada “Jagad Jawa” di HArian Solopos
Edisi Juni-Agustus 2011 dan relevansinya dengan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah. Penelitian ini mempunyai keunggulan:
1) Hasil penelitian ini dapat menyempurnakan penelitian terdahulu, yaitu pada penelitian ini ditemukan pengacuan demonstratif umum/ikhwal, misalnya ditandai oleh satuan lingual kasebut, kuwi, punika, mangkono iku, dan semono uga.
2) Penelitian ini mengungkapkan nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam karya sastra (wacan bocah), sedangkan dalam penelitian Rohmayani tidak mengungkapkan/meneliti nilai-nilai pendidikan.
3) Pada penelitian ini WB mempunyai relevansi dengan pembelajaran BJ dari tingkat SD sampai dengan SMA, sedangkan pada penelitian Rohmayani hanya pada tataran SMA saja.
Persamaan kedua penelitian ini sama-sama menganalisis wacana berbahasa Jawa, dengan tujuan penelitian mendeskripsikan aspek/peranti kohesi wacana baik dari segi kohesi gramatikal maupun kohesi leksikal. Temuan mengenai peranti kohesi yang paling dominan adalah sama-sama didominasi oleh peranti pengacuan/referensi persona, mengingat bentuk/genre wacana yang dianalisis adalah bergenre prosa naratif. Perbedaan: dalam penelitian ini pengacuan pronomina persona I yang paling dominan, sedangkan pada penelitian Rohmayani referensi yang paling dominan adalah referensi pronomina persona III.