5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2.1 Karakteristik Faktor Madu
Suhu dan curah hujan kesesuaian yang didasarkan mempengaruhi kesuburan r pakan. Aktivitas terbang ya madu. Suhu dan curah huj menghambat produksi madu. faktor tersebut yang lebih t dan curah hujan (0.24). H menyatakan bahwa faktor pe pakan adalah suhu yang re faktor dan subfaktor dari Semakin tinggi bobotnya, m
Gambar 18 Bobot kriteri Lahan tersedia
habitat lebah m
Kesesuaian Habitat Lebah Madu
untuk habitat lebah madu lebih dipengaruhi ol riteria infrastruktur dan penggunaan lahan. obot kedua kriteria tersebut yaitu masing-masin .39 (infrastruktur dan penggunaan lahan) (Ga sebagai kriteria yang paling menentukan unt er pakan lebah madu sangat tergantung pada kond
garuhi jumlah produksi madu.
tor Fisik Lahan yang Mempengaruhi Habi
an memberikan pengaruh yang tinggi dalam m an atas fisik lahan untuk habitat lebah madu. S n ratu lebah dan aktivitas terbang lebah dalam
yang tinggi biasanya berkorelasi positif dengan hujan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi adu. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai bobo h tinggi dibandingkan faktor yang lain yaitu suh Hal ini sejalan dengan Markwell et al. (1993 r penghambat utama aktivitas lebah madu dalam
rendah dan curah hujan yang tinggi. Hasil pe ri kriteria fisik lahan dapat dilihat pada Ga , maka semakin sesuai untuk habitat lebah. eria fisik lahan dan infrastruktur serta pengguna dia untuk
madu
Aspek fisik lahan (0.61)
Aspek infrastruktur dan penggunaan lahan
(0.39)
oleh kriteria an. Hal ini sing bernilai Gambar 18). untuk habitat kondisi fisik abitat Lebah menentukan du. Suhu dapat lam mencari gan produksi tinggi akan bobot kedua suhu (0.25) (1993) yang lam mencari pembobotan Gambar 19. unaan lahan n
Ket: *: Perkalian
Gambar 19 Kriteria fisik lahan
(0.61)
19 Bobot faktor dan subfaktor dari kriteria fisik n Ketinggian (0.20) 150-200 m (0.26) 200-500 m (0.28) 500 - 1000 m (0.27) 1000 - 1400 (0.19) Kemiringan lereng (0.16) Datar (0 - (0.33) Landai (8 - 1 (0.31) Sedang (15 - (0.20) Curam (25 - (0.16) Suhu (0.25) 15 - 20 °C (0.20) 20 - 25 °C (0.28) 25 - 30 °C (0.29) 30 - 35 °C (0.23) Jarak dari Sungai (0,15) 0 - 200 m (0.27) 200 - 400 m (0.28) 400 - 600 m (0.25) > 800 m (0.20) Curah Hujan (0.24) < 2000 mm/th 2000 - 2500 (0.36) 2500 - 3000 (0.24 3000 - 3500 (0.13
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
sik lahan m m 00 m 8%) 3) 15 %) - 25 %) 0) - 40%) 6) C C m m /thn (0.27) 0 mm/thn 6) 00 mm/thn 24) 00 mm/thn 13)Penjabaran dari setiap faktor fisik lahan dijelaskan dibawah ini. 1. Ketinggian
Berdasarkan Gambar 19, ketinggian yang paling sesuai untuk habitat lebah madu adalah 200-500 m dpl (nilai bobot = 0.28), walaupan nilai bobotnya tidak berbeda secara signifikan antara ketinggian 150-200 m dpl (0.26) dan 500-1000 m dpl (0.27). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah dengan ketinggian 150-1000 m dpl merupakan lokasi yang sesuai untuk habitat lebah. Ketinggian tempat berkorelasi positif dengan suhu. Ketinggian yang terlalu rendah biasanya temperatur tinggi atau sebaliknya, sehingga menghambat aktivitas lebah. Ketinggian yang dianggap optimal adalah 200-500 m dpl karena suhu pada ketinggian tersebut cukup optimal untuk aktivitas lebah. Selain itu kualitas madu yang dibudidayakan di dataran rendah lebih baik karena kadar airnya lebih rendah. Peta ketinggian hasil reklasifikasi sesuai interval yang digunakan dalam analisis AHP disajikan pada Gambar 20.
Sejumlah konstrain yang menjadi faktor kendala untuk faktor ketinggian terdiri atas ketinggian < 150 m dpl dan > 1400 m dpl. Lokasi dengan ketinggian < 150 m dpl biasanya dekat dengan pantai. Daerah pantai tidak cocok untuk kegiatan budidaya lebah madu karena terlalu kering dan cukup terik. Lokasi yang baik untuk pemeliharaan lebah madu harus cukup menerima cahaya matahari, namun terhindar dari terik matahari (FAO 1990). Lebah menghendaki tempat yang tidak terlalu lembab dan tidak terlalu kering. Pada
lokasi dengan ketinggian > 1400 m dpl, lebah tidak dapat berkembang dengan baik karena suhu yang terlalu rendah dan kelembaban yang tinggi. Dari segi ekonomis sudah tidak menguntungkan karena lebah produktivitasnya rendah. 2. Kemiringan lereng
Kelas lereng yang sesuai untuk habitat lebah madu adalah 0-8 %. Hal tersebut berkaitan dengan keadaan angin. Apabila koloni lebah ditempatkan di daerah berbukit atau curam, aktivitasnya dalam mencari sumber pakan akan terhambat karena adanya angin kencang. Menurut FAO (1990), lahan yang baik untuk pemeliharaan lebah adalah lahan yang terlindung dari angin kencang, relatif datar dan cukup lapang untuk memudahkan pemeliharaan koloni oleh petani lebah. Selain itu, sumber pakan lebah madu banyak ditemukan di daerah dataran seperti tanaman pertanian, perkebunan atau tanaman buah-buahan. Hal ini sesuai dengan hasil pembobotan analisis AHP, yang menunjukkan bahwa kelas lereng 0-8 % memiliki bobot yang paling tinggi diantara kelas lereng yang lain yaitu 0.33.
Peta kemiringan lereng yang digunakan untuk analisis ini disajikan pada Gambar 21. Berdasarkan Gambar 21, dapat diketahui bahwa Kabupaten Cianjur memiliki kelas lereng yang dominan adalah < 8 %, kemudian berturut- turut kelas lereng 8-15 %, 16-25 %, dan sedikit saja yang memiliki kelas lereng > 40 %. Konstrainnya berupa kemiringan lereng > 40 %. Kelas lereng tersebut dari segi aksesibilitas dan sumber pakan sudah tidak menunjang untuk dijadikan sebagai tempat pemeliharaan lebah madu.
3. Suhu
Kelas suhu yang paling optimal untuk habitat lebah madu adalah 25-30 °C, karena merupakan suhu nyaman bagi lebah dan sesuai untuk proses bertelurnya ratu lebah. Suhu terlalu tinggi akan menyebabkan lebah menjadi agresif. Apabila terjadi sebaliknya lebah madu akan mudah terkena larva busuk. Menurut FAO (1990), suhu memberikan pengaruh terhadap aktivitas terbang lebah dalam mencari sumber pakan. Berdasarkan nilai bobot untuk kelas suhu 20-25 °C dan 25–30 °C, bobot keduanya tidak berbeda signifikan yaitu 0.28 dan 0.29. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelas suhu yang sesuai untuk habitat lebah madu adalah 20-30°C.
Peta suhu (Gambar 22) yang digunakan dalam analisis memberikan informasi bahwa suhu rata-rata tahunan Kabupaten Cianjur berkisar 8–27 °C. Sebagian besar wilayah Cianjur memiliki suhu 20-25 °C. Kelas suhu yang menjadi konstrain adalah kelas suhu < 15 °C. Kelas suhu tersebut dijadikan konstrain karena tidak sesuai untuk kehidupan lebah. Lebah madu merupakan golongan serangga berdarah dingin, sehingga sangat dipengaruhi oleh perubahan suhu udara disekitarnya. Pada suhu yang sangat rendah, lebah harus menggerakan toraknya untuk memanaskan tubuhnya. Hal ini tentu saja menghambat produktivitas lebah dalam menghasilkan madu.
4. Jarak dari Sungai
Air diperlukan lebah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk membasahi pollen agar mudah dimakan oleh lebah. Jarak yang terlalu dekat dengan sungai akan membuat madu menyerap uap air dari sungai sehingga madu mengencer (kadar air tinggi). FAO (1990) menyatakan bahwa lokasi yang baik untuk pemeliharaan lebah madu adalah lokasi yang memiliki drainase yang baik, aman dari banjir dan dekat sumber air. Jarak 200-400 m merupakan jarak optimal untuk habitat lebah. Hal ini ditunjukkan oleh nilai bobot pada kelas jarak tersebut (buffer) yang lebih tinggi dibandingkan dengan dengan nilai bobot pada kelas jarak yang lain.
Sungai yang diberi buffer merupakan sungai yang mengalir sepanjang tahun. Kelasbufferdibuat berdasarkan penelitian Latifah (2011) yaitu 0-200 m, 200-400 m, 400-600 m dan > 600 m. Hasil buffer tersebut dapat dilihat pada Gambar 23.
5. Curah Hujan
Kelas curah hujan 2000-2500 mm/tahun merupakan curah hujan yang sesuai untuk habitat lebah madu. Curah hujan yang terlalu rendah tidak baik untuk lebah madu, karena hujan masih dibutuhkan untuk menyuburkan tanaman sumber pakan serta melembabkan nektar dan pollen. Curah hujan yang terlalu tinggi menyebabkan lebah malas keluar stup untuk mencari pakan. Hal ini menyebabkan produksi madu menurun. Cuaca memiliki efek langsung pada produktivitas koloni lebah (Harrison dan Fewell 2002), periode hujan yang lama dan cuaca dingin memiliki efek yang merugikan pada produktivitas karena lebah tetap di dalam sarang (vanEngelsdorp dan Meixner 2009). Hasil pembobotan menunjukkan bahwa kelas curah hujan 2000-2500 memiliki bobot yang lebih tinggi (0.36) dibandingkan dengan kelas curah hujan yang lain.
Curah hujan di Kabupaten Cianjur berkisar 2000-4500 mm/tahun. Sebagian besar berada pada kelas curah hujan 2500–3000 mm/thn yang berada di wilayah Cianjur bagian utara dan selatan. Curah hujan terendah (2000-2500 mm/tahun) berada di Kecamatan Mande, Cikalongkulon, Bojongpicung, Sukaluyu dan Haurwangi. Curah hujan tertinggi berada di Kecamatan Sukanagara dan Pagelaran yaitu 4000-4500 mm/thn (Gambar 24).
Faktor kendala/konstrain pada curah hujan berupa kelas curah hujan 3500–4500 mm/thn, karena curah hujan yang terlalu tinggi akan menghambat aktivitas lebah dalam mencari pakan.
Layer peta-peta yang termasuk kedalam kriteria fisik lahan (tanpa konstrain) diproses dengan software analisis spasial melaui operasi overlay dan field calculator, sesuai dengan bobot yang diperoleh dari hasil AHP. Proses tersebut menghasilkanoutputberupa peta kesesuaian atas dasar aspek fisik lahan (Gambar 25). Nilai terendah hasil perhitungan tersebut adalah 0.03 (warna merah) dan tertinggi 0.31 (warna hijau). Semakin tinggi nilainya maka semakin sesuai untuk habitat lebah madu ditinjau dari aspek fisik lahan.
5.2.2 Karakteristik Faktor Infrastruktur dan Penggunaan Lahan yang