HIPOTESIS PENELITIAN
E. KARAKTERISTIK HIPOTESIS YANG BAIK
Banyak Para pakar penelitian yang mengungkap tentang ka-rakteristik atau ciri-ciri hipotesis yang baik. Mereka itu antara lain adalah sebagai berikut.
1. Consuelo G. Sevilla, dkk. (1993:13). Hipotesis yang baik berci-rikan sebagai berikut:
Masuk akal (reasonable),
Menjelaskan hubungan antar variabel-variabel,
Dapat diuji, dan
Mengikuti penemuan-penemuan studi terdahulu.
2. Ary, Donald,dkk. (1982:126). Hipotesis yang baik bercirikan sebagai berikut:
Harus mempunyai daya penjelas,
Harus menyatakan hubungan yang diharapkan adanya di antara variabel-variabel,
Harus dapat diuji,
Hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada, dan
Hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mung-kin
3. Sanafiah Faisal (1995:103). Hipotesis yang baik bercirikan se-bagai berikut:
Bisa diterima akal,
Mempunyai daya penjelas/eksplanasi yang rasional,
Menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara va-riabel-variabel yang dimasalahkan,
Harus dapat diuji atau ditemukan benar-salahnya,
Konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada; konsisten dengan teori dan atau fakta yang telah diketahui, dan
Dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
4. Ibnu Hadjar (1996:65). Hipotesis yang baik bercirikan seba-gai berikut:
Harus menyatakan hubungan atau perbedaan yang diha-rapkan antara dua variabel atau lebih,
Hipotesis harus dapat diuji,
Hipotesis harus menawarkan penjelas sementara berda-sarkan teori atau hasil penelitian yang mendahului, dan
Hipotesis harus singkat dan jelas.
Dari keempat pendapat pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa kriteria atau ciri-ciri hipotesis yang baik adalah sebagai be-rikut.
a) Hipotesis masuk akal (reasonable).
b) Hipotesis menjelaskan hubungan antar variabel-variabel.
c) Hipotesis dapat diuji.
d) Hipotesis mengikuti penemuan-penemuan studi terdahulu.
e) Hipotesis mempunyai daya penjelas/eksplanasi yang ra-sional.
f) Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang su-dah ada.
g) Hipotesis dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
Hipotesis masuk akal (reasonable). Hampir setiap hari, orang-orang menggunakan hipotesis. Jika suatu malam misalnya, seseo-rang kembali ke rumahnya dan dari jauh ia melihat rumahnya da-lam keadaan terbuka, padahal waktu meninggalkan rumah pintu dalam keadaan tertutup, maka saat berjalan menuju rumah dia berfikir dan bertanya-tanya dalam hati tentang kemungkinan ibu-nya datang dari kampung saat dia bepergian dan menemukan kunci pintu yang ditaruh pada suatu tempat tersembunyi. Hipote-sis semacam ini termasuk dalam kategori rasional. Lain halnya ka-lau orang tersebut berfikir dan memperkirakan bahwa pintu ru-mahnya terbuka sendiri, maka hipotesis ini tidak rasional. Sebab ketika dia pergi, pintu rumah dalam keadaan telah tertutup dan terkunci.
Hipotesis menjelaskan hubungan antar variabel-variabel. Hu-bungan antar variabel-variabel dapat terjadi melalui banyak cara.
Berbagai hubungan mungkin diungkapkan dalam bentuk sebab dan akibat (cause and effect). Ini biasa ditemukan dalam percoba-an-percobaan dimana peneliti tertarik untuk mencari pengaruh dari suatu prosedur, material, atau perlakuan. Dipihak lain, hubu-ngan mungkin merupakan suatu korelasi. Sebagai contoh, seorang peneliti ingin mengetahui hubungan antara kreativitas dan ke-mampuan intellgensi atau antara pencapaian nilai kelas dengan kepribadian. Hubungan demikian disebut korelasi. Hubungan-hu-bungan lain dinyatakan dengan mengukur perbedaan. Jika hipote-sis memperkirakan bahwa akan ada perbedaan antara
penguasa-an (performpenguasa-ance) penguasa-anak laki-laki dpenguasa-an penguasa-anak perempupenguasa-an dalam read-ing comprehension yang menggunakan metode Cloze, hubungan seperti itu adalah perbedaan.
Hipotesis dapat diuji (testability). Salah satu karakteristik atau ciri hipotesis yang baik adalah dapat diuji. Suatu hipotesis yang da-pat diuji, berarti dada-pat ditahkikkan (verifiable). Artinya, deduksi, kesimpulan, dan perkiraan dapat ditarik dari hipotesis tersebut, sehingga dapat dilakukan pengamatan empiris yang akan mendu-kung atau tidak mendumendu-kung hipotesis tersebut. Kalau hipotesis itu benar, maka beberapa akibat tertentu yang dapat diramalkan ha-rus tampak nyata. Hipotesis yang dapat diuji memungkinkan pe-neliti menetapkan berdasarkan pengamatannya, apakah akibat yang tersirat secara deduktif itu benar-benar terjadi atau tidak.
Suatu hipotesis misalnya, menyatakan Anak-anak perempuan kelas V dalam studi ini lebih pintar daripada anak laki-laki dalam menggunakan tes kreativitas dari Torrance. Pada hipotesis ini jelas sekali instrumen yang akan digunakan dan kelompok yang akan dibandingkan. Hipotesis ini jelas dapat diuji dan dinyatakan dalam bentuk kalimat operasional. Variabel terikat adalah kepintaran yang diperoleh dari nilai tes kreativitas dari Torrace. Variabel-va-riabel dalam hipotesis ini dinyatakan dengan jelas, sehingga dapat diramalkan.
Hipotesis mengikuti penemuan-penemuan studi terdahulu. Ini dikenal sebagai hipotesis penelitian. Dalam suatu kejadian, seo-rang peneliti yang menyelidiki hipotesis Pollyana menggunakan hipotesis riset bahwa responden-respondennya akan menjadi po-sitif dalam sikapnya terhadap banyak konsep di sekitarnya. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa semua kejadian yang ditinjau kem-bali membuktikan manusia secara evaluatif ternyata positif terha-dap banyak hal. Peneliti dalam kasus ini tidak terha-dapat membuat ra-malan bahwa persoalannya akan menjadi negatif, karena tidak ada landasan untuk membuatnya. Hipotesis mempunyai daya
penje-las atau eksplanasi yang rasional. Suatu hipotesis harus merupa-kan penjelas mengenai hal yang memang harus diterangmerupa-kan. Ini adalah sebuah kriteria atau ciri yang penting. Sebagai contoh, mi-salkan seseorang menyetater mesin mobilnya, dan ternyata mesin mobilnya tidak mau hidup. Maka hipotesis yang berbunyi Mesin mobil ini tidak mau hidup karena saya membiarkan air di kamar mandi mengalir ke selokan bukan merupakan penjelasan yang te-pat. Tetapi hipotesis yang berbunyi Mesin mobil ini tidak mau hi-dup karena akinya aus atau mati, adalah merupakan peenjelasan yang tepat dan perlu diuji kebenarannya.
Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang ada.
Hipotesis hendaknya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum-hukum yang sebelumnya sudah mapan. Hipotesis Mo-bil itu tidak mau hidup mesinnya karena air akinya telah berubah menjadi emas, sebenarnya merupakan hipotesis yang mempunyai daya penjelas, dapat diuji, dan menyatakan hubungan sebab akibat dari dua variabel, namun hipotesis ini bertentangan de-ngan apa yang diketahui orang tentang sifat-sifat benda, sehingga orang ti-dak akan menguji hipotesis tersebut. Lain halnya dengan hipotesis Mobil itu tidak mau hidup mesinnya karena air akinya telah meluap sampai ke tingkat rendah, maka hipotesis ini konsisten atau sesuai dengan pengetahuan sebelumnya, dan karenanya perlu diselidiki.
Hipotesis dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin. Me-nyatakan hipotesis secara sederhana dan ringkas, bukan saja me-mudahkan pengujian hipotesis, melainkan juga dapat menjadi da-sar bagi penyusunan laporan yang jelas dan mudah dimengerti pa-da akhir penyelidikan. Oleh karenanya perlu sekali merinci lagi hi-portesis yang masih bersifat umum.
Contoh hipotesis yang masih bersifat umum: Status ekonomi keluarga mempunyai peranan dalam menentukan derajat kesesuai-an atau kecocokkesesuai-an ykesesuai-ang dialami oleh seorkesesuai-ang remaja di berbagai konteks sosial dan Berbagai komponen status sosial ini mempunyai
pengaruh yang berbeda-beda atas sikapnya terhadap otoritas. Ke-dua hipotesis ini memerlukan hipotesis yang lebih rinci untuk me-mudahkan pengujiannya sebagai berikut.
a) Ada hubungan negatif yang signifikan antara sikap remaja pria di rumah terhadap otoritas dan status sosio-ekonomi ke-luarganya.
b) Ada hubungan negatif yang signifikan antara sikap remaja pria di sekolah terhadap otoritas dan status sosio-ekonomi keluarganya
c) Ada hubungan negatif yang signifikan antara sikap remaja pria ketika berada bersama-sama dengan teman-temannya terhadap otoritas dan status sosioekonomi keluarganya d) Ada hubungan negatif yang signifikan antara sikap remaja
pria terhadap otoritas dan pendidikan bapak mereka.
e) Ada hubungan negatif yang signifikan antara sikap remaja pria terhadap otoritas dan pendidikan ibu mereka.