• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1.3 Karakteristik Lokasi

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa pedagang kaki lima merupakan pekerja keras dengan jumlah kerja per hari jauh diatas jam kerja normal para pekerja formal yakni lebih dari 40 jam seminggu. Hal ini dikarenakan pedagang kaki lima tidak selalu mebuka dan menutup usahanya pada jal yang tepat setiap harinya. Ciri khas waktu usaha pedagang kaki lima adalah fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan barang, meskipun telah memiliki regulasi yang mengatur waktu berdagang.

Gambar 5.6 Peta Titik Lokasi PKL Sumber : Data Primer Diolah, 2017

1. Ruang Aktivitas

Dalam melakukan usahanya, PKL membutuhkan sebuah ruang dalam mempromosikan dan menjual barang dagangannya. Ruang aktivitas yang digunakan PKL untuk menjajakan dagangannya tersebut dapat dilihat pada tabel 5.15 berikut ini:

Tabel 5.16 Ruang Aktivitas PKL

No. Lokasi

Ruang Aktivitas

Jumlah Trotoar Bahu

Jalan

Lahan Parkir

Badan Jalan

1. Pasar Sentral Sungguminasa 3 5 1 6 15

2. Lapangan Syekh Yusuf 5 1 1 2 9

3. Jl. Usman Salengke 3 4 3 1 11

Total 11 10 5 9 35

Persentase (%) 31 29 14 26 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa sebanyak 31% PKL berdagang di trotoar jalan, kemudian pada bahu jalan sebanyak 29%, dan pada badan jalan sebanyak 26%. Sedangkan PKL yang berdagang di lahan parkir adalah hanya sebanyak 14%. Pedagang menyatakan bahwa dengan mereka berdagang di trotoar jalan maka terjadinya buying akan menjadi meningkat sehingga dagangan mereka dapat mudah terjual dengan cepat.

Adapun besarnya luas ruang aktivitas yang digunakan oleh para pedagang kaki lima pada kawasan perkotaan Sungguminasa dapat kita lihat pada tabel 5.16 berikut ini:

Tabel 5.17 Luas Ruang Aktivitas PKL

No. Lokasi Luas Ruang Aktivitas (m2) Jumlah

<3 3-5 >5

1. Pasar Sentral Sungguminasa 9 5 1 15

2. Lapangan Syekh Yusuf 5 4 0 9

3. Jl. Usman Salengke 7 3 1 11

Total 21 12 2 35

Persentase (%) 60 34 6 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Dari hasil tabel di atas maka dapat dilihat bahwa PKL yang memiliki luas ruang aktivitas sebesar < 3 m2 adalah sebanyak 60%, kemudian luas ruang aktivitas berkisar antara 3-5 m2 adalah sebanyak 34%, sedangkan luas ruang aktivitas di atas 5 m2adalah sebanyak 6% saja. Hal ini menunjukkan bahwa PKL yang berada di sana masih termasuk pedagang kecil sehingga tidak mampu membeli atau menyewa ruang aktivitas yang besar.

2. Alasan Memilih Lokasi

Dilihat dari segi pemilihan lokasi berdagang, PKL tentunya memiliki alasan masing-masing dalam memilih lokasinya untuk menjajakan barang dagangannya.

Berikut ini merupakan alasan yang diungkapkan oleh para PKL dalam memilih lokasi berdagangnya, yaitu:

Tabel 5.18 Alasan Memilih Lokasi No. Alasan Memilih Lokasi

Lokasi

Total Persentase Pasar (%)

Sentral

Lap.

Syekh Yusuf

Jl.

Usman Salengke 1. Ramai/ sering dikunjungi oleh

pembeli 7 4 6 17 49

2. Tingkat pendapatan memuaskan 5 4 2 11 31

3. Biaya transportasi murah/dekat

tempat tinggal 3 1 3 7 20

Jumlah 15 9 11 35 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa alasan PKL memilih lokasi terbanyak 49% yaitu karena ramai/ sering dikunjungi oleh pembeli, kemudian PKL yang menyatakan karena tingkat pendapatan memuaskan adalah sebanyak 31% dan PKL yang menyatakan karena biaya tranportasi murah/ dekat dengan tempat tinggal adalah sebanyak 20%.

Berdasarkan hal tersebut ternyata dari hasil survei, alasan utama PKL dalam memilih lokasi tempat berdagang adalah mendekatkan diri kepada keramaian atau pembeli seperti yang telah dinyatakan Bromley (dalam Manning dan Effendi, 1996: 236) dalam Budi, 2006.

3. Jarak Lokasi Usaha dengan Tempat Tinggal

Pemilihan lokasi berdagang juga dipengaruhi oleh jarak lokasi usaha dengan tempat tinggal PKL. Adapun jarak lokasi usaha dengan tempat tinggal PKL dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.19 Jarak Lokasi Usaha dengan Tempat Tinggal PKL

No. Lokasi Jarak Lokasi ke Rumah (km)

Jumlah

< 1 1-3 > 3

1. Pasar Sentral Sungguminasa 7 5 3 15

2. Lapangan Syekh Yusuf 4 4 1 9

3. Jl. Usman Salengke 8 2 1 11

Total 19 11 5 35

Persentase (%) 54 32 14 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Dari hasil penelitian di Kawasan Perkotaan Sungguminasa, dapat dilihat bahwa jarak lokasi usaha PKL dengan tempat tinggal mereka lebih banyak di bawah 1 km dengan jumlah sebanyak 54%, jarak lokasi berkisar antara 1-3 km sebanyak 32% dan dengan jarak lokasi diatas 3 km sebanyak 14%. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa jarak lokasi usaha dengan tempat tinggal PKL cenderung dekat. Hal ini sesuai dengan teori lokasi yang dikemukan oleh Djojodipuro (1992:30) dalam Budi, 2006 yang menyatakan bahwa penting untuk menentukan lokasi sedemikian rupa sehingga diperoleh biaya angkutan yang minimum.

4. Perizinan

Perizinan atau izin merupakan salah satu instrument hukum administrasi negara yang dapat digunakan bagi pelaksana undang-undang untuk melakukan tindakan hukum dalam menjalankan tugas dan kewenangannya (Damang, 2013).

Selain itu izin juga dapat diartikan sebagai dispensasi atau pelepasan/ pembebasan masyarakat dari suatu larangan (Hadjon, 1993 dalam Pudyatmoko, 2009). Dalam menjalankan usaha pedagang kaki lima juga diwajibkan meminta izin kepada pemerintah setempat untuk menggunakan ruang publik yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai tempat berdagang. Izin disini adalah berupa surat (bukti tertulis) bahwa PKL tersebut telah menerima izin dari pemerintah dalam menjalankan usahanya. Adapun dari hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata masih banyak PKL yang belum memiliki izin dari pemerintah berupa bukti tertulis namun hanya dalam bentuk lisan sehingga tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan pemerintah dapat sewaktu-waktu melakukan penggusuran terhadap PKL tersebut.

Berikut merupakan tabel hasil penelitian penulis terkait perizinan dapat dilihat pada tabel 5.19.

Tabel 5.20 Perizinan

No. Lokasi Perizinan

Jumlah

Ya Tidak

1. Pasar Sentral Sungguminasa 8 7 15

2. Lapangan Syekh Yusuf 2 7 9

3. Jl. Usman Salengke 3 8 11

Jumlah 13 22 35

Persentase (%) 37 63 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gowa No. 5 Tahun 2009 telah menyebutkan bahwa setiap pedagang kaki lima wajib menggunakan izin penggunaan usaha. Namun berdasarkan tabel di atas, maka dapat dilihat bahwa sebanyak 63% PKL menyatakan belum memiliki surat izin dari pemerintah sedangkan 37% lebih menyatakan telah mendapatkan izin dari pemerintah dalam bentuk tulisan. Hal ini disebabkan masih banyaknya pedagang yang belum memahami aturan yang ada (Handam, 2016)

5. Retribusi

Dalam Pasal 1 UU No. 27 Tahun 2000 (Agustima, 2007), Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa dan perizinan tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Dalam hal ini retribusi PKL bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapat harta yang dimiliki/ dikuasai daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah.

Hasil pengamatan penulis pada tiga lokasi di Kawasan Perkotaan Sungguminasa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.21 Retribusi

No. Lokasi Retribusi

Jumlah

Ya Tidak

1. Pasar Sentral Sungguminasa 8 7 15

2. Lapangan Syekh Yusuf 3 6 9

3. Jl. Usman Salengke 4 7 11

Jumlah 15 20 35

Persentase (%) 43 57 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa PKL yang membayar retribusi hanya sedikit yaitu sebanyak 15 orang (43%) sedangkan PKL yang tidak membayar retribusi sebanyak 20 orang (57%). Hal tersebut disebabkan oleh pengetahuan pedagang mengenai perda yang mengatur tentang retribusi pasar masih sangat rendah karena sosialisasi dan kesadaran hukum yang masih rendah pula (Suharto, 2015).

Dokumen terkait