• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1.1 Karakteristik Umum PKL

Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui karakteristik umum dari PKL. Analisis ini meliputi klasifikasi umur, tingkat pendidikan, asal pedagang, jumlah pekerja, lama berdagang, alasan menjadi PKL, modal serta tingkat penghasilan per hari sebagai gambaran kondisi PKL pada ketiga lokasi tersebut.

Adapun hasil analisis terkait karakteristik umum di Kawasan Perkotaan Sungguminasa dapat dilihat di bawah ini:

1. Tingkat Usia

Dalam banyak jenis pekerjaan standar usia menjadi syarat penerimaan dan menjadi batas bagi seseorang untuk bekerja, berhenti dari pekerjaan pada suatu bidang tertentu. Begitu pula pada sektor informal seperti menjadi PKL juga memiliki standar usia dalam hal memiliki usaha.

Dari hasil pengamatan terhadap 35 orang pedagang kaki lima pada 3 titik lokasi penelitian menunjukkan bahwa pedagang kaki lima khususnya kelompok usia 31-40 tahun merupakan jumlah terbesar yakni 40%. Diikuti oleh kelompok usia 41-50 tahun sebesar 23%, kemudian PKL dengan kelompok usia 21-30 tahun sebesar 15%, sedangkan PKL yang berusia di atas 50 tahun dan dibawah 20 tahun tercatat masing-masing sebanyak 11%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Tabel 5.2 Usia Pedagang Kaki Lima

No. Lokasi Tingkat usia (tahun)

Jumlah

≤20 21-30 31– 40 41 – 50 >50

1. Pasar Sentral Sunggumiansa 2 2 6 3 2 15

2. Lap. Syekh Yusuf 1 2 3 2 1 9

3. Jl. Usman Salengke 1 1 5 3 1 11

Total 4 5 14 8 4 35

Persentase (%) 11 15 40 23 11 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa kelompok paling besar adalah kelompok usia 31-40 tahun yang merupakan usia produktif dan termasuk penting dalam memperoleh kesempatan kerja. Pada usia tersebut pedagang telah cukup dewasa dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan keluarganya.

Gambar 5.1 Diagram Usia Pedagang Kaki Lima (PKL) Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Sulitnya mencari pekerjaan dalam bidang formal dan motivasi untuk bertahan hidup mendorong mereka membuka lapangan kerja sendiri yaitu sebagai pedagang kaki lima. Hal tersebut sesuai yang dikatakan Bromley (dalam Manning dan Effendi, 1996 dalam Ariani, 2015) sektor informal terutama PKL merupakan usaha yang paling mudah dimasuki sehingga secara tidak langsung mengurangi beban pemerintah dalam masalah pengangguran.

2. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan berperan dalam membangun manusia yang akan melaksanakan transformasi sosial ekonomi yang sesuai dengan tujuan bangsa agar tumbuh dan berkembang atas kekuatan sendiri menuju masyarakat yang adil dan makmur, sebab pembangunan memerlukan keterampilan - keterampilan untuk menguasai teknologi yang maju. Pendidikan besar sekali peranan nya dalam pembangunan sumber daya manusia, yaitu membina manusia menjadi tenaga yang produktif. Berikut adalah hasil survei primer mengenai tingkat pendidikan para pedagang kaki lima pada beberapa lokasi.

Tabel 5.3 Tingkat Pendidikan Pedagang Kaki Lima

No. Lokasi Pendidikan Jumlah

SD SMP SMA PT Tidak

sekolah

1 Pasar Sentral Sungguminasa 3 4 5 0 3 15

2. Lap. Syekh Yusuf 3 2 2 0 2 9

3. Jl. Usman Salengke 4 3 1 1 2 11

Total 10 9 8 1 7 35

Persentase (%) 28 26 23 3 20 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017 12%

14%

40%

23%

11%

Usia PKL

≤ 20 tahun 21 - 30 tahun 31 -40 tahun 41- 50 tahun

> 50 tahun

Dari hasil kuesioner yang telah disebar, tingkat pendidikan pedagang kaki lima terlihat paling banyak adalah SD yaitu sebanyak 28% diikuti oleh tingkat SMP sebanyak 26%, kemudian tingkat SMA sebanyak 23% dan yang tidak mempunyai pendidikan sama sekali sebanyak 20%. Sedangkan pedagang yang mempunyai pendidikan setingkat perguruan tinggi menurut hasil kuesioner adalah 3%.

Gambar 5.2 Diagram Pendidikan Pedagang Kaki Lima (PKL) Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Tingkat pendidikan yang hanya setingkat SD maupun SMP bahkan tidak pernah sekolah sama sekali adalah sesuai dengan ciri-ciri sektor informal yaitu salah satunya adalah berpendidikan rendah. Rendahnya tingkat pendidikan menunjukkan bahwa usaha dalam sektor informal yang tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus. (Sari dalam Sulistiyo, 2003)

Banyaknya pedagang yang berpendidikan rendah bahkan ada yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal menyebabkan terjadinya penyimpangan dalam memahami peraturan pemerintah. Misalkan menempati lokasi berdagang yang seharusnya tidak diperbolehkan, berjualan diluar waktu yang telah ditentukan serta sarana berdagang yang lebarnya melebih ketentuan yang diperbolehkan.

3. Asal Pedagang

Sementara dilihat dari daerah asal pedagang kaki lima yang menjadi amatan penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengungkapkan bahwa mereka berasal dari dalam Kota Sunggumiasa sebanyak 52%, sementara 34% pedagang kaki lima mengatakan berasal dari luar Kota Sungguminasa, sedangkan sisanya mengatakan bahwa mereka berasal dari luar Kabupaten Gowa yaitu sebanyak

28%

23% 26%

3% 20%

Pendidikan PKL

SD SMP SMA S1

Tidak Sekolah

14%. Pedagang kaki lima yang berasal dari luar Kota Sungguminasa berasal dari kelurahan ataupun kecamatan lain yang masih berada di sekitar Kabupaten Gowa.

Sedangkan beberapa pedagang yang mengaku berasal dari luar Kabupaten Gowa yaitu seperti Kota Makassar, Kab. Takalar, Kab. Jeneponto dan ada juga yang berasal dari pulau Jawa. Meskipun demikian, pedagang yang berasal dari luar Kota Sungguminasa sebagian telah menetap di Kota Sungguminasa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.4 Daerah Asal Pedagang Kaki Lima

No. Lokasi

Daerah Asal

Jumlah Dalam

Kota

Luar Kota

Luar Kabupaten

1. Pasar Sentral Sungguminasa 7 5 3 15

2. Lap. Syekh Yusuf 5 3 1 9

3. Jl. Usman Salengke 6 4 1 11

Total 18 12 5 35

Persentase (%) 52 34 14 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

4. Jumlah Pekerja Pembantu

Kegiatan usaha kaki lima mampu memberikan lapangan pekerjaan tidak hanya bagi pedagang kaki lima sendiri tetapi juga tenaga kerja yang membantu kegiatan pedagang kaki lima. Pada umumnya pedagang kaki lima hanya bekerja sendiri tanpa dibantu oleh siapapun dengan jumlah PKL sebanyak 20 orang (57%). Namun ada juga PKL yang memiliki jumlah pekerja pembantu sekitar 1-3 orang yaitu sebanyak 12 orang (34%), mereka adalah selain dirinya sendiri juga dibantu seorang pembantu, baik istri, suami, anak, saudara ataupun pekerja yang diupah. Sedangkan pedagang kaki lima yang menggunakan tenaga kerja dengan jumlah diatas 3 orang adalah sebanyak 3 orang (9%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.5 Jumlah Pekerja Pembantu yang Dimiliki Oleh PKL

No. Lokasi

Jumlah Pekerja (Orang)

Jumlah Tidak

ada 1-3 >3

1. Pasar Sentral Sungguminasa 10 4 1 15

2. Lapangan Syekh Yusuf 5 3 1 9

3. Jl. Usman Salengke 5 5 1 11

Jumlah 20 12 3 35

Persentase (%) 57 34 9 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Pedagang kaki lima yang memiliki tenaga pekerja pembantu diatas 3 orang merupakan pedagang yang berada di Pasar Sentral Sungguminasa dan Lapangan

Syekh Yusuf. Hal ini dapat terjadi karena pedagang tersebut telah memiliki penghasilan yang cukup besar dan membutuhkan banyak pekerja untuk membantu mengelola dagangannya.

Pada umumnya jenis usaha yang melibatkan pedagang lebih dari 2 orang adalah jenis usaha berupa makanan siap saji dan pedagang konveksi pakaian yang membutuhkan bantuan dalam hal mengelola keuangan dan melayani pembeli.

Gambar 5.3 Diagram Jumlah Pekerja Pembantu Pedagang Kaki Lima (PKL) Sumber : Data Primer Diolah, 2017

5. Lama Usaha

Dari faktor lama usaha, sebagian diantara pedagang kaki lima yang telah diwawancarai merupakan pedagang yang telah menggeluti usaha ini antara 4 sampai 6 tahun yakni sebanyak 15 orang (43%) kemudian disusul oleh PKL yang bekerja selama kurang dari 3 tahun yakni sebanyak 9 orang (25%). Pedagang yang menyatakan bahwa mereka telah mulai membuka usaha kaki lima antara 7 sampai 9 tahun sebanyak 8 orang (23%). Sedangkan pedagang kaki lima yang mempunyai lama usaha di atas 10 tahun sebanyak 3 orang (9%). Lamanya tahun mulai usaha menunjukkan bahwa kegiatan usaha kaki lima merupakan alternatif mata pencaharian utama yang dapat menjaga kelangsungan hidup keluarga.

Tabel 5.6 Lama Usaha Pedagang Kaki Lima

No. Lokasi Lama berusaha (tahun)

Jumlah

≤ 3 4-6 7-9 ≥10

1. Pasar Sentral Sungguminasa 4 6 3 2 15

2. Lapangan Syekh Yusuf 3 4 2 0 9

3. Jl. Usman Salengke 2 5 3 1 11

Jumlah 9 15 8 3 35

Persentase (%) 25 43 23 9 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017 34% 57%

9%

Jumlah Pekerja Pembantu PKL

Tidak ada 1 -3

> 3

Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa usaha pedagang kaki lima telah ada sejak 10 tahun yang lalu namun hanya sedikit yang masih bertahan dan kemudian pedagang kaki lima kemudian bertambah setiap tahunnya.

6. Alasan Menjadi Pedagang Kaki Lima (PKL)

Terdapat beberapa kemungkinan mengenai alasan responden menjadi pedagang kkai lima, alasan tersebut dapat dilihat pada tabel 5.7. Dalam penelitian ini tercatat bahwa alasan menjadi pedagang kaki lima adalah karena dapat memberikan hasil yang cukup dan dapat berpindah-pindah dengan cepat sehingga pedagang kaki lima tidak hanya berada pada satu titik lokasi saja namun dapat berada lebih dari 2 lokasi dalam sehari.

Tabel 5.7 Alasan Menjadi PKL No Alasan Menjadi PKL

Lokasi

Total Persentase Pasar (%)

Sentral Lap.

Syekh Yusuf

Jl.

Usman Salengke 1 Karena dapat memberikan

hasil yang cukup 4 1 4 9 26

2 Karena sulit mendapatkan pekerjaan dengan pendidikan/ keterampilan

4 2 1 7 20

3 Karena di PHK dari

pekerjaan semula 2 1 2 5 14

4 Karena dapat

berpindah-pindah dengan cepat 3 2 3 8 23

5 Karena tidak perlu banyak

modal 2 3 1 6 17

Jumlah 15 9 11 35 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Berdasarkan hasil penelitian dari 35 responden di tiga lokasi berbeda didapatkan bahwa alasan terbanyak yang menyatakan alasan menjadi PKL yaitu karena dapat memberikan hasil yang cukup (26%), kemudian ada juga PKL yang menyatakan karena dapat berpindah-pindah dengan cepat (23%), karena sulit mendapatkan pekerjaan dengan pendidikan/ keterampilan (20%), dan karena tidak perlu banyak modal (17%). Sedangkan PKL yang menyatakan alasan karena di PHK dari pekerjaan semula adalah hanya sebanyak 14% saja.

7. Modal

Modal kerja merupakan salah satu unsur yang terpenting dan esesnsial dalam sebuah usaha, karena modal kerja adalah kunci utama dalam menjalankan

sebuah unit bisnis. Tanpa adanya modal kerja sangat sulit sebuah unit usaha dapat melakukan kegiatannya. Modal kerja yang dimiliki oleh pedagang adalah sejumlah dana yang dibutuhkan untuk membeli barang-barang dagangannya atau produk yang kemudian dijual kembali kepada konsumen dengan tujuan mencari keuntungan yang optimal. (Effendi, 2003)

Adapun modal yang dimiliki oleh para pedagang kaki lima adalah modal di bawah Rp. 500.000 sebanyak 17 orang (49%), PKL yang memiliki modal berkisar antara Rp. 500.001-Rp. 1.000.000 sebanyak 9 orang (26%), dan PKL yang memiliki modal berkisar antara Rp.1.000.001-Rp.2.000.000 sebanyak 7 orang (20%). Sedangkan pedagang yang memiliki modal awal sebanyak di atas Rp.2.000.000 adalah hanya terdapat 2 orang (6%) saja.

Pedagang yang memiliki modal diatas Rp. 2.000.000 merupakan pedagang makanan/minuman siap saji yang baru memulai dagangannya sehingga memerlukan modal untuk membeli gerobak dan juga bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat makanan/minuman tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa pedagang kaki lima yang berdagang di Kota Sungguminasa merupakan pedagang kecil.

Tabel 5.8 Modal PKL N

o Lokasi

Modal (Rupiah)

Jumlah

<

500.000

500.001 1.000.000

1.000.001 2.000.000

> 2.000.000

1 Pasar Sentral Sungguminasa 7 4 3 1 15

2 Lapangan Syekh Yusuf 4 1 3 1 9

3 Jl. Usman Salengke 6 4 1 0 11

Jumlah 17 9 7 2 35

Persentase (%) 49 26 20 5 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

8. Penghasilan

Berdasarkan modal yang dikeluarkan oleh para PKL tentunya memberikan sebuah penghasilan harian bagi PKL. Adapun tingkat penghasilan rata-rata per hari PKL tergantung pada waktu dan situasi tertentu. Seperti pada hari biasa tingkat pendapatan mereka sangat minim sedangkan pada hari libur dan saat-saat mendekati hari peringatan, penghasilan mereka menjadi meningkat sangat tajam.

Dilihat dari pendapatan rata-rata per hari terungkap bahwa sebagian besar pedagang kaki lima mengatakan penghasilan mereka rata-rata di bawah Rp.

100.000 per hari yakni sebanyak 46%, kemudian PKL yang mengatakan penghasilan rata-ratanya berkisar antara Rp.100.001-250.000 adalah sebanyak 37%, dan PKL yang memiliki pengahsilan berkisar antara Rp.250.001- 500.000 adalah sebanyak 14 %. Sedangkan jumlah PKL yang memiliki penghasilan rata-rata per hari diatas Rp. 500.000 adalah sebanyak 3%.

Dari hasil yang telah dilihat maka dapat diketahui bahwa ternyata sektor formal mampu memberikan penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan sektor formal seperti pegawai biasa.

Tabel 5.9 Penghasilan PKL per Hari N

o Lokasi

Penghasilan (Rupiah)

Jumlah

<100.000

100.001 250.000

250.001 500.000

>500.000

1 Pasar Sentral Sungguminasa 7 4 3 1 15

2 Lapangan Syekh Yusuf 3 5 1 0 9

3 Jl. Usman Salengke 6 4 1 0 11

Jumlah 16 13 5 1 35

Persentase (%) 46 37 14 3 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2017

5.1.2 Karakteristik Aktifitas PKL

Dokumen terkait