• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.5 Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Kelas V

Setiap jenjang kehidupan manusia senantiasa mengalami sebuah perubahan, baik perubahan dalam hal fisik atau perubahan mental dan psikologis. Perubahan-perubahan itu terjadi karena proses pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam diri manusia. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan sebuah proses yang berbeda pengertiannya meskipun keduanya memiliki kesamaan dalam tahap perubahan manusia. Akbar (2002: 32) mengatakan pertumbuhan merupakan proses perubahan psikologis dari proses kematangan secara perubahan fisik maupun psikis seperti berat badan dan tinggi badan, sedangkan perkembangan merupakan proses perubahan yang mengacu pada penyempurnaan fungsi psikologis. Perubahan-perubahan dalam diri manusia saling terikat dan berkesinambungan antara perubahan satu ke perubahan lainnya. Santrock (dalam Akbar, 2002: 36) menyatakan terdapat tiga periode perkembangan, anak (childhood), remaja (adolescence) dan dewasa (adulthood). Setiap tahap memiliki perannya sendiri terutama dalam perkembangan intelektual anak. Piaget (dalam Nurgiyantoro, 2005: 50) mengelompokkan perkembangan intelektual anak dalam empat tahap. Empat tahap perkembangan tersebut antara lain.

1. Tahap Sensorimotor

Tahap ini terjadi dalam rentan usia 0-2 tahun. Tahap ini merupakan langkah awal dalam perkembangan kognitif anak. Tahap sensorimotor terjadi berdasarkan proses penggalian pengetahuan melalui indera (sense) dan bodi atau tubuh (motor). Anak menyukai aktivitas atau permainan bunyi yang mengandung pengulangan ritmis. Permainan bunyi disini dimaksudkan salah satu contohnya adalah nyanyian (Nurgiyantoro, 2005: 50).

2. Tahap Praoperasional

Tahap ini terjadi dalam periode usia 2-7 tahun. Karakteristik dari tahap ini adalah anak mulai belajar dengan bermain, menggambar, mencorat-coret di kertas. Anak pun mulai berkomunikasi melalui

38

gerakan-gerakan dan akan beranjak ke bahasa dalam pembicaraan. Selain itu anak masih melihat segala sesuatu berdasarkan sudut pandangnya tanpa mempertimbangkan atau mencoba menempatkan diri dalam sudut pandang orang lain. Hal ini dikarenakan jalan pikiran anak masih bersifat egosentris, yakni anak masih menganggap dirinya sebagai pusat perhatian. (Nurgiyantoro, 2005: 51).

3. Tahap Operasional Konkret

Tahap ini terjadi pada periode usia 7-11 tahun. Karakteristik dalam tahap ini ialah anak mulai memahami logika secara stabil yang memicu anak untuk mampu membuat klarifikasi sederhana seperti membedakan warna. Anak juga mampu untuk mengurutkan angka dan abjad. Dalam perkembangan pola pikir, anak mampu mengidentifikasi sebuah permasalahan atau persoalan berdasarkan sudut pandang lain dan menggunakan imajinasinya. Anak juga mampu memberikan argumen dan memecahkan permasalahan sederhana. Namun, dalam tahap ini anak belum mampu berpikir atau memecahkan sesuatu berkaitan dengan hal-hal abstrak karena pikirannya masih terbatas pada hal-hal nyata/konkret (Nurgiyantoro, 2005: 52).

4. Tahap Operasi Formal

Tahap ini terjadi pada periode usia 11-12 tahun ke atas. Karakteristik dalam tahap ini adalah anak telah mampu berpikir dan memecahkan masalah berkaitan dengan hal-hal abstrak. Selain itu, anak telah mampu berpikir secara ilmiah, teoritis, berargumentasi dan menguji hipotesis yang mengutamakan kemampuan berpikir. Pemecahan masalah pun dilakukan secara logis dengan melibatkan berbagai masalah-masalah yang terkait melalui sudut pandang yang berbeda (Nurgiyantoro, 2005: 53).

Peserta didik kelas V SD berusia sekitar 10-11 tahun yang berdasarkan tahap perkembangan berada dalam fase transisi dua tahap antara operasional konkret dan operasi formal. Transisi ini menyebabkan anak telah mampu membuat klarifikasi, argumen serta berimajinasi. Ditambah

39

anak mampu berpikir secara abstrak, yaitu mengimajinasikan peristiwa tentang menghilangnya nasi sebagai kebutuhan pangan manusia sehari-hari dan memecahkan masalah secara logis, yaitu melakukan kebiasaan untuk selalu menghabiskan makanan yang disediakan. Hal ini mendukung pelaksanaan sosiodrama dalam pembelajaran sebagai sebuah pembelajaran dengan melakukan penghayatan terkait lingkungan dan peristiwa sosial. 2.2 Penelitian Yang Relevan

Uraian dalam subbab ini terdiri dari beberapa penelitian terdahulu yang relevan dan bersangkutan dengan penelitian tentang penggunaan sosiodrama dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dalam pembelajaran tematik. Penelitian-penelitian itu adalah sebagai berikut.

2.2.1 Penelitian tentang Penggunaan Sosiodrama

Penelitian tentang sosiodrama yang peneliti jadikan refrensi penelitian adalah penelitian yang dilakukan Mardiyatun (2011) yang berjudul “Metode Sosiodrama Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Kelas IV”. Penelitian ini mengembangkan metode sosiodrama dalam muatan pembelajaran IPS kelas IV. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus, masingmasing siklus mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode sosiodrama yang diterapkan dengan langkah-langkah yang benar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, keaktifan peserta didik, keterampilan proses, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari, yaitu materi permasalahan sosial. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti dapat mengemukakan saran-saran agar sosiodrama dapat diterapkan dengan baik dan benar, yaitu: hendaknya guru mempertimbangkan materi dan mata pelajaran apa yang cocok disampaikan melalui sosiodrama, hendaknya guru memahami secara tepat langkah-langkah penggunaan metode sosiodrama serta tidak terlalu sering ataupun terus menerus menggunakan metode sosiodrama karena dapat memunculkan kebosanan pada diri peserta didik.

40

2.2.2 Penelitian tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Penelitian yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah penelitian Kusuma Wisangnuari, Secundina (2017), yang berjudul “Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Pembelajaran Membaca Siswa Kelas III SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research & Development). Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini adalah validasi keseluruhan memperoleh skor rata-rata 4.15 dengan kategori ‘sangat baik’. Hal ini menunjukkan buku cerita bergambar yang disusun telah menggambarkan isi cerita yang memberikan pengenalan tentang menjaga kebersihan lingkungan hidup agar tetap terasa nyaman dan sebagai cara untuk menjaga kehidupan di masa yang akan datang. Materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang dikembangkan dalam buku cerita bergambar Secundina menekankan pada ajakan kepada peserta didik untuk merawat lingkungan dengan cara menjaga kebersihan.

Berdasarkan literatur penelitian relevan di atas, peneliti belum menemukan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan prototipe sosiodrama dengan kandungan materi tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang digunakan untuk pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. Peneliti juga belum menemukan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang diajarkan kepada peserta didik yakni tentang kesadaran tentang pentingnya menghabiskan makanan. Penelitian di atas masih terbatas pada penggunaan PLH untuk menciptakan buku cerita bergambar dan metode sosiodrama yang digunakan untuk meningkatkan satu muatan pelajaran saja. Peneliti belum menemukan sebuah produk sosiodrama yang bisa digunakan untuk mempelajari materi pembelajaran tematik yang mencakup dan terangkum materi ajar dari satu subtema sekaligus. Oleh karena itu, peneliti akan mengembangkan prototipe sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang kesadaran untuk menghabiskan makanan sebagai salah satu cara untuk menjaga lingkungan yang digunakan dalam pembelajaran

41

tematik kelas V tema 3 subtema 2. Inspirasi peneliti melakukan penelitian dan pengembangan berdasarkan penelitian yang relevan sebelumnya tentang sosiodrama dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), disajikan dalam bagan berikut.

Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan 2.3 Kerangka Berpikir

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti merupakan hal baru karena sebelumnya belum ada yang melakukan penelitian dan pengembangan prototipe sosiodrama tentang pendidikan lingkungan hidup dan pendidikan tematik kelas V pada Tema 3 Subtema 2. Berdasarkan hasil angket pernyataan, 76% peserta didik memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanan ketika makan. Hal ini menunjukkan anak-anak sekolah dasar masih memiliki kecenderungan tidak mencintai lingkungan karena kebiasaan

Penelitian Mardiyatun (2011)

“Metode Sosiodrama Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah

Dasar Kelas IV”.

Penelitian Secundina (2017) “Pengembangan Buku Cerita

Bergambar Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Pembelajaran Membaca Siswa Kelas III SD

Kanisius Kumendaman Yogyakarta”.

Peneliti terinspirasi dari penelitian Mardiyatun tentang

pengembangan metode sosiodrama

Peneliti terinspirasi dari penelitian Secundina tentang

pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

kepada peserta didik.

Pengembangan Prototipe Sosiodrama Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pembelajaran Tematik Kelas V Tema 3

42

membuang makanan merupakan salah satu bentuk polusi lingkungan (LS: no. 22).

Berdasarkan permasalahan yang terjadi di lapangan, peneliti termotivasi untuk mengembangkan prototipe sosiodrama dengan judul “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Prototipe sosiodrama ini mengandung materi pendidikan lingkungan hidup dengan ajakan untuk tidak menyisakan makanan dan pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 tentang membentuk pola makan teratur sebagai pencegahan gangguan organ pencernaan. Selain itu, dalam prototipe naskah juga mengandung muatan pembelajaran lain antara lain Bahasa Indonesia dan SBdP. Guru dapat menggunakan prototipe sosiodrama ini dalam pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 atau digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler seni pertunjukan di sekolah sebagai program pengembangan diri peserta didik.

2.4 Pertanyaan Penelitian

2.4.1 Bagaimana prosedur pengembangan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”?

2.4.2 Bagaimana kualitas pengembangan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” menurut validator?

2.4.3 Apa amanat yang peserta didik peroleh setelah melakukan aktivitas bermain peran menggunakan prototipe naskah sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”?

43

Dokumen terkait