• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik individu merupakan faktor internal yang dimiliki oleh masing-masing peserta yang mengikuti Diklat FPTP. Karakeristik individu terbagi menjadi enam variabel, yaitu umur, status pernikahan, golongan kerja, lama bekerja, tingkat pendapatan, dan tingkat pendidikan.

Umur

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa rentang umur responden yaitu berkisar 23 tahun sampai dengan 40 tahun. Umur terendah dari responden pada penelitian ini adalah 25 tahun dan umur tertinggi responden adalah 41 tahun. Peneliti mengkategorikan umur responden berdasarkan data lapang, dimana terdapat kriteria untuk mengikuti kegiatan Diklat FPTP dengan umur maksimal 40 tahun. Adapun jumlah dan persentase sebaran responden peserta Diklat FPTP berdasarkan golongan umur dan jenis kelamin tercantum pada tabel di bawah ini:

Tabel 5 Jumlah dan persentase sebaran responden peserta Diklat FPTP periode Tahun 2012 menurut golongan umur dan jenis kelamin, 2013

Kategori Umur Jenis Kelamin n (%) Total n (%) Laki-laki Perempuan Muda 23-28 tahun 5 (33.3) 3 (20.0) 8 (26.7) Pertengahan 29-34 tahun 8 (53.3) 7 (46.7) 15 (50.0) Dewasa 35-40 tahun 2 (13.4) 5 (33.3) 7 (23.3) Total n (%) 15 (100.0) 15 (100.0) 30 (100.0) Berasarkan Tabel 5, peserta laki-laki dan perempuan sebagian besar berada pada umur pertengahan, yaitu pada rentang umur 29-34 tahun. Banyaknya jumlah peserta laki-laki dan perempuan pada umur pertengahan ini disebabkan karena data primer yang digunakan merupakan data peserta Diklat untuk periode Tahun 2012, dimana sebagian besar peserta pada saat itu merupakan pegawai LIPI yang tergolong baru dengan gelar sarjana dan hanya memiliki pengalaman kerja di LIPI kurang dari 4 tahun. Selain itu, alasan banyaknya peserta berada pada umur pertengahan juga karena rentang umur 29-34 tahun tergolong ke dalam umur produktif, sehingga para peserta menggunakan kesempatan tersebut untuk mengikuti Diklat. Pada umur muda, peserta laki-laki lebih banyak daripada peserta perempuan. Hal ini disebabkan karena perempuan yang berusia muda rata- rata baru menikah atau memiliki anak yang masih bayi dan tidak bisa ditinggalkan untuk mengikuti Diklat. Selanjutnya, pada umur dewasa, peserta perempuan lebih banyak daripada peserta laki-laki. Hal ini disebabkan karena peserta perempuan yang tergolong ke dalam umur dewasa merasa beban domestiknya berkurang, seperi misalnya anak-anak mereka yang sudah mandiri, sehingga lebih leluasa untuk dapat mengikuti Diklat. Sedangkan peserta laki-laki pada usia dewasa termasuk ke dalam pegawai senior di LIPI dan lebih memilih untuk bekerja di

lapangan (luar kantor) daripada mengikuti Diklat. Seperti yang diutarakan oleh salah seorang responden perempuan, sebagai berikut:

“Sebenernya saya udah boleh mengikuti Diklat ini dari beberapa tahun lalu, tapi waktu itu saya masih punya bayi, jadi saya milih untuk ikut Diklat ketika anak saya udah agak gede” (YLT, Biologi).

Selain itu, sebaran umur responden yang tertera pada tabel juga disebabkan karena adanya batasan umur yang menjadi kriteria bagi peserta untuk dapat mengikuti Diklat FPTP.

Status Pernikahan

Status pernikahan pada responden terbagi menjadi dua kategori, yaitu menikah dan belum menikah. Berikut jumlah dan persentase responden berdasarkan status pernikahan:

Tabel 6 Jumlah dan persentase sebaran responden menurut status pernikahan dan jenis kelamin peserta Diklat FPTP, 2013

Kategori Status Pernikahan

Jenis Kelamin n (%) Total n (%) Laki-laki Perempuan

Tinggi Menikah 8 (53.3) 11 (73.3) 20 (66.7) Rendah Belum Menikah 7 (46.7) 4 (26.7) 10 (33.3) Total n (%) 15 (100.0) 15 (100.0) 30 (100.0)

Berdasarkan Tabel 6, sebagian besar peserta Diklat FPTP baik laki-laki maupun perempuan berstatus telah menikah. Hal ini disebabkan karena para peserta yang mengikuti Diklat sebagian besar berumur menengah, yaitu 29-34 tahun, dan pada umur tersebut mereka berstatus telah menikah. Namun, bila dilihat dari persentasenya, peserta perempuan dengan status menikah lebih tinggi daripada peserta laki-laki, yaitu sebesar 73,3 persen sedangkan laki-laki hanya 53,3 persen. Begitu juga dengan status belum menikah, peserta laki-laki lebih besar daripada peserta perempuan. Hal ini disebabkan karena peserta laki-laki cenderung lebih memilih untuk mengejar karir terlebih dahulu sebelum menikah sebagai bentuk aktualisasi dirinya, karena menganggap Diklat sebagai hal yang sangat penting untuk perkembangan karirnya. Selain itu, mereka juga merasa memiliki tanggung jawab lebih besar, karena akan berperan sebagai kepala rumah tangga dan sebagai pencari nafkah utama untuk menghidupi keluarganya. Seperti yang diutarakan oleh salah satu responden, sebagai berikut:

Menurut saya, kewajiban bagi laki-laki untuk bekerja. Saya lebih memilih bekerja dahulu kemudian menikah untuk meningkatkan karir. Kalau saya menikah tapi kerja saya belum bagus, nanti bagaimana saya menghidupi keluarga” (FJA, Biologi).

Lama Bekerja

Lama bekerja responden di LIPI pada penelitian ini terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu 1-4 tahun, 4-8 tahun, dan >8 tahun. Pengkategorian lama bekerja ini didasarkan pada kebijakan dalam keikutsertaan Diklat dan disesuaikan dengan data responden yang mengikuti Diklat pada periode Tahun 2012. Berikut adalah jumlah dan persentase responden berdasarkan lama bekerja.

Tabel 7 Jumlah dan persentase sebaran responden menurut lama bekerja dan jenis kelamin peserta Diklat FPTP

Kategori Lama Bekerja Jenis Kelamin n (%) Total n (%) Laki-laki Perempuan

Rendah 1-4 tahun 9 (60.0) 9 (60.0) 18 (60.0) Sedang 4-8Tahun 2 (13.3) 3 (20.0) 5 (16.7)

Tinggi >8 tahun 4 (26.7) 3 (20.0) 7 (23.3) Total n (%) 15 (100.0) 15 (100.0) 30 (100.0) Berdasarkan Tabel 7, sebagian besar peserta Diklat FPTP baik laki-laki maupun perempuan telah bekerja selama 1-4 tahun dengan presentasi yang sama, yaitu 60 persen. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar peserta yang mengikuti Diklat pada periode Tahun 2012 adalah peserta yang berada pada golongan umur pertengahan dan merupakan pegawai LIPI yang tergolong baru. Namun, pada masa kerja 4-8 tahun, persentase peserta perempuan lebih besar daripada peserta laki-laki. Hal ini disebabkan karena pada jangka waktu bekerja 4-8 tahun peserta perempuan berada pada umur dewasa, dimana pada umur dewasa ini perempuan lebih banyak mengikuti Diklat, oleh karena hambatan untuk megikuti Diklat, seperti misalnya kendala keluarga sudah berkurang. Selanjutnya, pada jangka waktu bekerja >8 tahun persentase peserta laki-laki lebih besar daripada peserta perempuan. Hal ini disebabkan karena peserta dengan jangka waktu bekerja yang cukup lama dianggap sebagai pegawai senior, sehingga pihak penyelenggara Diklat lebih memberikan keleluasaan kepada mereka untuk membuat keputusan mengikuti atau tidak mengikuti Diklat. Pada penelitian ini, beberapa peserta perempuan yang dianggap sebagai pegawai senior lebih memilih untuk tidak mengikuti Diklat, oleh karena kendala waktu, keluarga atau pekerjaannya sebagai peneliti. Sedangkan peserta laki-laki meskipun tergolong sebagai pegawai senior, mereka lebih memilih untuk tetap mengikuti Diklat yang dianggap penting sebagai penunjang perkembangan karirnya. Berikut penuturan pihak penyelenggara Diklat terkait dengan pengambilan keputusan peserta dalam mengikuti Diklat:

“Kami tidak mewajibkan bagi para pegawai senior untuk mengikuti Diklat, dan dijadikan sebagai pilihan bagi mereka untuk mengikuti atau tidak mengikuti Diklat. Hal ini dilakukan karena biasanya pegawai senior memiliki tanggung jawab lebih besar yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi pada periode Diklat Tahun 2012 peserta

perempuan kebanyakan lebih memilih tidak ikut serta dalam Diklat daripada laki-laki”(IDR, bagian Perencana Pusbindiklat LIPI).

Tingkat Pendapatan

Tingkat pendapatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu gaji pokok peserta laki-laki dan perempuan yang berstatus sebagai PNS ditambah dengan pendapatan tambahan dari pekerjaan sampingan responden. Sehingga kriteria tingkat pendapatan disesuaikan dengan gaji standar PNS dengan minimal golongan kerja IIIA dan minimal pendidikan lulus S1 ditambah dengan pendapatan tambahan dari pekerjaan sampingan masing-masing responden. Tingkat pendapatan dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu rendah untuk rentang pendapatan Rp 1.500.000-Rp 2.500.000, sedang untuk rentang pendapatan Rp 2.600.000-Rp 3.500.000, dan tinggi untuk rentang pendapatan >Rp 3.500.000. Tabel 8 Jumlah dan persentase sebaran responden menurut tingkat pendapatan

dan jenis kelamin peserta Diklat FPTP, 2013

Kategori Tingkat Pedapatan Jenis Kelamin n (%) Total n (%) Laki-laki Perempuan Rendah 1.500.000- 2.500.000 6 (40.0) 4 (26.7) 10 (33.3) Sedang 2.600.000- 3.500.000 6 (40.0) 9 (60.0) 15 (50.0) Tinggi >3.500.000 3 (20.0) 2 (13.3) 5 (16.7) Total n (%) 15 (100.0) 15 (100.0) 30 (100.0) Berdasarkan Tabel 8, terdapat perbedaan perolehan pendapatan antara peserta laki-laki dan perempuan. Pada kategori tingkat pendapatan rendah persentase peserta laki-laki lebih besar daripada peserta perempuan. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena adanya pengaruh dari golongan kerja dan frekuensi tugas lapang dari masing-masing responden. Peserta laki-laki dengan pendapatan rendah termasuk ke dalam golongan umur muda yang jumlahnya lebih banyak daripada peserta perempuan dengan lama bekerja 1-4 tahun. Golongan umur muda ini pun menunjukkan bahwa peserta merupakan pegawai baru, dengan golongan kerja IIIA dan belum mempunyai pengalaman tugas lapangan yang dapat membantu menambah pendapatannya. Namun pada kategori tingkat pendapatan sedang, persentase peserta perempuan lebih besar daripada peserta laki-laki dan pada kategori tingkat pendapatan tinggi persentase peserta laki-laki lebih besar daripada peserta perempuan. Hal ini selaras dengan lama bekerja dari responden, semakin lama jangka waktu bekerja, maka golongan kerja dan pengalaman kerjapun akan lebih tinggi. Pada penelitian ini terdapat beberapa responden laki- laki yang memiliki jangka waktu bekerja lebih lama daripada peserta perempuan, sehingga peserta laki-laki lebih banyak memiliki kesempatan untuk bekerja di lapangan dan meningkatkan pendapatannya. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh salah seorang responden, sebagai berikut:

“Saya kerja di LIPI udah sekitar lebih dari 11 tahun, tapi baru sempat mengikuti Diklat Tahun 2012. Sebelumnya saya tidak menyempatkannya karena lebih milih nerima kerja di lapangan buat nambah-nambah penghasilan saya” (DN, Biologi).

Tingkat Pendidikan

Pada penelitian ini, tingkat pendidikan peserta Diklat FPTP dibagi menjadi tiga kategori, yaitu S1, S2, dan S3. Pengkategorian tingkat pendidikan ini didasarkan pada kebijakan pihak penyelenggara Diklat yang menetapkan standar minimal pendidikan bagi para calon peserta Diklat, yaitu S1. Tingkat pendidikan S1 dikategorikan dengan pendidikan rendah, S2 dikategorikan dengan pendidijan sedang, dan S3 dikategorikan dengan pendidikan tinggi.

Tabel 9 Jumlah dan persentase sebaran responden menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin peserta Diklat FPTP, 2013

Kategori Tingkat Pendidikan

Jenis Kelamin n (%) Total n (%) Laki-laki Perempuan

Rendah S1 10 (66.7) 5 (33.3) 15 (50.0) Sedang S2 5 (33.3) 7 (46.7) 12 (40.0)

Tinggi S3 0 (00.0) 3 (20.0) 3 (10.0)

Total n (%) 15 (100.0) 15 (100.0) 30 (100.0)

Berdasarkan Tabel 9, dapat dilihat bahwa sebagian besar peserta laki-laki telah menamatkan pendidikan sarjana atau S1 yang merupakan tingkat pendidikan dengan kategori rendah. Tingkat pendidikan S1 yang lebih banyak dimiliki oleh peserta laki-laki ini disebabkan karena jumlah mereka pada golongan umur muda lebih banyak daripada peserta perempuan, sehingga mereka tergolong sebagai pegawai baru dengan rata-rata tingkat pendidikan S1. Selanjutnya, untuk jenjang pendidikan S2 dan S3 dengan kategori sedang dan tinggi, jumlah peserta laki-laki lebih sedikit daripada peserta perempuan, bahkan tidak ada peserta laki-laki yang menamatkan jenjang pendidikan S3. Dengan kata lain, tingkat pendidikan peserta perempuan lebih tinggi daripada peserta laki-laki. Hal tersebut selaras dengan umur peserta perempuan pada golongan dewasa yang lebih banyak dari peserta laki-laki, sehingga peserta perempuan telah lebih dahulu melewati proses pendidikan S2 dan S3, sedangkan peserta laki-laki baru akan melewati proses pendidikan S2 atau S3.

ANALISIS GENDER TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM DIKLAT

Dokumen terkait