• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik petani meliputi usia, pendidikan, luas lahan kering, dan jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki. Kaawoan (2014) menemukan bahwa adalah karakteristik responden dilihat dari umur, usia responden yang menerima dana PUAP dan pendampingan dari petani (Penyuluh dan Lembaga Terkait). Hasil penelitian Soekartawi (1988) menentukan bahwa semakin muda umur petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu, dengan demikian mempunyai semangat dan kemauan lebih cepat untuk merespons suatu inovasi. Pendidikan yang diperoleh oleh petani mempengaruhi tingkat wawasan dan berpengaruh terhadap kegiatan atau tindakan yang akan diambil oleh petani untuk memilih jenis usaha yang akan mereka usahakan. Jumlah tanggungan berpengaruh terhadap pengeluaran petani, semakin banyak jumlah tanggungan, maka akan semakin banyak pengeluaran untuk dikeluarkan. Semakin sedikit jumlah tanggungan, maka semakin sedikit pula pengeluaran yang akan dikeluarkan oleh petani. Peneliti mengambil empat variabel yang ada pada petani yaitu: usia, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan

.

Bab ini juga menguraikan faktor eksternal yang mempengaruhi petani berpartisipasi pada program PUAP di Desa Cikarawang. Faktor eksternal merupakan faktor diluar dari karakteristik petani. Tjokroamidjojo dalam Girsang (2011) mengungkapkan salah satu faktor eksternal yang perlu mendapatkan perhatian dalam partisipasi masyarakat adalah faktor kepemimpinan. Girsang (2011) juga menyebutkan faktor eksternal yang mempengaruhi partisipasi diantaranya adalah keaktifan tim pendamping kegiatan. Faktor eksternal pada penelitian ini dapat dilihat pada dua komponen yaitu peran pemimpin dan peran pendamping.

Usia Petani

Karakteristik petani Desa Cikarawang berdasarkan kategori usia dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Jumlah dan presentase usia responden penerima dana PUAP Desa Cikarawang tahun 2016

Usia petani Jumlah (n) Persentase (%)

Muda (27-41 tahun) 14 35,0 Sedang (42-57 tahun) 23 57,5 Tua (58-72tahun) 3 7,5

Total 40 100,0

Usia merupakan lama hidup petani pada saat penelitian dilakukan yang dihitung sejak hari kelahiran yang dinyatakan dalam satuan tahun. Usia dikelompokkan dan dibedakan dalam skala ordinal. Umur responden bervariasi dari 27 tahun hingga 72 tahun. Pengkategorian tingkat umur petani pada penelitian ini diukur dalam jumlah tahun berdasarkan sebaran rata-rata usia responden yang ditemui di lapang.

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 10 menunjukkan bahwa mayoritas usia petani di Desa Cikarawang termasuk ke dalam usia sedang dengan rentang usia 42 hingga 57 tahun (57,5%). Mayoritas usia sedang termasuk usia produktif petani melakukan pekerjaannya, sehingga petani mampu untuk menjadi anggota LKM-A Gapoktan Mandiri Jaya. Petani dengan kisaran usia muda (27-41tahun) sebanyak 35%. Usia tersebut dapat juga dikatakan termasuk usia produktif dalam bekerja. Jumlah usia muda dan sedang telah mampu mengambil resiko saat peminjaman modal karena petani sudah dapat mengatur biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari- hari. Hanya terdapat tiga petani (7,5%) yang tergolong dalam usia tua, sebagian besar biaya hidup ditanggung oleh anak-anaknya dan keterbatasan untuk melakukan simpan pinjam.

Petani yang menjadi angggota LKM-A meminjam dana PUAP untuk modal pertanian maupun non pertanian biasanya juga menggunakanya untuk biaya pendidikan keluarga. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh informan.

“... Saya meminjam dana PUAP, untuk menambah modal usaha pertanian saya, selain itu untuk modal usaha mebel saya. Dari hasil peningkatan usaha itu saya gunakan untuk biaya pendidikan anak juga ...” (EN, 28 tahun).

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan jenjang sekolah formal tertinggi yang pernah diikuti oleh responden untuk mengembangkan kemampuan. Tingkat pendidikan petani dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Pendidikan Sekolah Dasar termasuk dalam kategori rendah, Sekolah Menengah Pertama termasuk dalam kategori sedang, sedangkan Sekolah Menengah Atas, Diploma dan Sarjana termasuk dalam pendidikan tinggi. Tabel 11 disajikan data tentang jumlah dan persentase pendidikan petani penerima dana PUAP tahun 2016.

Tabel 11 Jumlah dan presentase tingkat pendidikan petani penerima dana PUAP Desa Cikarawang tahun 2016

Pendikan petani Jumlah (n) Persentase (%)

Rendah (SD) 9 22,5

Sedang (SMP) 10 25,0

Tinggi (SMA/D3/S1) 21 52,5

Total 40 100,0

Tabel 11 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani penerima program PUAP di Desa Cikarawang mayoritas termasuk kategori tinggi dengan persentase 52,5%. Petani penerima dana PUAP sejumlah 21 orang berpendidikan akhir hingga SMA, Diploma dan Sarjana. Adapun sebagian petani yang berpendidikan rendah adalah petani yang berusia tua. Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga yang pada saat itu tidak memungkinkan untuk membayar biaya sekolah. Saat ini bisa dikatakan masyarakat Desa Cikarawang sudah mengerti pentingnya pendidikan,

sehingga petani berusaha untuk membiayai pendidikan keluarga mereka. Adanya dana PUAP yang digulirkan para petani mengharapkan dapat menggunakannya untuk biaya sekolah keluarga mereka. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh responden.

“... Saya ingin anak saya bisa tamat SMA bahkan bisa kuliah dan masuk IPB karena katanya di IPB banyak beasiswa untuk mahasiswanya. Karena saya tahu pendidikan itu sangat penting, saya ingin anak saya kehidupannya lebih baik dari orang tuanya. Saya berharap dengan dana PUAP ini bisa membantu permodalan saya dan kebutuhan keluarga saya ...” (US, 47 tahun).

Di Desa Cikarawang terdapat empat Sekolah Dasar, sehingga banyak masyarakat yang bersekolah di Desa Cikarawang. Namun untuk Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, belum tersedia, namun tidak menutup kesempatan bahwa masyarakat desa dapat sekolah dan mencari pekerjaan di luar desa. Petani dengan kisaran pendidikan SD dan SMP jumlahnya hampir sama yaitu dengan persentase 22,5% dan 25%. Beberapa petani berfikir bahwa tidak perlu sekolah tinggi untuk bisa bertani. Hal tersebut didukung dengan keterbatasan biaya sekolah.

Luas Lahan

Lahan kering yang dimiliki petani sendiri untuk usahatani palawija yang dinyatakan dalam satuan hektar. Rata-rata luas lahan tersebut dimiliki oleh petani anggota penerima dana PUAP yang berstatus milik pribadi. Lahan kering yang dikuasai oleh rumah tangga petani yaitu rata-rata 1000m2 (0,1ha). Luas lahan kering dibagi dalam tiga kategori yaitu sempit, sedang dan luas. Pada Tabel 12 disajikan jumlah dan persentase luas lahan yang dimanfaatkan oleh petani penerima dana PUAP.

Tabel 12 Jumlah dan persentase luas lahan yang dimanfaatkan penerima dana PUAP Desa Cikarawang tahun 2015

Luas lahan Jumlah (n) Persentase (%)

Sempit 30 75,0

Sedang 7 17,5

Luas 3 7,5

Total 40 100,0

Tabel 12 menunjukkan bahwa luas lahan kering yang dimanfaatkan oleh petani penerima dana PUAP mayoritas termasuk dalam kategori rendah. Lahan yang dimiliki petani penerima dana PUAP adalah lahan kepemilikan sendiri sebesar 0,1 ha dengan persentase 75%, diikuti dengan luas lahan kering kategori sedang dengan persentase 17,5% dan luas lahan kategori luas dengan persentase 7,5%. Mayoritas komoditas hasil pertanian yang dihasilkan di Desa Cikarawang saat ini adalah tanaman pangan. Petani sudah jarang untuk menanam padi, karena kondisi air yang semakin sulit untuk dicari sehingga petani di Desa Cikarawang produksinya terhadap singkong dan umbi-umbian atau biasa disebut palawija. Petani di Desa Cikarawang melakukan pergiliran tanaman yang ditanam di lahan pertaniannya. Palawija

dipilih mayoritas petani sebagai kmoditas yang ditanam selain padi. Pemilihan komoditas palawija seperti ubi jalar dan singkong disebabkan karena mudahnya perawatannya. Petani garapan membagi hasil panennya dengan pemilik lahan, tergantung komposisi kontribusi pemilik dengan lahannya, seperti komposisi pupuk.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan banyaknya anggota keluarga yang sampai saat ini masih menjadi tanggungan responden dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Banyaknya tanggungan yang dimiliki responden dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu kategori rendah (memiliki tanggungan ≤ 2 orang), sedang (memiliki tanggungan 3-4 orang) dan kategori tinggi (memiliki tanggungan > 4 orang). Pada Tabel 13 disajikan jumlah dan persentase jumlah tanggungan keluarga yang menjadi tanggungan petani penerima dana PUAP.

Tabel 13 Jumlah dan persentase jumlah tanggungan keluarga responden penerima dana PUAP Desa Cikarawang tahun 2016

Jumlah tanggungan keluarga Jumlah (n) Persentase (%)

Sedikit (≤ 2) 7 17,5

Sedang (3-4) 29 72,5

Banyak (> 4) 4 10,0

Total 40 100,0

Jumlah tanggungan yang dimiliki petani penerima program PUAP mayoritas ada pada kategori sedang yaitu sebesar 72,5%, diikuti dengan jumlah tanggungan kategori sedikit sebesar 17,5% sedangkan jumlah tanggungan pada kategori tinggi hanya sebesar 10%. Jumlah tanggungan keluarga dalam penelitian ini memang tidak berarti memiliki anak saja, namun istri serta tanggungan yang lain seperti cucu, menantu, dan orang tua. Namun sejauh melihat data yang ada, kebanyakan jumlah tanggungan yang dimiliki responden adalah istri, anak dan orang tua.

Peran Pemimpin

Peran pemimpin adalah salah satu faktor yang memiliki pengaruh terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam suatu kegiatan/program. Peran pemimpin dinilai berdasarkan keberadaan pemimpin yang selalu mengajak, mengingatkan masyarakat dalam kegiatan program PUAP di desa. Pada penelitian ini peran pemimpin merupakan upaya ketua PUAP yang dirasakan petani dalam menginformasikan dan mengajak petani dalam berpartisipasi pada program PUAP. Tabel 14 disajikan data tentang jumlah dan persentase peran pemimpin PUAP Desa Cikarawang tahun 2016.

Table 14 Jumlah dan persentase petani menurut peranan pemimpin dalam mengajak petani berpartisipasi pada program PUAP Desa Cikarawang tahun 2016

Kategori Jumlah (n) Persentase (%)

Rendah 2 5,0

Sedang 4 10,0

Tinggi 34 85,0

Total 40 100,0

Tabel 14 menunjukkan bahwa mayoritas peran pemimpin PUAP Desa Cikarawang termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 85%. Adanya sosok pemimpin yaitu selalu memberikan informasi dan mengatur kegiatan anggotanya dalam program PUAP. Keberadaan Ketua Gapoktan sekaligus pemimpin PUAP menjadi penting untuk meningkatkan partisipasi petani pada program PUAP. Sosok pemimpin inilah yang nantinya akan diikuti peraturannya oleh anggota PUAP. Bapak AB merupakan ketua Gapoktan Mandiri Jaya sekaligus ketua LKM-A Mandiri Jaya di Desa Cikarawang. Sampai pada penelitian dilakukan, kepengurusan PUAP masih terus aktif. Masyarakat menilai Bapak AB mampu mengelola sistem dana PUAP dengan baik dan mampu mengatur pelaksanaan kegiatan program PUAP di Desa Cikarawang. Setiap kali Bapak AB meminta masyarakat untuk rapat/musyawarah, petani menghadiri undangan rapat. Masyarakat menilai Bapak Ahmad sangat bertanggung jawab terhadap tugas-tugas beliau. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh salah satu responden.

“... Bapak AH mah baik teh tapi kalau peminjam tidak membayar sesuai waktunya Pak Ahmad tegas dan ketawa gitu, kalo galak mah nggak. Bapak Ahmad bertanggung jawab sama tugas-tugasnya teh ...” (TM, 42 tahun).

Peran Pendamping

Program PUAP di Desa Cikarawang memiliki pendamping yang berperan dalam mensukseskan program PUAP ini. Dalam pelaksanaannya, program PUAP ini memiliki pendamping yang merupakan petugas lapang yang direkrut oleh BP5K dimana pendamping yang direkrut telah memenuhi persyaratan yang diwajibkan untuk memberikan pelayanan pendamping atas memfasilitasi peserta program PUAP dengan baik agar dapat mencapai tujuan dan keberhasilan program. Program PUAP di Desa Cikarawang didamping oleh penyuluh pendamping yang membawa perubahan pada masyarakat di Desa Cikarawang khususnya para petani untuk ikut serta dalam menambah modal pertanian dan meningkatkan pendapatan keluarga menjadi sejahtera dari sebelumnya. Peran pendamping merupakan penilaian petani atas tugas yang melekat pada seorang pekerja pengembangan masyarakat (penyuluh pendamping) dalam melaksanakan tugasnya untuk mendampingi, membantu petani di lapangan dan pelatihan program PUAP. Seluruh responden berkesempatan untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh program PUAP yang bekerjasama dengan pihak Penyuluh, Institusi Pendidikan dan Instansi terkait lainnya. Pelatihan diadakan oleh Gapoktan PUAP untuk anggota Gapoktan PUAP yang tidak lain adalah masyarakat

petani yang telah tergabung menjadi anggota PUAP dan berhak atas pelatihan yang diadakan oleh Gapoktan PUAP. Pada Tabel 15 disajikan data tentang jumlah dan persentase peran pendamping PUAP Desa Cikarawang tahun 2016.

Tabel 15 Jumlah dan persentase petani menurut peran pendamping PUAP dalam mendampingi petani penerima program PUAP di Desa Cikarawang tahun 2016

Kategori Jumlah (n) Persentase (%)

Rendah 3 7,5

Sedang 3 7,5

Tinggi 34 85,0

Total 40 100,0

Tabel 15 menunjukkan peran pendamping dalam program PUAP di Desa Cikarawang termasuk ke dalam kategori tinggi. Pendamping dalam menjalankan tugas-tugasnya dapat dikatakan termasuk kategori tinggi karena responden yang menyatakan peran pendamping mayoritas sebanyak 85%. Komunikasi menjadi kunci penting pendamping dalam mendampingi masyarakat. Jika masyarakat sudah merasa nyaman dengan pendamping, mereka akan membuka diri dan berani menyampaikan pendapatnya mengenai permasalahan yang mereka alami. Hal ini didukung oleh pernyataan beberapa responden.

“... Dua tahun terakhir ini penyuluhnya Ibu Afriani teh, sebulan sekali Ibu Afr kesini teh, biasanya diskusi bareng sama Ibu Afri dan selalu periksa pembukuan PUAP ...” (NY, 44 tahun).

“... Ada teh disini dulu ada pelatihan, ibu jadi bisa bikin kue dari ubi, apem, keripik singkong, juga bikin es krim, sehingga pinjaman PUAP saya gunakan buat modal menjual kue teh ...” (An, 46 Tahun).

“... Sebelum Ibu Afr, dulu itu penyuluh disini Almarhum Bapak S neng, saya suka ngobrol dengan bapak penyuluh tentang hama terus bagaimana cara memberantasnya ...” (Mdy, 43 tahun).

TINGKAT PARTISIPASI PETANI DALAM PROGRAM