BAB VI PROFIL RUMAHTANGGA PESERTA PROGRAM NASIONAL
6.2 Karakteristik Rumahtangga Peserta PNPM MP
Kepemilikan benda berharga merupakan karakteristik rumahtangga untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dari rumahtangga tersebut. Adapun
kepemilikan benda berharga terdiri dari kepemilikan atas teknologi rumahtangga dan kepemilikan ternak. Berikut ini ditampilkan data terkait kepemilikan benda berharga yang disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10 Rata-rata Kepemilikan Benda Berharga pada Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 Kepemilikan Teknologi
Rumahtangga PNPM Sosial Dasar PNPM SPKP
Mobil 0,03 0,00 Motor 0,20 0,23 Sepeda 0,13 0,17 Radio/tape 0,17 7,00 Televisi 0,33 12,00 DVD 0,13 3,00 Hand Phone(HP) 0,63 21,00
Penanak Nasi(Rice
Cooker) 0,20 6,00
Dispenser 0,20 4,00
Kulkas 0,17 3,00
Diketahui bahwa rata-rata tertinggi ada pada kepemilikan hand phone(HP). Sejak pendirian dua buah BTS (Telkomsel dan XL) dua tahun yang lalu di desa ini, kepemilikan HP di Desa ini berkembang pesat dan hampir seluruh rumahtangga di Desa Kemang memiliki HP dengan rata-rata dua unit per rumahtangga. Kepemilikan benda berharga terbanyak kedua adalah televisi. Sebagaimana HP, kepemilikan televisi ini pun hampir semua rumahtangga memilikinya. Hal ini didukung oleh fakta bahwa dari hasil survei terhadap 60 rumahtanga, hanya dua rumahtangga yang tidak memiliki televisi. Dengan perkataan lain, televisi telah diposisikan sebagai kebutuhan primer bagi masyarakat Desa Kemang. Adapun kepemilikan atas motor di desa ini juga semakin berkembang setelah adanya program pembagunan pengaspalan jalan yang berasal dari PNPM MP pada tahun 2009.
Jika dilihat berdasarkan kategori stimulan, terlihat bahwa pada rumahtangga Peserta SPKP, rata-rata kepemilikan benda berharga lebih tinggi dibandingkan dengan rumahtangga peserta SPKP. Diduga hal ini berhubungan dengan status kategori rumahtangga dimana pada rumahtangga peserta Sosial Dasar
rumahtangga yang tergolong kategori miskin lebih banyak dibandingkan rumahtangga Peserta SPKP.
Selanjutnya, pada Tabel 11 disajikan data berkenaan rata-rata kepemilikan ternak yang terdiri dari ayam, domba/kambing dan bebek menurut kategori stimulan.
Tabel 11 Rata-rata Kepemilikan Ternak pada Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 (ekor)
Kepemilikan Ternak PNPM Sosial Dasar PNPM SPKP
Ayam 1,13 0,67
Bebek 0,07 0,07
Domba 0,07 0,07
Sebagaimana dapat dilihat pada tabel, rata-rata kepemilikan ternak ayam menunjukkan jumlah tertinggi. Meski, jumlah tersebut menunjukkan penurunan dibanding dengan jumlah ternak pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut pernyataan beberapa rumahtangga, mereka yang dulu memlihara ayam di pekarangan rumahnya sekarang mengaku sudah tidak lagi dikarenakan di desa ini sempat terserang wabah flu burung sehingga merasa trauma untuk kembali memelihara atau beternak ayam.
6.2.3 Luas Lahan Usaha Tani
Luas lahan usahatani yang dikuasai rumahtangga peserta PNPM MP dapat dilihat pada Gambar 5 berikut.
Gambar 5 Persentase Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan dan Penguasaan Lahan
Diketahui bahwa Berdasarkan Gambar 5, terlihat mayoritas peserta PNPM MP baik peserta PNPM MP Sosial Dasar maupun Pesera SPKP, memiliki lebih dari 0,5 hektar lahan berturut-turut 22 persen dan 25 persen. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa sebagian anggota rumahtangga peserta PNPM MP bermata pencaharian sebagai petani pemilik dan penggarap. Adapun kepemilikan lahan tersebut sebagian besar merupakan lahan warisan yang diturunkan secara turun temurun. Selanjutnya, diketahui bahwa dari 35 persen rumahtangga yang memiliki kurang dari 0,25 hektar lahan, sekitar sepuluh persen merupakan rumahangga yang tidak memiliki lahan, hal ini berhubungan dengan fakta bahwa terdapat sejumlah rumahtangga peserta PNPM MP yang tergolong ke dalam rumahtangga miskin yang tidak memiliki lahan.
6.2.4 Status Kategori Rumahtangga
Kategori rumahtangga miskin dalam studi ini menggunakan indikator lokal yang ditetapkan melalui pemetaan sosial yang dihadiri oleh rumahtangga peserta PNPM MP, tokoh-tokoh masyarakat serta didampingi oleh Pendamping Lokal dan Fasilitator Kecamatan. Kategori rumahtangga miskin menurut indikator lokal yakni: (1) penghasilan dibawah Rp 500.000 per bulan, (2) makan satu kali atau dua kali sehari tanpa lauk pauk, (3) makan daging/lauk pauk sebulan sekali,
(4) rumah Panggung dengan ukuran dibawah 30 meter persegi, kumuh, tidak memiliki fentilasi dan kaca, tidak memiliki WC/toilet, (5) tidak memiliki sawah atau ladang, (6) tidak memiliki kulkas, TV, (7) bahan bakar memasak masih menggunakan kayu baka, (8) membeli pakaian setahun sampai dua tahun sekali
. Adapun persentase rumahtangga peserta PNPM MP menurut kategori rumahtangga miskin kriteria lokal disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6 Persentase Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan dan Kategori Rumahtangga
Meski sasaran utama dalam PNPM MP merupakan rumahtangga miskin (RTM) dengan tujuan utama meningkatkan partisipasi RTM, namun pada pelaksanaan di Desa Kemang mayoritas Peserta PNPM MP merupakan rumahtangga tidak miskin yaitu pada Peserta PNPM MP Sosial Dasar dan SPKP berturut-turut sekitar 54 persen dan 67 persen.
Khusus pada program Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP), dari 30 rumahtangga peserta SPKP jumlah rumahtangga berdasarkan kategori tidak miskin, miskin dan sangat miskin berturut-turur, 20, 8 dan 2 rumahtangga. Dengan perkataan lain, sekitar 60 persen anggota SPKP tergolong ke dalam rumahtangga tidak miskin. Hal ini disebabkan pada umumnya RTM merasa tidak memerlukan dana SPKP, dengan alasan bahwa mereka seakan memiliki beban
dengan kewajiban mengangsur setiap bulannya. Selain itu, sebagian besar RTM yang ada di Desa Kemang tidak memiliki usaha dan hanya menggantungkan hidupnya dari hasil bertani, seperti yang dipaparkan oleh Ibu E, Ketua SPKP kelompok Pengajian Nurul Huda, Cikupa:
“…Seuseueur na anggota kelompok SPKP nu di Ibu sanes RTM. Da saleres na mah neng kelompok nu sanes ge kitu, paling ngan hiji dua nu RTM na mah. Sanes teu ditawisan, mung RTM mah kitu rada keberatan aya pinjamana-pinjaman kieu teh, abot mayaran angsuran sasihan na. Janten Ibu mah nyayogikeun kanggo saha we kitu anu kersa, teras anu gaduh usaha nu mayeng, utami na mah anu nyanggupan ngangsur unggal sasih tepat waktu..”
Adapun pada program pembangunan sarana dan prasarana baik pengaspalan jalan maupun pembangunan PAUD, sebagian besar RTM merasa tidak dilibatkan. Sebagaimana tertulis dalam PTO PNPM MP, tenaga kerja untuk pembangunan sarana prasarana disyaratkan berasal dari RTM. Namun, pada kenyataannya di lapangan, tenaga kerja yang menjadi tukang ditentukan secara sengaja dalam musyawarah dengan tidak mempertimbangkan RTM melainkan dengan pertimbangan keahlian. Sehingga tenaga kerja terpilih merupakan tukang bangunan yang berdomisili di Desa Kemang.